Di Kehidupan ke-56, Aku Menaklukkan Sang Raja Varka

Di Kehidupan ke-56, Aku Menaklukkan Sang Raja Varka

last updateLast Updated : 2026-06-15
By:  BabyCacaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
414Chapters
2.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Roselina tahu persis kapan ia akan mati. Ia sudah mengalaminya 55 kali. Setelah mengalami kematian tragis berulang kali di tangan pria yang sama, kali ini Roselina menolak menyerah. Ia menerobos radius maut lima meter milik Kaelan Varka—Sang Raja yang dikutuk membekukan apa pun yang disentuhnya—dan melakukan hal mustahil: Ia memeluknya dan tetap bernapas. "Aku lelah mati dengan cara yang membosankan, Yang Mulia."

View More

Chapter 1

BAB 1 : Kehidupan ke-57: Pelukan Maut

"Nona? Nona Roselina?"

Suara ombak menghantam rungu. Roselina melirik ke belakang. Celia, pelayannya, sedang bersimpuh sambil terisak. Pemandangan yang sama. Tangisan yang sama.

Kenapa lagi? Kenapa aku harus mengulang kehidupan sialan ini untuk ke-57 kalinya?

“Turun, Manusia! Jangan membuat kami menunggu lebih lama!"

Sret!

Sentakan kasar pada rantai di tangannya membuat Roselina tersungkur. Lututnya menghantam pasir hitam pantai Ocean yang tajam. Rasa perih itu nyata. Darahnya berdesir, bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun.

"Kehidupan ke-57," bisik Roselina parau, air mata kemarahan jatuh ke pasir.

Ia mendongak, menatap prajurit tampan di depannya dengan tatapan kosong. Pria ini, dalam 56 kehidupan sebelumnya, adalah orang yang selalu menyeretnya menuju tiang gantungan atau sel pengap.

Cukup, batinnya. Aku tidak akan membiarkan diriku diseret ke penjara lagi. Jika Kaelan Varka ingin aku mati karena pusaka itu, maka dia harus melihatku bernapas tepat di depan wajahnya.

Roselina mengeratkan genggamannya pada rantai. Matanya tertuju pada menara kristal di tengah istana.

Satu detik. Dua detik... sepuluh.

Brak!

Roselina menghantamkan rantainya ke tulang kering prajurit itu sekuat tenaga. Tanpa menunggu rintihannya selesai, ia berlari.

"Dia lari! Tangkap tumbal itu!"

Roselina menghiraukan segalanya. Ia melewati pilar mutiara dan lantai marmer beku dengan kaki telanjang. Ingatan dari 56 kematian memberinya peta yang paling akurat.

Udara semakin membeku saat ia mendekati pusat istana. Para prajurit berhenti di garis batas Radius Lima Meter. Mereka tahu siapapun yang mendekat akan menjadi debu es di tangan Sang Raja yang dikutuk.

Tapi Roselina justru memacu langkahnya. Ia menabrak pintu besar itu hingga terbuka lebar.

"Mundur, Manusia. Satu langkah lagi dan kau akan menjadi debu," suara Kaelan menggelegar, dingin dan berwibawa.

Roselina tidak berhenti. Ia justru berlari semakin cepat.

Bruk!

Ia menubruk dada bidang Kaelan Varka, melingkarkan tangannya di pinggang pria itu sekuat mungkin.

Hening. Tidak ada retakan es. Tidak ada kematian.

"Hangat..." gumam Roselina di dada pria yang baru saja memenggalnya di kehidupan lalu.

"Kau..." suara Kaelan serak. "Kenapa kau tidak mati?"

Roselina mendongak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, mengalir melewati pipinya yang pucat. Ia tidak lagi tersenyum tipis; wajahnya bergetar hebat karena amarah dan rasa sesak yang meledak.

“KAELAN VARKA!” teriak Roselina dengan suara parau yang membelah keheningan ruangan.

Cengkeraman tangannya di jubah Kaelan mengerat hingga buku jarinya memutih. “JIKA AKU BERKATA AKU MENGULANG KEHIDUPAN INI SEBANYAK 56 KALI HANYA KARENA DIRIMU! APAKAH KAU AKAN PERCAYA DAN TIDAK AKAN MEMENGGAL KEPALAKU LAGI?!”

Kaelan bergerak cepat. Ia mencengkeram wajah Roselina yang basah oleh air mata, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam mata biru safirnya yang membeku. Dingin kulitnya seharusnya menghancurkan wajah Roselina, namun panas amarah gadis itu seolah menolak kutukan tersebut.

"Apa yang kau bicarakan, Manusia?" geram Kaelan, suaranya rendah namun berbahaya. "Memenggal kepalamu? Aku bahkan baru melihat wajahmu detik ini."

"Kau memang tidak ingat!" isak Roselina dengan tawa pahit yang menyakitkan. "Tapi aku mengingat setiap tetes darahku yang tumpah karena perintahmu! Aku lelah mati dengan cara yang membosankan, Yang Mulia. Maka kali ini... lihat aku! Bunuh aku jika kau memang ingin mengulanginya lagi!"

Kaelan mencengkeram bahu Roselina, menariknya sedikit menjauh. Kulit dinginnya bersentuhan langsung dengan kulit hangat Roselina, namun tetap tidak terjadi apa-apa.

"Apa kau seorang penyihir? Apa yang kau bawa ke dalam istanaku?" tanya Kaelan intens.

"Aku bukan penyihir," jawab Roselina tegas. "Aku hanya tumbal yang dikirim untuk mati. Tapi sepertinya, maut pun menolakku hari ini".

Kaelan menarik Roselina lebih dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Selama ratusan tahun, siapa pun manusia yang dalam jarak lima meter dariku akan menjadi debu. Tapi kau berdiri di sini. Memelukku".

"Maka anggaplah aku sebagai pengecualian pertama dan terakhirmu, Yang Mulia".

Kaelan tertawa rendah suara yang berbahaya namun memikat. Ia menyentuh helai rambut pirang Roselina seolah sedang memeriksa mangsa yang aneh. "Apa yang kau inginkan dariku? Nyawamu sudah berada di ujung pedangku".

Roselina berdiri tegak. "Jadikan aku pelayan pribadimu. Jadikan aku satu-satunya orang yang bisa berada di sampingmu tanpa menjadi debu".

Kaelan terdiam, menatap Zephyrin yang baru saja masuk dengan wajah terkejut. Kaelan mendekatkan wajahnya ke telinga Roselina. "Apa kau tidak takut padaku?"

"Aku lebih takut kembali ke penjara bawah tanah dan mati tanpa nama," jawab Roselina jujur.

Kaelan tersenyum tipis ekspresi yang tidak terlihat selama berabad-abad. "Pelayan pribadi? Kau harus menanggung hawa dinginku setiap detik".

"Jika itu yang Anda butuhkan agar tidak membekukan dunia ini sendirian, saya bersedia".

Kaelan menarik napas panjang, lalu berbalik menuju takhtanya. "Bawa dia, Zephyrin. Siapkan sebuah ruangan kecil tepat di samping kamar pribadiku. Aku butuh 'benda hangat' ini di dekatku setiap saat".

Roselina mengepalkan tangannya saat menatap Kaelan yang kini duduk angkuh.

"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, Roselina. Kau adalah milikku sekarang".

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Yante Aja
Yante Aja
Bagus jalan ceritanya ada intrik dan kejadian yg diluar perkiraan peran utama jadi makin deg deg an gimana jalan keluarnya
2026-04-29 12:38:58
2
1
BabyCaca
BabyCaca
JANGAN LUPA MAMPIR DAN BERIKAN ULASAN POSITIF NYA YA HEHE…
2026-03-30 14:14:13
2
0
414 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status