LOGINKegilaan antara Mak comblang dan si bos dingin bermulut pedas. Selalu pilih-pilih wanita, suka mengkritik dan lainnya. Artan harus terpaksa menerima saran dari sahabat dekatnya untuk mencari jodoh lewat jasa Mak comblang. Dan Artan syok saat mengetahui siapa Mak comblangnya ternyata wanita yang pernah ia jebak sebagai alat bantunya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah usaha Artan mendapatkan jodohnya berhasil?
View MoreEmma glanced at the clock on the wall, the soft tick-tock mingling with the gentle hum of the night outside. Her three-year-old daughter, Lily, was finally asleep, her tiny body curled up under the pastel pink blanket that had been a birthday gift from her grandparents. Emma took a moment to brush a stray strand of hair from Lily’s forehead, her heart swelling with the kind of love only a mother could understand.
She tiptoed out of the room, careful not to make a sound, and settled into the corner of the living room where her laptop awaited. The room was dimly lit, bathed in the soft glow of the desk lamp that illuminated the scattered notes and textbooks she’d used for her research. Emma had been working tirelessly on her manuscript for months, pouring her heart into every page. Tonight was the night she would finally submit it to the esteemed journal she had been dreaming of reaching. As she opened her laptop and navigated to the journal’s submission guidelines, she realized she needed to adjust the references. She clicked on ChatGPT, a tool she frequently used for academic tasks. But as she opened the program, something caught her eye. A familiar profile picture appeared at the top of the screen—Daniel’s. Emma frowned. Daniel had mentioned that ChatGPT was a fun new tool he was exploring, but she hadn’t realized he was still using it. She hesitated for a moment before clicking on the chat history. The first message she saw made her heart skip a beat. **Daniel:** “Just lent my Rolex to a dear female friend of mine. She was thrilled!” Emma’s eyes widened. She quickly scrolled through the conversation. It was filled with casual, almost flirtatious remarks about this “dear female friend” and their shared interests. Another thread showed Daniel asking ChatGPT whether this friend sending him daily selfies could bring him good luck. Her fingers trembled as she clicked through the threads, her mind racing. **Daniel:** “Do you think her sending me selfies every day could bring me good luck?” **ChatGPT:** “It’s more likely a sign of her interest in you.” Emma felt a lump form in her throat. The words on the screen seemed to echo Daniel’s laughter, the same laugh she had heard countless times, but now it felt tainted. Taking a deep breath, Emma closed the laptop and walked over to the kitchen. She stood by the sink, staring out the window into the darkened city below. The moonlight cast gentle shadows across the room, but they did nothing to dispel the unease that had settled in her chest. A few moments later, Daniel walked in, his tie loosened and the faint scent of his cologne still lingering. He looked up from his phone, his eyes meeting hers. “Everything alright?” he asked, his tone casual but his eyes sharp, as if sensing her distress. Emma took a deep breath, trying to steady her voice. “Daniel, can we talk for a minute?” He nodded, walking over and taking a seat at the kitchen table. “Of course. What’s on your mind?” Emma sat across from him, her hands folded in her lap. “I was just working on my manuscript and I saw something on ChatGPT that concerned me. It’s about a female friend of yours.” Daniel’s expression changed from casual curiosity to guarded. “Oh? What about her?” Emma searched for the right words, but they felt like sand slipping through her fingers. “I saw messages where you were talking about lending her your Rolex and asking if her daily selfies would bring you good luck.” Daniel’s eyes widened slightly, then he quickly masked his surprise with a smile. “Emma, it’s nothing. Those messages are from months ago, when the program was new. I was just having some fun with it.” Emma took a deep breath, trying to remain calm. “It just… it made me uncomfortable. I thought you should know.” Daniel reached across the table and took her hand, his touch warm but his gaze unsteady. “Emma, it really is nothing. I promise you. Those conversations were just playful banter. There’s nothing serious there.” She pulled her hand back gently, her heart aching at the distance that was now so palpable between them. “I want to believe you, Daniel. But right now, I’m not sure what to believe.” Daniel looked down at the table, his fingers fidgeting with the edge of his shirt. “I’m sorry, Emma. I didn’t mean for it to come across that way. I swear it was just harmless fun.” Emma stood up, her chair scraping against the floor. “I’m going to bed. I need to think about this.” Daniel stood up too, a look of regret in his eyes. “Emma, please. Let’s talk about this more in the morning.” She shook her head slowly. “I think it’s better if I sleep on it. Good night, Daniel.” She walked away, leaving him standing there, the weight of unspoken words hanging heavy in the air. As she climbed into bed, she tried to push the thoughts from her mind, but the sting of betrayal lingered. She closed her eyes, hoping for rest but finding only a restless sleep filled with shifting shadows and unanswered questions. The next morning would bring decisions and conversations, but for now, all Emma could do was wait for the dawn.Keluarga Reva tak menyangka jika hari ini bakal bertemu dengan calon besannya, kedua orang tua Artan memaksa anaknya itu untuk membawa mereka bertemu dengan orang tua Reva.Artan tersenyum geli melihat sang mama yang awalnya ogah-ogahan dengan hubungan ia dan Reva. Tapi, kini mamanya itulah yang malah terlihat sangat antusias menyambut hubungan mereka. Bahkan kini mama Artan sudah ngebet dan tak sabar menunggu hari pernikahan mereka tiba."Halooo calon besan," sapaan hangat mama Artan pada orang tua Reva, sedangkan papa Artan sendiri hanya menyunggingkan senyumannya menyapa kedua orang tua Reva.Mama Artan mendekat dan memberikan kecupan di kedua pipi ibu Reva sembari memeluknya. Sungguh perlakuan manis yang dapat menghangat hati calon besannya."Putraku sudah menceritakan semuanya, mengenai perjalanan kisah cintanya dengan Reva. Jadi, kapan kita menentukan hari pernikahan mereka?" kata mama Reva tersenyum mengedipkan mata sebagai kode.
Artan dengan santai merangkul pundak Reva yang kini semakin gemetaran dan mencengkeram erat kemeja putih milik Artan yang melekat di tubuhnya. Kedua orang tua Artan mendelik menyaksikan anak dan wanita yang di akui sebagai kekasih putranya."Artan, apa yang kamu katakan? K—kekasih?" tanya mama Artan tergugu dengan ucapan anaknya tadi."Mama, papa, ayo masuklah terlebih dahulu. Aku akan menjelaskan semuanya pada kalian berdua." ucap Artan lembut."Tidak!" penolakan tegas mamanya. "Kami berdua tidak sudi masuk jika wanita jalang penghangat ranjang kamu masih disini.""Dia bukan jalang mama!" sentak Artan dengan suara yang mulai meninggi. "Dia kekasihku, namanya Revalda.""You lie! Kami tidak percaya dengan ucapanmu." mama Artan semakin murka, kembali menatap sengit ke arah Reva dari bawah sampai ke atas."Lihatlah dia, apakah pantas untuk disebut sebagai wanita baik-baik. Penampilannya sungguh memprihatinkan, dan sangat di sayangka
Setelah sampai di kota, Artan menyuruh Johan untuk mengantarkan dan mengurusi segala keperluan keluarga Reva selama tinggal disini. Johan mengangguk patuh dan mengantarkan keluarga Reva ke villa milik Artan.Sementara untuk Reva, Artan meminta izin pada kedua orang tua Reva agar mengizinkan putrinya untuk tinggal bersamanya dan berjanji tidak akan berbuat macam-macam sampai tiba hari pernikahan mereka. Orang tua Reva tersenyum mengangguk dan mengizinkan, mereka percaya pada Artan sepenuhnya."Selamat datang di apartemenku!" jerit Artan ketika sampai di apartemennya, membuka pintu dan mempersilakan Reva masuk dengan hormat.Reva tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya, cukup tercengang melihat apartemen Artan yang indah. Reva berjalan sambil matanya tetap terus memperhatikan setiap sudut apartemen Artan."Kau suka?" tanya Artan sambil mendekap memeluk tubuh Reva dari belakang.Reva merasakan nyaman dan hangat dengan lekukan Artan
Reva dan Artan sudah memutuskan untuk kembali ke kota siang ini juga, sudah cukup berlama-lama Artan bersantai-santai seperti seorang pengangguran yang tak ada kerjaan. Banyak segala tanggung jawab Artan yang tertunda selama ia di kampung Reva, kini ia mau tak mau dengan berat hati harus kembali ke kota untuk mengurusi bisnisnya yang hampir nyaris ia tinggalkan. Dan selama itu pula Artan menyerahkan segala urusan kantornya pada Miko, sepupunya.Kemarin Miko mengubunginya dan ngomel-ngomel karena Artan yang lupa diri, berjanji mengatakan pada Miko jika ia menyerahkan segala semua urusan tanggung jawab perusahaannya pada Miko selama seminggu. Tapi, ini jauh dari kata menepati janji yang Artan ucapkan.Miko juga punya perusahaan sendiri yang harus pria itu pikirkan dan kelola. Artan berdoa semoga saja masalah ini tak sampai ke telinga kedua orang tuanya.Tadi, Reva awalnya sempat menolak untuk kembali ke kota dan menyuruh Artan pulang ke kota bersama Johan se
Reva mengabaikan banyaknya panggilan tak terjawab yang masuk di ponselnya. Mengabaikan juga banyaknya pesan masuk, sedikit mengernyit heran ketika melihat sebuah nomor tak dikenal yang menghubungi nomor ponselnya. Dan juga pesan masuk dari nomor baru tak di kenal itu. Isi pesan dari orang tersebu
Reva tampak sibuk mencarikan kandidat wanita sebagai calon pasangan Artan, ia membagikan informasi mengenai seorang pria tampan yang ingin mencari pasangan lewat website dan situs seluruh jejaringan media sosial miliknya dan media sosial milik akun resmi jasa Mak comblang mereka.
"A—apa yang mau kau lakukan?!" tanya Reva was-was seraya melangkah mundur ke belakang saat melihat Artan yang melangkah maju mendekatinya sembari membuka kancing kemeja putihnya satu persatu.Artan tersenyum sinis memperhatikan gerak-gerik si Mak comblang ini yang ketaku
"Kau!" kaget Reva spontan menunjuk ke arah Artan yang juga kaget saat melihatnya.Wajah Reva mengeras menahan amarah yang ingin meledak-ledak saat melihat wajah pria yang tempo hari memanfaatkannya. Reva menoleh ke arah Johan yang ekspresinya tak bisa di tebak.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews