Chapter: Treatmen ke Dua Yang MelelahkanAdit kembali duduk di bangku tunggu, pikirannya melayang jauh.Sungguh dia tidak mau terlibat lagi dalam urusan dunia hitam ini. Sudah. Dia sudah keluar. Sudah punya kehidupan baru; jadi aktor, punya karir yang cerah, punya nama yang bersih di mata publik.Tapi melihat Renata tertembak seperti ini... dia tidak bisa diam saja.Renata bukan hanya mantan bos. Dia orang yang pernah memberinya kesempatan ketika dia bukan siapa-siapa. Orang yang mempercayainya, yang membentuknya, yang mengajarkan banyak hal, baik dalam hal asmara hingga tentang kehidupan bawah tanah.Dan sekarang dia terbaring lemah, hidupnya bergantung pada mesin dan keajaiban.Adit merasa marah. Marah pada siapa pun yang melakukan ini. Marah pada dunia yang penuh dengan pengkhianatan dan kekerasan ini.Tapi dia juga tahu; marah saja tidak cukup.Dia harus berbuat sesuatu.Adit tahu ada banyak kelompok kriminal di kota ini. Lingkaran Merah memang yang paling terkenal; ormas besar yang punya cabang di banyak kota, punya kon
Terakhir Diperbarui: 2026-02-14
Chapter: Petunjuk Yang BuramPetang mulai menyelinap masuk lewat jendela koridor rumah sakit. Cahaya oranye keemasan menerangi wajah-wajah tegang para anak buah Renata yang masih setia berjaga. Adit duduk di bangku tunggu dengan kepala bersandar di dinding, mata memandang kosong ke arah pintu ruang ICU di mana Renata masih terbaring kritis.Ponselnya bergetar. Nama Vera muncul di layar.Adit mengangkat dengan suara pelan. "Halo, Ver.""Dit, kamu di mana? Udah mau maghrib. Kok belum pulang?" tanya Vera dengan nada khawatir.Adit menghela napas. "Aku di rumah sakit."Hening sejenak di ujung sana. "Rumah sakit? Kamu kenapa? Sakit?""Bukan aku yang sakit," jawab Adit sambil mengusap wajahnya yang lelah. "Renata. Mantan bos aku. Dia ditembak orang. Sekarang lagi kritis.""Apa?!" Vera terdengar shock meski ia tak kenal siapa Renata. Namun ia hanya tahu dari cerita Adit, bahwa Renata adalah wanita pertama yang memperkenalkan Adit pada kehidupan semacam itu. "Ditembak? Siapa yang nembak?""Belum tahu pasti. Bang Bayu bil
Terakhir Diperbarui: 2026-02-14
Chapter: Berharap Renata PulihAdit tiba di rumah sakit dalam waktu dua puluh menit. Dia memarkirkan motornya dengan tergesa, lalu berlari masuk ke lobi rumah sakit.Bayu sudah mengirim nomor ruangan lewat pesan; ruang ICU VVIP di lantai tiga.Adit naik lift dengan napas yang mulai terengah, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena kekhawatiran yang mulai menggigit.Begitu pintu lift terbuka, Adit langsung melihat kerumunan orang di ujung koridor; sekitar sepuluh hingga lima belas orang yang berdiri dengan wajah tegang. Mereka semua anak buah Renata. Adit mengenali beberapa wajah.Bayu yang pertama melihat Adit. Dia langsung mendekat dengan langkah cepat."Dit," sapanya dengan nada lega bercampur cemas."Bang, Bu Renata kenapa?" tanya Adit langsung ke inti tanpa basa-basi.Bayu menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara pelan tapi tegas. "Dia ditembak."Adit membeku. "Apa?""Ditembak. Kena di dada. Pelurunya ngelewatin paru-paru, hampir kena jantung. Sekarang dia lagi kritis. Dokter masih berusaha stabilin
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Renata SakitMereka berdua sempat tidur sebentar. Saat bangun, waktu sudah menunjukkan jam setengan 1 siang. Adit merasa sangat lapar. Saat ia beringsut pelan untuk berpakaian, Ayunda pun terbangun.“Ini udah jam berapa Dit? Aduh, kita ketiduran ya…”“Jam setengah 1 Ayun… aku lapar banget. Bangun geh, kita cari maem…” ajak Adit.“Iya… ughh… ngilu semua aku. Astaga… hihihi…”“Waduh… maafkan aku, Yun… kebablasan…”“Nggak apa-apa. Enak kok. Aku yang malu Dit. Harusnya aku yang nyenengin kamu. Eh malah aku yang kewalahan…”“Aku seneng kok… bentar, aku tak mandi aja deh…”“Ikut… biar cepet…”“E… ayo kalau gitu…” kata Adit ragu. Ia khawatir, mandi bareng akan membuat mandinya tak kunjung selesai.Mereka pun mandi. Dan benar saja. Senjata Adit kembali berdiri. Tapi, tak terjadi apa-apa. Ayunda pura-pura cuek dan tak melihat pentungan yang menggemaskan itu. Ia tahu batas tubuhnya. Jika main lagi, ia pasti jatuh sakit. Jadi, acara mandi itu murni mandi saja. Lalu mereka berpakaian.Adit dan Ayunda meningga
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Kamu Ingin Membunuhku, Ya?Goyangan Ayunda awalnya begitu berwibawa, penuh ritme yang ia pelajari untuk memanjakan pasangannya. Namun, semakin keras ia berusaha memberikan yang terbaik, semakin kuat pula energi Adit merambat naik, menyusup melalui titik penyatuan mereka dan menjalar ke seluruh saraf panggulnya.Baru beberapa menit ia memacu tempo, tubuh Ayunda tiba-tiba menegang. Matanya terbelalak, menatap langit-langit dengan pandangan kosong saat gelombang klimaks pertama menghantamnya tanpa ampun. Ia memekik kecil, tubuhnya bergetar hebat di atas Adit, namun gravitasi dan sisa energinya memaksanya untuk terus bergerak."Adit... oh Tuhan, ini terlalu... ahh!"Ayunda mencoba mengatur napas, mencoba kembali pada ritmenya, namun ia terjebak dalam lingkaran setan kenikmatan. Setiap kali pinggulnya turun menemui tubuh Adit, ledakan energi baru muncul, memicu orgasme susulan yang lebih kuat dari sebelumnya. Belum sempat ia pulih dari gelombang pertama, gelombang kedua dan ketiga datang beruntun, meremas kesadarann
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12
Chapter: Ayunda KewalahanTubuh Adit menegang seperti dawai yang ditarik hingga batas maksimal. Di bawah kendali lidah dan keahlian Ayunda yang tanpa ampun, kesadaran Adit seolah meledak menjadi jutaan partikel cahaya. Erangannya pecah, rendah dan dalam, saat ia mencapai klimaks yang sungguh dahsyat dalam hidupnya. Sensasinya bukan sekadar pelepasan fisik; itu adalah sebuah hantaman elektrik yang merambat dari pangkal tulang belakang hingga ke ujung saraf, membuat dunianya seakan berhenti berputar selama beberapa detik yang abadi.Ayunda menerima segalanya dengan pengabdian yang murni, seolah-olah setiap tetes gairah Adit adalah kemenangan baginya. Tak ada yang terbuang. Semua tertelan.Namun, saat napas Adit masih menderu dan jantungnya masih berpacu liar, hasratnya tidak lantas padam. Alih-alih merasa lelah, justru ia malah semakin berhasrat. Menu utamanya baru saja akan dimulai.Adit bangkit, matanya yang tadi sayu kini berkilat dengan intensitas yang berbeda. Ia meraih bahu Ayunda, memberikan tekanan lembu
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12
Chapter: Akhir CeritaSerangan fajar itu berlangsung sengit. Pasukan Tirtapura benar-benar diuntungkan dengan keadaan musuh yang tidak siap dan masih kaget dengan ledakan.Pasukan pemanah segera beraksi menghujani benteng dan apapun di baliknya dengan panah. Lalu begitu panah-panah itu habis, pasukan darat segera berlari menyerbu melewati benteng yang rubuh itu dengan gagah berani sambil berteriak lantang saling membakar semangat satu sama lainnya.Senopati Teguh menahan Rangga agar tidak ikut masuk.“Di sini saja, Den… tugamu sudah selesai. Sisanya biar dibereskan pasukan darat dan pasukan kuda. Kita hanya perlu menunggu. Hari ini, tak sampai tengah hari, istana Wonobhumi akan takluk…” kata Senopati Teguh.Rangga tidak membantah. Ia menyaksikan kemelut itu dari kejauhan dan mendengarkan teriakan-teriakan mengerikan di balik benteng itu. Musuh tidak sepenuhnya siap dan kalah jumlah.Rupanya perang itu berlangsung cepat. Belum sampai matahari terasa terik, perang berakhir diiringi suara sorak sorai pasukan
Terakhir Diperbarui: 2024-02-28
Chapter: Hancurnya Benteng WonobhumiKereta Rangga berhenti di tempat yang direncanakan. Rangga bukannya lolos dari serangan itu. Ada dua anak panah yang telah tertancap di bahunya. Rasanya sungguh menyakitkan. Namun Rangga menghiraukan rasa sakit itu. Ketegangan membuatnya tak peduli dengan apapun.Pihak musuh tidak mengerti. Mereka banyak yang berpindah hingga di atas dan di sisi kanan dan kiri benteng itu sambil tetap berancang-ancang dengan panahnya. Rangga masih terpindung oleh bagian lengkung benteng sehingga siapa saja yang berada di atas belum bisa menyerangnya. Sementara ada banyak juga prajurit yang berada di balik gerbang benteng.Rangga segera bergegas ke belakang kereta. Ia menarik beberapa sumbu, lalu membakarnya tanpa ragu. Setelah itu, ia kembali memayungi tubuhnya dengan tameng dan ia berlari meninggalkan kereta itu kembali menuju ke pemukiman barat.Sungguh pun, Senopati Teguh sangat cemas. Ia sudah menyiapkan banyak prajurit pemanah saat itu. Saat Rangga berlari menyelamatkan diri, senopati Teguh memin
Terakhir Diperbarui: 2024-02-26
Chapter: Mendekati Benteng MusuhBeberapa hari kemudian, Pasukan Tirtapura sudah bergerak dan mereka berhasil menguasai wilayah barat kotaraja. Kini jarak kedua kubu itu bisa dibilang hanya beberapa langkah saja, terpisah oleh jalan dan juga benteng istana yang tinggi dan tebal.Dua kubu pasukan itu sudah sempat saling bersitegang dan bertukar serangan anak panah. Namun Senopati Wuring segera menghentikan hal itu karena bisa menjadi sebuah pemborosan.Dalam benak senopati Wuring ada banyak metode untuk menaklukkan Wonobhumi. Atau membuat mereka pada akhirnya membuka gerbang dan menyerang. Hal itu adalah sebuah kerugian besar bagi pihak Wonobhumi.Salah satu cara yang terpikirkan adalah dengan mengisolasi tempat itu. Tak akan ada pasokan makanan dan mereka tak akan bisa bertahan.Sementara, pasukan Tirtapura masih akan bisa bertahan karena mereka masih bisa mendapatkan pasokan makanan entah bagaimana caranya.Dan metode itu disampaikan oleh Senopati Wuring kepada semua jajaran senopati dan orang penting di kubu Tirtap
Terakhir Diperbarui: 2024-02-24
Chapter: Sampai Di Kotaraja WonobhumiHari-hari berlalu. Kini Rangga bersama rombongan besar pasukan Tirtapura sedang menuju ke kotaraja Wonobhumi.Pasukan Wonobhumi yang bertahan di kota Suluk akhirnya berhasil dikalahkan. Tidak banyak dari pasukan itu yang berhasil melarikan diri ke kotaraja. Selebihnya mati dan terluka parah, serta dijadikan tahanan sampai entah kapan.Yang pasti, kota-kota yang dilewati oleh pasukan Tirtapura selalu gemetar ketakutan sebab Wonobhumi sudah benar-benar kehilangan kekuatan, kecuali yang tersisa di kotaraja.Tentu setiap kota kadipaten akan memiliki pasukan sendiri-sendiri. Namun pada saat perang terjadi, kotaraja meminta sumbangan prajurit sehingga setiap kadipaten yang ada di wilayah Wonobhumi telah kehilangan setengah pasukannya.Dan kali ini, daripada hancur lebur, para adipati memilih untuk menyerah dan berdamai dengan Tirtapura yang artinya mereka dengan suka rela menyerahkan diri dan mengakui kedaulatan Tirtapura, serta mau menjadi bagian dari kerajaan tersebut.Hal itu tentu saja
Terakhir Diperbarui: 2024-02-23
Chapter: Citra Hamil?Dalam kekacauan itu, sayangnya tim yang berada di titik kedua kurang sabar. Banu juga merasa bingung dengan hiruk pikuk yang terjadi. Sehingga, semula yang seharusnya mereka menyalakan petasan ketika prajurit darat kembali untuk mengevakuasi teman-teman mereka, malah terburu-buru menyalakan petasan itu manakala mereka menganggap situasinya sudah tepat.Sehingga, pasukan darat musuh bisa dibilang selamat dari jebakan itu. Yang kena hanyalah kesatuan yang bertugas untuk mengangkut dan mengawal perbekalan.Senopati Teguh tak berani mengambil banyak resiko. Ia hanya menyuruh pasukannya untuk menghabiskan anak panah yang mereka miliki dan juga menjatuhkan bebatuan berukuran sedang dari atas gunung. Selebihnya mereka pergi meninggalkan tempat itu.Apapun itu, hasil dari serangan petasan tersebut cukup memuaskan. Ada banyak korban jatuh dari pihak Wonobhumi meski jumlah prajurit mereka masih sangat banyak.Namun demikian, mereka kehilangan waktu, kehilangan banyak kuda, dan juga amunisi lain
Terakhir Diperbarui: 2024-02-21
Chapter: Memporak-Porandakan Musuh Dengan LedakanRangga dan beberapa anggota timnya berada di lokasi titik pertama namun tak persis di tempat-tempat petasan itu dipasang sedemikian rupa.Prajurit darat sudah lewat dari tadi. Dan juga kereta-kereta pengangkut perbekalan. Rangga sampai merinding sendiri melihat banyaknya iringan panjang prajurit Wonobhumi tersebut.Yang dilakukan Rangga dan teman-temannya hanyalah berdiri di pinggir jalan karena tugas para prajurit di tempat itu memang hanya menjaga jalur.Hanya di awal-awal saja, pemimpin rombongan pasukan darat berhenti dan menanyakan situasi. Rangga menjawab jika jalur telah bersih dan aman untuk dilewati. Selebihnya para prajurit itu melanjutkan perjalanannya.“Panjang sekali barisannya… dan pasukan berkuda masih sangat jauh. Aku khawatir jika petasan kita gagal…” bisik Sanji yang saat itu berada di sebelah Rangga.“Jangan khawatir. Ada puluhan petasan dan tak mungkin tak ada yang meledak. Kita hanya harus berhati-hati saja, sebab yang akan kita hadapi nanti adalah kuda-kuda yang
Terakhir Diperbarui: 2024-02-20