Share

Renata Sakit

Author: Black Jack
last update Last Updated: 2026-02-13 12:00:23

Mereka berdua sempat tidur sebentar. Saat bangun, waktu sudah menunjukkan jam setengan 1 siang. Adit merasa sangat lapar. Saat ia beringsut pelan untuk berpakaian, Ayunda pun terbangun.

“Ini udah jam berapa Dit? Aduh, kita ketiduran ya…”

“Jam setengah 1 Ayun… aku lapar banget. Bangun geh, kita cari maem…” ajak Adit.

“Iya… ughh… ngilu semua aku. Astaga… hihihi…”

“Waduh… maafkan aku, Yun… kebablasan…”

“Nggak apa-apa. Enak kok. Aku yang malu Dit. Harusnya aku yang nyenengin kamu. Eh malah aku yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Treatmen ke Dua Yang Melelahkan

    Adit kembali duduk di bangku tunggu, pikirannya melayang jauh.Sungguh dia tidak mau terlibat lagi dalam urusan dunia hitam ini. Sudah. Dia sudah keluar. Sudah punya kehidupan baru; jadi aktor, punya karir yang cerah, punya nama yang bersih di mata publik.Tapi melihat Renata tertembak seperti ini... dia tidak bisa diam saja.Renata bukan hanya mantan bos. Dia orang yang pernah memberinya kesempatan ketika dia bukan siapa-siapa. Orang yang mempercayainya, yang membentuknya, yang mengajarkan banyak hal, baik dalam hal asmara hingga tentang kehidupan bawah tanah.Dan sekarang dia terbaring lemah, hidupnya bergantung pada mesin dan keajaiban.Adit merasa marah. Marah pada siapa pun yang melakukan ini. Marah pada dunia yang penuh dengan pengkhianatan dan kekerasan ini.Tapi dia juga tahu; marah saja tidak cukup.Dia harus berbuat sesuatu.Adit tahu ada banyak kelompok kriminal di kota ini. Lingkaran Merah memang yang paling terkenal; ormas besar yang punya cabang di banyak kota, punya kon

  • Tukang Pijat Tampan   Petunjuk Yang Buram

    Petang mulai menyelinap masuk lewat jendela koridor rumah sakit. Cahaya oranye keemasan menerangi wajah-wajah tegang para anak buah Renata yang masih setia berjaga. Adit duduk di bangku tunggu dengan kepala bersandar di dinding, mata memandang kosong ke arah pintu ruang ICU di mana Renata masih terbaring kritis.Ponselnya bergetar. Nama Vera muncul di layar.Adit mengangkat dengan suara pelan. "Halo, Ver.""Dit, kamu di mana? Udah mau maghrib. Kok belum pulang?" tanya Vera dengan nada khawatir.Adit menghela napas. "Aku di rumah sakit."Hening sejenak di ujung sana. "Rumah sakit? Kamu kenapa? Sakit?""Bukan aku yang sakit," jawab Adit sambil mengusap wajahnya yang lelah. "Renata. Mantan bos aku. Dia ditembak orang. Sekarang lagi kritis.""Apa?!" Vera terdengar shock meski ia tak kenal siapa Renata. Namun ia hanya tahu dari cerita Adit, bahwa Renata adalah wanita pertama yang memperkenalkan Adit pada kehidupan semacam itu. "Ditembak? Siapa yang nembak?""Belum tahu pasti. Bang Bayu bil

  • Tukang Pijat Tampan   Berharap Renata Pulih

    Adit tiba di rumah sakit dalam waktu dua puluh menit. Dia memarkirkan motornya dengan tergesa, lalu berlari masuk ke lobi rumah sakit.Bayu sudah mengirim nomor ruangan lewat pesan; ruang ICU VVIP di lantai tiga.Adit naik lift dengan napas yang mulai terengah, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena kekhawatiran yang mulai menggigit.Begitu pintu lift terbuka, Adit langsung melihat kerumunan orang di ujung koridor; sekitar sepuluh hingga lima belas orang yang berdiri dengan wajah tegang. Mereka semua anak buah Renata. Adit mengenali beberapa wajah.Bayu yang pertama melihat Adit. Dia langsung mendekat dengan langkah cepat."Dit," sapanya dengan nada lega bercampur cemas."Bang, Bu Renata kenapa?" tanya Adit langsung ke inti tanpa basa-basi.Bayu menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara pelan tapi tegas. "Dia ditembak."Adit membeku. "Apa?""Ditembak. Kena di dada. Pelurunya ngelewatin paru-paru, hampir kena jantung. Sekarang dia lagi kritis. Dokter masih berusaha stabilin

  • Tukang Pijat Tampan   Renata Sakit

    Mereka berdua sempat tidur sebentar. Saat bangun, waktu sudah menunjukkan jam setengan 1 siang. Adit merasa sangat lapar. Saat ia beringsut pelan untuk berpakaian, Ayunda pun terbangun.“Ini udah jam berapa Dit? Aduh, kita ketiduran ya…”“Jam setengah 1 Ayun… aku lapar banget. Bangun geh, kita cari maem…” ajak Adit.“Iya… ughh… ngilu semua aku. Astaga… hihihi…”“Waduh… maafkan aku, Yun… kebablasan…”“Nggak apa-apa. Enak kok. Aku yang malu Dit. Harusnya aku yang nyenengin kamu. Eh malah aku yang kewalahan…”“Aku seneng kok… bentar, aku tak mandi aja deh…”“Ikut… biar cepet…”“E… ayo kalau gitu…” kata Adit ragu. Ia khawatir, mandi bareng akan membuat mandinya tak kunjung selesai.Mereka pun mandi. Dan benar saja. Senjata Adit kembali berdiri. Tapi, tak terjadi apa-apa. Ayunda pura-pura cuek dan tak melihat pentungan yang menggemaskan itu. Ia tahu batas tubuhnya. Jika main lagi, ia pasti jatuh sakit. Jadi, acara mandi itu murni mandi saja. Lalu mereka berpakaian.Adit dan Ayunda meningga

  • Tukang Pijat Tampan   Kamu Ingin Membunuhku, Ya?

    Goyangan Ayunda awalnya begitu berwibawa, penuh ritme yang ia pelajari untuk memanjakan pasangannya. Namun, semakin keras ia berusaha memberikan yang terbaik, semakin kuat pula energi Adit merambat naik, menyusup melalui titik penyatuan mereka dan menjalar ke seluruh saraf panggulnya.Baru beberapa menit ia memacu tempo, tubuh Ayunda tiba-tiba menegang. Matanya terbelalak, menatap langit-langit dengan pandangan kosong saat gelombang klimaks pertama menghantamnya tanpa ampun. Ia memekik kecil, tubuhnya bergetar hebat di atas Adit, namun gravitasi dan sisa energinya memaksanya untuk terus bergerak."Adit... oh Tuhan, ini terlalu... ahh!"Ayunda mencoba mengatur napas, mencoba kembali pada ritmenya, namun ia terjebak dalam lingkaran setan kenikmatan. Setiap kali pinggulnya turun menemui tubuh Adit, ledakan energi baru muncul, memicu orgasme susulan yang lebih kuat dari sebelumnya. Belum sempat ia pulih dari gelombang pertama, gelombang kedua dan ketiga datang beruntun, meremas kesadarann

  • Tukang Pijat Tampan   Ayunda Kewalahan

    Tubuh Adit menegang seperti dawai yang ditarik hingga batas maksimal. Di bawah kendali lidah dan keahlian Ayunda yang tanpa ampun, kesadaran Adit seolah meledak menjadi jutaan partikel cahaya. Erangannya pecah, rendah dan dalam, saat ia mencapai klimaks yang sungguh dahsyat dalam hidupnya. Sensasinya bukan sekadar pelepasan fisik; itu adalah sebuah hantaman elektrik yang merambat dari pangkal tulang belakang hingga ke ujung saraf, membuat dunianya seakan berhenti berputar selama beberapa detik yang abadi.Ayunda menerima segalanya dengan pengabdian yang murni, seolah-olah setiap tetes gairah Adit adalah kemenangan baginya. Tak ada yang terbuang. Semua tertelan.Namun, saat napas Adit masih menderu dan jantungnya masih berpacu liar, hasratnya tidak lantas padam. Alih-alih merasa lelah, justru ia malah semakin berhasrat. Menu utamanya baru saja akan dimulai.Adit bangkit, matanya yang tadi sayu kini berkilat dengan intensitas yang berbeda. Ia meraih bahu Ayunda, memberikan tekanan lembu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status