author-banner
BabyCaca
BabyCaca
Author

Novel-novel oleh BabyCaca

Di Kehidupan ke-56, Aku Menaklukkan Sang Raja Varka

Di Kehidupan ke-56, Aku Menaklukkan Sang Raja Varka

Roselina tahu persis kapan ia akan mati. Ia sudah mengalaminya 55 kali. Setelah mengalami kematian tragis berulang kali di tangan pria yang sama, kali ini Roselina menolak menyerah. Ia menerobos radius maut lima meter milik Kaelan Varka—Sang Raja yang dikutuk membekukan apa pun yang disentuhnya—dan melakukan hal mustahil: Ia memeluknya dan tetap bernapas. "Aku lelah mati dengan cara yang membosankan, Yang Mulia."
Baca
Chapter: Bab 325 : Perhatian sang Raja
"Apa maksud Anda, Yang Mulia? Ramuan apa?" Suara Roselina terdengar stabil, meski jantungnya berdegup gila di dalam dada. Ia menatap lurus ke arah Kaelan yang kini berdiri menjulang di dekat meja nakasnya. Tanpa melepaskan tatapan tajamnya, Kaelan mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan hijau pudar dari atas meja. Melihat benda itu, Roselina diam-diam menghembuskan napas lega yang tertahan di tenggorokannya. Syukurlah, Kaelan hanya menebak untuk memancingku. "Oh, botol itu," Roselina tersenyum tipis, merangkai kebohongan dengan sangat natural. "Itu adalah sisa ramuan pemulihan dari semalam, Yang Mulia. Saya tidak meminumnya karena merasa sudah jauh lebih baik, dan sejujurnya... saya sangat benci rasa pahit dari ramuan tabib." Kaelan terdiam sejenak. Mata safirnya menelisik wajah Roselina, mencari kebohongan, namun akhirnya ia meletakkan kembali botol itu ke atas meja. "Lalu, ada tujuan apa Anda sampai datang berkunjung kemari lagi, Yang Mulia?" tanya Roselina cepat, mencoba
Terakhir Diperbarui: 2026-05-27
Chapter: Bab 324 : Aliansi Lady Calyspho
"Dikatakan bebas, tentu saja tidak. Pengawalan di depan kamarmu ini luar biasa ketat, Roselina." Elias melangkah keluar dari bayangan sudut ruangan yang temaram. Pria berambut merah itu menghela napas panjang, menatap Roselina yang masih berdiri mematung di dekat meja kerjanya. "Lalu bagaimana kau bisa menembus penjagaan di depan?" tanya Roselina dengan kening berkerut. "Ksatria Ishaq tidak mungkin membiarkan sembarang orang masuk." "Aku meminjam nama Tabib Caspian," jawab Elias santai, menunjuk sebuah botol kecil di atas meja nakas. "Aku mengatakan bahwa Tabib Caspian menyuruhku mengantarkan ramuan pemulihan khusus untukmu. Mereka memeriksanya dan membiarkanku masuk." Roselina mendesah pelan. Ia berjalan mendekat dan menatap Elias dengan saksama. "Kau mengambil risiko yang terlalu besar, Elias. Jika ada orang dari faksi Vaelia yang melihatmu berada satu ruangan denganku, penyamaranmu akan hancur lebur." "Aku tahu. Tapi aku harus segera menemui," balas Elias, raut wajahnya
Terakhir Diperbarui: 2026-05-27
Chapter: Bab 323 : Tubuh berotot Jendral
"Aku benar-benar akan mati kebosanan jika terus dikurung di kamar ini seharian." Roselina menghela napas panjang, menatap datar pada buku bersampul kulit hitam yang tergeletak di atas mejanya. Kaelan benar-benar membuktikan ancamannya; beberapa penjaga bersiaga di luar pintu, memastikannya tidak menyentuh setumpuk perkamen laporan di ruang kerjanya. Melihat majikannya yang merengut, Celia yang sedang sibuk membereskan kamar hanya bisa tersenyum kecil. Gadis pelayan itu mengangkat sebuah keranjang kayu berisi pakaian kotor. "Bersabarlah sedikit, Nyonya. Yang Mulia hanya mengkhawatirkan kesehatan Anda," hibur Celia seraya merapikan isi keranjangnya. "Saya harus mengantar pakaian ini ke tempat pencucian istana utama. Sepertinya ada masalah dengan saluran air di paviliun kita hari ini." Roselina menoleh. "Kau harus berjalan sejauh itu hanya untuk mencuci?" "Tidak apa-apa, Nyonya," senyum Celia tulus. "Jika Anda benar-benar merasa bosan, nanti setelah saya selesai, saya akan memberani
Terakhir Diperbarui: 2026-05-27
Chapter: Bab 322 : Hasutan Berbisa
"Apa kau sama sekali tidak diajari tata krama dasar, Jenderal?" Lady Calyspho meletakkan cangkir tehnya dengan kasar hingga bergemerincing. Matanya menatap tajam ke arah Jenderal Vaelia yang baru saja melangkah masuk tanpa diundang. "Apakah pengawalku di depan kurang jelas berbicara?" desis Calyspho dengan raut wajah sangat ketus. "Aku sudah menegaskan tidak ingin menemui siapa pun! Terutama orang-orang dari istana. Kecuali jika Yang Mulia Kaelan yang datang sendiri untuk menemuiku." Alih-alih merasa tersinggung, Vaelia justru tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat meremehkan di telinga sang Nona Bangsawan. "Tawa macam apa itu? Apa kau sedang meremehkanku karena insiden malam festival itu?!" bentak Calyspho, berdiri dari kursinya. "Apa kau sudah lupa siapa ayahku, Jenderal? Aku adalah putri High Lord Qertes. Jangan berani bersikap kurang ajar di kediamanku!" Di balik senyum tenangnya, Vaelia mendecih dalam hati. 'Gadis manja yang menyusahkan. Jika bukan karena pengaruh faksi a
Terakhir Diperbarui: 2026-05-27
Chapter: Bab 321 : Argumen
"Apa kau sudah benar-benar kehilangan akal sehatmu, Nyonya Penasihat?" Suara berat dan dingin Kaelan Varka menggema di lorong Paviliun Timur. Sang Tiran Es itu berdiri menjulang, merentangkan satu lengannya untuk menghalangi pintu keluar. Di hadapannya, Roselina sudah berdiri rapi dengan gaun kerjanya, memegang setumpuk perkamen di tangan kirinya. Wajah gadis itu masih sedikit pucat akibat sisa racun semalam, namun matanya menatap Kaelan dengan keras kepala. "Berkas laporan pasca-festival sudah menumpuk setinggi gunung di meja kerja saya, Yang Mulia," balas Roselina tak kalah datar. "Dan saya harus mengurus semua pembukuannya hari ini juga." "Kau baru saja diracun semalam, Roselina!" geram Kaelan, menatap tajam gadis di depannya. "Tabib Caspian menyuruhmu istirahat. Apa sebenarnya yang kau kejar dengan tumpukan kertas sialan itu? Kerajaan ini tidak akan runtuh hanya karena kau mengambil cuti satu hari!" "Tapi pekerjaan saya akan menumpuk menjadi bencana jika saya menundanya,
Terakhir Diperbarui: 2026-05-27
Chapter: Bab 320 : Pion Baru
"Bukti ini terlalu sempurna, Nyonya Penasihat. Tapi sekaligus... terlalu berbahaya untuk dipegang." Roselina tersenyum tipis mendengar gumaman ksatria pribadinya. Di bawah cahaya lampu kristal yang temaram, ia membalik lembaran buku bersampul kulit hitam itu dengan hati-hati. Deretan angka, rute koordinat patroli yang dikosongkan, hingga stempel sihir darah Vaelia tercetak jelas di sana. "Kau benar, Ishaq. Jenderal itu benar-benar menjual titik buta pertahanan Ocean ke Kerajaan Hilles," ucap Roselina, matanya berkilat puas. "Dengan bukti sejelas ini, riwayatnya di militer bisa langsung hancur." Namun, senyum Roselina perlahan memudar seiring dengan helaan napasnya yang berat. Ia menutup buku itu dan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tapi aku tidak bisa langsung memberikan buku ini kepada Yang Mulia Kaelan," gumam Roselina frustrasi. "Buku ini didapatkan Elias dengan cara mencurinya diam-diam dari brankas Faksi Barat. Jika aku menyerahkannya sekarang, Elias akan langsung dituduh
Terakhir Diperbarui: 2026-05-26
OM CEO, I LOVE YOU!

OM CEO, I LOVE YOU!

