Chapter: BAB 9 : Bayang - Bayang dari Masa LaluKalea merasakan oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Nama tahun 2018 selalu menjadi momok yang menghancurkan hidupnya, dan kini Miko menyebut sosok yang "seharusnya sudah mati"."Siapa, Miko? Katakan padaku!" desis Kalea dengan suara gemetar, tangannya mencengkeram sprei rumah sakit hingga kusut.Miko melirik ke arah pintu yang terkunci, memastikan tidak ada penyadap atau telinga yang menguping. "Rendra Svara," bisik Miko nyaris tak terdengar. Darah Kalea seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. "Kak Rendra? Tidak mungkin... aku melihat sendiri mobilnya meledak. Aku yang memakamkannya!" "Itu yang diinginkan semua orang untuk dipercaya, Nona," jawab Miko dengan raut wajah serius yang mencekam. "Di dalam kartu memori itu ada bukti bahwa ledakan tahun 2018 adalah skenario untuk melenyapkannya karena dia memegang rahasia penggelapan dana Malik Group yang dilakukan Nyonya Saraswati." Air mata Kalea kembali jatuh, kali ini bu
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: BAB 8 : Simfoni di Ambang KematianLangkah kaki itu terdengar berat, menyeret di atas aspal yang tertutup debu reruntuhan. Kalea terpaku, matanya tak berkedip menatap bayangan yang perlahan menembus kabut asap hitam. Cahaya api di belakang sosok itu menciptakan siluet yang mengerikan sekaligus penuh harapan. Bukan Nata. Bukan pula Wijaya. "Pak... Pak Joni?" bisik Kalea nyaris tak terdengar. Pemilik kafe tua itu muncul dengan pakaian yang koyak dan wajah yang menghitam karena jelaga. Tangannya yang gemetar mendekap erat biola milik Kalea yang sudah menghitam di beberapa sisi. Ia terbatuk hebat, lalu ambruk berlutut tepat beberapa meter di depan Kalea. "Nona... biolamu..." Pak Joni berbisik parau sebelum akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri. "Di mana Nata, Pak?! Di mana dia?!" jerit Kalea histeris, mencoba berlari kembali ke arah gudang yang mulai dilalap api besar. Miko dengan sigap mencekal bahu Kalea, menahannya sekuat tenaga agar tidak masuk ke dalam maut. "Nona, bahaya! Gudang itu akan meledak lagi!" "Lep
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: BAB 7 : Melodi di Tengah PuingAsap tebal seketika memenuhi ruangan, menyapu pandangan Wijaya dan Fiona yang terbatuk hebat akibat ledakan di dermaga luar. Nata tidak membuang sedetik pun waktu. Ia menerjang ke arah kursi Kalea, meraih bahu gadis itu dengan protektif. "Pegang liontin itu erat-erat, Vara!" bisik Nata seraya menarik belati kecil yang tersembunyi di balik pergelangan kakinya. Dengan satu tarikan cepat, tali yang mengikat pergelangan tangan Kalea putus. Kalea jatuh ke pelukan Nata, tubuhnya gemetar hebat dihantam rasa syok dan suara ledakan yang memekakkan telinga. Sesaat, Kalea hanya mampu memeluk jas Nata sekuat tenaga. Tangisnya pecah tanpa mampu dibendung. Ia masih tidak percaya pria yang sempat dianggap mengkhianatinya kini kembali mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkannya. "Arkananta! Apa yang kau lakukan?!" raung Wijaya dari balik kepulan asap. Wijaya mencoba meraba senjatanya, tetapi Miko tiba-tiba muncul dari balik reruntuhan pintu gudang dengan beberapa pria berseragam hitam lainnya.
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: BAB 6 : Cakar di Balik BayangNata mencengkeram ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya terpaku pada pesan misterius yang baru saja diterimanya. "Bukan hanya ibuku?" gumamnya lirih. Ia segera bangkit dan berlari menuju pintu akses darurat tempat Kalea dibawa pergi. Bahunya menghantam pintu besi itu berkali-kali, tetapi sia-sia. Pintu sudah terkunci rapat dari luar. "Sialan!" bentaknya sambil memukul pintu hingga tangannya memar. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, melainkan sebuah foto. Dengan napas memburu, Nata membukanya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Kalea tampak terikat di sebuah kursi kayu di ruangan gelap. Di belakangnya berdiri seorang pria yang wajahnya tertutup bayangan, menggenggam biola Kalea dengan busur yang menempel tepat di leher gadis itu. "Siapa kau?" geram Nata sambil langsung menghubungi nomor tersebut. Tidak ada jawaban. Ia segera menelepon Miko. "Miko! Lacak nomor ini sekarang juga!" "Tapi, Tuan, Nyonya Saraswati memerintahkan saya—" "Persetan d
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: BAB 5 : Bayang - Bayang Maut dari langit"Tuan Arkananta! Segera menjauh dari gadis itu!" Suara menggelegar dari pengeras suara helikopter itu memecah kesunyian malam di atas gedung. Kalea Svara menutup matanya rapat-rapat, tak sanggup menahan silau lampu sorot yang begitu menyakitkan. Angin kencang dari baling-baling helikopter yang terbang rendah membuat tubuh mungilnya terhuyung, nyaris terjatuh hingga ia harus segera berpegangan pada pagar pembatas kaca. Nata yang semula berdiri tegak seketika membeku. Tangannya yang meremas liontin perak perlahan turun, namun sorot matanya tetap tajam menatap ke langit. Beberapa pria berseragam hitam mulai turun dengan tali. Gerakan mereka begitu terlatih. "Nata... siapa mereka?" tanya Kalea dengan suara yang nyaris hilang tertelan deru mesin. Pria itu tidak menjawab. Raut wajah Nata yang semula dipenuhi amarah kini berubah pias, tetapi bukan karena ketakutan. Tatapannya mengeras saat melihat sosok yang turun paling akhir dari helikopter itu. "Masuk ke dalam, Vara. Sekarang!"
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: BAB 4 : "Vara, " Sebuah Sandi RahasiaTiga minggu berlalu bagai kedipan mata. Bagi Kalea, hari-hari itu terasa seperti mimpi yang tak ingin diakhiri. Nata selalu tahu bagaimana cara meruntuhkan pertahanan hatinya. Setiap pesan teks, setiap buket bunga yang datang ke kosnya, hingga cara Nata menatapnya, seolah meyakinkan bahwa pria itu adalah jawaban atas segala doa sepinya. Malam ini, Nata membawanya ke sebuah taman privat di atas gedung pencakar langit milik Malik Group. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan helaian rambut hitam Kalea yang terurai. Nata melangkah dari belakang, lalu melingkarkan jas wol mahalnya ke bahu Kalea. "Dingin?" bisik Nata bariton, suaranya beradu dengan desau angin. Kalea tersenyum, merapatkan jas yang masih menyisakan aroma kayu cendana khas Nata. "Sedikit. Tapi tempat ini terlalu indah untuk dilewatkan hanya karena kedinginan." Di bawah kaki mereka, kerlip lampu Jakarta tampak seperti hamparan permata. Nata mengalihkan pandangannya dari gemerlap kota, lalu menatap Kalea. Ia meraih
Last Updated: 2026-08-12