OM CEO, I LOVE YOU!

OM CEO, I LOVE YOU!

last updateآخر تحديث : 2026-01-09
بواسطة:  BabyCacaتم تحديثه الآن
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 تصنيف. 1 review
7فصول
17وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

"Jangan panggil saya Om, atau saya cium kamu sekarang juga!" Gara-gara menabrak CEO kaku di lobi dan merusak jam tangan miliaran, hidup Lala berubah jadi bencana. Bukannya takut, Lala malah memanggilnya "Om Tua" dan kabur setelah memeletkan lidah! Alistair, sang CEO arogan, tidak tinggal diam. Dia bersumpah akan memberi pelajaran pada bocah SMA bar-bar itu. "Kamu mau cicil sepuluh ribu sebulan? Kamu pikir ini warteg?!" geram Alistair. "Ya sabar dong, Om Galak! Namanya juga usaha!" balas Lala berani. Alistair berniat menyiksa Lala lewat pekerjaan, tapi malah hatinya yang tersiksa karena tingkah ajaib gadis itu. Bisakah Lala meluluhkan si Mr. Arrogant yang dinginnya melebihi kutub utara?

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1 - Wleeee! Kejar saja kalau bisa, Om

Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, dua gadis SMA dengan seragam rompi pink kotak-kotak dan dasi senada tampak celingak-celinguk di depan sebuah gedung pencakar langit. Vanderwick Corp. Nama itu terpampang megah dengan huruf emas di atas lobi yang luasnya hampir selapangan bola.

"La, mending kita pulang aja yuk? Perasaanku nggak enak," rengek Sisi sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena keringat dingin.

"Nggak bisa, Sisi! Kalau barang ini nggak nyampai ke tangan asistennya Pak Julian Vanderwick itu, Ibu tiri kamu bakal motong uang jajan kamu sebulan! Kamu mau makan promag doang di kantin?" balas Lala menggebu-gebu sambil memeluk sebuah kotak kecil.

Lala menengadah, menatap gedung di depannya sampai lehernya pegal. "Gila, ini kantor apa tangga menuju surga? Tinggi amat! Pasti yang punya gedung ini sombongnya minta ampun," gumam Lala takjub sekaligus nyinyir.

"Aduh, Sisi! Cepetan lari! Kalau kita telat, Ibu Tiri kamu bisa berubah jadi Maleficent!" ucap Lala menarik tangan sahabatnya paksa.

Sementara itu, di dalam lobi yang dingin karena AC sentral, aroma maskulin yang mahal menguar saat pintu kaca otomatis terbuka. Alistair Julian Vanderwick berjalan dengan langkah tegap, didampingi Leon asisten setianya dan seorang pria berwajah dingin dengan aura gelap di sampingnya.

“Sudah aku katakan, hentikan tabiat burukmu itu. Aku tidak berurusan dengan seorang mafia,” ketus Alistair dengan suara rendah yang berwibawa.

“Tch, jangan sombong. Perusahaanmu juga memerlukan dana haramku, bukan? Jadi jangan menolak, aku butuh bantuanmu,” sahut Kenzo datar, mengabaikan tatapan tajam orang-orang di lobi.

“Kenzo, lebih baik kau pergi. Mau umurmu sampai selama pohon Robin Hood pun, aku tak akan mengatakan ya,” pungkas Alistair tegas.

Lala tidak melihat rombongan pria berjas itu. Dia terlalu fokus menarik Sisi menembus kerumunan karyawan. "Tenang aja, Si! Kita cuma anter barang, terus kab—"

BRAAAKKK!

Dunia seolah berhenti berputar. Lala menabrak sesuatu yang sekeras tembok beton. Byuurrr! Es kopi di tangan kiri Lala terlepas, muncrat dengan estetik tepat ke arah kemeja putih mahal dan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan pria di depannya.

Lala mendongak. Di depannya berdiri pria jangkung dengan wajah blasteran yang sangat tampan, tapi tatapannya seolah ingin melempar Lala dari lantai paling atas gedung ini.

"Aduh! Maaf, Om! Sumpah Lala nggak sengaja!" Lala panik. Tanpa pikir panjang, dia menarik ujung seragam SMA-nya untuk mengelap jam tangan pria itu.

"Jam Om nanti Lala ganti deh. Tapi cicil ya? Sebulan sepuluh ribu, gimana?"

Alistair Julian Vanderwick membeku. Dia menatap jam tangannya dengan rahang mengeras. "Kamu panggil saya apa? Om? Dan kamu mau ganti jam tangan seharga satu unit apartemen ini dengan sepuluh ribu sebulan?"

Lala mengerjapkan mata polos. "Ya... habisnya muka Om kelihatan... dewasa banget. Galak lagi. Jadi pantesnya dipanggil Om, kan? Masa Kakak? Nggak cocok!"

Alistair memejamkan mata, menahan urat lehernya agar tidak meledak. Dewasa? Gue baru dua puluh delapan tahun! Ini bocah ingusan manggil gue Om?!

Alistair melirik Sisi yang bersembunyi di belakang Lala sambil gemetaran. "Kamu... temannya juga? Kamu harus ikut tanggung jawab."

Melihat Sisi mau menangis, jiwa pahlawan Lala bangkit. Dia merentangkan tangan, melindungi Sisi. "Heh Om Al-apa-tadi! Urusan jam itu sama aku! Jangan nakutin temenku, dia nggak tahu apa-apa!" gertak Lala berani.

"Lagian jam tangan doang, masa CEO pelit banget!"

Alistair menaikkan sebelah alis. Menarik. Baru kali ini ada anak SMA yang berani membentaknya. "Oh ya? Terus kalau saya tetap mau lapor polisi, kamu mau apa?"

Lala melirik Leon, lalu melirik pintu keluar.

Satu... dua... tiga!

"Aku mau... KABUR! SEKARANG! SISI, LARI!!!"

Lala menarik paksa Sisi. Alistair yang tidak siap hampir tersungkur karena didorong. Sebelum hilang di balik pintu, Lala berbalik sebentar, menarik bawah matanya dan memeletkan lidahnya lebar-lebar.

"WLEEEEEEE! Kejar aja kalau bisa, Om Tuaaaa! Jangan kangen yaaa!"

Suasana lobi mendadak hening. Alistair mematung, wajahnya merah padam menahan malu dan amarah. Di sampingnya, Kenzo Alessandro Moretti justru terkekeh pelan. Mata elangnya menatap punggung gadis culun yang ditarik Lala tadi.

"Menarik," gumam Kenzo. "Alistair, sepertinya kita punya mainan baru."

Alistair meremas kartu namanya sendiri sampai hancur. "Leon!"

"Ya, Sir?" Leon sigap mendekat, mati-matian menahan tawa.

"Cari identitas bocah itu sekarang. Saya mau dia berlutut dan minta maaf sebelum matahari terbenam besok!"

Lala dan Sisi terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Mereka menerjang trotoar, menyalip pejalan kaki, bahkan hampir menabrak tukang siomay di depan gedung. Jantung Lala serasa mau melompat keluar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena takut dipolisikan oleh pria yang dia panggil "Om Tua" tadi.

"La... hosh... hosh... berhenti dulu, La! Kakiku mau lepas!" Sisi ambruk di sebuah halte bus yang cukup jauh dari gedung Vanderwick Corp.

Wajahnya sudah sepucat kertas HVS.

Lala ikut berhenti, membungkuk sambil memegangi lututnya yang gemetar. Napasnya memburu. "Gila... hosh... itu tadi hampir saja! Sisi, kamu lihat nggak muka Om-Om tadi? Merah banget kayak kepiting rebus! Hahaha!"

"Kamu malah ketawa!" Sisi memukul lengan Lala pelan, air mata hampir jatuh dari balik kacamatanya. "Gimana kalau dia beneran lapor polisi? Itu jam tangan mahal, Lala! Harganya bisa buat beli seisi sekolah kita!"

Lala menyeka keringat di dahinya, lalu menyengir lebar, berusaha menutupi rasa takutnya sendiri. "Tenang aja, Si. Dia itu CEO sibuk. Mana mungkin dia punya waktu buat nyari dua anak SMA kayak kita. Dunia ini luas, Sisi! Besok juga dia udah lupa sama muka imut kita."

Lala kembali merogoh tasnya, memastikan barang titipan Ibu Tiri Sisi masih aman. "Lagian, kita kan nggak sebutin nama. Dia nggak tahu kita siapa, sekolah di mana. Anggap aja tadi itu olahraga jantung gratis."

"Tapi La—"

"Sssttt! Udah, sekarang kita pulang, mandi, terus tidur. Besok adalah hari baru. Lupakan Om Galak itu, oke?" Lala merangkul Sisi, mencoba meyakinkan sahabatnya meskipun dalam hati dia juga sedikit was-was.

Malam itu, Lala tidur dengan sangat nyenyak, sama sekali tidak menyadari bahwa di sebuah kantor penthouse mewah, berlembar-lembar data pribadinya sudah tersaji di atas meja kerja Alistair Julian Vanderwick.

Keesokan Harinya di SMA Bakti Bangsa.

Lala berjalan menyusuri koridor sekolah dengan santai sambil mengunyah permen karet. Dia merasa menang. Kejadian kemarin sudah dia kubur dalam-dalam. Baginya, Alistair hanyalah "Bos Sombong" yang lewat dalam hidupnya.

"Pagi, Sisi! Masih hidup, kan?" sapa Lala ceria saat melihat Sisi duduk gemetaran di bangku kelas.

"La... kamu belum lihat di depan gerbang?" tanya Sisi dengan suara bergetar.

"Lihat apa? Ada tukang seblak baru?"

"Bukan... itu..."

Tiba-tiba, suara pengeras suara sekolah berbunyi, memecah suasana pagi yang tenang.

"Panggilan kepada siswi bernama Mikala Laluna Putri dari kelas 12-IPA 1. Segera menuju ke lapangan utama sekarang juga. Sekali lagi, Mikala Laluna Putri..."

Lala mengernyit. "Dih, perasaan aku nggak telat. Ngapain dipanggil?"

Dengan langkah santai dan rasa penasaran, Lala berjalan menuju lapangan. Namun, langkahnya mendadak terkunci saat melihat pemandangan di depannya. Di tengah lapangan, terparkir sebuah mobil Rolls-Roycehitam mengkilap yang sangat kontras dengan lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah berdiri dengan sikap sangat sopan nyaris membungkuk di samping seorang pria jangkung yang mengenakan setelan jas abu-abu gelap dan kacamata hitam.

Aura pria itu begitu kuat, membuat seluruh siswi yang mengintip dari jendela kelas menjerit histeris.

Pria itu perlahan melepas kacamata hitamnya, menatap tajam ke arah Lala yang mematung di pinggir lapangan.

Lala ingin berbalik dan lari, tapi kakinya serasa terpaku ke aspal saat pria itu mulai melangkah mendekat. Setiap ketukan sepatunya di lantai semen lapangan terdengar seperti lonceng kematian bagi Lala.

Pria itu berhenti tepat di depan Lala, membuat bayangannya yang tinggi menutupi tubuh mungil gadis itu. Dia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Lala yang mendadak pucat pasi.

Senyum miring yang sangat tipis muncul di bibir pria itu. Senyum yang tidak terlihat ramah sama sekali.

"Mau kabur ke mana lagi, bocah?" bisik Alistair dengan suara rendah yang sangat seksi sekaligus mengerikan.

Lala menelan ludah susah payah. "O-om... kok tahu sekolah Lala?"

Alistair meraih sejumput rambut Lala, lalu menyentil kening gadis itu pelan dengan kartu nama mahalnya.

"Ketemu kau, Biang Kerok."

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

المراجعات

BabyCaca
BabyCaca
Love, semangat...
2026-01-08 15:13:36
0
0
7 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status