로그인"Dua kali mati tragis sudah cukup bagiku. Di kehidupan ketiga ini, aku memilih menjadi tawanan Sang Iblis daripada mati sebagai boneka keluarga sendiri." Aurelia von Valeraine terbangun di kehidupan ketiganya dengan satu misi dari Sistem: Menjadi antagonis dan mati sesuai naskah. Namun, setelah dikhianati dan dibunuh dua kali, Aurelia menolak patuh. Ia memilih dibuang ke Hutan Terlarang demi menghindari takdirnya. Namun di sana, ia justru terjebak dalam pelukan Xaverius Lucian Dracul, Raja Iblis dari Nocturnia yang haus darah dan tidak mengenal belas kasihan. Xaverius seharusnya membunuhnya, tapi ia justru tertarik pada sang Putri yang ceroboh dan penuh rahasia ini. "Kau sudah masuk ke wilayahku, Aurelia. Sekarang, nyawamu dan seluruh jiwamu adalah milikku." Di antara kejaran Sistem yang memaksanya mati dan obsesi Sang Raja Iblis yang mencekik, mampukah Aurelia menulis akhir ceritanya sendiri? Ataukah ia akan jatuh ke dalam kegelapan yang lebih dalam?
더 보기Aroma kopi yang tajam menusuk indra penciuman Aurelia von Valeraine saat kesadarannya perlahan pulih. Kepalanya terasa seakan dihantam godam raksasa, berdenyut menyakitkan mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Ingatan terakhirnya adalah suara decit ban truk yang memekakkan telinga, rasa dingin aspal yang menusuk kulit, dan wajah Elias—kekasihnya—yang hanya berdiri mematung dengan senyuman tipis saat tubuhnya terpental karena dorongan Sarah, kakaknya sendiri.
Alya menyadari satu hal yang mengerikan; ia tidak lagi berada di jalanan kota yang sibuk. Ia telah masuk ke dalam dunia novel gelap yang ia tulis sendiri sebagai pelarian hidupnya, terjebak dalam raga seorang wanita yang takdir matanya sudah ia gariskan dengan tinta keputusasaan. “Apakah kau tidak memiliki masa depan? Kau terus larut dengan tulisan-tulisan gila mu, bisa kah kau memikirkan sedikit cara lain untuk mencari uang?” Suara cacian itu terngiang di telinganya, memori pahit tentang kakaknya, Sarah, yang selalu menganggapnya sampah sebelum akhirnya mendorongnya menuju kematian di depan truk yang melaju kencang. “Anak tidak tau di untung kau hanya beban bagi ku!!” “Aku berharap tidak punya adik seperti mu!” Alya, yang kini berada dalam tubuh Aurelia, membuka matanya perlahan. Ia kini duduk di kursi tinggi berlapis beludru di sebuah aula perjamuan yang sangat megah, dikelilingi oleh lampu gantung kristal yang berkilauan namun terasa mencekam. "Aurelia, apa yang kau tunggu? Berikan kopi itu pada adikmu." Suara berat dan dingin itu berasal dari ujung meja. Seorang pria paruh baya dengan mahkota emas menatapnya tajam. Itu adalah Raja Valeraine, ayahnya—pria yang dalam dua kehidupan sebelumnya selalu mengirimnya ke tiang gantungan tanpa ragu sedikit pun. Aurelia menunduk. Tangannya yang mungil dan putih pucat tengah memegang cangkir porselen yang mengepulkan uap. Di dalamnya terdapat cairan hitam pekat yang mengandung racun mematikan. [Ding!] [Sinkronisasi Jiwa Selesai: 100%.] [Kehidupan Ketiga: Dimulai.] [Misi Wajib: Berikan racun pada 'Sang Anak Suci'. Gagal = Jantung Berhenti dalam 60 detik.] Tubuh Aurelia bergetar hebat. Rasa sakit di dadanya memberikan sensasi nyeri yang sangat nyata, seolah jantungnya sedang diremas oleh tangan tak kasat mata. Ia menatap ke samping, di mana Lyra von Valeraine duduk dengan wajah polosnya. Gadis itu, sang tokoh utama asli yang dicintai dunia, tengah tersenyum begitu manis seolah ia adalah malaikat paling murni. "Kakak? Kenapa kau diam saja?" Lyra bertanya dengan nada lembut yang mengundang simpati semua orang di ruangan itu. "Apa kau membuatkan kopi itu khusus untuk merayakan kepulanganku dari kuil suci?" Aurelia tidak menjawab. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia bukan lagi Aurelia sang antagonis yang angkuh; jiwanya kini adalah Alya, gadis novelis yang baru saja dikhianati dan dibunuh oleh keluarganya sendiri di dunia nyata. "Lihatlah sikapnya," bisik seorang bangsawan di meja seberang dengan nada menghina. "Bahkan di hari kepulangan adiknya, dia masih berani menunjukkan wajah muram." "Tentu saja. Dia pasti iri karena seluruh perhatian kini tertuju pada Putri Lyra," sahut yang lain dengan nada mencemooh. Mendengar bisikan itu, Ratu Eleanor, ibu kandung Aurelia, menggebrak meja dengan anggun namun penuh ancaman. "Aurelia! Jaga sopan santunmu! Berikan kopi itu sekarang juga!" "I-ibu... aku..." suara Aurelia tercekat. Isak tangis mulai pecah dari bibirnya. Ia benar-benar tidak ingin melakukannya. Ia lelah mati secara tragis. Ia tahu bahwa dalam naskah yang ia tulis, tindakan ini adalah awal dari eksekusi matinya. Nama Aurelia sudah kotor, dan setiap langkah salah sedikit saja, hidupnya akan tamat. [Waktu Tersisa: 30 Detik.] "Kenapa kau menangis?" bentak sang Ratu lagi. "Berhenti berakting seolah-olah kaulah yang tertindas di sini!" Aurelia berdiri dengan kaki yang lemas. Gaunnya yang berat membuatnya sulit untuk menjaga keseimbangan. Saat ia melangkah mendekati Lyra, matanya bertemu dengan mata biru Lyra yang berkilat licik. Lyra tahu ada sesuatu di kopi itu, dan dia sedang menunggu saat yang tepat untuk menjebak Aurelia dalam kehancuran total. [10... 9... 8...] Hitung mundur sistem itu terasa seperti lonceng kematian. Aurelia terisak. Ia sangat benci pengkhianatan di dunianya yang dulu, dan sekarang ia dipaksa mengkhianati nuraninya sendiri demi sistem yang gila. "Hiks... m-maaf..." bisik Aurelia. "Kakak?" Lyra mengulurkan tangannya dengan gaya elegan, siap menerima cangkir yang akan menghancurkan reputasi kakaknya itu. Aurelia maju satu langkah lagi, namun ingatan tentang ban truk yang berdecit kembali menghantam pikirannya. Rasa panik membuatnya limbung. Sifat aslinya yang ceroboh muncul di saat yang paling krusial. Kaki kanannya tersangkut pada lipatan kain gaunnya yang terlalu panjang. "Ah!" Aurelia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan. Alih-alih memberikan cangkir itu dengan tenang, ia justru jatuh tersungkur di atas lantai marmer yang keras. PRANG! Cangkir porselen itu hancur berkeping-keping. Cairan kopi beracun itu tumpah dengan dramatis, menciprati karpet merah dan bagian bawah gaun putih bersih milik Lyra. Sebagian cairan panas itu mengenai tangan Aurelia sendiri, membuatnya memekik pelan karena perih yang membakar. Hening. Seisi aula membeku melihat sang Putri Kedua bersimpuh di lantai di tengah pecahan keramik yang berserakan. "Astaga! Lyra, kau tidak apa-apa?" Ratu Eleanor langsung berlari menghampiri Lyra, melewati Aurelia begitu saja seolah putrinya yang terluka itu tidak ada. "A-aku tidak apa-apa, Ibu... hanya gaunnya saja yang sedikit kotor," ucap Lyra dengan suara gemetar yang dibuat-buat. "Aurelia von Valeraine!" Raja berdiri dengan kemarahan yang meluap. "Kau sengaja menyerang adikmu di depan mataku sendiri?!" Aurelia mengangkat wajahnya yang sembab. Air mata membasahi pipinya yang pucat. "Tidak... hiks... aku tidak sengaja... kakiku tersandung..." "Bohong!" Ratu Eleanor menoleh dan menatap Aurelia dengan tatapan penuh kebencian. "Kau benci karena Lyra mendapatkan pengakuan dari kuil, kan? Kau ingin merusak momen berharganya dengan kecerobohanmu yang memuakkan ini!" [Misi Gagal: Target tidak meminum racun.] [Anomali Terdeteksi: 'Clumsy' menghancurkan alur asli.] [Memproses Skenario Darurat: 'Pengusiran Sang Putri Terbuang'.] Aurelia memegang tangannya yang terasa perih. "Ibu, tanganku sakit... perih sekali..." ia mencoba meminta sedikit saja empati dari wanita yang melahirkannya. Namun, Eleanor justru melayangkan sebuah tamparan keras. PLAK! Suara tamparan itu bergema di seluruh aula. Aurelia jatuh terduduk kembali, pipinya memerah seketika. Para bangsawan yang melihat hanya menunjukkan wajah sinis. "Jangan berani-berani memanggilku Ibu setelah apa yang kau lakukan!" Eleanor mendesis. "Kau adalah noda bagi keluarga Valeraine." "Ayah... tolong aku..." Aurelia menatap sang Raja dengan harapan terakhir. Raja Valeraine tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. "Pengawal! Seret dia dari hadapanku. Aku tidak butuh putri yang licik dan tidak berguna. Besok pagi, bawa dia ke perbatasan Hutan Terlarang. Biarkan dia hidup atau mati di sana. Namanya akan dihapus dari daftar silsilah kerajaan mulai detik ini!" "Tidak! Hiks... tolong jangan!" Aurelia menjerit saat dua pengawal kasar menarik lengannya dan menyeretnya keluar dari aula. Di tengah isak tangisnya yang memilukan, Aurelia sempat melirik ke arah meja kerajaan. Ia melihat Lyra sedang bersandar di pelukan sang Ratu sambil tersenyum tipis ke arahnya—sebuah senyum kemenangan yang kejam, persis seperti senyuman pacar dan kakaknya saat ia sekarat di bawah truk. Sepanjang lorong istana yang dingin, Aurelia terus diseret seperti sampah. Di dalam pikirannya, ia merutuki nasibnya. Ia terjebak dalam ending yang ia tulis sendiri, namun kali ini ia tidak akan membiarkan maut menggilasnya lagi. [Ding!] [Skenario Baru Aktif: 'Pertemuan dengan Sang Shadow Sovereign'.] [Misi: Masuki wilayah Kekaisaran Nocturnia untuk bertahan hidup.] [Peringatan: Wilayah ini dihuni oleh makhluk yang tidak mengenal belas kasihan. Semoga beruntung, 'Villainess'.]Suasana ruang makan utama Kastil Obsidian terasa begitu menekan. Meja panjang yang terbuat dari batu basal hitam itu dipenuhi oleh hidangan yang tampak asing bagi mata manusia—daging merah yang masih berasap, buah-buah berwarna ungu gelap yang mengeluarkan aroma tajam, dan anggur merah pekat yang terlihat seperti darah. Aurelia duduk di sebelah kanan Xaverius. Ia merasa seperti domba yang diletakkan di tengah sekumpulan serigala lapar. Di sepanjang meja, para Jenderal Iblis dan petinggi Nocturnia menatapnya dengan tatapan yang bervariasi: jijik, lapar, dan penuh selidik. "Jadi, inilah alasan Anda memanggil kami semua malam ini, Yang Mulia?" Suara itu datang dari Jenderal Kael, pria dengan tanduk melengkung dan luka bakar di sepanjang lengannya. Ia menatap Aurelia dengan tatapan meremehkan. "Hanya untuk memperkenalkan seorang manusia yang bahkan tidak bisa berhenti gemetar saat memegang garpu?" Aurelia memang sedang gemetar. Bukan hanya karena takut, tapi karena sistem di kepalanya
Lampu minyak di dinding kamar berpijar redup, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di lantai marmer hitam. Aurelia masih terpaku di posisinya, menatap pergelangan tangan pelayan yang baru saja meletakkan nampan air hangat di meja samping tempat tidur. Tato itu. Sebuah simbol sabit bulan yang dilingkari duri. Itu adalah simbol rahasia para pengikut Order of the Holy Sun, organisasi yang secara buta menyembah Lyra di kuil suci. "Mari saya bantu membersihkan luka Anda, Putri," suara pelayan itu datar, namun ada nada dingin yang tidak pas untuk seorang bawahan. Aurelia menelan ludah. Jantungnya berpacu. Kenapa mata-mata Lyra bisa ada di sini? Nocturnia adalah wilayah iblis, bagaimana manusia dari kuil bisa menyusup sejauh ini? "Siapa namamu?" tanya Aurelia berusaha menstabilkan suaranya. "Panggil saya Mara, Putri," jawabnya tanpa menatap mata Aurelia. Ia mulai memeras kain basah ke dalam baskom. Aurelia teringat plot twist yang baru saja ia sadari: Lyra juga seorang transmi
Gerbang Kekaisaran Nocturnia terbuka dengan suara derit logam yang mengerikan, seolah-olah menyambut jiwa-jiwa yang akan masuk ke liang kubur. Kastil Obsidian itu berdiri tegak di puncak tebing, dikelilingi oleh awan hitam yang tidak pernah meneteskan hujan, hanya membawa aura kematian. Xaverius Lucian Dracul melangkah masuk ke aula utama tanpa melepaskan dekapannya pada Aurelia. Di belakang mereka, para pengawal bayangan dan pelayan-pelayan dengan wajah pucat serta mata yang berpendar kuning tunduk memberikan hormat. "Selamat datang kembali, Yang Mulia," suara serak seorang pria tua dengan jubah abu-abu bergema. Itu adalah Silas, tangan kanan sang Raja Iblis. "Kulihat Anda membawa... sampah dari kerajaan manusia?" Aurelia yang masih berada di gendongan Xaverius gemetar. Isak tangisnya yang tadi mereda kini kembali muncul. Ia mendongak, menatap wajah Silas yang penuh luka parut, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada Xaverius. "Bukan sampah, Silas," ucap Xaverius dengan nada
Udara pagi di perbatasan Kerajaan Valeraine terasa mencekam. Tidak ada kicauan burung, yang ada hanya suara derap kaki kuda dan gesekan roda kereta tua yang membawa Aurelia von Valeraine menuju nasib buruknya. Di dalam kereta yang pengap itu, Aurelia duduk meringkuk, memeluk lututnya yang masih gemetar karena trauma. Bayangan ban truk yang menghantamnya di kehidupan sebelumnya masih membekas jelas, membuat guncangan kereta ini terasa seperti siksaan tambahan."Turun!" bentak seorang prajurit sambil menyentak pintu kereta hingga terbuka lebar.Aurelia tersentak. Dengan mata sembab dan wajah pucat, ia melangkah turun. Di depannya membentang Hutan Terlarang—sebuah labirin pepohonan hitam raksasa yang diselimuti kabut abadi. Konon, siapa pun yang melangkah masuk ke sana tidak akan pernah kembali dalam keadaan bernyawa."Ini adalah batasnya, Putri Terbuang," ucap sang komandan prajurit dengan nada mengejek. Ia melempar sebuah tas kecil berisi pakaian tipis ke atas tanah yang berlumpur."T-
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.