LOGIN“Kalea, di duniaku tidak ada yang gratis. Termasuk rasa aman yang kuberikan semalam.” Kalea Svara tak pernah menyangka pria yang membuatnya merasa aman justru datang membawa dendam. Arkananta Malik—Nata, pewaris Malik Group—mendekatinya bukan karena cinta. Di balik perhatian dan kemewahan yang ia berikan, tersimpan dendam atas tragedi berdarah tahun 2018 yang menghancurkan hidupnya. Bagi Nata, Kalea hanyalah bagian dari rencana balas dendam. Namun, semakin dekat dengannya, semakin sulit Nata mengendalikan perasaan yang mulai tumbuh. Ketika dendam hampir terbalaskan, seseorang yang seharusnya sudah mati muncul kembali membawa bukti yang dapat mengubah kebenaran tentang tragedi 2018. Jika Nata ternyata membenci orang yang salah, akankah ia tetap menghancurkan Kalea? Atau justru wanita yang menjadi target balas dendamnya itu telah menjadi satu-satunya orang yang tak sanggup ia kehilangan?
View More"Butuh tumpangan, Nona pemain biola?"
Suara bariton yang berat dan tenang itu mendadak memecah keheningan lobi kafe yang sepi. Kalea Svara tersentak kaget. Dia langsung menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi sibuk merapatkan jaket denim tipisnya untuk menghalau terpaan angin malam yang menusuk tulang. Kalea menoleh cepat ke arah samping undakan lobi. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik rupanya telah berhenti tepat di depan tempatnya berteduh. Kaca jendela belakang mobil tersebut perlahan turun dengan bunyi mekanis yang halus, menampilkan sosok pria berpakaian jas abu-abu arang yang teramat rapi. "Maaf, Tuan," jawab Kalea canggung, mencoba menjaga jarak aman dari pria asing itu. "Terima kasih banyak atas tawarannya yang baik, tapi saya bisa menunggu taksi umum atau badai hujan ini sedikit reda di sini." Pria di dalam kabin mobil itu justru terkekeh pelan mendengar penolakannya. Sebuah senyuman tipis yang menawan terukir di bibirnya, melunakkan kesan dingin dari wajah tampannya yang intimidatif. "Hujan deras bercampur banjir seperti ini tidak akan menyisakan satu pun taksi kosong dalam waktu satu jam ke depan, Nona. Kebetulan sekali saya juga baru saja keluar dari kafe yang sama setelah menyelesaikan urusanku." Kalea melirik arloji murah di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat. Saat dia mencoba memeriksa aplikasi di HP-nya, tarif perjalanan menuju rumah kosnya sudah melonjak naik hingga tiga kali lipat akibat cuaca buruk. Angka itu membuat dompet tipisnya menjerit kalah tanpa daya. "Anggap saja tumpangan malam ini adalah bentuk apresiasi murni dari seorang penikmat musik yang merasa terkesan dengan permainan biolamu yang luar biasa indah tadi," tambah pria itu lagi, memperhalus intonasi suaranya yang terdengar begitu memikat. Kalea menarik napas panjang, lalu akhirnya mengangguk ragu. Supir pribadi mobil mewah tersebut dengan sigap langsung keluar memutari kap mesin, membukakan pintu belakang kabin sambil memayunginya dengan sangat hormat, mempersilakannya masuk ke dalam kendaraan. Aroma wangi kayu cendana bercampur kemewahan yang mahal langsung menyergap indra penciuman Kalea begitu dia mendudukkan diri di atas kursi kulit yang empuk. Suhu hangat yang berembus dari pendingin udara mobil seketika membuat tubuhnya yang semula menggigil kedinginan menjadi lebih rileks. Pria di sampingnya menyodorkan selembar tisu kain bersih berwarna putih untuk membantunya mengeringkan sisa air hujan di kening. "Kamu memang sering main biola di kafe itu?" tanya Nata sambil melirik hujan di balik jendela."Iya, hampir setiap malam," jawab Kalea. "Karyawan tetap?" " Bukan, aku hanya mengisi beberapa pertunjukan beberapa malam dalam seminggu." "Pantas saja permainanmu terdengar beda, kamu memainkan setiap nada seolah sedang menceritakan sesuatu." "Terima kasih banyak, Tuan," ucap Kalea merasa sangat canggung atas perhatian kecil ini. "Aku Arkananta," pria itu mengulurkan tangannya yang kekar, memecah keheningan yang sempat membeku di antara mereka sejak mobil mulai bergerak membelah kemacetan jalan malam. "Arkananta Malik. Tapi kau bisa memanggilku dengan nama Nata agar terasa lebih santai di telingamu selama perjalanan ini. ""Kalea Svara. Panggil saja saya Lea, Tuan Nata," jawab Kalea sembari menjabat tangan kekar pria itu sekilas sebelum menariknya kembali ke pangkuan dengan canggung. Saat kulit mereka bersentuhan, Kalea merasakan sebuah kehangatan asing yang menjalar cepat ke seluruh aliran darahnya. Getaran aneh itu entah mengapa membuat debaran jantung di dalam dadanya mendadak berkejaran tanpa sebab yang jelas. Dia menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan rona merah yang terbit di pipinya yang pias akibat pesona pria tersebut. Nata mengulas seulas senyuman penuh arti yang tersorot samar di balik kegelapan kabin mobil mewah itu. Pria itu memperbaiki posisi duduknya, mengecap nama tersebut di bibirnya dengan intonasi suara yang terdengar teramat dalam. "Kalea Svara... sebuah nama yang sangat indah, serasi, dan manis. Panggilan yang sangat cocok untuk seorang wanita yang memiliki jemari lentik ajaib sepertimu, Lea." Mobil terus melaju membelah kegelapan malam, hingga tiba-tiba Nata mencondongkan tubuh tegapnya ke arah Kalea dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi teramat pekat. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa senti saja, membuat napas Kalea tertahan sepenuhnya di tenggorokan karena terkejut. "Tapi Lea... apakah kamu tahu kalau sebuah melodi yang indah juga bisa menjadi lagu pengiring kematian yang paling sempurna?" bisik Nata parau.Kalea terbelalak kaget, tubuh mungilnya secara refleks merapat kaku pada pintu mobil karena ketakutan. "T-Tuan Nata, apa maksud Anda—"
Belum sempat Kalea menyelesaikan kalimatnya, mobil sedan mewah itu mendadak menginjak rem secara ekstrem hingga menimbulkan bunyi decit ban yang memekakkan telinga. Tubuh mereka berdua terdorong kasar ke depan, memotong sisa kalimat ketakutan di bibir Kalea dalam sekejap mata.Kalea merasakan oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Nama tahun 2018 selalu menjadi momok yang menghancurkan hidupnya, dan kini Miko menyebut sosok yang "seharusnya sudah mati"."Siapa, Miko? Katakan padaku!" desis Kalea dengan suara gemetar, tangannya mencengkeram sprei rumah sakit hingga kusut.Miko melirik ke arah pintu yang terkunci, memastikan tidak ada penyadap atau telinga yang menguping. "Rendra Svara," bisik Miko nyaris tak terdengar. Darah Kalea seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. "Kak Rendra? Tidak mungkin... aku melihat sendiri mobilnya meledak. Aku yang memakamkannya!" "Itu yang diinginkan semua orang untuk dipercaya, Nona," jawab Miko dengan raut wajah serius yang mencekam. "Di dalam kartu memori itu ada bukti bahwa ledakan tahun 2018 adalah skenario untuk melenyapkannya karena dia memegang rahasia penggelapan dana Malik Group yang dilakukan Nyonya Saraswati." Air mata Kalea kembali jatuh, kali ini bu
Langkah kaki itu terdengar berat, menyeret di atas aspal yang tertutup debu reruntuhan. Kalea terpaku, matanya tak berkedip menatap bayangan yang perlahan menembus kabut asap hitam. Cahaya api di belakang sosok itu menciptakan siluet yang mengerikan sekaligus penuh harapan. Bukan Nata. Bukan pula Wijaya. "Pak... Pak Joni?" bisik Kalea nyaris tak terdengar. Pemilik kafe tua itu muncul dengan pakaian yang koyak dan wajah yang menghitam karena jelaga. Tangannya yang gemetar mendekap erat biola milik Kalea yang sudah menghitam di beberapa sisi. Ia terbatuk hebat, lalu ambruk berlutut tepat beberapa meter di depan Kalea. "Nona... biolamu..." Pak Joni berbisik parau sebelum akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri. "Di mana Nata, Pak?! Di mana dia?!" jerit Kalea histeris, mencoba berlari kembali ke arah gudang yang mulai dilalap api besar. Miko dengan sigap mencekal bahu Kalea, menahannya sekuat tenaga agar tidak masuk ke dalam maut. "Nona, bahaya! Gudang itu akan meledak lagi!" "Lep
Asap tebal seketika memenuhi ruangan, menyapu pandangan Wijaya dan Fiona yang terbatuk hebat akibat ledakan di dermaga luar. Nata tidak membuang sedetik pun waktu. Ia menerjang ke arah kursi Kalea, meraih bahu gadis itu dengan protektif. "Pegang liontin itu erat-erat, Vara!" bisik Nata seraya menarik belati kecil yang tersembunyi di balik pergelangan kakinya. Dengan satu tarikan cepat, tali yang mengikat pergelangan tangan Kalea putus. Kalea jatuh ke pelukan Nata, tubuhnya gemetar hebat dihantam rasa syok dan suara ledakan yang memekakkan telinga. Sesaat, Kalea hanya mampu memeluk jas Nata sekuat tenaga. Tangisnya pecah tanpa mampu dibendung. Ia masih tidak percaya pria yang sempat dianggap mengkhianatinya kini kembali mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkannya. "Arkananta! Apa yang kau lakukan?!" raung Wijaya dari balik kepulan asap. Wijaya mencoba meraba senjatanya, tetapi Miko tiba-tiba muncul dari balik reruntuhan pintu gudang dengan beberapa pria berseragam hitam lainnya.
Nata mencengkeram ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya terpaku pada pesan misterius yang baru saja diterimanya. "Bukan hanya ibuku?" gumamnya lirih. Ia segera bangkit dan berlari menuju pintu akses darurat tempat Kalea dibawa pergi. Bahunya menghantam pintu besi itu berkali-kali, tetapi sia-sia. Pintu sudah terkunci rapat dari luar. "Sialan!" bentaknya sambil memukul pintu hingga tangannya memar. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, melainkan sebuah foto. Dengan napas memburu, Nata membukanya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Kalea tampak terikat di sebuah kursi kayu di ruangan gelap. Di belakangnya berdiri seorang pria yang wajahnya tertutup bayangan, menggenggam biola Kalea dengan busur yang menempel tepat di leher gadis itu. "Siapa kau?" geram Nata sambil langsung menghubungi nomor tersebut. Tidak ada jawaban. Ia segera menelepon Miko. "Miko! Lacak nomor ini sekarang juga!" "Tapi, Tuan, Nyonya Saraswati memerintahkan saya—" "Persetan d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews