تسجيل الدخول"Jangan panggil saya Om, atau saya cium kamu sekarang juga!" Gara-gara menabrak CEO kaku di lobi dan merusak jam tangan miliaran, hidup Lala berubah jadi bencana. Bukannya takut, Lala malah memanggilnya "Om Tua" dan kabur setelah memeletkan lidah! Alistair, sang CEO arogan, tidak tinggal diam. Dia bersumpah akan memberi pelajaran pada bocah SMA bar-bar itu. "Kamu mau cicil sepuluh ribu sebulan? Kamu pikir ini warteg?!" geram Alistair. "Ya sabar dong, Om Galak! Namanya juga usaha!" balas Lala berani. Alistair berniat menyiksa Lala lewat pekerjaan, tapi malah hatinya yang tersiksa karena tingkah ajaib gadis itu. Bisakah Lala meluluhkan si Mr. Arrogant yang dinginnya melebihi kutub utara?
عرض المزيدDi tengah hiruk-pikuk ibu kota, dua gadis SMA dengan seragam rompi pink kotak-kotak dan dasi senada tampak celingak-celinguk di depan sebuah gedung pencakar langit. Vanderwick Corp. Nama itu terpampang megah dengan huruf emas di atas lobi yang luasnya hampir selapangan bola.
"La, mending kita pulang aja yuk? Perasaanku nggak enak," rengek Sisi sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena keringat dingin. "Nggak bisa, Sisi! Kalau barang ini nggak nyampai ke tangan asistennya Pak Julian Vanderwick itu, Ibu tiri kamu bakal motong uang jajan kamu sebulan! Kamu mau makan promag doang di kantin?" balas Lala menggebu-gebu sambil memeluk sebuah kotak kecil. Lala menengadah, menatap gedung di depannya sampai lehernya pegal. "Gila, ini kantor apa tangga menuju surga? Tinggi amat! Pasti yang punya gedung ini sombongnya minta ampun," gumam Lala takjub sekaligus nyinyir. "Aduh, Sisi! Cepetan lari! Kalau kita telat, Ibu Tiri kamu bisa berubah jadi Maleficent!" ucap Lala menarik tangan sahabatnya paksa. Sementara itu, di dalam lobi yang dingin karena AC sentral, aroma maskulin yang mahal menguar saat pintu kaca otomatis terbuka. Alistair Julian Vanderwick berjalan dengan langkah tegap, didampingi Leon asisten setianya dan seorang pria berwajah dingin dengan aura gelap di sampingnya. “Sudah aku katakan, hentikan tabiat burukmu itu. Aku tidak berurusan dengan seorang mafia,” ketus Alistair dengan suara rendah yang berwibawa. “Tch, jangan sombong. Perusahaanmu juga memerlukan dana haramku, bukan? Jadi jangan menolak, aku butuh bantuanmu,” sahut Kenzo datar, mengabaikan tatapan tajam orang-orang di lobi. “Kenzo, lebih baik kau pergi. Mau umurmu sampai selama pohon Robin Hood pun, aku tak akan mengatakan ya,” pungkas Alistair tegas. Lala tidak melihat rombongan pria berjas itu. Dia terlalu fokus menarik Sisi menembus kerumunan karyawan. "Tenang aja, Si! Kita cuma anter barang, terus kab—" BRAAAKKK! Dunia seolah berhenti berputar. Lala menabrak sesuatu yang sekeras tembok beton. Byuurrr! Es kopi di tangan kiri Lala terlepas, muncrat dengan estetik tepat ke arah kemeja putih mahal dan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan pria di depannya. Lala mendongak. Di depannya berdiri pria jangkung dengan wajah blasteran yang sangat tampan, tapi tatapannya seolah ingin melempar Lala dari lantai paling atas gedung ini. "Aduh! Maaf, Om! Sumpah Lala nggak sengaja!" Lala panik. Tanpa pikir panjang, dia menarik ujung seragam SMA-nya untuk mengelap jam tangan pria itu. "Jam Om nanti Lala ganti deh. Tapi cicil ya? Sebulan sepuluh ribu, gimana?" Alistair Julian Vanderwick membeku. Dia menatap jam tangannya dengan rahang mengeras. "Kamu panggil saya apa? Om? Dan kamu mau ganti jam tangan seharga satu unit apartemen ini dengan sepuluh ribu sebulan?" Lala mengerjapkan mata polos. "Ya... habisnya muka Om kelihatan... dewasa banget. Galak lagi. Jadi pantesnya dipanggil Om, kan? Masa Kakak? Nggak cocok!" Alistair memejamkan mata, menahan urat lehernya agar tidak meledak. Dewasa? Gue baru dua puluh delapan tahun! Ini bocah ingusan manggil gue Om?! Alistair melirik Sisi yang bersembunyi di belakang Lala sambil gemetaran. "Kamu... temannya juga? Kamu harus ikut tanggung jawab." Melihat Sisi mau menangis, jiwa pahlawan Lala bangkit. Dia merentangkan tangan, melindungi Sisi. "Heh Om Al-apa-tadi! Urusan jam itu sama aku! Jangan nakutin temenku, dia nggak tahu apa-apa!" gertak Lala berani. "Lagian jam tangan doang, masa CEO pelit banget!" Alistair menaikkan sebelah alis. Menarik. Baru kali ini ada anak SMA yang berani membentaknya. "Oh ya? Terus kalau saya tetap mau lapor polisi, kamu mau apa?" Lala melirik Leon, lalu melirik pintu keluar. Satu... dua... tiga! "Aku mau... KABUR! SEKARANG! SISI, LARI!!!" Lala menarik paksa Sisi. Alistair yang tidak siap hampir tersungkur karena didorong. Sebelum hilang di balik pintu, Lala berbalik sebentar, menarik bawah matanya dan memeletkan lidahnya lebar-lebar. "WLEEEEEEE! Kejar aja kalau bisa, Om Tuaaaa! Jangan kangen yaaa!" Suasana lobi mendadak hening. Alistair mematung, wajahnya merah padam menahan malu dan amarah. Di sampingnya, Kenzo Alessandro Moretti justru terkekeh pelan. Mata elangnya menatap punggung gadis culun yang ditarik Lala tadi. "Menarik," gumam Kenzo. "Alistair, sepertinya kita punya mainan baru." Alistair meremas kartu namanya sendiri sampai hancur. "Leon!" "Ya, Sir?" Leon sigap mendekat, mati-matian menahan tawa. "Cari identitas bocah itu sekarang. Saya mau dia berlutut dan minta maaf sebelum matahari terbenam besok!" Lala dan Sisi terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Mereka menerjang trotoar, menyalip pejalan kaki, bahkan hampir menabrak tukang siomay di depan gedung. Jantung Lala serasa mau melompat keluar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena takut dipolisikan oleh pria yang dia panggil "Om Tua" tadi. "La... hosh... hosh... berhenti dulu, La! Kakiku mau lepas!" Sisi ambruk di sebuah halte bus yang cukup jauh dari gedung Vanderwick Corp. Wajahnya sudah sepucat kertas HVS. Lala ikut berhenti, membungkuk sambil memegangi lututnya yang gemetar. Napasnya memburu. "Gila... hosh... itu tadi hampir saja! Sisi, kamu lihat nggak muka Om-Om tadi? Merah banget kayak kepiting rebus! Hahaha!" "Kamu malah ketawa!" Sisi memukul lengan Lala pelan, air mata hampir jatuh dari balik kacamatanya. "Gimana kalau dia beneran lapor polisi? Itu jam tangan mahal, Lala! Harganya bisa buat beli seisi sekolah kita!" Lala menyeka keringat di dahinya, lalu menyengir lebar, berusaha menutupi rasa takutnya sendiri. "Tenang aja, Si. Dia itu CEO sibuk. Mana mungkin dia punya waktu buat nyari dua anak SMA kayak kita. Dunia ini luas, Sisi! Besok juga dia udah lupa sama muka imut kita." Lala