Chapter: Angka-Angka yang Tidak Berperasaan"Ricardo ingin aku membujukmu untuk menjual sahammu sekarang," Vivienne memulai, suaranya lebih stabil dari yang kuduga, meski tangannya masih sedikit gemetar di atas pangkuannya. Cahaya lilin di meja makan berkedip pelan, membuat bayangan wajahnya bergerak-gerak seolah ikut gelisah dengan apa yang akan diucapkannya. "Bisnisnya sedang di ambang kebangkrutan, Archer. Ia butuh dana segar, dan menurutnya, cara tercepat adalah dengan mencairkan saham warisan orang tua kita."Archer diam sejenak, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, topeng dingin yang sudah sangat kukenal kembali terpasang sempurna. "Dan kau setuju dengannya?""Aku tidak tahu," jawab Vivienne jujur, matanya menatap lurus ke arah Archer tanpa berkedip. "Ricardo adalah saudaraku, dan aku ingin membantunya. Tapi aku juga tahu, kalau saham itu dijual sekarang, dengan harga pasar yang sedang jatuh, kita berdua akan kehilangan lebih dari separuh nilai sebenarnya.""Jadi kau datang ke sini bukan hanya untuk urusan warisan,
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: Yang Tak TerucapDapur masih ramai ketika aku tiba, namun begitu Chef Marco melihat wajahku, ia langsung menghentikan pekerjaannya sejenak, matanya menyipit penuh selidik. Beberapa asisten dapur melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan tugas masing-masing, seolah sudah terbiasa dengan drama-drama kecil yang sesekali muncul di antara jajaran pelayan mansion ini."Kau kelihatan seperti baru saja mendengar seluruh riwayat hidup seseorang," komentarnya sambil mengambil nampan dari tanganku."Kurang lebih begitu," gumamku, tidak berniat menjelaskan lebih jauh. Beberapa rahasia memang lebih baik disimpan sendiri, terutama yang menyangkut luka orang lain yang tidak seharusnya kuketahui.Chef Marco tidak mendesak, hanya mengangguk paham, seolah sudah terbiasa dengan penghuni mansion ini yang selalu menyimpan lebih banyak dari yang mereka tunjukkan. Aku membantu sebentar di dapur, mencuci beberapa peralatan, mencoba menyibukkan tangan agar pikiranku berhenti berputar pada kata-kata Vivienne yang masih meng
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: Nyonya Rumah yang Belum Pernah AdaSisa pagi berlalu dengan kecepatan yang aneh, seperti waktu ikut merasakan kegelisahan yang bersarang di dadaku. Aku menyelesaikan tugas-tugas rutin, merapikan ruang baca, mengganti bunga di vas kristal ruang tamu, menyetrika beberapa helai kemeja Archer, namun pikiranku terus melayang kembali ke koridor lantai dua. Ke pintu kayu ek yang masih tertutup rapat sejak Vivienne melangkah masuk.Sudah hampir dua jam, dan wanita itu belum juga keluar. Aku menghitung setiap kali jam besar di ruang tengah berdentang, seolah dengan begitu waktu akan bergerak lebih cepat dan rasa penasaran ini akan mereda dengan sendirinya. Nyatanya, semakin lama waktu berlalu, semakin liar pula bayangan-bayangan yang berkelebat di kepalaku."Kau melamun lagi," tegur Bibi Rosa, kepala pelayan mansion, sambil menepuk pundakku dengan tumpukan taplak meja bersih. "Kalau begini terus, seprei di kamar tamu bisa-bisa kau setrika sampai gosong."Aku tersentak, buru-buru mengangkat setrika yang memang sudah terlalu lama
Last Updated: 2026-07-22