Di Kehidupan ke-56, Aku Menaklukkan Sang Raja Varka

Di Kehidupan ke-56, Aku Menaklukkan Sang Raja Varka

last updateLast Updated : 2026-05-01
By:  BabyCacaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
195Chapters
862views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Roselina tahu persis kapan ia akan mati. Ia sudah mengalaminya 55 kali. Setelah mengalami kematian tragis berulang kali di tangan pria yang sama, kali ini Roselina menolak menyerah. Ia menerobos radius maut lima meter milik Kaelan Varka—Sang Raja yang dikutuk membekukan apa pun yang disentuhnya—dan melakukan hal mustahil: Ia memeluknya dan tetap bernapas. "Aku lelah mati dengan cara yang membosankan, Yang Mulia."

View More

Chapter 1

BAB 1 : KMSRV

“Turun, Manusia! Jangan membuat kami menunggu lebih lama!"

Sentakan kasar pada rantai di pergelangan tangannya membuat Roselina de Solis tersungkur. Lututnya menghantam pasir hitam pantai Ocean yang tajam. Perih yang menusuk itu langsung menyadarkannya dari sisa-sisa kantuk akibat perjalanan laut yang menyiksa.

"Kehidupan ke-57," bisik Roselina parau.

Suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak yang ganas, seolah laut sendiri ingin menelan keberadaannya.

"Apa yang kau racaunkan? Cepat berdiri!" Prajurit Varka di depannya membentak.

Pria itu memiliki paras yang terlalu tampan untuk seorang algojo, namun matanya sekosong lautan dalam. Roselina mendongak pelan, menatap prajurit itu dengan pandangan yang membuat sang pria jengah.

Ia hafal setiap lekuk wajah ini. Pria ini yang dalam 56 kehidupan sebelumnya selalu menyeretnya menuju penjara bawah tanah, tempat ia akan menunggu ajal sebagai tumbal yang terlupakan.

"Nona Roselina... tolong, jangan melawan mereka," isak Celia dari belakang.

Pelayan itu gemetar hebat. Celia adalah satu-satunya 'kenang-kenangan' yang diberikan Kerajaan Hilles untuk menemaninya menuju kematian. Hilles, kerajaan yang melahirkannya hanya untuk membuangnya demi meredam amarah Bangsa Varka.

"Celia," suara Roselina terdengar dingin, asing bagi telinga pelayannya sendiri. "Tetaplah di belakangku. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan pandanganmu dariku."

"Berhenti bicara! Jalan sekarang!" Prajurit itu menarik kasar kerah baju Roselina, memaksanya berdiri.

Roselina bangkit. Kakinya gemetar, namun matanya tetap tajam. Ia menghitung dalam hati. Ia tahu, dalam sepuluh detik, barisan penjaga di depan gerbang utama akan bergeser untuk pergantian shift.

Kehidupan-kehidupan sebelumnya aku terlalu takut untuk lari, batinnya.

Aku selalu berpikir jika aku menurut, mungkin Kaelan akan mengasihaniku. Tapi aku salah. Ketaatan hanya membawaku pada kematian yang sia-sia di sel pengap.

Roselina mengeratkan genggamannya pada rantai besi yang melilit tangannya. Tatapannya kini tertuju pada menara kristal di tengah istana.

Aku tidak akan membiarkan diriku diseret ke penjara bawah tanah lagi. Kali ini, aku akan langsung mendatangi sumber kutukannya. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menyentuh Raja itu—satu-satunya cara untuk memutus siklus maut ini.

Satu detik. Dua detik.

Sepuluh.

Brak!

Roselina menyentakkan tubuhnya secara tak terduga. Ia menggunakan berat rantai di tangannya untuk menghantam tulang kering prajurit di sampingnya.

Saat pria itu mengerang, Roselina tidak menunggu. Ia berlari.

"Dia lari! Tangkap tumbal itu!"

"Nona! Jangan ke sana!" jerit Celia tertahan.

Roselina menghiraukan segalanya. Ia berlari melewati pilar-pilar mutiara yang berkilau. Kakinya yang telanjang menghantam lantai marmer yang membeku.

Ingatan dari 56 kali kematian memberinya peta yang lebih akurat daripada navigasi mana pun di dunia ini.

Belok kanan di aula sayap timur. Jangan lewat lorong penjara.

Langkah kakinya menggema, dikejar oleh derap sepatu bot berat para prajurit Varka. Udara di sekitarnya perlahan berubah. Semakin ia mendekat ke pusat istana, suhu udara turun drastis.

"Jangan ke sana, Manusia bodoh! Kau akan mati sebelum menyentuh pintunya!"

Teriakan salah satu pengejarnya tiba-tiba melambat. Para prajurit itu berhenti di sebuah garis batas yang tak terlihat.

Mereka tahu apa yang ada di balik pintu besar dengan ukiran naga laut di ujung aula itu. Mereka tahu tentang Radius Lima Meter yang mematikan.

Di balik pintu itu, bersemayam Kaelan Varka—Sang Raja Bangsa Varka.

Dia adalah penguasa samudera yang dikutuk. Sosok yang sanggup memusnahkan satu pasukan hanya dengan satu hembusan napas es. Baginya, manusia adalah makhluk lemah yang akan langsung hancur menjadi debu jika berani mendekatinya.

Namun bagi Roselina, Kaelan bukan sekadar raja. Pria itu adalah satu-satunya penawar yang ia cari.

Pintu besar itu terbuka dengan sekali dorongan beban tubuhnya.

Wush!

Hembusan angin es menerjang wajahnya, menyakitkan seperti ribuan jarum. Di ujung ruangan, di depan jendela raksasa, seorang pria berdiri membelakangi pintu.

Tubuhnya tinggi, hampir mencapai dua meter. Bahunya lebar dan tegap, dibalut jubah hitam pekat.

"Siapa yang mengizinkan seekor serangga masuk ke ruanganku?"

Suara itu rendah, berat, dan mengandung otoritas yang mematikan.

"Mundur, Manusia. Satu langkah lagi dan kau akan menjadi debu es di lantai ini."

Kaelan Varka mulai berbalik perlahan. Wajahnya adalah definisi keindahan yang kejam. Kulitnya pucat seperti salju, kontras dengan rambut biru tuanya yang jatuh elegan.

Mata biru safirnya menatap Roselina seolah-olah dia adalah kotoran yang tidak sengaja masuk ke kamarnya.

Roselina tidak berhenti. Ia justru berlari semakin cepat ke arah zona maut sang Raja.

"Hentikan dia! Dia akan hancur!" teriak para penjaga dari ambang pintu.

Roselina menutup matanya rapat-rapat saat jaraknya tinggal beberapa inci. Ia bisa merasakan aura dingin yang mematikan itu mulai membungkus kulitnya.

Bruk!

Roselina menubrukkan tubuhnya ke dada bidang pria itu. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Kaelan Varka, memeluknya sekuat tenaga.

Hening.

Seluruh ruangan seolah membeku. Para penjaga menahan napas, menanti suara retakan es dari tubuh Roselina.

Satu detik... dua detik...

Tidak ada suara kehancuran. Roselina tidak membeku.

"Hangat..." gumam Roselina pelan.

Ia menyembunyikan wajahnya di dada Kaelan, menghirup aroma garam laut yang anehnya menenangkan.

Kaelan Varka terpaku. Matanya membelalak lebar. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ia merasakan beban seseorang di tubuhnya.

Ia tidak melihat serpihan es, melainkan seorang gadis manusia yang bernapas.

"Kau..." suara Kaelan serak, penuh dengan ketidakpercayaan. "Kenapa kau tidak mati?"

Roselina mendongak. Air mata jatuh di pipinya, namun ia tersenyum—sebuah senyum kemenangan yang pahit.

"Karena aku lelah mati dengan cara yang membosankan, Yang Mulia."

Kaelan mencengkeram bahu Roselina, menariknya sedikit menjauh. Kulit tangan Kaelan yang dingin bersentuhan langsung dengan kulit leher Roselina yang hangat.

Tidakk terjadi apa-apa.

"Ini tidak mungkin..." bisik seorang penjaga di pintu. "Kutukan Raja... tidak mempan padanya?"

Kaelan menatap mata Roselina dengan intensitas yang menyesakkan. "Apa kau seorang penyihir? Apa yang kau bawa ke dalam istanaku?"

"Aku bukan penyihir," jawab Roselina tegas. "Aku hanya tumbal yang dikirim untuk mati di tanganmu. Tapi sepertinya, maut pun menolakku hari ini."

Kaelan menyipitkan mata. Ia menarik tubuh Roselina lebih dekat, begitu dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

"Selama ratusan tahun, setiap manusia yang berada dalam jarak lima meter dariku akan menjadi debu," geram Kaelan. "Tapi kau berdiri di sini. Memelukku."

"Maka anggaplah aku sebagai pengecualian pertama dan terakhirmu, Yang Mulia."

Kaelan tertawa rendah. Sebuah suara yang berbahaya namun memikat. Ia melepaskan cengkeramannya namun tetap mengurung Roselina dengan tatapannya.

"Siapa namamu, Manusia yang sangat berani?"

"Roselina."

Kaelan mengitari tubuh Roselina seperti predator yang sedang memeriksa mangsa yang aneh. Ia menyentuh helai rambut pirang Roselina.

"Apa yang kau inginkan dariku? Nyawamu sudah berada di ujung pedangku, Roselina."

Roselina berdiri tegak. Ia tidak lagi gemetar.

"Jadikan aku pelayan pribadimu. Jadikan aku satu-satunya orang yang bisa berada di sampingmu tanpa perlu menjadi debu."

Kaelan terdiam. Ia menatap ke arah pintu di mana Zephyrin, jenderalnya, baru saja masuk dengan wajah terkejut.

"Zephyrin, kau lihat ini? Manusia ini tidak hancur. Dia bahkan berani menatapku seolah-olah dia adalah pemilik tempat ini."

Kaelan mendekatkan wajahnya ke telinga Roselina. "Apa kau tidak takut padaku?"

"Aku lebih takut kembali ke penjara bawah tanah dan mati tanpa nama," jawab Roselina jujur.

Kaelan tersenyum tipis—sebuah ekspresi yang tidak pernah terlihat selama berabad-abad. Ia menyentuh dagu Roselina.

"Pelayan pribadi? Kau harus menanggung hawa dinginku setiap detik. Kau harus melihat kegelapanku setiap saat."

"Jika itu yang Anda butuhkan agar tidak membekukan dunia ini sendirian, maka saya bersedia."

Kaelan menarik napas panjang. Ia berbalik dan berjalan menuju takhta kristalnya yang megah.

"Bawa dia, Zephyrin. Siapkan sebuah ruangan kecil tepat di samping kamar pribadiku. Aku butuh 'benda hangat' ini di dekatku setiap saat."

Roselina mengepalkan tangannya. Ia menatap Kaelan yang kini duduk angkuh di atas takhtanya.

"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, Roselina. Kau adalah milikku sekarang."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Yante Aja
Yante Aja
Bagus jalan ceritanya ada intrik dan kejadian yg diluar perkiraan peran utama jadi makin deg deg an gimana jalan keluarnya
2026-04-29 12:38:58
0
0
BabyCaca
BabyCaca
JANGAN LUPA MAMPIR DAN BERIKAN ULASAN POSITIF NYA YA HEHE…
2026-03-30 14:14:13
2
0
195 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status