Chapter: Menghapus Ingatan MerekaMalam itu juga, Adit memutuskan untuk beraksi sebelum terlambat dan sebelum ada yang berbeda. Suasana di sekitar rumah tua itu jauh lebih sunyi. Angin laut Pulau L berembus membawa hawa dingin yang khas.Adit berdiri tegak di atas dahan pohon mangga yang sama. Kali ini, penampilannya berubah total. Setelan jaket taktis hitam melekat di tubuhnya, dan seluruh wajahnya kini tersembunyi di balik masker hitam, hanya menyisakan sepasang matanya yang menatap tajam ke arah jendela rumah.Ia memeriksa jam di pergelangan tangannya. Sudah sangat larut.Wush!Tanpa suara, Adit melesat turun. Ia tidak lagi mengetuk pintu. Dengan satu dorongan kaki yang diperkuat sirkulasi energi supranaturalnya, pintu kayu jati rumah tua itu hancur berantakan menjadi serpihan."Siapa?!"Teriakan panik langsung menggema dari ruang tengah. Dua pria lokal yang sedang berjaga spontan berdiri, namun sebelum tangan mereka sempat menyentuh gagang pistol di pinggang, Adit sudah berada di depan mereka. Dua pukulan kombinas
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Memutuskan Untuk Melakukan SesuatuAdit mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ironis. Wajah yang saat ini ia miliki; mahakarya para dokter bedah Sekte Kegelapan. Di satu sisi, Adit bersyukur. Wajah baru ini adalah anugerah yang membebaskannya dari belenggu popularitas masa lalu. Ia bisa berjalan di trotoar, makan di warung soto pinggiran, dan menikmati malam di Pulau Kakap dan Pulau L tanpa harus bersembunyi di balik masker dan topi.Namun di sisi lain, wajah itu adalah bom waktu.Otak Adit, yang telah dijejali paksa dengan berbagai basis data taktis oleh mesin pencuci otak sekte, mulai bekerja cepat. Kepalanya menganalisis gestur lima pria di meja tengah itu. Cara mereka duduk, posisi tangan yang selalu dekat dengan balik jaket, dan lain-lain.Pertanyaan besar yang selama ini mengganjal di hati Adit kembali mencuat ke permukaan, menuntut jawaban: Apakah pusat komando sekte tahu bahwa dialah yang meledakkan pulau laboratorium itu? Apakah mereka tahu ia masih hidup?Sekte itu mungkin mengira seluruh aset dan subjek uj
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: Bertemu Lagi Dengan Anggota Pasukan KegelapanKapal kecil yang membawa Adit dan penumpang lain itu akhirnya membentur bantalan karet dermaga dengan hentakan pelan yang familier. Deru mesin diesel yang sejak tadi meredam isi kepalanya perlahan melambat, lalu mati, menyisakan riuh rendah suara peluit petugas pelabuhan dan derap langkah para penumpang yang bergegas turun.Adit menyampirkan ransel carrier 50 liternya ke punggung. Begitu kakinya memijak beton Pelabuhan Pulau L, sebuah sensasi asing langsung menyergapnya. Aroma udara di tempat itu berbeda; tidak semurni Pulau Kakap, ada semacam bau aspal panas dan aroma khas kota transit yang sibuk. Ini adalah pertama kalinya Adit menginjakkan kaki di tempat itu. Segala hal di sekitarnya; papan penunjuk arah, logat bicara para porter, hingga arsitektur bangunan pelabuhan terasa baru dan berjarak.Langkah kakinya sempat membawanya mendekati loket tiket domestik di sudut terminal. Sesuai rencana awal di kepalanya, ia seharusnya langsung mengantre, membeli tiket kapal berikutnya menuju Pu
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: Meninggalkan Pulau KakapMatahari sore di Pulau Kakap mulai turun, memancarkan warna jingga keemasan yang memantul di permukaan laut tak jauh dari jalan setapak. Ransel carrier 50 liter berwarna hijau tua abu-abu milik Adit sudah berdiri tegak di sudut kamar, tertutup rapat dan siap diangkat besok pagi.Sore itu adalah momen sore terakhirnya ada di desa itu. Dengan langkah yang sengaja diperlambat, Adit berjalan menuju rumah Pak Lurah. Niatnya sederhana, bahkan cenderung tertutup. Ia hanya ingin berpamitan pada Pak Lurah dan dua-tiga orang warga terdekat yang selama ini paling sering berinteraksi dengannya. Adit tidak suka perpisahan yang heboh. Ia lebih memilih pergi dengan tenang, seperti angin malam yang biasa berembus di pelabuhan."Selamat sore, Pak Lurah," panggil Adit dari luar teras rumah pemimpin desa itu."Selamat sore. Eh, Nak Adit! Masuk, masuk," sambut Pak Lurah. Wajahnya yang biasa tegas langsung melembut begitu melihat Adit. "Kebetulan ini ada kopi hangat. Duduk, Dit."Adit duduk di kursi rotan
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Persiapan Untuk PergiAroma khas kota kecil pulau Kakap yang sibuk itu langsung menyambut Adit begitu ia turun dari angkutan umum. Ada yang ingin Adit persiapkan. Maka ia harus belanja hari itu.Langkah kakinya membawa Adit menuju sebuah toko perlengkapan outdoor yang terletak di ruko pinggir jalan raya utama.Begitu masuk, aroma khas kain parasut, tenda, dan karet sepatu langsung menyergap indra penciumannya. Toko sedang agak senggang, hanya ada sepasang remaja yang sedang melihat-lihat tas kecil. Adit langsung menuju deretan tas punggung besar yang dipajang di dinding.Pilihan Adit jatuh pada sebuah ransel carrier berkapasitas 50 liter berwarna hijau tua abu-abu. Ukurannya pas, tidak terlalu mencolok, tapi cukup luas untuk menampung semua pakaian barunya nanti.Ia kemudian memilih tiga lembar kaos katun polos berwarna gelap, dua celana kargo pendek yang berbahan kuat, dan sebuah jaket windbreaker hitam yang ringan namun hangat.Terakhir, Adit mengambil sepasang sepatu gunung yang kokoh serta sandal jepit
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: Ingin PulangTak terasa, lembar kalender sudah berganti. Satu bulan penuh Adit menghabiskan waktu di desa pesisir pantai nelayan itu. Dalam waktu yang relatif singkat, namanya melesat menjadi buah bibir. Bukan hanya di antara penduduk setempat, melainkan merambah ke desa-desa tetangga.Kemampuan jemari Adit seperti memiliki sihir tersendiri; traktor bajak yang mati total, mesin pompa air yang karatan, hingga televisi tabung kuno yang sudah bertahun-tahun jadi pajangan ruang tamu, semua bisa hidup kembali setelah ia perbaiki. Bagi orang desa, Adit adalah pemuda kota berkaos oblong yang ramah dan luar biasa jenius.Namun, soal kemampuan medisnya yang ajaib tetap terkunci rapat dalam peti rahasia. Hanya segelintir orang yang tahu.Setelah momen di rumah sakit waktu itu, Dokter Adrian sempat meminta bantuan Adit satu kali lagi untuk kasus kritis yang serupa. Dan di momen kedua itu, sang dokter itu tidak mau kecolongan. Ia telah mempersiapkan segalanya dengan matang: sebuah amplop cokelat tebal berisi
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: Akhir CeritaSerangan fajar itu berlangsung sengit. Pasukan Tirtapura benar-benar diuntungkan dengan keadaan musuh yang tidak siap dan masih kaget dengan ledakan.Pasukan pemanah segera beraksi menghujani benteng dan apapun di baliknya dengan panah. Lalu begitu panah-panah itu habis, pasukan darat segera berlari menyerbu melewati benteng yang rubuh itu dengan gagah berani sambil berteriak lantang saling membakar semangat satu sama lainnya.Senopati Teguh menahan Rangga agar tidak ikut masuk.“Di sini saja, Den… tugamu sudah selesai. Sisanya biar dibereskan pasukan darat dan pasukan kuda. Kita hanya perlu menunggu. Hari ini, tak sampai tengah hari, istana Wonobhumi akan takluk…” kata Senopati Teguh.Rangga tidak membantah. Ia menyaksikan kemelut itu dari kejauhan dan mendengarkan teriakan-teriakan mengerikan di balik benteng itu. Musuh tidak sepenuhnya siap dan kalah jumlah.Rupanya perang itu berlangsung cepat. Belum sampai matahari terasa terik, perang berakhir diiringi suara sorak sorai pasukan
Last Updated: 2024-02-28
Chapter: Hancurnya Benteng WonobhumiKereta Rangga berhenti di tempat yang direncanakan. Rangga bukannya lolos dari serangan itu. Ada dua anak panah yang telah tertancap di bahunya. Rasanya sungguh menyakitkan. Namun Rangga menghiraukan rasa sakit itu. Ketegangan membuatnya tak peduli dengan apapun.Pihak musuh tidak mengerti. Mereka banyak yang berpindah hingga di atas dan di sisi kanan dan kiri benteng itu sambil tetap berancang-ancang dengan panahnya. Rangga masih terpindung oleh bagian lengkung benteng sehingga siapa saja yang berada di atas belum bisa menyerangnya. Sementara ada banyak juga prajurit yang berada di balik gerbang benteng.Rangga segera bergegas ke belakang kereta. Ia menarik beberapa sumbu, lalu membakarnya tanpa ragu. Setelah itu, ia kembali memayungi tubuhnya dengan tameng dan ia berlari meninggalkan kereta itu kembali menuju ke pemukiman barat.Sungguh pun, Senopati Teguh sangat cemas. Ia sudah menyiapkan banyak prajurit pemanah saat itu. Saat Rangga berlari menyelamatkan diri, senopati Teguh memin
