LOGINRoselina tahu persis kapan ia akan mati. Ia sudah mengalaminya 55 kali. Setelah mengalami kematian tragis berulang kali di tangan pria yang sama, kali ini Roselina menolak menyerah. Ia menerobos radius maut lima meter milik Kaelan Varka—Sang Raja yang dikutuk membekukan apa pun yang disentuhnya—dan melakukan hal mustahil: Ia memeluknya dan tetap bernapas. "Aku lelah mati dengan cara yang membosankan, Yang Mulia."
View More“Turun, Manusia! Jangan membuat kami menunggu lebih lama!"
Sentakan kasar pada rantai di pergelangan tangannya membuat Roselina de Solis tersungkur. Lututnya menghantam pasir hitam pantai Ocean yang tajam. Perih yang menusuk itu langsung menyadarkannya dari sisa-sisa kantuk akibat perjalanan laut yang menyiksa. "Kehidupan ke-57," bisik Roselina parau. Suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak yang ganas, seolah laut sendiri ingin menelan keberadaannya. "Apa yang kau racaunkan? Cepat berdiri!" Prajurit Varka di depannya membentak. Pria itu memiliki paras yang terlalu tampan untuk seorang algojo, namun matanya sekosong lautan dalam. Roselina mendongak pelan, menatap prajurit itu dengan pandangan yang membuat sang pria jengah. Ia hafal setiap lekuk wajah ini. Pria ini yang dalam 56 kehidupan sebelumnya selalu menyeretnya menuju penjara bawah tanah, tempat ia akan menunggu ajal sebagai tumbal yang terlupakan. "Nona Roselina... tolong, jangan melawan mereka," isak Celia dari belakang. Pelayan itu gemetar hebat. Celia adalah satu-satunya 'kenang-kenangan' yang diberikan Kerajaan Hilles untuk menemaninya menuju kematian. Hilles, kerajaan yang melahirkannya hanya untuk membuangnya demi meredam amarah Bangsa Varka. "Celia," suara Roselina terdengar dingin, asing bagi telinga pelayannya sendiri. "Tetaplah di belakangku. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan pandanganmu dariku." "Berhenti bicara! Jalan sekarang!" Prajurit itu menarik kasar kerah baju Roselina, memaksanya berdiri. Roselina bangkit. Kakinya gemetar, namun matanya tetap tajam. Ia menghitung dalam hati. Ia tahu, dalam sepuluh detik, barisan penjaga di depan gerbang utama akan bergeser untuk pergantian shift. Kehidupan-kehidupan sebelumnya aku terlalu takut untuk lari, batinnya. Aku selalu berpikir jika aku menurut, mungkin Kaelan akan mengasihaniku. Tapi aku salah. Ketaatan hanya membawaku pada kematian yang sia-sia di sel pengap. Roselina mengeratkan genggamannya pada rantai besi yang melilit tangannya. Tatapannya kini tertuju pada menara kristal di tengah istana. Aku tidak akan membiarkan diriku diseret ke penjara bawah tanah lagi. Kali ini, aku akan langsung mendatangi sumber kutukannya. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menyentuh Raja itu—satu-satunya cara untuk memutus siklus maut ini. Satu detik. Dua detik. Sepuluh. Brak! Roselina menyentakkan tubuhnya secara tak terduga. Ia menggunakan berat rantai di tangannya untuk menghantam tulang kering prajurit di sampingnya. Saat pria itu mengerang, Roselina tidak menunggu. Ia berlari. "Dia lari! Tangkap tumbal itu!" "Nona! Jangan ke sana!" jerit Celia tertahan. Roselina menghiraukan segalanya. Ia berlari melewati pilar-pilar mutiara yang berkilau. Kakinya yang telanjang menghantam lantai marmer yang membeku. Ingatan dari 56 kali kematian memberinya peta yang lebih akurat daripada navigasi mana pun di dunia ini. Belok kanan di aula sayap timur. Jangan lewat lorong penjara. Langkah kakinya menggema, dikejar oleh derap sepatu bot berat para prajurit Varka. Udara di sekitarnya perlahan berubah. Semakin ia mendekat ke