author-banner
BabyCaca
BabyCaca
Author

Novels by BabyCaca

Kehidupan Ketiga Sang Villainess

Kehidupan Ketiga Sang Villainess

Dikhianati dan dibuang ke Hutan Terlarang untuk mati di kehidupan ketiganya, Aurelia von Valeraine justru jatuh ke dalam cengkeraman Raja Iblis yang kejam, Xaverius Lucian Dracul. Sang tiran haus darah itu menentang Sistem yang menuntut kematiannya, mengklaim jiwa Aurelia sebagai miliknya dengan obsesi mencekik yang tak bisa dihindari. Kini, terjebak di antara kematian yang sudah digariskan dan monster yang menolak melepaskannya, Aurelia harus menulis ulang takdirnya sebelum kegelapan melahapnya habis
Read
Chapter: SIDE STORY 5 - END
Menara Timur Istana Obsidian bermandikan cahaya emas matahari sore. Debu-debu cahaya menari di udara, menciptakan suasana magis di dalam perpustakaan raksasa yang dibangun oleh Ratu Aurelia delapan tahun lalu. Tempat ini seharusnya sunyi. Seharusnya menjadi tempat suci bagi para pencari ilmu. Namun, sore ini, kesunyian itu hanyalah mitos. "Kakak Max! Lihat! Aku nemu buku gambar naga!" "Itu ensiklopedia anatomi Wyvern, Isabella. Taruh kembali. Kau memegangnya terbalik." Di sofa beludru panjang dekat jendela besar, Xaverius dan Aurelia duduk berdampingan. Sang Kaisar sedang tidak memegang dokumen negara, melainkan membiarkan istrinya bersandar di dadanya sambil membelai rambut perak Aurelia. Mereka menikmati tontonan rutin sore hari: Dua buah hati mereka yang sedang 'berdiskusi' di antara rak buku. Pangeran Maximilian, yang duduk rapi di meja baca anak dengan postur tegak sempurna, sedang membaca buku tebal berjudul 'Sejarah Runtuhnya Kekaisaran Kuno'. Wajah datarnya tak terg
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: SIDE STORY PART 4
Malam telah larut di Istana Obsidian. Suara jangkrik malam dan desau angin dari Hutan Terlarang menjadi satu-satunya musik pengiring di ruang kerja Kaisar yang luas. Lampu kristal diredupkan, menyisakan cahaya hangat dari perapian yang menyala pelan. Di balik meja kerja mahoni yang besar, Xaverius Dracul duduk memeriksa tumpukan dokumen negara. Kacamata baca tipis bertengger di hidung mancungnya sebuah aksesori yang ia pakai hanya saat bekerja, yang membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa. Di sofa beludru merah tak jauh dari sana, Aurelia duduk bersantai dengan kaki diselonjorkan ke meja kecil, memangku sebuah novel tebal. Sesekali ia menyeruput teh chamomile hangatnya. Hening. Tapi bukan hening yang canggung, melainkan hening yang nyaman. Keheningan sepasang suami istri yang sudah berbagi nyawa selama bertahun-tahun. "Hhh..." Helaan napas panjang Xaverius memecah keheningan. Bukan helaan napas lelah karena pekerjaan, tapi helaan napas frustrasi yang spesifik. Aure
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: SIDE STORY PART 3
Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General Jenderal Bayangan The Silent Blade Pedang Sunyi atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: SIDE STORY PART 2
Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf langsung tersedak. Mata merah emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balk
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: SIDE STORY PART 1
Delapan tahun telah berlalu sejak perang besar berakhir, namun bagi Kael, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman belakang Istana Obsidian. TAK! TAK! BUK! Suara benturan pedang kayu bergema di udara pagi. "Pangeran... hah... hah..." Kael, Sang Jenderal Bayangan yang namanya pernah membuat raja-raja benua lain gemetar ketakutan, kini berlutut dengan napas memburu. Keringat membasahi seragam latihan hitamnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. "Ampun, Pangeran! Istirahat dulu! Napas saya mau putus!" Di hadapannya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, namun tegak lurus seperti tiang bendera. Rambut peraknya yang halus warisan mutlak dari sang Ibu berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Namun, saat bocah itu mengangkat wajahnya, siapa pun akan langsung teringat pada Kaisar Iblis. Mata heterochromia merah-emas itu menatap Kael datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan. "Berdiri, Kael," perintah Pangeran Maximilian Dracul deng
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: Bab 125- Akhir yang bahagia
Pesta pernikahan itu berlangsung sampai dini hari dengan musik, tarian, dan arak madu yang mengalir tanpa henti di seluruh penjuru Istana Obsidian. Namun, saat langit timur mulai menampakkan semburat ungu muda, keramaian itu perlahan mereda. Para tamu sudah terlelap di kamar tamu, di taman, atau bahkan di bawah meja perjamuan saking mabuknya oleh kebahagiaan. Di lorong lantai atas yang sunyi, Xaverius Dracul berjalan pelan. Jas putih pengantinnya sudah dilepas sehingga menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya dibuka longgar dan lengan yang digulung sebatas siku. Di sampingnya, Aurelia berjalan tanpa alas kaki karena sepatu hak tingginya sudah lama ia tinggalkan di sudut ballroom akibat kakinya pegal berdansa. Tangan kanannya menjinjing ujung gaun pengantinnya yang berat, sementara tangan kirinya digenggam erat oleh Xaverius. "Lelah?" tanya Xaverius lembut sambil menatap istrinya yang terlihat mengantuk namun tetap tersenyum. "Sedikit," aku Aurelia. "Kakiku rasanya mau copot,
Last Updated: 2026-03-08
OM CEO, I LOVE YOU!

OM CEO, I LOVE YOU!

"Jangan panggil saya Om, atau saya cium kamu sekarang juga!" Gara-gara menabrak CEO kaku di lobi dan merusak jam tangan miliaran, hidup Lala berubah jadi bencana. Bukannya takut, Lala malah memanggilnya "Om Tua" dan kabur setelah memeletkan lidah! Alistair, sang CEO arogan, tidak tinggal diam. Dia bersumpah akan memberi pelajaran pada bocah SMA bar-bar itu. "Kamu mau cicil sepuluh ribu sebulan? Kamu pikir ini warteg?!" geram Alistair. "Ya sabar dong, Om Galak! Namanya juga usaha!" balas Lala berani. Alistair berniat menyiksa Lala lewat pekerjaan, tapi malah hatinya yang tersiksa karena tingkah ajaib gadis itu. Bisakah Lala meluluhkan si Mr. Arrogant yang dinginnya melebihi kutub utara?
Read
Chapter: Bab 200 - Tamat
Matahari sore menyiram taman belakang Mansion Vanderwick dengan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan siluet megah pada pilar-pilar bangunan yang tetap kokoh berdiri selama belasan tahun. Di sebuah kursi taman kayu jati yang nyaman, Alistair Julian Vanderwick duduk dengan gaya tenangnya yang legendaris. Meski ada beberapa helai uban yang mulai menyelinap di antara rambut hitamnya, aura kepemimpinannya justru semakin matang dan berwibawa. Alistair merangkul bahu Lala, menarik istrinya agar bersandar erat di dada bidangnya yang selalu menjadi pelabuhan ternyaman. Lala, yang masih terlihat sangat cantik dengan kerutan halus di sudut matanya, tersenyum sambil menikmati semilir angin. Ia mengamati bunga-bunga melati yang dulu mereka tanam bersama, kini telah tumbuh rimbun menutupi sebagian area gazebo. "Bub, lihatlah sekeliling kita. Rasanya seperti mimpi melihat mansion ini tetap sehangat dulu," bisik Lala pelan. "Tentu saja hangat, karena duniaku ada di sini, bersamamu, Lala," s
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 199 - Si kembar pintar
Malam di Mansion Vanderwick terasa berbeda, seolah udara dipenuhi oleh haru yang tertahan di balik kemegahannya. Lampu kristal di ruang tengah memancarkan cahaya temaram, menyinari Alistair dan Lala yang duduk berdampingan di sofa beludru. Besok adalah hari kelulusan jalur akselerasi bagi si kembar, sebuah tanda bahwa masa kanak-kanak mereka telah resmi berakhir. Alistair menatap kosong ke arah layar tabletnya, namun pikirannya melayang jauh pada memori belasan tahun lalu. Ia masih ingat sensasi menggendong Arlo yang merah dan Lyra yang menangis kencang di hari kelahiran mereka. Kini, kedua bayi itu telah berubah menjadi sosok remaja yang cerdas, tangguh, dan siap menaklukkan dunia pendidikan tinggi. "Bub, kenapa melamun? Besok kita harus bangun pagi untuk ke gedung wisuda," tegur Lala lembut sambil mengusap lengan suaminya. "Aku hanya merasa waktu benar-benar pencuri yang ulung, Lala. Rasanya baru kemarin aku membelikan mereka mobil-mobilan," gumam Alistair. "Dan sekarang mer
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 198 - Alistair pride
Malam di Mansion Vanderwick terasa sangat tenang dengan embusan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma melati. Alistair Julian Vanderwick berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan sikunya di pagar pembatas sembari menyesap kopi pahitnya. Matanya yang tajam tertuju ke bawah, ke arah taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman artistik yang hangat Di bawah sana, Arlo dan Lyra sedang duduk di gazebo kaca. Meski waktu sudah menunjukkan jam belajar mandiri, mereka berdua tampak sangat fokus. Arlo terlihat sedang menjelaskan sesuatu pada tabletnya kepada Lyra, sementara sang adik mencatat dengan serius di buku sketsanya. Alistair menyeringai tipis, merasakan kebanggaan yang membuncah di dalam dadanya melihat pemandangan itu. "Masih betah berdiri di sini, Bub? Kopinya sudah dingin lho," suara lembut Lala terdengar dari belakang. Alistair tidak menoleh, ia hanya merentangkan tangan kirinya untuk menarik Lala agar bersandar di sampingnya. "Lihat mereka, Bub. Rasanya baru kemarin aku p
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 197 - Kunjungan Elvin dan Intan
Mansion Vanderwick sore itu tampak lebih ramai dari biasanya. Gerbang emas terbuka lebar menyambut mobil SUV mewah yang sangat dikenal oleh seluruh penjaga. Alistair berdiri di teras dengan gaya angkuhnya, sementara Arlo berdiri di sampingnya dengan tangan masuk ke saku celana, menunjukkan aura dingin yang identik dengan sang ayah Elvin Fisher turun dari mobil dengan setelan kasual namun tetap rapi, diikuti Intan yang kini terlihat sangat anggun sebagai Nyonya Fisher. Di antara mereka, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun bernama Leo tampak berlari ceria sambil membawa bola plastik. Pemandangan itu kontras dengan Arlo yang hanya menatap kedatangan mereka dengan pandangan datar dan penuh analisa. "Wah, si Kulkas akhirnya ingat jalan pulang ke mansion ini," ejek Alistair sambil menyeringai lebar. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak stres karena menghadapi Arlo yang sepertinya sudah mulai menguasai meja kerjamu, Al," balas Elvin tajam. "Mas Elvin, Tuan Alistair, b
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 196 - My brother, my bodyguard
Kantin sekolah menengah internasional itu mendadak sunyi saat seorang siswa kelas dua belas berdiri menghadang jalan Lyra. Pria bernama Rangga itu tampak membawa beberapa lembar kertas dan menatap Lyra dengan senyum meremehkan. Para siswa lain mulai berbisik, menyadari bahwa ada seseorang yang cukup nekat untuk mengusik ketenangan sang ratu sekolah. Lyra berhenti melangkah, ia menatap Rangga dengan pandangan tenang namun tajam yang sangat mematikan. Ia melipat tangan di depan dada, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meski tubuh Rangga jauh lebih besar darinya. Baginya, gertakan semacam ini hanyalah hiburan murahan di tengah jam istirahat yang membosankan. "Ada apa, Kak? Sepertinya Kakak sedang butuh perhatian sampai harus menghalangi jalanku," ucap Lyra dengan nada santai. "Lo pikir karena lo cantik dan kaya, lo bisa seenaknya menolak undangan acara angkatan kami?" tanya Rangga dengan nada menantang. "Aku menolak karena acaranya tidak menarik, sesederhana itu. Kenapa Kak
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: Bab 195 - Mommy, my bestfriend
Pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta tampak berkilau di bawah lampu kristal yang menggantung tinggi. Lala melangkah anggun sambil menggandeng lengan Lyra yang kini sudah hampir setinggi dirinya. Di belakang mereka, lima pengawal berpakaian safari hitam menjaga jarak sepuluh meter dengan sangat ketat. Lyra menyesuaikan letak kacamata hitam di atas kepalanya dengan gaya yang sangat modis. Ia melirik tumpukan kantong belanjaan bermerek yang dibawa oleh dua pengawal di belakang mereka. Senyum tipis terukir di bibirnya yang kemerahan, mewarisi kecantikan Lala namun dengan aura yang jauh lebih berani. "Mom, apa Daddy tidak akan marah kita menghabiskan limit kartu kreditnya dalam dua jam?" tanya Lyra sambil terkekeh. "Kartu itu diberikan memang untuk dihabiskan, Lyra. Kalau tidak habis, Daddy-mu justru akan curiga kita tidak bahagia," jawab Lala santai. "Daddy memang aneh. Dia mencintai kita dengan cara membuang uang seolah itu hanya tumpukan kertas," gumam Lyra sambil menarik
Last Updated: 2026-03-16
Di Kehidupan ke-56, Aku Menaklukkan Sang Raja Varka

Di Kehidupan ke-56, Aku Menaklukkan Sang Raja Varka

Roselina tahu persis kapan ia akan mati. Ia sudah mengalaminya 55 kali. Setelah mengalami kematian tragis berulang kali di tangan pria yang sama, kali ini Roselina menolak menyerah. Ia menerobos radius maut lima meter milik Kaelan Varka—Sang Raja yang dikutuk membekukan apa pun yang disentuhnya—dan melakukan hal mustahil: Ia memeluknya dan tetap bernapas. "Aku lelah mati dengan cara yang membosankan, Yang Mulia."
Read
Chapter: Bab 545 : Lamaran
"Jenderal? Anda belum tidur?" Celia mengerjap kaget melihat sosok raksasa Jenderal Zepriyn yang berdiri canggung di ambang pintu dapur. Di tangannya, pria itu masih menggenggam gagang pedang dengan siaga. Zepriyn menggeleng pelan, lalu melangkah masuk. "Aku baru saja berganti giliran jaga dengan Ishaq. Kudengar suara kalian dari depan, jadi aku memeriksa ke mari." Melihat kedua orang tuanya sedikit tegang dengan kehadiran sang Jenderal Besar, Celia buru-buru berdiri. Ia sadar, di tengah kepanikan tadi, Roselina memang belum memperkenalkan para pria ini dengan layak kepada orang tuanya. "Ayah, Ibu," ucap Celia lembut, menunjuk pria tegap di hadapannya. "Nyonya Roselina mungkin kurang jelas memperkenalkannya tadi. Beliau ini adalah Jenderal Zepriyn. Salah satu jenderal terkuat dan paling dihormati di seluruh Kerajaan Ocean." Ayah dan ibu Celia seketika membulatkan mata, lalu mengangguk hormat dengan senyum canggung. "Astaga, maafkan sambutan kami yang buruk, Tuan Jenderal," ucap
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Bab 544 : Alibi
"Tahan pedangmu, Ishaq. Dan Anda, Kael, tarik kembali sihir es Anda sekarang juga." Bisikan tajam Roselina memotong udara dingin yang mulai menebal di dalam kamar. Gadis itu menahan lengan besar Kaelan tepat sebelum sang Tiran melesatkan paku es menembus dinding bilik bambu. "Dia bukan dari kelompok bertopeng itu," lanjut Roselina pelan, mengintip dari celah anyaman bambu. "Lihat seragamnya. Dia hanya penjaga keamanan lokal Kota Petani." Kaelan berdecak kesal, namun ia tetap menurunkan tangannya. Di ruang tamu, Zepriyn dan Ishaq yang sudah siap menyergap pun kembali menahan napas. Tak lama, terdengar suara ketukan keras dari pintu depan. TOK! TOK! TOK! "Paman! Ini saya, penjaga patroli kota! Tolong buka pintunya sebentar!" Di ruang tamu, ayah Celia memberi isyarat dengan tangannya agar Zepriyn dan Ishaq bersembunyi di sudut dapur yang gelap. Pria paruh baya itu lalu mengacak-acak rambutnya, berpura-pura menguap lebar, dan membuka pintu perlahan. "Ada apa malam-malam
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Bab 543 : Bayangan
"Karena siang ini seluruh rute keluar pasti sedang diawasi ketat, Jenderal," jawab Roselina cepat, mematahkan niat Zepriyn untuk langsung pergi. Otak sang Penasihat Diplomatik itu berputar cepat. "Jika kelompok bertopeng semanggi itu baru mengumpulkan informasi semalam, mereka pasti menempatkan mata-mata di setiap gerbang kota dan pelabuhan hari ini. Mereka sedang menunggu siapa pun yang bergerak mencurigakan ke arah pesisir." Zepriyn mengusap dagunya yang ditumbuhi rahang kasar, membenarkan logika gadis itu. Sang Jenderal Besar menoleh ke arah Kaelan. "Bos Kael, usulan Nyonya benar. Sebaiknya kita tidak memaksakan diri keluar dari Kota Petani sore ini," saran Zepriyn dengan nada serius. "Mari kita menginap di sini malam ini, dan baru berlayar besok di dini hari." Kaelan mengerutkan keningnya tidak suka. "Kau ingin menunda pelarian kita hanya karena beberapa tikus darat?" "Ini bukan soal takut, tapi strategi mengulur waktu," balas Zepriyn tegas, tak gentar. "Di waktu dini hari,
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Bab 542 : Teror
"Apa Anda yakin mereka mencari pusaka itu, Paman?" Suara Roselina memecah ketegangan, matanya menatap tajam ke arah ayah Celia. Gadis itu mencondongkan tubuhnya, insting ahli strateginya seketika menyala, menyingkirkan sejenak kehangatan reuni keluarga barusan. Pria paruh baya itu mengangguk dengan cepat, tangannya masih gemetar menggenggam cangkir teh. "Sangat yakin, Nona. Mereka mengumpulkan para tetua desa dan kepala distrik semalam. Mereka menanyakan tentang legenda wanita pendatang dari klan De Solis yang menetap di pesisir ratusan tahun lalu, dan pusaka laut yang dibawanya." Roselina menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Niat awalnya datang ke Kota Petani ini sangatlah sederhana. "Sebenarnya, kedatangan kami kemari bukanlah untuk melibatkan Paman dan Bibi," ucap Roselina lembut namun penuh penyesalan, melirik Celia yang duduk dengan wajah pucat di samping ibunya. "Saya tahu Celia sangat merindukan kalian. Sebagai Nyonya-nya, saya merasa berhak memberikan sedikit wakt
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Bab 541 : Jejak
"Ampuni kelancangan kami, Yang Mulia Agung!" Seruan panik itu memecah keheningan ruang tamu. Tanpa mempedulikan usia mereka yang sudah menua, ayah dan ibu Celia langsung menjatuhkan diri dari kursi, menundukkan dahi mereka hingga bersentuhan dengan lantai kayu yang dingin. Tubuh mereka bergetar hebat menghadapi penguasa laut yang ditakuti di seluruh benua. Kaelan yang melihat pemandangan itu sedikit terkejut. Sang Tiran Lautan segera bangkit dan melangkah maju. "Berdirilah. Kalian tidak perlu melakukan hal berlebihan seperti itu di sini," titah Kaelan dengan nada bariton yang sengaja dilembutkan, meski auranya tetap mendominasi. Ayah Celia mendongak ragu-ragu. "T-Tapi, Yang Mulia... kami hanya rakyat jelata dari Hilles..." "Keluarga Celia adalah keluargaku juga," potong Kaelan lugas, membuat semua orang di ruangan itu menahan napas. "Roselina sudah menganggap putri kalian seperti saudara perempuannya sendiri selama di istana. Dan karena Roselina akan segera menjadi istriku, maka
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Bab 540 : Identitas Asli
"Kunci pintunya rapat-rapat, Ayah! Jangan sampai ada tetangga yang melihat ke dalam!" Celia setengah berbisik sambil menuntun ibunya yang masih menangis tersedu-sedu menuju ruang tamu. Sang ayah buru-buru menarik palang pintu kayu, memastikan rumah sederhana mereka tertutup rapat dari dunia luar. Mereka berenam kini berkumpul di ruang tamu yang berukuran tak lebih besar dari kamar mandi istana. Kaelan melepaskan topi jeraminya, lalu mendengus kasar saat terpaksa duduk di atas kursi kayu reyot yang berderit memprihatinkan menahan beban tubuh raksasanya. Zepriyn dan Ishaq memilih berdiri tegap di sudut ruangan, berjaga di dekat jendela dengan insting militer yang tak bisa dimatikan meski memakai baju kuli panggul. Setelah tangisannya sedikit mereda, Ibu Celia bergegas ke dapur dan kembali membawa nampan berisi enam cangkir tanah liat. Ia menyeduhkan teh hangat untuk Zepriyn, Ishaq, Kaelan, Roselina, dan putrinya sendiri. Setelah itu, wanita paruh baya tersebut kembali duduk menemp
Last Updated: 2026-07-10
You may also like
Legenda Dewa Tertinggi
Legenda Dewa Tertinggi
Fantasi · Vickry
61.1K views
Pendekar Dua Jiwa
Pendekar Dua Jiwa
Fantasi · WarmIceBoy
61.0K views
MASTER ALKEMIS
MASTER ALKEMIS
Fantasi · Zess
59.7K views
TUBUH GIOK PANGERAN TERBUANG
TUBUH GIOK PANGERAN TERBUANG
Fantasi · MISTERIOUS
59.2K views
REINKARNASI PENDEKAR PEDANG
REINKARNASI PENDEKAR PEDANG
Fantasi · Dimas Saputra
58.0K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status