"Jangan panggil saya Om, atau saya cium kamu sekarang juga!" Gara-gara menabrak CEO kaku di lobi dan merusak jam tangan miliaran, hidup Lala berubah jadi bencana. Bukannya takut, Lala malah memanggilnya "Om Tua" dan kabur setelah memeletkan lidah! Alistair, sang CEO arogan, tidak tinggal diam. Dia bersumpah akan memberi pelajaran pada bocah SMA bar-bar itu. "Kamu mau cicil sepuluh ribu sebulan? Kamu pikir ini warteg?!" geram Alistair. "Ya sabar dong, Om Galak! Namanya juga usaha!" balas Lala berani. Alistair berniat menyiksa Lala lewat pekerjaan, tapi malah hatinya yang tersiksa karena tingkah ajaib gadis itu. Bisakah Lala meluluhkan si Mr. Arrogant yang dinginnya melebihi kutub utara?
Baca
Chapter: Bab 200 - Tamat
Matahari sore menyiram taman belakang Mansion Vanderwick dengan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan siluet megah pada pilar-pilar bangunan yang tetap kokoh berdiri selama belasan tahun. Di sebuah kursi taman kayu jati yang nyaman, Alistair Julian Vanderwick duduk dengan gaya tenangnya yang legendaris. Meski ada beberapa helai uban yang mulai menyelinap di antara rambut hitamnya, aura kepemimpinannya justru semakin matang dan berwibawa. Alistair merangkul bahu Lala, menarik istrinya agar bersandar erat di dada bidangnya yang selalu menjadi pelabuhan ternyaman. Lala, yang masih terlihat sangat cantik dengan kerutan halus di sudut matanya, tersenyum sambil menikmati semilir angin. Ia mengamati bunga-bunga melati yang dulu mereka tanam bersama, kini telah tumbuh rimbun menutupi sebagian area gazebo. "Bub, lihatlah sekeliling kita. Rasanya seperti mimpi melihat mansion ini tetap sehangat dulu," bisik Lala pelan. "Tentu saja hangat, karena duniaku ada di sini, bersamamu, Lala," s
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: Bab 199 - Si kembar pintar
Malam di Mansion Vanderwick terasa berbeda, seolah udara dipenuhi oleh haru yang tertahan di balik kemegahannya. Lampu kristal di ruang tengah memancarkan cahaya temaram, menyinari Alistair dan Lala yang duduk berdampingan di sofa beludru. Besok adalah hari kelulusan jalur akselerasi bagi si kembar, sebuah tanda bahwa masa kanak-kanak mereka telah resmi berakhir. Alistair menatap kosong ke arah layar tabletnya, namun pikirannya melayang jauh pada memori belasan tahun lalu. Ia masih ingat sensasi menggendong Arlo yang merah dan Lyra yang menangis kencang di hari kelahiran mereka. Kini, kedua bayi itu telah berubah menjadi sosok remaja yang cerdas, tangguh, dan siap menaklukkan dunia pendidikan tinggi. "Bub, kenapa melamun? Besok kita harus bangun pagi untuk ke gedung wisuda," tegur Lala lembut sambil mengusap lengan suaminya. "Aku hanya merasa waktu benar-benar pencuri yang ulung, Lala. Rasanya baru kemarin aku membelikan mereka mobil-mobilan," gumam Alistair. "Dan sekarang mer
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: Bab 198 - Alistair pride
Malam di Mansion Vanderwick terasa sangat tenang dengan embusan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma melati. Alistair Julian Vanderwick berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan sikunya di pagar pembatas sembari menyesap kopi pahitnya. Matanya yang tajam tertuju ke bawah, ke arah taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman artistik yang hangat Di bawah sana, Arlo dan Lyra sedang duduk di gazebo kaca. Meski waktu sudah menunjukkan jam belajar mandiri, mereka berdua tampak sangat fokus. Arlo terlihat sedang menjelaskan sesuatu pada tabletnya kepada Lyra, sementara sang adik mencatat dengan serius di buku sketsanya. Alistair menyeringai tipis, merasakan kebanggaan yang membuncah di dalam dadanya melihat pemandangan itu. "Masih betah berdiri di sini, Bub? Kopinya sudah dingin lho," suara lembut Lala terdengar dari belakang. Alistair tidak menoleh, ia hanya merentangkan tangan kirinya untuk menarik Lala agar bersandar di sampingnya. "Lihat mereka, Bub. Rasanya baru kemarin aku p
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: Bab 197 - Kunjungan Elvin dan Intan