pusat istana, suhu udara turun drastis. "Jangan ke sana, Manusia bodoh! Kau akan mati sebelum menyentuh pintunya!" Teriakan salah satu pengejarnya tiba-tiba melambat. Para prajurit itu berhenti di sebuah garis batas yang tak terlihat. Mereka tahu apa yang ada di balik pintu besar dengan ukiran naga laut di ujung aula itu. Mereka tahu tentang Radius Lima Meter yang mematikan. Di balik pintu itu, bersemayam Kaelan Varka—Sang Raja Bangsa Varka. Dia adalah penguasa samudera yang dikutuk. Sosok yang sanggup memusnahkan satu pasukan hanya dengan satu hembusan napas es. Baginya, manusia adalah makhluk lemah yang akan langsung hancur menjadi debu jika berani mendekatinya. Namun bagi Roselina, Kaelan bukan sekadar raja. Pria itu adalah satu-satunya penawar yang ia cari. Pintu besar itu terbuka dengan sekali dorongan beban tubuhnya. Wush! Hembusan angin es menerjang wajahnya, menyakitkan seperti ribuan jarum. Di ujung ruangan, di depan jendela raksasa, seorang pria berdiri membelakangi pintu. Tubuhnya tinggi, hampir mencapai dua meter. Bahunya lebar dan tegap, dibalut jubah hitam pekat. "Siapa yang mengizinkan seekor serangga masuk ke ruanganku?" Suara itu rendah, berat, dan mengandung otoritas yang mematikan. "Mundur, Manusia. Satu langkah lagi dan kau akan menjadi debu es di lantai ini." Kaelan Varka mulai berbalik perlahan. Wajahnya adalah definisi keindahan yang kejam. Kulitnya pucat seperti salju, kontras dengan rambut biru tuanya yang jatuh elegan. Mata biru safirnya menatap Roselina seolah-olah dia adalah kotoran yang tidak sengaja masuk ke kamarnya. Roselina tidak berhenti. Ia justru berlari semakin cepat ke arah zona maut sang Raja. "Hentikan dia! Dia akan hancur!" teriak para penjaga dari ambang pintu. Roselina menutup matanya rapat-rapat saat jaraknya tinggal beberapa inci. Ia bisa merasakan aura dingin yang mematikan itu mulai membungkus kulitnya. Bruk! Roselina menubrukkan tubuhnya ke dada bidang pria itu. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Kaelan Varka, memeluknya sekuat tenaga. Hening. Seluruh ruangan seolah membeku. Para penjaga menahan napas, menanti suara retakan es dari tubuh Roselina. Satu detik... dua detik... Tidak ada suara kehancuran. Roselina tidak membeku. "Hangat..." gumam Roselina pelan. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Kaelan, menghirup aroma garam laut yang anehnya menenangkan. Kaelan Varka terpaku. Matanya membelalak lebar. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ia merasakan beban seseorang di tubuhnya. Ia tidak melihat serpihan es, melainkan seorang gadis manusia yang bernapas. "Kau..." suara Kaelan serak, penuh dengan ketidakpercayaan. "Kenapa kau tidak mati?" Roselina mendongak. Air mata jatuh di pipinya, namun ia tersenyum—sebuah senyum kemenangan yang pahit. "Karena aku lelah mati dengan cara yang membosankan, Yang Mulia." Kaelan mencengkeram bahu Roselina, menariknya sedikit menjauh. Kulit tangan Kaelan yang dingin bersentuhan langsung dengan kulit leher Roselina yang hangat. Tidakk terjadi apa-apa. "Ini tidak mungkin..." bisik seorang penjaga di pintu. "Kutukan Raja... tidak mempan padanya?" Kaelan menatap mata Roselina dengan intensitas yang menyesakkan. "Apa kau seorang penyihir? Apa yang kau bawa ke dalam istanaku?" "Aku bukan penyihir," jawab Roselina tegas. "Aku hanya tumbal yang dikirim untuk mati di tanganmu. Tapi sepertinya, maut pun menolakku hari ini." Kaelan menyipitkan mata. Ia menarik tubuh Roselina lebih dekat, begitu dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Selama ratusan tahun, setiap manusia yang berada dalam jarak lima meter dariku akan menjadi debu," geram Kaelan. "Tapi kau berdiri di sini. Memelukku." "Maka anggaplah aku sebagai pengecualian pertama dan terakhirmu, Yang Mulia." Kaelan tertawa rendah. Sebuah suara yang berbahaya namun memikat. Ia melepaskan cengkeramannya namun tetap mengurung Roselina dengan tatapannya. "Siapa namamu, Manusia yang sangat berani?" "Roselina." Kaelan mengitari tubuh Roselina seperti predator yang sedang memeriksa mangsa yang aneh. Ia menyentuh helai rambut pirang Roselina. "Apa yang kau inginkan dariku? Nyawamu sudah berada di ujung pedangku, Roselina." Roselina berdiri tegak. Ia tidak lagi gemetar. "Jadikan aku pelayan pribadimu. Jadikan aku satu-satunya orang yang bisa berada di sampingmu tanpa perlu menjadi debu." Kaelan terdiam. Ia menatap ke arah pintu di mana Zephyrin, jenderalnya, baru saja masuk dengan wajah terkejut. "Zephyrin, kau lihat ini? Manusia ini tidak hancur. Dia bahkan berani menatapku seolah-olah dia adalah pemilik tempat ini." Kaelan mendekatkan wajahnya ke telinga Roselina. "Apa kau tidak takut padaku?" "Aku lebih takut kembali ke penjara bawah tanah dan mati tanpa nama," jawab Roselina jujur. Kaelan tersenyum tipis—sebuah ekspresi yang tidak pernah terlihat selama berabad-abad. Ia menyentuh dagu Roselina. "Pelayan pribadi? Kau harus menanggung hawa dinginku setiap detik. Kau harus melihat kegelapanku setiap saat." "Jika itu yang Anda butuhkan agar tidak membekukan dunia ini sendirian, maka saya bersedia." Kaelan menarik napas panjang. Ia berbalik dan berjalan menuju takhta kristalnya yang megah. "Bawa dia, Zephyrin. Siapkan sebuah ruangan kecil tepat di samping kamar pribadiku. Aku butuh 'benda hangat' ini di dekatku setiap saat." Roselina mengepalkan tangannya. Ia menatap Kaelan yang kini duduk angkuh di atas takhtanya. "Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, Roselina. Kau adalah milikku sekarang."Ruang Arsip Bawah Tanah Istana Ocean jarang dikunjungi siapa pun. Udaranya pengap, berbau perkamen tua dan debu batu. Roselina sengaja datang ke sini sendirian di larut malam. Ia butuh catatan pajak lama Benua Hilles untuk menyempurnakan rencana blokade Palung Hitam yang ditantang Kaelan kemarin. Sebuah lentera kecil berpendar di atas meja kayu yang rapuh. Roselina memijat pelipisnya kuat-kuat. Denyut nyeri di kepalanya datang lagi, kali ini lebih tajam. Pandangannya sempat mengabur sesaat. Ia mengira ini murni karena kurang tidur, tanpa menyadari sisa akar pahit dari teh Tabib Tasbian perlahan meruntuhkan fokus dan ketahanan mentalnya. Roselina mengulurkan tangan untuk mengambil gulungan peta di ujung meja. Tiba-tiba, gerakannya terhenti. Tepat di atas punggung tangannya yang pucat, seekor laba-laba hitam berbulu tebal berukuran kepalan tangan bayi baru saja turun dari jaring langit-langit. Kaki-kakinya yang berbulu merayap pelan di atas kulit Roselina. Prang! Roselin
atas meja kerjanya, sebuah perkamen kecil baru saja selesai ditulisi. Bukan dengan bahasa militer biasa, melainkan dengan Sandi Dagang Hilles tingkat tinggi. Dari luar, surat itu hanya terlihat seperti pertanyaan logistik biasa untuk Jenderal Orca mengenai kapasitas tambang Palung Hitam. Namun, bagi Elias yang membaca dari balik jeruji tambang, itu adalah instruksi mutlak. ‘Cari tahu jalur penyelundupan bawah tanah milik Serikat Emas. Kita akan mencekik mereka dari dua arah.’ Roselina meneteskan lilin segel berwarna biru gelap dan menekan stempel Penasihat Logistik di atasnya. "Celia," panggil Roselina pelan. Pelayan muda yang sedang merapikan perapian itu langsung menoleh dan menghampiri meja. "Bawa surat ini ke Sayap Selatan, ke pos kurir militer," titah Roselina, menyodorkan perkamen itu. "Pastikan ini dikirim menggunakan Elang Salju jalur khusus ke kamp Jenderal Orca hari ini juga." Celia menerima surat itu dengan kedua tangan. "Baik, Nyonya. Saya akan memastikannya
Perpustakaan Agung Istana Ocean adalah labirin es dan perkamen tua. Rak-rak kayu menjulang setinggi belasan meter, dipenuhi gulungan sejarah dan catatan dagang lintas benua. Udara di sini jauh lebih menggigit daripada di Paviliun Timur, namun Roselina tidak peduli. Di atas sebuah meja kayu bundar yang diterangi dua lilin, ia menggelar peta Benua Hilles. Tenggat waktu yang Kaelan berikan tinggal dua hari. Rencana embargonya harus sempurna. Jika ada satu celah saja, faksi militer Vaelia akan menggunakan itu sebagai alasan untuk menyerang Hilles secara brutal. "Jalur darat melalui Lembah Perak... dikuasai oleh serikat ayah," gumam Roselina. Ujung pena bulunya bergerak lincah mencoret jalur tersebut di atas peta. "Jika aku memblokir ini atas nama hukum Ocean, barang dagangannya akan membusuk di gudang dalam seminggu." Hawa dingin yang tiba-tiba menusuk tengkuk membuat gerakan pena Roselina terhenti. Lilin di atas mejanya berkedip pelan, nyaris padam. Suara langkah sepatu bot
Brak! Pintu paviliun tiba-tiba didorong kasar dari luar. Celia nyaris terpelanting ke samping karena terkejut. Pelayan muda itu memucat saat melihat siapa yang melangkah masuk tanpa menunggu persetujuan. Jenderal Vaelia. Wanita jangkung dengan rambut perak yang diikat ketat itu melangkah masuk dengan angkuh. Jubah militer faksi konservatifnya berkibar. Aura membunuh menguar pekat dari tubuhnya, membuat suhu ruangan seketika anjlok. Di belakangnya, dua prajurit bayangan berjaga di ambang pintu. Ksatria Ishaq langsung menghunus pedangnya setengah jalan. "Anda melanggar privasi Nyonya Penasihat, Jenderal Vaelia," geram Ishaq memperingatkan. Vaelia bahkan tidak melirik Ishaq. Ia terus menatap Roselina dengan sorot mata yang dipenuhi rasa jijik murni. "Sarungkan pedangmu, Ksatria," ucap Vaelia dingin. "Aku tidak datang untuk mengotori tanganku dengan darah manusia rendahan. Aku hanya ingin melihat langsung wajah tak tahu malu dari ular yang menggigit ekornya sendiri." Ros
"Siapa yang memberimu izin untuk menghunuskan senjata di depanku, Dellos?" Udara di Aula Utama seketika membeku. Embun es tebal merambat cepat dari ujung sepatu Kaelan, menjalar di lantai obsidian menuju tengah ruangan. KRAK! KRAK! Meja bundar raksasa di tengah aula retak terbelah oleh lapisa
"Kencangkan talinya, Celia." Celia menarik tali jubah hitam itu. Tangan pelayan itu gemetar pelan. "Nona, apakah Anda yakin ingin keluar malam ini? Penjagaan istana berlipat ganda setelah insiden racun," bisik Celia. "Ini satu-satunya kesempatanku. Aku harus ke Pasar Gelap sebelum Vaelia meny
Matahari mulai meninggi di atas istana Varka. Kaelan sedang menuju dermaga perbatasan bersama Jenderal Orca untuk meninjau kerusakan akibat badai semalam. Roseline berjalan perlahan menyusuri lorong kristal yang sunyi. Langkah Roseline terhenti. Vaelia berdiri tegak di depannya, menghalang jalan.
Kaelan menatap pecahan kristal di lantai dengan napas memburu. Uap es mengepul tebal di sekitar meja makan. "Apa kau sedang mencoba menguji kesabaranku, Roselina?!" suara Kaelan menggelegar. Kaelan mengangkat tangan kanannya dengan cepat, bersiap mencengkeram leher gadis itu. Melihat gerakan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews