Share

Renata Sakit

Author: Black Jack
last update publish date: 2026-02-13 12:00:23

Mereka berdua sempat tidur sebentar. Saat bangun, waktu sudah menunjukkan jam setengan 1 siang. Adit merasa sangat lapar. Saat ia beringsut pelan untuk berpakaian, Ayunda pun terbangun.

“Ini udah jam berapa Dit? Aduh, kita ketiduran ya…”

“Jam setengah 1 Ayun… aku lapar banget. Bangun geh, kita cari maem…” ajak Adit.

“Iya… ughh… ngilu semua aku. Astaga… hihihi…”

“Waduh… maafkan aku, Yun… kebablasan…”

“Nggak apa-apa. Enak kok. Aku yang malu Dit. Harusnya aku yang nyenengin kamu. Eh malah aku yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Vera Yang Pengertian

    Teras belakang toko itu terlihat rapi tapi terasa lapang karena tidak ada yang berlebihan di sana; hanya dua kursi rotan, satu meja pendek, dan pot-pot tanaman herbal yang Ayunda rawat sendiri di sepanjang dinding. Lampu teras yang kuning menerangi semuanya dengan cahaya yang hangat dan sedikit kekuningan, berbeda dari lampu dingin di ruang utama toko.Mereka bertiga duduk dengan gelas teh di tangan masing-masing yang Ayunda siapkan dengan cara yang terlalu ribet untuk ukuran membuat teh; cara seseorang yang butuh sesuatu untuk dilakukan agar tangannya tidak gemetar terus-menerus."Kamu nggak perlu takut lagi, Ayun," kata Adit. Ia memegang gelasnya tapi tidak meminumnya, matanya ke arah Ayunda. "Orang-orang seperti itu tidak akan pernah datang lagi kemari."Ayunda mengangguk pelan. Tapi ada sesuatu yang masih tersangkut di wajahnya, sesuatu yang tidak ikut selesai meski urusannya sudah selesai."Iya, Dit." Ia menyendok tehnya sebentar tanpa tujuan. "Eh, itu tadi… Bang Bayu. Dia…" Kali

  • Tukang Pijat Tampan   Mudah Diselesaikan

    Adit melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Bukan ugal-ugalan, tapi ada ketegasan dalam cara Adit menginjak pedal gas yang membuat Vera sekali-sekali melirik ke spidometer lalu memilih untuk tidak berkomentar. Ia mengenal Adit cukup lama untuk tahu perbedaan antara Adit yang terburu-buru karena malas menunggu dan Adit yang terburu-buru karena ada sesuatu yang tidak boleh dibiarkan terlalu lama."Mereka masih di sana?" tanya Vera, memecah keheningan."Ayunda bilang belum pergi."Vera mengangguk pelan, menatap jalan di depan. "Siapa mereka?""Belum tahu. Katanya orang pajak. Tapi aku nggak percaya. Ayunda itu terlalu polos kadang-kadang." Adit menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. "Makanya kita ke sana."Vera tidak bertanya lagi setelah itu.15 menit kemudian, akhirnya mereka sampai juga.Adit memarkirkan mobilnya di depan toko rotinya dengan cara yang efisien. Lalu ia pun turun, disusul oleh Vera.Ayunda berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang memadukan antara

  • Tukang Pijat Tampan   Ada Masalah Di Toko Roti

    Proses syuting telah selesai. Hari itu, Bu Ria ingin mengadakan pesta syukuran. Dan hari itu juga, Adit dan Vera tidak akan menginap lagi. Usai pesta, mereka berencana untuk pamit; pulang ke rumah Renata.Nasi tumpeng itu berdiri dengan gagah di tengah meja panjang yang didirikan di sisi set yang sudah dibersihkan dari peti-peti kayu dan matras stunt. Kerucut kuning dari nasi kunyit itu dihiasi lauk-pauk di sekelilingnya, ayam goreng, tempe orek, sambal, telur balado; dan di meja sebelahnya, bubur sumsum putih berendam dalam genangan kinca gula merah di mangkok-mangkok lucu menunggu giliran untuk disentuh.Sesederhana apapun tampilannya, ada sesuatu yang terasa sungguh dalam dari ritual ini; bahwa sebuah pekerjaan besar telah selesai, dan selesai dengan baik.Pak Teguh yang memotong puncak tumpeng, seperti tradisi yang memang sudah semestinya."Untuk semua yang sudah bekerja keras," katanya singkat, mengangkat potongan puncak itu sebentar sebelum menyerahkannya ke Adit di sebelahnya.

  • Tukang Pijat Tampan   Proses Syuting Selesai

    Adegan laga tergarap dengan cepat dan entah kenapa proses itu terus menerus terasa menegangkan, bukan dalam artian yang buruk, namun sebaliknya; tegang karena menciptakan kesenangan.Yang membuat adegan itu berbeda dari pertarungan yang pernah direkam di studio itu sebelumnya adalah kecepatan Adit; kecepatan itu sendiri sudah lebih dari cukup untuk membuat kru kamera bekerja keras memastikan frame tidak kehilangan gerakannya. Dan tentu kesungguhan lawan main Adit dalam menyerang itu memang menciptakan kesan alami dan sangat nyata. Itu yang mahal.Lalu juga, ada adegan-adegan yang seharusnya mustahil dilakukan tanpa alat bantu. Namun semua itu bisa terjadi begitu saja.Adit melepaskan energinya dengan cara yang ia ukur, bukan untuk menyakiti, tapi untuk mengarahkan. Setiap kali tangan atau kakinya hampir menyentuh seseorang, ada gelombang yang ia lepaskan terlebih dahulu, tidak kasat mata, yang menyiapkan tubuh itu untuk bergerak ke arah yang ia tentukan sebelum kontak fisik sebenarnya

  • Tukang Pijat Tampan   Mirip Sungguhan

    Kini Adit, Pak Teguh dan beberapa asisten sutradara, serta para pemain lainnya memulai latihan sebelum pengambilan gambar.Dua puluh orang yang berperan sebagai anak buah bos mafia penculik Clara, campuran antara stuntman profesional dan aktor pendukung yang memiliki latar belakang bela diri, berkumpul di set dan mendengarkan Adit menjelaskan apa yang ia inginkan dari mereka. Bukan instruksi tentang kapan harus jatuh atau ke arah mana harus terpental. Instruksi yang berbeda.Dalam hal perkelahian, orang-orang sungguh menaruh hormat kepada Adit. Mereka masih ingat betul peristiwa syuting di pantai waktu itu di mana Adit mengatasi banyak preman lokal sendirian. Jadi, di depan Adit, tak ada yang sok jago meski Adit masih muda.Kini ia memberi penjelasan seperti seorang guru mengajari muridnya."Serang sungguhan," kata Adit, dan ia mengatakannya dengan nada yang tidak memberi ruang untuk ditafsirkan sebagai hiperbola. "Jangan ukur-ukur. Jangan tunggu isyarat dari saya. Kalau naluri kalian

  • Tukang Pijat Tampan   Ingin Koreografi Lebih Bebas

    Pagi itu Vera dan Adit meninggalkan rumah Renata setelah sarapan dengan membawa kopor dan tas berisi pakaian serta alat-alat mandi.Merteka pergi ke studio. Berdua saja. Tanpa pengawalan.Hari masih pagi saat mereka memarkir mobil di parkiran depan studio itu. Beberapa kru tampak sibuk menyiapkan sesuatu untuk keperluan di hari itu. Dua security menyapa dengan ramah.Adit dan Vera masuk hingga ke loby depan dan di sana seorang perempuan 40an tahun dengan rambut yang dikepang rapi, berseragam kru, datang menyambut Adit. Adit dan Vera sering melihatnya di studio, tapi tak pernah tahu namanya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Mbak Wulan, yang mengurusi kebutuhan rumah tangga akomodasi studio.Ia berbicara dengan nada yang efisien dan menyenangkan sekaligus, menjelaskan jadwal kebersihan kamar, nomor yang bisa dihubungi jika ada kebutuhan apapun, dan lokasi fasilitas-fasilitas yang mungkin diperlukan, semuanya disampaikan dalam waktu yang tidak lebih dari tiga menit tanpa ada yang terle

  • Tukang Pijat Tampan   Sebentar Saja

    Adit sungguh ragu. Bukan hanya karena waktu yang tidak tepat, tapi karena rasa bersalah yang sudah lama menggerogoti. Ia hendak menolak, tapi Dea menarik tangannya dengan kekuatan yang tidak terduga, namun terasa akrab.“Kak…” Suara Adit tertahan, nyaris seperti erangan.“Udah tenang saja… ayo ikut

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Tukang Pijat Tampan   Keputusan Untuk Pergi

    Keheningan menggantung di antara mereka. Hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun pohon palem dan sesekali bunyi jangkrik yang mulai bermunculan di senja yang menjelang malam.Melihat Adit hanya diam dengan wajah yang penuh keraguan, Dinda masih mengejar. Ia condong ke depan, tatapannya menunt

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Tukang Pijat Tampan   Yakin Jika Guntur Pelakunya

    Dua sedan hitam melaju membelah jalanan yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan menerangi interior mobil dengan cahaya kuning yang redup. Adit duduk di kursi belakang, menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya melayang; rumah yang hangus, abu yang masih mengepul, kenangan yang lenyap dalam sekejap.

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Tukang Pijat Tampan   Menonton Vera Bertarung

    Adit yakin, ia tak salah ingat. Matanya terus menatap ke arah seberang arena, ke tempat yang cukup jauh dari posisinya sekarang.Lelaki itu berdiri tegak, seperti penjaga setia, tepat di sebelah seorang pria paruh baya sekitar 50-an tahun yang mengenakan jas berwarna merah mencolok. Pria berjas mer

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status