LOGINDikhianati dan dibuang ke Hutan Terlarang untuk mati di kehidupan ketiganya, Aurelia von Valeraine justru jatuh ke dalam cengkeraman Raja Iblis yang kejam, Xaverius Lucian Dracul. Sang tiran haus darah itu menentang Sistem yang menuntut kematiannya, mengklaim jiwa Aurelia sebagai miliknya dengan obsesi mencekik yang tak bisa dihindari. Kini, terjebak di antara kematian yang sudah digariskan dan monster yang menolak melepaskannya, Aurelia harus menulis ulang takdirnya sebelum kegelapan melahapnya habis
View MoreMenara Timur Istana Obsidian bermandikan cahaya emas matahari sore. Debu-debu cahaya menari di udara, menciptakan suasana magis di dalam perpustakaan raksasa yang dibangun oleh Ratu Aurelia delapan tahun lalu. Tempat ini seharusnya sunyi. Seharusnya menjadi tempat suci bagi para pencari ilmu. Namun, sore ini, kesunyian itu hanyalah mitos. "Kakak Max! Lihat! Aku nemu buku gambar naga!" "Itu ensiklopedia anatomi Wyvern, Isabella. Taruh kembali. Kau memegangnya terbalik." Di sofa beludru panjang dekat jendela besar, Xaverius dan Aurelia duduk berdampingan. Sang Kaisar sedang tidak memegang dokumen negara, melainkan membiarkan istrinya bersandar di dadanya sambil membelai rambut perak Aurelia. Mereka menikmati tontonan rutin sore hari: Dua buah hati mereka yang sedang 'berdiskusi' di antara rak buku. Pangeran Maximilian, yang duduk rapi di meja baca anak dengan postur tegak sempurna, sedang membaca buku tebal berjudul 'Sejarah Runtuhnya Kekaisaran Kuno'. Wajah datarnya tak terg
Malam telah larut di Istana Obsidian. Suara jangkrik malam dan desau angin dari Hutan Terlarang menjadi satu-satunya musik pengiring di ruang kerja Kaisar yang luas. Lampu kristal diredupkan, menyisakan cahaya hangat dari perapian yang menyala pelan. Di balik meja kerja mahoni yang besar, Xaverius Dracul duduk memeriksa tumpukan dokumen negara. Kacamata baca tipis bertengger di hidung mancungnya sebuah aksesori yang ia pakai hanya saat bekerja, yang membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa. Di sofa beludru merah tak jauh dari sana, Aurelia duduk bersantai dengan kaki diselonjorkan ke meja kecil, memangku sebuah novel tebal. Sesekali ia menyeruput teh chamomile hangatnya. Hening. Tapi bukan hening yang canggung, melainkan hening yang nyaman. Keheningan sepasang suami istri yang sudah berbagi nyawa selama bertahun-tahun. "Hhh..." Helaan napas panjang Xaverius memecah keheningan. Bukan helaan napas lelah karena pekerjaan, tapi helaan napas frustrasi yang spesifik. Aure
Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General Jenderal Bayangan The Silent Blade Pedang Sunyi atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.
Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf langsung tersedak. Mata merah emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balk
Langit di atas Hutan Terlarang tidak lagi memiliki warna. Tidak ada bintang, tidak ada bulan, bahkan tidak ada kegelapan malam yang biasa, karena yang ada hanyalah putih. Putih yang menyakitkan, putih yang melahap, dan putih yang menghapus segala eksistensi. Suara retakan pelindung hutan terdengar
Gubuk tua itu telah kehilangan separuh dindingnya. Di tengah puing-puing kayu yang berserakan dan debu kapur yang menyesakkan, Aurelia masih berlutut dengan buku kulit bercahaya di pangkuannya. Cahaya keemasan dari buku itu membentuk kubah kecil yang rapuh guna menahan tetesan Tinta Putih raksasa ya
Laboratorium Silas yang biasanya berbau bahan kimia tajam dan debu kuno, malam ini dipenuhi oleh ketegangan yang hening. Di tengah ruangan, Aurelia duduk di kursi periksa dengan lengan baju tersingkap. Sebuah jarum perak yang sangat halus, yang Silas tempa khusus dalam waktu lima menit karena adanya
Cahaya perak yang memancar dari lantai kaca balkon itu tidak hanya menyilaukan mata, tapi juga mengirimkan getaran hangat yang merambat hingga ke tulang sumsum. Xaverius, yang tadinya panik melihat telapak tangan Aurelia yang berdarah, kini terpaku. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.