Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung

Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung

By:  Ray GhafariOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
0 Mga Ratings. 0 Rebyu
100Mga Kabanata
2.9Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Rakael dikhianati oleh pacarnya. Secara kebetulan, dia memperoleh warisan kultivasi. Kultivasi yang dia bayangkan adalah seperti yang di dalam novel. Menyingkirkan segala rintangan, bebas mengembara di dunia. Namun, kenapa ketika gilirannya sendiri, yang dia hadapi justru selalu ujian wanita?

view more

Kabanata 1

Bab 1

"Duh, kepalaku sakit banget!"

Rakael Adyatma memegangi kepalanya dan perlahan duduk dari ranjang besar yang empuk. Kepalanya terasa sangat berat, seolah-olah baru saja dihantam palu besar. Wajahnya juga basah, bahkan samar-samar tercium bau amis darah.

Rakael secara refleks menyeka wajahnya. Saat dia baru hendak turun dari tempat tidur untuk mencari air minum demi meredakan sakit kepala yang menyiksa ini, tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang licin. Seketika, kesadarannya yang semula kabur langsung kembali setengahnya.

Rakael mendadak menoleh ke samping. Sekilas pandang itu saja sudah cukup membuat matanya terbelalak.

Di sampingnya, ternyata terbaring seorang wanita dewasa yang cantik, sedang menatapnya dengan senyuman penuh arti. Di sekeliling mereka berserakan potongan pakaian wanita yang tercabik-cabik dan tisu.

Mata mereka langsung bertemu.

"Tante Ranti?!" Pupil mata Rakael langsung membesar. Dia berteriak kaget.

Detik berikutnya, seolah-olah tersiram air panas, dia langsung memeluk selimut dan berguling dari atas ranjang.

"Tante Ranti, maaf, aku ... aku semalam minum ...." Ucapan Rakael kacau balau, suaranya dipenuhi kepanikan dan kebingungan.

Kemarin, Rakael tanpa sengaja melihat foto di atas meja dan baru tahu bahwa kliennya, Ranti, adalah ibu kandung Marten, teman kuliahnya dulu! Celaka! Dia malah tidur dengan ibu kandung teman kuliahnya!

Ranti melirik Rakael dengan manja, lalu berkata, "Kenapa masih manggil aku Tante sih ...."

Jantung Rakael langsung berdegup keras. Masalahnya, dia benar-benar tidak ingat soal semalam! Apa kata-kata itu benar-benar keluar dari mulutnya tadi malam?

"Tante Ranti, aku benaran nggak sengaja. Aku ...."

Melihat wajah Rakael yang tegang, Ranti justru merasa geli. "Semalam kamu bukan seperti ini. Kenapa sekarang takut? Kamu pikir aku bakal memakanmu?"

Pikiran Rakael benar-benar kacau. Dalam hati, dia mengutuk dirinya sendiri. Semua ini gara-gara minum berlebihan!

"Tante Ranti, semalam aku ... aku benar-benar ...."

Alis Ranti yang indah sedikit terangkat, lalu dia menggoda, "Kenapa? Takut aku minta kamu tanggung jawab?"

Pikiran Rakael benar-benar berantakan. Wajahnya penuh rasa canggung. "Tante Ranti, jangan bercanda begitu. Semalam aku ...."

Ranti manyun dan melotot manja ke arah Rakael. "Panggil aku Kak Ranti!"

Rakael tahu dirinya bersalah, jadi dia langsung menurut. "Kak Ranti ...."

Ranti mengenakan piama sutra tipis yang seksi. Ujung jarinya yang putih bersih menekan ringan dada Rakael saat berujar, "Meskipun belum puas, kita juga nggak bisa lanjut. Suamiku sebentar lagi pulang."

Begitu mendengar suami Ranti akan kembali, kepala Rakael seolah-olah meledak. Dia langsung panik, buru-buru menoleh ke sana sini untuk mencari pakaiannya, siap kabur.

"Celanaku di mana?!" teriaknya dengan panik.

Melihat kepanikan Rakael, Ranti tertawa sampai dadanya berguncang. "Sudah, jangan panik. Aku cuma bercanda. Kami sudah lama cerai. Dia pulang cuma ambil barang. Ketemu juga nggak apa-apa."

Baru saja Rakael menyentuh celana dalamnya, tubuhnya langsung membeku di tempat. Wajahnya dipenuhi rasa malu.

"Kak Ranti, candaan seperti itu sama sekali nggak lucu." Rakael menepuk dadanya, masih diliputi rasa takut.

Tadi itu, dia benar-benar ketakutan. Kalau sampai tertangkap basah oleh suami orang di ranjang, bukankah dia bisa dipukuli sampai mati?

Belum lagi soal Marten. Hubungannya dengan Marten juga tidak baik. Waktu kuliah dulu, Marten adalah tipikal anak orang kaya dan pernah mengejar pacarnya, Arumi.

Mereka bisa dibilang adalah rival cinta. Sampai sekarang pun Marten masih belum menyerah pada Arumi, bahkan beberapa kali mendatangi perusahaan tempat Arumi bekerja.

"Dasar penakut. Kemarin kamu masih seperti keledai liar, sekarang sudah takut begini." Ranti melirik Rakael dengan manja, lalu berbalik, mengambil sebuah kontrak dari laci meja samping ranjang, dan melemparkannya pelan ke depan Rakael.

Rakael tampak bingung. Setelah terdiam cukup lama, barulah dia bertanya, "Kak Ranti, ini ... maksudnya apa?"

Sudut bibir Ranti terangkat, menampilkan senyuman tipis. "Kontrak asuransi. Aku sudah tanda tangan. Anggap saja ini hadiah untukmu."

Wajah Rakael langsung memancarkan kegembiraan yang sulit disembunyikan. Sudah tiga bulan dia bekerja di bidang asuransi dan akhirnya dia berhasil mendapatkan nasabah pertamanya.

"Kak Ranti, terima kasih banyak!"

Ranti tersenyum dengan tatapan penuh godaan. "Kalau mau berterima kasih, jangan cuma pakai mulut .... Tapi untuk kali ini, kita catat saja dulu. Dia hampir sampai. Kamu cepat pergi."

....

Setelah saling menambahkan kontak, Rakael segera menaiki motor listrik kecilnya dan buru-buru meninggalkan The Axton.

Di perjalanan pulang, pikirannya melayang. Meskipun dia berhasil mendapatkan kontrak, bahkan kontrak besar, dia sama sekali tidak merasa senang.

Rakael merasa dirinya telah mengkhianati Arumi, pacarnya. Dia dan Arumi mulai berpacaran sejak kuliah. Bisa dibilang cinta pada pandangan pertama. Awalnya, dia punya kesempatan untuk belajar ke luar negeri, tetapi demi bersama Arumi, dia memilih bertahan di tanah air.

Rakael sudah berusaha keras untuk tidak mengingat kejadian semalam. Namun, setiap kali dia berkedip, bayangan penuh gairah dari kejadian semalam selalu muncul di benaknya. Dalam keadaan linglung, dia pun kembali ke kantor.

Saat tiba di bawah gedung kantor, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 10 pagi.

"Rakael, selamat atas kontrakmu!" Di dalam ruang kantor direktur, Dyah tersenyum lebar. Bahkan soal Rakael yang datang terlambat tanpa absen pun tidak disinggung sama sekali.

Rakael merasa agak sungkan dipuji begitu. "Hanya kebetulan."

"Ini bukan kebetulan. Bukan cuma kamu yang pernah pergi ke The Axton. Sayangnya, tak satu pun dari mereka berhasil mendapat kontrak!" Dyah menatap wajah Rakael yang tampan. Sepasang matanya berkilau.

Tentang The Axton, Rakael juga pernah mendengarnya. Itu sebabnya, dia merasa dirinya hanya beruntung ....

Dyah meletakkan kontrak di tangannya, lalu secara pribadi menyeduhkan secangkir kopi untuk Rakael dan meletakkannya di hadapannya. "Kamu tahu berapa jumlah rumah di The Axton?"

Rakael menerima kopi itu, berpikir sejenak, lalu menjawab, "Tiga ratus dua belas rumah."

"Benar!" Senyuman Dyah semakin lebar. "Kalau begitu, kamu tahu siapa saja yang tinggal di sana?"

"Kurang tahu." Rakael menggeleng.

Dia datang ke The Axton hanya dengan niat mencoba peruntungan. Di dalam kota, mendapat kontrak terlalu sulit karena ada terlalu banyak orang yang berebut sedikit peluang. Itulah sebabnya dia mengalihkan target ke kawasan vila terbesar di luar kota itu.

Memang sulit ditembus, tetapi kalau berhasil mendapat satu kontrak saja, cukup untuk biaya hidup tiga bulan.

Bagaimanapun, dia sudah terlalu sering ditolak, sampai hampir mati rasa. Berhasil tentu membahagiakan, tetapi gagal pun sudah biasa.

"Perempuan. Semuanya perempuan." Dyah berbalik, mengambil sebuah berkas dari laci, lalu melemparkannya ke atas meja. "Yang tinggal di The Axton adalah para elite bisnis dari berbagai perusahaan besar, para wanita karier, bahkan beberapa selebritas papan atas!"

Rakael membolak-balikkan berkas itu sekilas. Matanya memancarkan keterkejutan.

Pantas saja kawasan vila itu sangat sepi di siang hari, tetapi bersih dan rapi. Ternyata seluruh penghuninya adalah perempuan.

"Kalau kamu bisa membuka pasar ini, penghasilan puluhan miliar setahun bukan hal mustahil." Dyah melangkah mendekat, merapikan dasi Rakael sambil menggoda, "Mungkin suatu hari nanti, posisiku juga bisa jadi milikmu."

Mencium aroma wangi dari tubuh Dyah, tubuh Rakael tanpa sadar menegang. "Bu, jangan bercanda ...."

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
100 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status