Mansion Vanderwick sore itu tampak lebih ramai dari biasanya. Gerbang emas terbuka lebar menyambut mobil SUV mewah yang sangat dikenal oleh seluruh penjaga. Alistair berdiri di teras dengan gaya angkuhnya, sementara Arlo berdiri di sampingnya dengan tangan masuk ke saku celana, menunjukkan aura dingin yang identik dengan sang ayah Elvin Fisher turun dari mobil dengan setelan kasual namun tetap rapi, diikuti Intan yang kini terlihat sangat anggun sebagai Nyonya Fisher. Di antara mereka, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun bernama Leo tampak berlari ceria sambil membawa bola plastik. Pemandangan itu kontras dengan Arlo yang hanya menatap kedatangan mereka dengan pandangan datar dan penuh analisa. "Wah, si Kulkas akhirnya ingat jalan pulang ke mansion ini," ejek Alistair sambil menyeringai lebar. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak stres karena menghadapi Arlo yang sepertinya sudah mulai menguasai meja kerjamu, Al," balas Elvin tajam. "Mas Elvin, Tuan Alistair, b
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: Bab 196 - My brother, my bodyguard
Kantin sekolah menengah internasional itu mendadak sunyi saat seorang siswa kelas dua belas berdiri menghadang jalan Lyra. Pria bernama Rangga itu tampak membawa beberapa lembar kertas dan menatap Lyra dengan senyum meremehkan. Para siswa lain mulai berbisik, menyadari bahwa ada seseorang yang cukup nekat untuk mengusik ketenangan sang ratu sekolah. Lyra berhenti melangkah, ia menatap Rangga dengan pandangan tenang namun tajam yang sangat mematikan. Ia melipat tangan di depan dada, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meski tubuh Rangga jauh lebih besar darinya. Baginya, gertakan semacam ini hanyalah hiburan murahan di tengah jam istirahat yang membosankan. "Ada apa, Kak? Sepertinya Kakak sedang butuh perhatian sampai harus menghalangi jalanku," ucap Lyra dengan nada santai. "Lo pikir karena lo cantik dan kaya, lo bisa seenaknya menolak undangan acara angkatan kami?" tanya Rangga dengan nada menantang. "Aku menolak karena acaranya tidak menarik, sesederhana itu. Kenapa Kak
Terakhir Diperbarui: 2026-03-16
Chapter: Bab 195 - Mommy, my bestfriend
Pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta tampak berkilau di bawah lampu kristal yang menggantung tinggi. Lala melangkah anggun sambil menggandeng lengan Lyra yang kini sudah hampir setinggi dirinya. Di belakang mereka, lima pengawal berpakaian safari hitam menjaga jarak sepuluh meter dengan sangat ketat. Lyra menyesuaikan letak kacamata hitam di atas kepalanya dengan gaya yang sangat modis. Ia melirik tumpukan kantong belanjaan bermerek yang dibawa oleh dua pengawal di belakang mereka. Senyum tipis terukir di bibirnya yang kemerahan, mewarisi kecantikan Lala namun dengan aura yang jauh lebih berani. "Mom, apa Daddy tidak akan marah kita menghabiskan limit kartu kreditnya dalam dua jam?" tanya Lyra sambil terkekeh. "Kartu itu diberikan memang untuk dihabiskan, Lyra. Kalau tidak habis, Daddy-mu justru akan curiga kita tidak bahagia," jawab Lala santai. "Daddy memang aneh. Dia mencintai kita dengan cara membuang uang seolah itu hanya tumpukan kertas," gumam Lyra sambil menarik
Terakhir Diperbarui: 2026-03-16
Kehidupan Ketiga Sang Villainess

Kehidupan Ketiga Sang Villainess

Dikhianati dan dibuang ke Hutan Terlarang untuk mati di kehidupan ketiganya, Aurelia von Valeraine justru jatuh ke dalam cengkeraman Raja Iblis yang kejam, Xaverius Lucian Dracul. Sang tiran haus darah itu menentang Sistem yang menuntut kematiannya, mengklaim jiwa Aurelia sebagai miliknya dengan obsesi mencekik yang tak bisa dihindari. Kini, terjebak di antara kematian yang sudah digariskan dan monster yang menolak melepaskannya, Aurelia harus menulis ulang takdirnya sebelum kegelapan melahapnya habis
Baca
Chapter: SIDE STORY 5 - END
Menara Timur Istana Obsidian bermandikan cahaya emas matahari sore. Debu-debu cahaya menari di udara, menciptakan suasana magis di dalam perpustakaan raksasa yang dibangun oleh Ratu Aurelia delapan tahun lalu. Tempat ini seharusnya sunyi. Seharusnya menjadi tempat suci bagi para pencari ilmu. Namun, sore ini, kesunyian itu hanyalah mitos. "Kakak Max! Lihat! Aku nemu buku gambar naga!" "Itu ensiklopedia anatomi Wyvern, Isabella. Taruh kembali. Kau memegangnya terbalik." Di sofa beludru panjang dekat jendela besar, Xaverius dan Aurelia duduk berdampingan. Sang Kaisar sedang tidak memegang dokumen negara, melainkan membiarkan istrinya bersandar di dadanya sambil membelai rambut perak Aurelia. Mereka menikmati tontonan rutin sore hari: Dua buah hati mereka yang sedang 'berdiskusi' di antara rak buku. Pangeran Maximilian, yang duduk rapi di meja baca anak dengan postur tegak sempurna, sedang membaca buku tebal berjudul 'Sejarah Runtuhnya Kekaisaran Kuno'. Wajah datarnya tak terg