Last Updated: 2024-02-26
Chapter: Mendekati Benteng MusuhBeberapa hari kemudian, Pasukan Tirtapura sudah bergerak dan mereka berhasil menguasai wilayah barat kotaraja. Kini jarak kedua kubu itu bisa dibilang hanya beberapa langkah saja, terpisah oleh jalan dan juga benteng istana yang tinggi dan tebal.Dua kubu pasukan itu sudah sempat saling bersitegang dan bertukar serangan anak panah. Namun Senopati Wuring segera menghentikan hal itu karena bisa menjadi sebuah pemborosan.Dalam benak senopati Wuring ada banyak metode untuk menaklukkan Wonobhumi. Atau membuat mereka pada akhirnya membuka gerbang dan menyerang. Hal itu adalah sebuah kerugian besar bagi pihak Wonobhumi.Salah satu cara yang terpikirkan adalah dengan mengisolasi tempat itu. Tak akan ada pasokan makanan dan mereka tak akan bisa bertahan.Sementara, pasukan Tirtapura masih akan bisa bertahan karena mereka masih bisa mendapatkan pasokan makanan entah bagaimana caranya.Dan metode itu disampaikan oleh Senopati Wuring kepada semua jajaran senopati dan orang penting di kubu Tirtap
Last Updated: 2024-02-24
Chapter: Sampai Di Kotaraja WonobhumiHari-hari berlalu. Kini Rangga bersama rombongan besar pasukan Tirtapura sedang menuju ke kotaraja Wonobhumi.Pasukan Wonobhumi yang bertahan di kota Suluk akhirnya berhasil dikalahkan. Tidak banyak dari pasukan itu yang berhasil melarikan diri ke kotaraja. Selebihnya mati dan terluka parah, serta dijadikan tahanan sampai entah kapan.Yang pasti, kota-kota yang dilewati oleh pasukan Tirtapura selalu gemetar ketakutan sebab Wonobhumi sudah benar-benar kehilangan kekuatan, kecuali yang tersisa di kotaraja.Tentu setiap kota kadipaten akan memiliki pasukan sendiri-sendiri. Namun pada saat perang terjadi, kotaraja meminta sumbangan prajurit sehingga setiap kadipaten yang ada di wilayah Wonobhumi telah kehilangan setengah pasukannya.Dan kali ini, daripada hancur lebur, para adipati memilih untuk menyerah dan berdamai dengan Tirtapura yang artinya mereka dengan suka rela menyerahkan diri dan mengakui kedaulatan Tirtapura, serta mau menjadi bagian dari kerajaan tersebut.Hal itu tentu saja
Last Updated: 2024-02-23
Chapter: Citra Hamil?Dalam kekacauan itu, sayangnya tim yang berada di titik kedua kurang sabar. Banu juga merasa bingung dengan hiruk pikuk yang terjadi. Sehingga, semula yang seharusnya mereka menyalakan petasan ketika prajurit darat kembali untuk mengevakuasi teman-teman mereka, malah terburu-buru menyalakan petasan itu manakala mereka menganggap situasinya sudah tepat.Sehingga, pasukan darat musuh bisa dibilang selamat dari jebakan itu. Yang kena hanyalah kesatuan yang bertugas untuk mengangkut dan mengawal perbekalan.Senopati Teguh tak berani mengambil banyak resiko. Ia hanya menyuruh pasukannya untuk menghabiskan anak panah yang mereka miliki dan juga menjatuhkan bebatuan berukuran sedang dari atas gunung. Selebihnya mereka pergi meninggalkan tempat itu.Apapun itu, hasil dari serangan petasan tersebut cukup memuaskan. Ada banyak korban jatuh dari pihak Wonobhumi meski jumlah prajurit mereka masih sangat banyak.Namun demikian, mereka kehilangan waktu, kehilangan banyak kuda, dan juga amunisi lain
Last Updated: 2024-02-21
Chapter: Memporak-Porandakan Musuh Dengan LedakanRangga dan beberapa anggota timnya berada di lokasi titik pertama namun tak persis di tempat-tempat petasan itu dipasang sedemikian rupa.Prajurit darat sudah lewat dari tadi. Dan juga kereta-kereta pengangkut perbekalan. Rangga sampai merinding sendiri melihat banyaknya iringan panjang prajurit Wonobhumi tersebut.Yang dilakukan Rangga dan teman-temannya hanyalah berdiri di pinggir jalan karena tugas para prajurit di tempat itu memang hanya menjaga jalur.Hanya di awal-awal saja, pemimpin rombongan pasukan darat berhenti dan menanyakan situasi. Rangga menjawab jika jalur telah bersih dan aman untuk dilewati. Selebihnya para prajurit itu melanjutkan perjalanannya.“Panjang sekali barisannya… dan pasukan berkuda masih sangat jauh. Aku khawatir jika petasan kita gagal…” bisik Sanji yang saat itu berada di sebelah Rangga.“Jangan khawatir. Ada puluhan petasan dan tak mungkin tak ada yang meledak. Kita hanya harus berhati-hati saja, sebab yang akan kita hadapi nanti adalah kuda-kuda yang
Last Updated: 2024-02-20