LOGINDikhianati dan dibuang ke Hutan Terlarang untuk mati di kehidupan ketiganya, Aurelia von Valeraine justru jatuh ke dalam cengkeraman Raja Iblis yang kejam, Xaverius Lucian Dracul. Sang tiran haus darah itu menentang Sistem yang menuntut kematiannya, mengklaim jiwa Aurelia sebagai miliknya dengan obsesi mencekik yang tak bisa dihindari. Kini, terjebak di antara kematian yang sudah digariskan dan monster yang menolak melepaskannya, Aurelia harus menulis ulang takdirnya sebelum kegelapan melahapnya habis
View MoreAroma kopi yang tajam menusuk indra penciuman Aurelia von Valeraine saat kesadarannya perlahan pulih. Kepalanya terasa seakan dihantam godam raksasa, berdenyut menyakitkan mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Ingatan terakhirnya adalah suara decit ban truk yang memekakkan telinga, rasa dingin aspal yang menusuk kulit, dan wajah Elias—kekasihnya—yang hanya berdiri mematung dengan senyuman tipis saat tubuhnya terpental karena dorongan Sarah, kakaknya sendiri.
Alya menyadari satu hal yang mengerikan; ia tidak lagi berada di jalanan kota yang sibuk. Ia telah masuk ke dalam dunia novel gelap yang ia tulis sendiri sebagai pelarian hidupnya, terjebak dalam raga seorang wanita yang takdir matanya sudah ia gariskan dengan tinta keputusasaan. “Apakah kau tidak memiliki masa depan? Kau terus larut dengan tulisan-tulisan gila mu, bisa kah kau memikirkan sedikit cara lain untuk mencari uang?” Suara cacian itu terngiang di telinganya, memori pahit tentang kakaknya, Sarah, yang selalu menganggapnya sampah sebelum akhirnya mendorongnya menuju kematian di depan truk yang melaju kencang. “Anak tidak tau di untung kau hanya beban bagi ku!!” “Aku berharap tidak punya adik seperti mu!” Alya, yang kini berada dalam tubuh Aurelia, membuka matanya perlahan. Ia kini duduk di kursi tinggi berlapis beludru di sebuah aula perjamuan yang sangat megah, dikelilingi oleh lampu gantung kristal yang berkilauan namun terasa mencekam. "Aurelia, apa yang kau tunggu? Berikan kopi itu pada adikmu." Suara berat dan dingin itu berasal dari ujung meja. Seorang pria paruh baya dengan mahkota emas menatapnya tajam. Itu adalah Raja Valeraine, ayahnya—pria yang dalam dua kehidupan sebelumnya selalu mengirimnya ke tiang gantungan tanpa ragu sedikit pun. Aurelia menunduk. Tangannya yang mungil dan putih pucat tengah memegang cangkir porselen yang mengepulkan uap. Di dalamnya terdapat cairan hitam pekat yang mengandung racun mematikan. [Ding!] [Sinkronisasi Jiwa Selesai: 100%.] [Kehidupan Ketiga: Dimulai.] [Misi Wajib: Berikan racun pada 'Sang Anak Suci'. Gagal = Jantung Berhenti dalam 60 detik.] Tubuh Aurelia bergetar hebat. Rasa sakit di dadanya memberikan sensasi nyeri yang sangat nyata, seolah jantungnya sedang diremas oleh tangan tak kasat mata. Ia menatap ke samping, di mana Lyra von Valeraine duduk dengan wajah polosnya. Gadis itu, sang tokoh utama asli yang dicintai dunia, tengah tersenyum begitu manis seolah ia adalah malaikat paling murni. "Kakak? Kenapa kau diam saja?" Lyra bertanya dengan nada lembut yang mengundang simpati semua orang di ruangan itu. "Apa kau membuatkan kopi itu khusus untuk merayakan kepulanganku dari kuil suci?" Aurelia tidak menjawab. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia bukan lagi Aurelia sang antagonis yang angkuh; jiwanya kini adalah Alya, gadis novelis yang baru saja dikhianati dan dibunuh oleh keluarganya sendiri di dunia nyata. "Lihatlah sikapnya," bisik seorang bangsawan di meja seberang dengan nada menghina. "Bahkan di hari kepulangan adiknya, dia masih berani menunjukkan wajah muram." "Tentu saja. Dia pasti iri karena seluruh perhatian kini tertuju pada Putri Lyra," sahut yang lain dengan nada mencemooh. Mendengar bisikan itu, Ratu Eleanor, ibu kandung Aurelia, menggebrak meja dengan anggun namun penuh ancaman. "Aurelia! Jaga sopan santunmu! Berikan kopi itu sekarang juga!" "I-ibu... aku..." suara Aurelia tercekat. Isak tangis mulai pecah dari bibirnya. Ia benar-benar tidak ingin melakukannya. Ia lelah mati secara tragis. Ia tahu bahwa dalam naskah yang ia tulis, tindakan ini adalah awal dari eksekusi matinya. Nama Aurelia sudah kotor, dan setiap langkah salah sedikit saja, hidupnya akan tamat. [Waktu Tersisa: 30 Detik.] "Kenapa kau menangis?" bentak sang Ratu lagi. "Berhenti berakting seolah-olah kaulah yang tertindas di sini!" Aurelia berdiri dengan kaki yang lemas. Gaunnya yang berat membuatnya sulit untuk menjaga keseimbangan. Saat ia melangkah mendekati Lyra, matanya bertemu dengan mata biru Lyra yang berkilat licik. Lyra tahu ada sesuatu di kopi itu, dan dia sedang menunggu saat yang tepat untuk menjebak Aurelia dalam kehancuran total. [10... 9... 8...] Hitung mundur sistem itu terasa seperti lonceng kematian. Aurelia terisak. Ia sangat benci pengkhianatan di dunianya yang dulu, dan sekarang ia dipaksa mengkhianati nuraninya sendiri demi sistem yang gila. "Hiks... m-maaf..." bisik Aurelia. "Kakak?" Lyra mengulurkan tangannya dengan gaya elegan, siap menerima cangkir yang akan menghancurkan reputasi kakaknya itu. Aurelia maju satu langkah lagi, namun ingatan tentang ban truk yang berdecit kembali menghantam pikirannya. Rasa panik membuatnya limbung. Sifat aslinya yang ceroboh muncul di saat yang paling krusial. Kaki kanannya tersangkut pada lipatan kain gaunnya yang terlalu panjang. "Ah!" Aurelia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan. Alih-alih memberikan cangkir itu dengan tenang, ia justru jatuh tersungkur di atas lantai marmer yang keras. PRANG! Cangkir porselen itu hancur berkeping-keping. Cairan kopi beracun itu tumpah dengan dramatis, menciprati karpet merah dan bagian bawah gaun putih bersih milik Lyra. Sebagian cairan panas itu mengenai tangan Aurelia sendiri, membuatnya memekik pelan karena perih yang membakar. Hening. Seisi aula membeku melihat sang Putri Kedua bersimpuh di lantai di tengah pecahan keramik yang berserakan. "Astaga! Lyra, kau tidak apa-apa?" Ratu Eleanor langsung berlari menghampiri Lyra, melewati Aurelia begitu saja seolah putrinya yang terluka itu tidak ada. "A-aku tidak apa-apa, Ibu... hanya gaunnya saja yang sedikit kotor," ucap Lyra dengan suara gemetar yang dibuat-buat. "Aurelia von Valeraine!" Raja berdiri dengan kemarahan yang meluap. "Kau sengaja menyerang adikmu di depan mataku sendiri?!" Aurelia mengangkat wajahnya yang sembab. Air mata membasahi pipinya yang pucat. "Tidak... hiks... aku tidak sengaja... kakiku tersandung..." "Bohong!" Ratu Eleanor menoleh dan menatap Aurelia dengan tatapan penuh kebencian. "Kau benci karena Lyra mendapatkan pengakuan dari kuil, kan? Kau ingin merusak momen berharganya dengan kecerobohanmu yang memuakkan ini!" [Misi Gagal: Target tidak meminum racun.] [Anomali Terdeteksi: 'Clumsy' menghancurkan alur asli.] [Memproses Skenario Darurat: 'Pengusiran Sang Putri Terbuang'.] Aurelia memegang tangannya yang terasa perih. "Ibu, tanganku sakit... perih sekali..." ia mencoba meminta sedikit saja empati dari wanita yang melahirkannya. Namun, Eleanor justru melayangkan sebuah tamparan keras. PLAK! Suara tamparan itu bergema di seluruh aula. Aurelia jatuh terduduk kembali, pipinya memerah seketika. Para bangsawan yang melihat hanya menunjukkan wajah sinis. "Jangan berani-berani memanggilku Ibu setelah apa yang kau lakukan!" Eleanor mendesis. "Kau adalah noda bagi keluarga Valeraine." "Ayah... tolong aku..." Aurelia menatap sang Raja dengan harapan terakhir. Raja Valeraine tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. "Pengawal! Seret dia dari hadapanku. Aku tidak butuh putri yang licik dan tidak berguna. Besok pagi, bawa dia ke perbatasan Hutan Terlarang. Biarkan dia hidup atau mati di sana. Namanya akan dihapus dari daftar silsilah kerajaan mulai detik ini!" "Tidak! Hiks... tolong jangan!" Aurelia menjerit saat dua pengawal kasar menarik lengannya dan menyeretnya keluar dari aula. Di tengah isak tangisnya yang memilukan, Aurelia sempat melirik ke arah meja kerajaan. Ia melihat Lyra sedang bersandar di pelukan sang Ratu sambil tersenyum tipis ke arahnya—sebuah senyum kemenangan yang kejam, persis seperti senyuman pacar dan kakaknya saat ia sekarat di bawah truk. Sepanjang lorong istana yang dingin, Aurelia terus diseret seperti sampah. Di dalam pikirannya, ia merutuki nasibnya. Ia terjebak dalam ending yang ia tulis sendiri, namun kali ini ia tidak akan membiarkan maut menggilasnya lagi. [Ding!] [Skenario Baru Aktif: 'Pertemuan dengan Sang Shadow Sovereign'.] [Misi: Masuki wilayah Kekaisaran Nocturnia untuk bertahan hidup.] [Peringatan: Wilayah ini dihuni oleh makhluk yang tidak mengenal belas kasihan. Semoga beruntung, 'Villainess'.]Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General (Jenderal Bayangan), The Silent Blade (Pedang Sunyi), atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.
Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya (yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf), langsung tersedak. Mata merah-emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun-nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balkon
Delapan tahun telah berlalu sejak perang besar berakhir, namun bagi Kael, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman belakang Istana Obsidian. TAK! TAK! BUK! Suara benturan pedang kayu bergema di udara pagi. "Pangeran... hah... hah..." Kael, Sang Jenderal Bayangan yang namanya pernah membuat raja-raja benua lain gemetar ketakutan, kini berlutut dengan napas memburu. Keringat membasahi seragam latihan hitamnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. "Ampun, Pangeran! Istirahat dulu! Napas saya mau putus!" Di hadapannya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, namun tegak lurus seperti tiang bendera. Rambut peraknya yang halus—warisan mutlak dari sang Ibu—berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Namun, saat bocah itu mengangkat wajahnya, siapa pun akan langsung teringat pada Kaisar Iblis. Mata heterochromia merah-emas itu menatap Kael datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan. "Berdiri, Kael," perintah Pangeran Maximilian Dracul dengan sua
Taman Istana bagian barat kini telah disulap menjadi area piknik pribadi. Di atas rumput hijau yang dipangkas rapi, terbentang tikar kain sutra bermotif bunga. Tumpukan bantal empuk berserakan di sekitarnya, menciptakan suasana santai yang sangat tidak cocok untuk dua pria paling kuat di benua itu yang kini sedang saling menatap dengan aura membunuh. Di sisi kiri, duduklah Theron, Pangeran Elf dengan rambut emas yang berkilauan. Ia memegang sebuah piring perak berisi buah-buahan eksotis yang sudah dikupas dengan seni potongan tingkat dewa. Di sisi kanan, duduklah Xaverius, Kaisar Iblis Pensiunan. Ia memegang garpu emas dengan cengkeraman yang seolah ingin membengkokkan logam itu, matanya menyipit tajam ke arah Theron. Di tengah-tengah mereka, Aurelia duduk bersila sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. "Makanlah, Adikku," Theron menyodorkan piring buah itu ke depan mulut Aurelia dengan senyum malaikat. "Ini Moonberry langka yang hanya tumbuh di mata air suci Hutan Elf. Mengandu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.