Terakhir Diperbarui: 2026-03-09
Chapter: SIDE STORY PART 4
Malam telah larut di Istana Obsidian. Suara jangkrik malam dan desau angin dari Hutan Terlarang menjadi satu-satunya musik pengiring di ruang kerja Kaisar yang luas. Lampu kristal diredupkan, menyisakan cahaya hangat dari perapian yang menyala pelan. Di balik meja kerja mahoni yang besar, Xaverius Dracul duduk memeriksa tumpukan dokumen negara. Kacamata baca tipis bertengger di hidung mancungnya sebuah aksesori yang ia pakai hanya saat bekerja, yang membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa. Di sofa beludru merah tak jauh dari sana, Aurelia duduk bersantai dengan kaki diselonjorkan ke meja kecil, memangku sebuah novel tebal. Sesekali ia menyeruput teh chamomile hangatnya. Hening. Tapi bukan hening yang canggung, melainkan hening yang nyaman. Keheningan sepasang suami istri yang sudah berbagi nyawa selama bertahun-tahun. "Hhh..." Helaan napas panjang Xaverius memecah keheningan. Bukan helaan napas lelah karena pekerjaan, tapi helaan napas frustrasi yang spesifik. Aure
Terakhir Diperbarui: 2026-03-09
Chapter: SIDE STORY PART 3
Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General Jenderal Bayangan The Silent Blade Pedang Sunyi atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Chapter: SIDE STORY PART 2
Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf langsung tersedak. Mata merah emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balk
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Chapter: SIDE STORY PART 1
Delapan tahun telah berlalu sejak perang besar berakhir, namun bagi Kael, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman belakang Istana Obsidian. TAK! TAK! BUK! Suara benturan pedang kayu bergema di udara pagi. "Pangeran... hah... hah..." Kael, Sang Jenderal Bayangan yang namanya pernah membuat raja-raja benua lain gemetar ketakutan, kini berlutut dengan napas memburu. Keringat membasahi seragam latihan hitamnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. "Ampun, Pangeran! Istirahat dulu! Napas saya mau putus!" Di hadapannya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, namun tegak lurus seperti tiang bendera. Rambut peraknya yang halus warisan mutlak dari sang Ibu berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Namun, saat bocah itu mengangkat wajahnya, siapa pun akan langsung teringat pada Kaisar Iblis. Mata heterochromia merah-emas itu menatap Kael datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan. "Berdiri, Kael," perintah Pangeran Maximilian Dracul deng
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Chapter: Bab 125- Akhir yang bahagia
Pesta pernikahan itu berlangsung sampai dini hari dengan musik, tarian, dan arak madu yang mengalir tanpa henti di seluruh penjuru Istana Obsidian. Namun, saat langit timur mulai menampakkan semburat ungu muda, keramaian itu perlahan mereda. Para tamu sudah terlelap di kamar tamu, di taman, atau bahkan di bawah meja perjamuan saking mabuknya oleh kebahagiaan. Di lorong lantai atas yang sunyi, Xaverius Dracul berjalan pelan. Jas putih pengantinnya sudah dilepas sehingga menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya dibuka longgar dan lengan yang digulung sebatas siku. Di sampingnya, Aurelia berjalan tanpa alas kaki karena sepatu hak tingginya sudah lama ia tinggalkan di sudut ballroom akibat kakinya pegal berdansa. Tangan kanannya menjinjing ujung gaun pengantinnya yang berat, sementara tangan kirinya digenggam erat oleh Xaverius. "Lelah?" tanya Xaverius lembut sambil menatap istrinya yang terlihat mengantuk namun tetap tersenyum. "Sedikit," aku Aurelia. "Kakiku rasanya mau copot,
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status