Chapter: Mengajak Silvi Ke HotelTarjo gemetar. Wajahnya yang tadi memerah kini berubah pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri, dan telinganya terasa panas membara.Rasa tegang yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mengucapkan kalimat yang menurutnya sendiri terasa seperti kutukan yang baru saja ia lontarkan tanpa bisa ditarik kembali. Jika saja bisa, ia ingin segera menghilang, tenggelam entah ke mana, menjauh dari rasa malu yang begitu menyiksa itu.Silvi terdiam, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Keduanya larut dalam keheningan yang terasa begitu panjang, seolah waktu di warung bakso itu berhenti berputar sejenak, hanya menyisakan suara riuh pengunjung lain di sekitar mereka yang sama sekali tak menyadari momen canggung yang tengah terjadi di meja itu."Tadi, kamu bilang apa?" tanya Silvi akhirnya, memastikan pendengarannya tak salah tangkap."E, tidak Bu... maafkan aku. Lu
Terakhir Diperbarui: 2026-10-05
Chapter: Bertemu Silvi LagiTarjo tak ingin terburu-buru merespon apa yang telah dilakukan Bondan. Meski baru saja menghadapi sepuluh preman bayaran, hatinya tetap tenang, tak ada secuil pun rasa khawatir atau emosi berlebihan yang menggerogoti pikirannya. Ia memilih melanjutkan aktivitasnya membersihkan kebun yang sempat tertunda, mengayunkan parangnya dengan tenang menebas semak-semak liar hingga sore menjelang.Setelah matahari mulai condong ke barat dan udara terasa lebih sejuk, Tarjo kembali ke rumah, membersihkan tubuhnya yang penuh keringat dan debu kebun. Usai mandi, ia duduk santai di teras kecil depan rumahnya, menyeruput segelas kopi hitam yang baru saja ia seduh, menikmati suasana senja yang tenang sebelum nanti mencari makan malam.Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Bisikan yang sudah akrab itu kembali menyusup ke dalam benaknya, kali ini dengan permintaan yang membuat dadanya langsung terasa berat.“Kau harus mencari tumbal lagi. Tidurilah seorang perempuan. Siapa saja, Sumini, atau wanita
Terakhir Diperbarui: 2026-10-04
Chapter: Bondan Kena Getahnya LagiPukulan pertama yang dilayangkan si pemimpin bertato naga melesat cepat ke arah wajah Tarjo. Namun pukulan itu luput. Dengan sangat cepat, Tarjo menghindar dan melenting ke samping.Tanpa memberi jeda, kesembilan preman lainnya langsung menyerbu serentak dari berbagai arah, sebagian dengan tangan kosong, sebagian lainnya dengan menggunakan senjata tajam; celurit, pisau lipat, bahkan ada yang membawa rantai motor yang diayunkan mengerikan.Namun seperti kejadian sebelumnya, begitu pertarungan dimulai, tubuh Tarjo seolah bergerak di luar kendali kesadarannya sendiri, mengalir lincah bagai air yang tak bisa ditangkap. Setiap pukulan, setiap tebasan senjata tajam, semuanya meleset tipis dari tubuhnya yang terus bergerak; menunduk, mengelak, memutar, melangkah mundur sepersekian detik sebelum kembali menyerang balik dengan sangat telak.Preman pertama yang mencoba menebas dengan celurit, tangannya ditangkap dan dipelintir hingga senjata itu terlepas, disusul satu pukulan telak ke rahang ya
Terakhir Diperbarui: 2026-10-03
Chapter: Tarjo Didatangi PremanPagi itu, Tarjo pergi ke warung nasi pecel Mbok Ijah untuk membeli sarapan. Warung itu tampak lebih ramai dari biasanya, beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak berdiri berjajar menunggu giliran sambil bercengkerama riuh, topik pembicaraan mereka pagi itu hanya satu; kabar tentang pernikahan mendadak Bondan dan Dian."Katanya tiga hari lagi mereka dinikahkan, lho," ujar salah seorang ibu sambil mengaduk kopinya."Iya, denger-denger maharnya aja lima puluh juta. Sumini pinter juga ya, manfaatin kesempatan," timpal yang lain, disusul gelak tawa kecil dari beberapa orang di sekitarnya."Untung Pak Budi orangnya kaya, kalau nggak, bisa runyam urusannya," sahut yang lain lagi.Tarjo berdiri di antrean sambil mendengarkan obrolan itu dengan tenang. Setelah mendapatkan gilirannya dan membayar nasi pecel pesanannya, ia bergegas pulang dengan pikiran yang justru dipenuhi perasaan lega, bukan kecewa atau cemburu.Ia memang pernah mencintai Dian, pernah merasakan sakit hati yang mendalam ketika gadis i
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Mencari preman SungguhanTepat pukul tujuh malam, sebuah mobil berhenti di depan warung sederhana milik Sumini. Pak Budi turun lebih dulu, wajahnya tegang namun berusaha terlihat berwibawa, disusul Bu Budi yang mengenakan kerudung rapi, raut wajahnya menyiratkan kecemasan yang coba ia sembunyikan. Di belakang mereka, Bondan berjalan dengan kepala menunduk, langkahnya terasa berat seperti menyeret beban yang begitu besar.Halaman warung Sumini malam itu sudah dipadati warga yang semakin banyak sejak sore tadi. Kabar tentang apa yang dilakukan Bondan dan Dian, serta desakan pernikahan itu menyebar bagai api membakar ilalang kering, dari mulut ke mulut hingga akhirnya terdengar oleh banyak warga. Bahkan kini para tokoh masyarakat, Pak Lurah, Pak RT, dan Pak RW, turut hadir malam itu, duduk berjajar di kursi-kursi yang sengaja disiapkan di teras warung, menandakan betapa seriusnya persoalan itu bagi seluruh warga kampung."Selamat malam, Bu Sumini, Bapak dan Ibu semuanya…" sapa Pak Budi begitu tiba, suaranya be
Terakhir Diperbarui: 2026-10-01
Chapter: Ditantang Menikahi DianTubuh Bondan membeku mendengar omelan keras Sumini yang menggema hingga terdengar ke jalan. Dian sendiri merasa panas dingin, jantungnya berdebar takut melihat perubahan aura ibunya yang begitu drastis, wajah yang tadi tampak manis dan centil kepada Tarjo, kini berubah garang penuh amarah."Dian! Mau jadi apa kau ini! Di mana harga dirimu sampai kamu mau diperlakukan seperti itu olehnya!" bentak Sumini, telunjuknya mengarah tajam ke arah Bondan, matanya menyala penuh murka seorang ibu yang merasa kehormatan anaknya telah diinjak-injak.Bondan yang merasakan tekanan luar biasa dari situasi ini, entah dari mana datangnya keberanian itu, tiba-tiba melontarkan kalimat yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. "Bi... aku janji akan menikahi Dian. Aku akan mengatakan kepada ayahku untuk segera melamar Dian..."Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, padahal jauh di dalam hati, ia sendiri tak yakin sepenuhnya dengan ucapannya. Dian memang cantik, tak bisa dipungkiri. Namun sesungguh
Terakhir Diperbarui: 2026-09-30
Chapter: The EndSentuhan bibir Adit di area paling sensitifnya mengirimkan gelombang kejut yang membuat Vera melentingkan punggungnya. Di bawah temaramnya cahaya kamar, Vera mencengkeram erat seprai, sementara Larasati yang berada di sisinya terus menggenggam jemari Vera, menyalurkan kehangatan yang anehnya terasa begitu menenangkan. Tidak ada amarah di mata Larasati; yang ada hanyalah tatapan sayu yang penuh penerimaan.Adit perlahan menyudahi kecupan awalnya, lalu menegakkan tubuhnya di antara kedua kaki Vera yang kini terbuka tanpa daya. Sepasang mata tajam Adit menatap lurus ke dalam netra Vera yang basah oleh air mata gairah."Rileks, Ver... Percaya sama aku," bisik Adit, suaranya terdengar begitu dalam dan berwibawa di sela keheningan malam.Vera tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa mengangguk pasrah, bibirnya yang sedikit digigit menahan desah yang terus mendesak keluar. Jantungnya berdentum begitu keras di rongga dadanya, berpacu antara rasa takut akan rasa sakit pertama, rasa
Terakhir Diperbarui: 2026-07-17
Chapter: Atas Izin LarasDi atas ranjang yang sama, atmosfer kamar seolah dipenuhi oleh kabut gairah yang tebal. Vera masih terus menggelinjang, tubuhnya melengkung pasrah didera sisa-sisa badai kenikmatan yang belum sepenuhnya reda dari sistem sarafnya. Di sisinya, Larasati pun dibuat berada dalam kondisi yang serupa; energi murni yang terus dipompakan Adit membuatnya terengah-engah dalam kepuasan yang tumpang-tindih.Ketika Adit akhirnya perlahan menarik dirinya dan mencabut penyatuan mereka, Larasati merasakan kekosongan yang seketika melanda. Tubuhnya benar-benar lelah, lumpuh, dan tak lagi bisa digerakkan. Namun, di tengah keletihan fisik itu, kabut di otaknya perlahan mulai menipis, memaksanya untuk mencerna apa yang sedang terjadi di depan matanya.Larasati mendapati dirinya berada dalam situasi yang sangat membingungkan. Ia tahu Adit sedang beralih pada wanita lain di sebelah mereka. Anehnya, tidak ada rasa cemburu atau amarah yang membakar dadanya.Ada sebuah letupan perasaan asing yang tak bisa ia d
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Membawa Laras Ke Ranjang VeraSetelah jeda sesaat yang diisi oleh hela napas pendek, kerinduan Larasati rupanya belum sepenuhnya terpuaskan. Ia masih ingin lagi merasakan kenikmatan yang sungguh gila dan nyata itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia kembali menegakkan tubuh dan menggerakkan pinggulnya dengan lincah di atas tubuh Adit.Gerakan ritmis yang penuh gairah itu baru benar-benar melambat dan berhenti ketika badai kenikmatan yang kedua kembali menerjang seluruh syaraf tubuhnya. Kali ini, Larasati benar-benar kehabisan daya. Ia ambruk, terengah-engah pasrah dengan tubuh yang lemas dan basah oleh keringat, merebahkan dadanya di atas dada bidang Adit.Di momen itu, Adit memikirkan Vera.Sedari tadi, sebetulnya, indra sensitif Adit bisa merasakan setiap pergerakan gelisah dari ranjang seberang. Vera tidak benar-benar tidur. Adit tahu persis wanita itu sedang berpura-pura terlelap di tengah siksaan batin mendengar semua keintiman ini.Ada rasa tidak tega yang mendalam merayap di hati Adit. Terlebih, ia masih
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: Bersatu Secara NyataDi sisi lain ranjang, Vera seketika menahan napas. Jantungnya berdebar-debar hebat menyadari pergerakan Larasati. Namun, Vera tetap memaku tubuhnya, memejamkan mata rapat-rapat, dan berpura-pura tetap tidur di tengah kegelapan malam.Larasati perlahan merebahkan tubuhnya di sebelah Adit, bergerak seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara, lalu melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu. Sentuhan lembut dan aroma familier Larasati seketika membuat Adit terbangun.Berkat sirkulasi energi murninya, tidur singkat pun sudah lebih dari cukup untuk membuat kesadarannya pulih sepenuhnya dan matanya kembali segar.Larasati yang menyadari Adit sudah terjaga, semakin merapatkan tubuhnya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Adit dan berbisik lirih, “Dit... aku kangen...”“Iya... aku juga...” balas Adit dengan suara rendah, menatap manik mata Larasati di tengah temaramnya lampu nakas.Mereka pun berciuman, menyalurkan seluruh kerinduan dan rasa lega yang mendalam setelah sekian lama terpisah
Terakhir Diperbarui: 2026-07-14
Chapter: Tidak TahanMereka menatap wajah pemuda itu dengan saksama. Ada rasa haru sekaligus takjub yang menyeruak di hati mereka setiap kali melihat penampilan fisik Adit yang sekarang. Wajah di hadapan mereka saat ini adalah hasil dari operasi paksa yang dilakukan oleh Sekte Kegelapan saat Adit diculik waktu itu. Wajah aslinya telah hilang, berganti dengan struktur wajah baru yang 90 persen berbeda dari Adit yang mereka kenal dulu.Namun, di balik tragedi mengerikan itu, sebuah keberuntungan kecil tetap berpihak pada Adit. Dokter dari Sekte Kegelapan yang mengoperasi wajahnya dulu ternyata adalah seorang penggemar berat drama Korea. Alhasil, sang dokter merekonstruksi wajah Adit hingga kini memiliki visual yang luar biasa tampan, mirip dengan artis Korea papan atas yang sering diidolakan banyak orang. Dengan kulit yang bersih efek dari sirkulasi energi murninya, garis rahang yang tegas namun lembut, serta mata yang kini memiliki sorot yang lebih dalam, Adit benar-benar bertransformasi menjadi sosok yang
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Chapter: Pertemuan KembaliPintu lift berdenting terbuka di lantai lobi. Larasati hampir berlari keluar, sementara Vera mengekor beberapa langkah di belakangnya dengan topi fedora yang ditarik agak rendah dan masker yang masih menutupi sebagian wajahnya.Di dekat pilar besar lobi, sesosok pemuda dengan ransel gunung berukuran besar tengah berdiri menyandar. Wajahnya agak kusam oleh debu jalanan, namun senyumnya langsung mengembang begitu melihat siapa yang keluar dari lift."Adit!" seru Larasati tak mampu membendung kegembiraannya.Ia langsung menghambur dan memeluk Adit erat-erat, menenggelamkan wajahnya di dada pemuda itu. Laras melepaskan seluruh rasa rindu yang membuncah setelah cukup lama cemas dan terpisah jarak. Adit terkekeh pelan, melingkarkan satu lengannya di pinggang Larasati dan menepuk punggung kekasihnya itu dengan lembut. "Hei, pelan-pelan, Nyonya Besar. Aku bau matahari, lho.""Nggak peduli!" bisik Larasati manja, semakin mempererat pelukannya sebelum akhirnya melepaskannya dengan wajah bersemu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Chapter: Akhir CeritaSerangan fajar itu berlangsung sengit. Pasukan Tirtapura benar-benar diuntungkan dengan keadaan musuh yang tidak siap dan masih kaget dengan ledakan.Pasukan pemanah segera beraksi menghujani benteng dan apapun di baliknya dengan panah. Lalu begitu panah-panah itu habis, pasukan darat segera berlari menyerbu melewati benteng yang rubuh itu dengan gagah berani sambil berteriak lantang saling membakar semangat satu sama lainnya.Senopati Teguh menahan Rangga agar tidak ikut masuk.“Di sini saja, Den… tugamu sudah selesai. Sisanya biar dibereskan pasukan darat dan pasukan kuda. Kita hanya perlu menunggu. Hari ini, tak sampai tengah hari, istana Wonobhumi akan takluk…” kata Senopati Teguh.Rangga tidak membantah. Ia menyaksikan kemelut itu dari kejauhan dan mendengarkan teriakan-teriakan mengerikan di balik benteng itu. Musuh tidak sepenuhnya siap dan kalah jumlah.Rupanya perang itu berlangsung cepat. Belum sampai matahari terasa terik, perang berakhir diiringi suara sorak sorai pasukan
Terakhir Diperbarui: 2024-02-28
Chapter: Hancurnya Benteng WonobhumiKereta Rangga berhenti di tempat yang direncanakan. Rangga bukannya lolos dari serangan itu. Ada dua anak panah yang telah tertancap di bahunya. Rasanya sungguh menyakitkan. Namun Rangga menghiraukan rasa sakit itu. Ketegangan membuatnya tak peduli dengan apapun.Pihak musuh tidak mengerti. Mereka banyak yang berpindah hingga di atas dan di sisi kanan dan kiri benteng itu sambil tetap berancang-ancang dengan panahnya. Rangga masih terpindung oleh bagian lengkung benteng sehingga siapa saja yang berada di atas belum bisa menyerangnya. Sementara ada banyak juga prajurit yang berada di balik gerbang benteng.Rangga segera bergegas ke belakang kereta. Ia menarik beberapa sumbu, lalu membakarnya tanpa ragu. Setelah itu, ia kembali memayungi tubuhnya dengan tameng dan ia berlari meninggalkan kereta itu kembali menuju ke pemukiman barat.Sungguh pun, Senopati Teguh sangat cemas. Ia sudah menyiapkan banyak prajurit pemanah saat itu. Saat Rangga berlari menyelamatkan diri, senopati Teguh memin
Terakhir Diperbarui: 2024-02-26
Chapter: Mendekati Benteng MusuhBeberapa hari kemudian, Pasukan Tirtapura sudah bergerak dan mereka berhasil menguasai wilayah barat kotaraja. Kini jarak kedua kubu itu bisa dibilang hanya beberapa langkah saja, terpisah oleh jalan dan juga benteng istana yang tinggi dan tebal.Dua kubu pasukan itu sudah sempat saling bersitegang dan bertukar serangan anak panah. Namun Senopati Wuring segera menghentikan hal itu karena bisa menjadi sebuah pemborosan.Dalam benak senopati Wuring ada banyak metode untuk menaklukkan Wonobhumi. Atau membuat mereka pada akhirnya membuka gerbang dan menyerang. Hal itu adalah sebuah kerugian besar bagi pihak Wonobhumi.Salah satu cara yang terpikirkan adalah dengan mengisolasi tempat itu. Tak akan ada pasokan makanan dan mereka tak akan bisa bertahan.Sementara, pasukan Tirtapura masih akan bisa bertahan karena mereka masih bisa mendapatkan pasokan makanan entah bagaimana caranya.Dan metode itu disampaikan oleh Senopati Wuring kepada semua jajaran senopati dan orang penting di kubu Tirtap
Terakhir Diperbarui: 2024-02-24
Chapter: Sampai Di Kotaraja WonobhumiHari-hari berlalu. Kini Rangga bersama rombongan besar pasukan Tirtapura sedang menuju ke kotaraja Wonobhumi.Pasukan Wonobhumi yang bertahan di kota Suluk akhirnya berhasil dikalahkan. Tidak banyak dari pasukan itu yang berhasil melarikan diri ke kotaraja. Selebihnya mati dan terluka parah, serta dijadikan tahanan sampai entah kapan.Yang pasti, kota-kota yang dilewati oleh pasukan Tirtapura selalu gemetar ketakutan sebab Wonobhumi sudah benar-benar kehilangan kekuatan, kecuali yang tersisa di kotaraja.Tentu setiap kota kadipaten akan memiliki pasukan sendiri-sendiri. Namun pada saat perang terjadi, kotaraja meminta sumbangan prajurit sehingga setiap kadipaten yang ada di wilayah Wonobhumi telah kehilangan setengah pasukannya.Dan kali ini, daripada hancur lebur, para adipati memilih untuk menyerah dan berdamai dengan Tirtapura yang artinya mereka dengan suka rela menyerahkan diri dan mengakui kedaulatan Tirtapura, serta mau menjadi bagian dari kerajaan tersebut.Hal itu tentu saja
Terakhir Diperbarui: 2024-02-23
Chapter: Citra Hamil?Dalam kekacauan itu, sayangnya tim yang berada di titik kedua kurang sabar. Banu juga merasa bingung dengan hiruk pikuk yang terjadi. Sehingga, semula yang seharusnya mereka menyalakan petasan ketika prajurit darat kembali untuk mengevakuasi teman-teman mereka, malah terburu-buru menyalakan petasan itu manakala mereka menganggap situasinya sudah tepat.Sehingga, pasukan darat musuh bisa dibilang selamat dari jebakan itu. Yang kena hanyalah kesatuan yang bertugas untuk mengangkut dan mengawal perbekalan.Senopati Teguh tak berani mengambil banyak resiko. Ia hanya menyuruh pasukannya untuk menghabiskan anak panah yang mereka miliki dan juga menjatuhkan bebatuan berukuran sedang dari atas gunung. Selebihnya mereka pergi meninggalkan tempat itu.Apapun itu, hasil dari serangan petasan tersebut cukup memuaskan. Ada banyak korban jatuh dari pihak Wonobhumi meski jumlah prajurit mereka masih sangat banyak.Namun demikian, mereka kehilangan waktu, kehilangan banyak kuda, dan juga amunisi lain
Terakhir Diperbarui: 2024-02-21
Chapter: Memporak-Porandakan Musuh Dengan LedakanRangga dan beberapa anggota timnya berada di lokasi titik pertama namun tak persis di tempat-tempat petasan itu dipasang sedemikian rupa.Prajurit darat sudah lewat dari tadi. Dan juga kereta-kereta pengangkut perbekalan. Rangga sampai merinding sendiri melihat banyaknya iringan panjang prajurit Wonobhumi tersebut.Yang dilakukan Rangga dan teman-temannya hanyalah berdiri di pinggir jalan karena tugas para prajurit di tempat itu memang hanya menjaga jalur.Hanya di awal-awal saja, pemimpin rombongan pasukan darat berhenti dan menanyakan situasi. Rangga menjawab jika jalur telah bersih dan aman untuk dilewati. Selebihnya para prajurit itu melanjutkan perjalanannya.“Panjang sekali barisannya… dan pasukan berkuda masih sangat jauh. Aku khawatir jika petasan kita gagal…” bisik Sanji yang saat itu berada di sebelah Rangga.“Jangan khawatir. Ada puluhan petasan dan tak mungkin tak ada yang meledak. Kita hanya harus berhati-hati saja, sebab yang akan kita hadapi nanti adalah kuda-kuda yang
Terakhir Diperbarui: 2024-02-20