kembali merogoh tasnya, memastikan barang titipan Ibu Tiri Sisi masih aman. "Lagian, kita kan nggak sebutin nama. Dia nggak tahu kita siapa, sekolah di mana. Anggap aja tadi itu olahraga jantung gratis." "Tapi La—" "Sssttt! Udah, sekarang kita pulang, mandi, terus tidur. Besok adalah hari baru. Lupakan Om Galak itu, oke?" Lala merangkul Sisi, mencoba meyakinkan sahabatnya meskipun dalam hati dia juga sedikit was-was. Malam itu, Lala tidur dengan sangat nyenyak, sama sekali tidak menyadari bahwa di sebuah kantor penthouse mewah, berlembar-lembar data pribadinya sudah tersaji di atas meja kerja Alistair Julian Vanderwick. Keesokan Harinya di SMA Bakti Bangsa. Lala berjalan menyusuri koridor sekolah dengan santai sambil mengunyah permen karet. Dia merasa menang. Kejadian kemarin sudah dia kubur dalam-dalam. Baginya, Alistair hanyalah "Bos Sombong" yang lewat dalam hidupnya. "Pagi, Sisi! Masih hidup, kan?" sapa Lala ceria saat melihat Sisi duduk gemetaran di bangku kelas. "La... kamu belum lihat di depan gerbang?" tanya Sisi dengan suara bergetar. "Lihat apa? Ada tukang seblak baru?" "Bukan... itu..." Tiba-tiba, suara pengeras suara sekolah berbunyi, memecah suasana pagi yang tenang. "Panggilan kepada siswi bernama Mikala Laluna Putri dari kelas 12-IPA 1. Segera menuju ke lapangan utama sekarang juga. Sekali lagi, Mikala Laluna Putri..." Lala mengernyit. "Dih, perasaan aku nggak telat. Ngapain dipanggil?" Dengan langkah santai dan rasa penasaran, Lala berjalan menuju lapangan. Namun, langkahnya mendadak terkunci saat melihat pemandangan di depannya. Di tengah lapangan, terparkir sebuah mobil Rolls-Roycehitam mengkilap yang sangat kontras dengan lingkungan sekolah. Kepala Sekolah berdiri dengan sikap sangat sopan nyaris membungkuk di samping seorang pria jangkung yang mengenakan setelan jas abu-abu gelap dan kacamata hitam. Aura pria itu begitu kuat, membuat seluruh siswi yang mengintip dari jendela kelas menjerit histeris. Pria itu perlahan melepas kacamata hitamnya, menatap tajam ke arah Lala yang mematung di pinggir lapangan. Lala ingin berbalik dan lari, tapi kakinya serasa terpaku ke aspal saat pria itu mulai melangkah mendekat. Setiap ketukan sepatunya di lantai semen lapangan terdengar seperti lonceng kematian bagi Lala. Pria itu berhenti tepat di depan Lala, membuat bayangannya yang tinggi menutupi tubuh mungil gadis itu. Dia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Lala yang mendadak pucat pasi. Senyum miring yang sangat tipis muncul di bibir pria itu. Senyum yang tidak terlihat ramah sama sekali. "Mau kabur ke mana lagi, bocah?" bisik Alistair dengan suara rendah yang sangat seksi sekaligus mengerikan. Lala menelan ludah susah payah. "O-om... kok tahu sekolah Lala?" Alistair meraih sejumput rambut Lala, lalu menyentil kening gadis itu pelan dengan kartu nama mahalnya. "Ketemu kau, Biang Kerok."Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang terselip di antara kemegahan Alistair dan keanggunan Elena. Namun, baru beberapa meter menginjak trotoar yang panas, suara bariton yang sangat ia kenali menggelegar, menghentikan detak jantungnya sesaat. "Mikala! Masuk ke mobil sekarang!" bentak Alistair dari ambang pintu restoran. Suaranya tidak membentak dengan nada peduli, melainkan seperti perintah mutlak seorang tuan kepada bawahannya. Lala berhenti, bahunya bergetar hebat. Ia hendak membantah, ingin sekali ia berteriak bahwa ia bukan budak yang bisa disuruh-suruh, tapi Leon sudah sigap berdiri di sampingnya dengan wajah cemas yang tertahan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lala terpaksa memutar arah. Ia melangkah kembali dan
Pagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di tengah aroma alkohol yang menyengat membuat pipi Lala memanas seketika. Lala menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia masih tidak habis pikir, pria yang biasanya sedingin es itu bisa terlihat begitu rapuh. Bayangan Alistair yang berdiri diam di depan gerbang mansion semalam, menemui seorang wanita misterius di balik hujan yang turun samar, terus menghantui pikirannya. Lala ingat bagaimana wanita itu Elena menatap Alistair dengan penuh harap, memintanya datang ke pernikahan yang akan segera digelar. Namun, semua kehangatan dan rasa penasaran itu menguap saat ia tiba di ruang makan pagi ini. Alistair sudah kembali menjadi "Monster" yang kaku di balik koran paginya. "Mikala, buatkan saya ko
Setelah kejadian dapur yang hampir meledak itu, Alistair benar-benar melarang Lala menyentuh area dapur sendirian. Pagi ini, Lala punya tugas baru sebagai "Pembantu Pribadi": Membereskan meja kerja Alistair di ruang perpustakaan pribadi yang biasanya sangat terlarang dimasuki siapapun. "Ingat Mikala, jangan pindahkan posisi satu kertas pun. Cukup bersihkan debunya saja," peringat Alistair sebelum berangkat ke kantor. "Iya, iya, Om Galak! Bawel banget sih, lagian siapa juga yang mau baca kertas tulisan cacing gitu," gerutu Lala sambil membawa kemoceng bulu ayam. “Kenapa sih apa-apa kalau nyuruh harus marah duluan. Emosional banget, apa ga takut keriput ya?”gumam Lala kesal kepada diri nya sendiri. “Tor minitor ketua, asik. Kondisi lagi gacor ketua, asik. My trip my Adventure stop sudah jangan ko atur, kau bukan lagi donatur sekarang, lupa nama tapi masih ingat rasa ahay.”goyang Lala sambil bekerja dan bernyanyi aneh.Saat sedang asyik membersihkan rak buku, mata Lala tertuju pada s
Sekolah… “Selamat ya teman-teman akhirnya kita lulus,”ujar Yudika kepada teman-teman sekelas nya. “Aku mau langsung daftar ke sekolah keperawatan doain ya,”ucap Bitri terkekeh. “Lala kamu mau kuliah di mana? Eh lupa kamu ga kuliah ya? Kan ga ada uang haha,”tawa Bitri terkekeh. Sedangkan Lala di sana hanya memutar bola mata nya malas mendengar ucapan dari teman nya itu, dia hanya melihat nilai nya dan menghembuskan nafas nya pelan. Sisi yang duduk di samping Lala di kelas itu mengenggam tangan sahabatnya lembut. “Lala jangan dengerin ya, kamu gimana? Masih kerja di tempat Om CEO itu?”tanya Sisi khawatir kepada Lala. “Ya gitu hutang ku kan dua milliar berapa ya kata nya lupa. Tapi Si di sana enak rumah nya bagus, aku boleh nonton tv juga, tapi emang Om nya ribet sama berisik aja. Kayak orang tua aku aja suka nyuruh nyuruh,”ujar Lala dengan kesal. “Syukurlah Lala kalau kau baik-baik saja. Aku akan mencari pekerjaan dan membantu mu membayar hutang, nanti kita tinggal berdua ya,”sen


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعات