LOGINRoselina tahu persis kapan ia akan mati. Ia sudah mengalaminya 55 kali. Setelah mengalami kematian tragis berulang kali di tangan pria yang sama, kali ini Roselina menolak menyerah. Ia menerobos radius maut lima meter milik Kaelan Varka—Sang Raja yang dikutuk membekukan apa pun yang disentuhnya—dan melakukan hal mustahil: Ia memeluknya dan tetap bernapas. "Aku lelah mati dengan cara yang membosankan, Yang Mulia."
View More"Apakah Anda sudah siap, Tuan Saudagar?" Suara lembut Roselina membuka pagi yang cerah di Pelabuhan Leviathan. Gadis itu tersenyum jenaka, menatap Kaelan yang kini berdiri di sisinya. Sang Raja tidak mengenakan mahkota atau jubah berlambang naga es. Ia memakai kemeja katun berkualitas tinggi berwarna gelap dan mantel kulit yang biasa dipakai oleh saudagar kaya dari luar ibu kota. Meski begitu, ketampanan dan postur tubuhnya yang menjulang tetap saja mengundang lirikan dari beberapa wanita di pelabuhan. Di belakang mereka, Zepriyn menyamar sebagai pengawal pribadi saudagar, membawa sebuah pedang biasa di pinggangnya. Kaelan menghela napas panjang, menatap lautan manusia, kapal dagang, dan deretan lapak pasar yang riuh di sepanjang dermaga. "Di mana kita akan menemukannya, Roselina?" tanya Kaelan, suaranya sedikit tenggelam oleh teriakan para nelayan. "Aku bahkan tidak tahu bagaimana rupa wajah Nyonya Crolle. Pelabuhan ini terlalu besar untuk mencari satu orang penjual sayur." "Ki
"Jika Anda berdua masih ingin melanjutkan diskusi... pribadi ini, saya rasa kehadiran saya sudah tidak dibutuhkan. Saya mohon pamit untuk pergi ke dapur paviliun sebentar, Yang Mulia." Suara dehaman Jenderal Zepriyn memecah dunia kecil Kaelan dan Roselina. Pria berambut perak itu menunduk sopan, merasa auranya benar-benar tidak cocok berada di tengah-tengah tatapan posesif rajanya kepada sang Nyonya Penasihat. Kaelan tidak menoleh, matanya masih menatap Roselina. Namun bibirnya melontarkan kalimat balasan yang sangat menyebalkan. "Kenapa kau tidak pergi dari tadi, Zepriyn?" usir Kaelan tanpa basa-basi. "Udara di ruangan ini terasa jauh lebih nyaman dan luas tanpa kehadiranmu." Zepriyn hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Sebagai bawahan yang setia, ia memilih untuk menelan sisa harga dirinya dan melangkah keluar ruangan tanpa membantah lagi. Tujuan Zepriyn murni hanya ingin mencari segelas air dingin di dapur paviliun untuk mendinginkan kepalanya dari ting
"Sepertinya kau sangat tenang akhir-akhir ini, Jenderal Vaelia. Apakah ada hal yang membuatmu begitu bahagia?" Suara berat dan santai milik Jenderal Orca memecah keheningan di salah satu lorong pilar istana utama. Pria bertubuh tegap itu bersandar santai di dinding, menatap wanita berambut merah yang baru saja lewat di hadapannya. Vaelia menghentikan langkahnya. Ia menoleh dengan sebelah alis terangkat angkuh. "Biasanya, kau itu sangat mudah meledak," lanjut Orca dengan kekehan pelan yang menyebalkan. "Sedikit saja rencanamu berantakan, kau akan mudah marah dan menghancurkan semua vas serta meja di ruanganmu. Tapi hari ini... wajahmu cerah sekali." "Jangan meremehkanku, Jenderal Orca," desis Vaelia dingin, melipat kedua lengannya di depan dada. "Apa aku terlihat seperti orang yang begitu bodoh dan mudah diprovokasi?" "Tentu saja. Sangat mudah," jawab Orca tanpa beban, bahunya terangkat acuh tak acuh. Pria itu kemudian mencondongkan tubuhnya, menatap Vaelia dengan kilat mata yang
Suara ketukan jari yang berirama konstan memecah keheningan malam. Tidak seperti biasanya di mana Kaelan selalu memanggil orang ke ruangannya, pusat diskusi malam ini justru berada di meja kerja Nyonya Penasihat di paviliun timur. Setelah membersihkan diri dari kotoran dan debu jalanan, Roselina duduk berhadapan dengan sang Tiran, sementara Zepriyn berdiri tegak di sisi meja. "Ini benar-benar hal gila yang baru aku ketahui," ucap Kaelan memecah keheningan. Aura dingin mulai menyelimuti ruangan itu. Jari Kaelan berhenti mengetuk meja, tangannya kini terkepal kuat. Mata safirnya memancarkan kemarahan yang tertahan. "Aku sama sekali tidak tahu jika ada pembantaian dan perburuan besar-besaran terhadap mantan pelayan dan pengawal Ratu terdahulu. Dan yang lebih menjijikkan, mereka mengatasnamakan istana Ocean," desis Kaelan dengan rahang mengeras. "Pantas saja rakyat di distrik kumuh sama sekali tidak peduli dengan istana atau rajanya. Jika mereka mewariskan memori seburuk dan sekejam i






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews