Chapter: Bab 270: Gema Sangkakala di Bukit WalaingPudar sudah kemilau bintang timur, menandai berakhirnya gencatan senjata suci yang menyelimuti Bukit Walaing semalam suntuk. Kabut tebal yang sebelumnya beringsut melintasi lembah dengan kedamaian, kini menjelma menjadi tirai pengantar bagi ribuan prajurit yang bergerak senyap di kegelapan prasebelum fajar. Dingin menusuk kulit, namun gejolak di dada prajurit jauh lebih membara daripada dinginnya pagi. Nafas-nafas yang terhembus menjadi uap, bercampur dengan asap dupa yang menguar dari altar persembahan terakhir.Dari sektor timur, Pasukan Bayangan yang dipimpin Cangak Sabrang dan Pasukan Panji Hitam di bawah komando Dandang Wilis bergerak serentak, membenturkan formasi padat mereka ke barisan Pasukan Laturana dan para Rakai yang membangkang. Dentang senjata mulai sayup-sayup terdengar, mengawali kembali simfoni maut. Di sisi lain, derap ribuan kaki kuda memecah kesunyian bukit. Gagak Rukma dan Mahesa Seta, memimpin serangan kavaleri bertenaga besar, bergerak cepat memecah formasi say
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Bab 269 Tangisan KeduaNamun, kegembiraan itu belum usai. Belum sempat Kayuwangi menghela napas lega, rintihan Ron Ayu kembali terdengar, disusul oleh deru perjuangan yang tak kalah heroik dan gigih. Kemudian, beberapa saat setelahnya, tangisan kedua, lebih nyaring dan tajam, merobek malam yang sakral. Kali ini, tangisan itu datang dari suara yang berbeda, membelah atmosfer yang sudah dipenuhi oleh keajaiban.Nyi Rumbangwangi, dengan suara bergetar dan mata tuanya berkaca-kaca haru, berkata, "Dan… dan seorang putri, Gusti! Astaga, sebuah anugerah tak terkira! Puji syukur, dua kali puji syukur kita haturkan… kembar dhampit, Gusti Rakai… Sepasang putra dan putri, lahir selamat di Malam Siwaratri yang sakral ini!"Keajaiban itu sungguh tak terduga. Sepasang putra dan putri, kembar dhampit, terlahir dengan selamat di bawah restu kegelapan malam, di tengah peperangan yang berkecamuk. Mereka terlahir seolah menjadi penawar paling mujarab atas segala kebencian dan permusuhan ya
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Bab 268: Kelahiran di Malam SiwaratriSelama tiga hari tiga malam, perbukitan Walaing menjadi medan perseteruan tiada henti, kawah candradimuka yang membara di bawah langit Jawa yang dingin. Duel antara Rakai Kayuwangi, Mahamentri I Hino dari Kerajaan Mataram, dan Prabu Boko, Sang Rakai Walaing yang dikenal juga sebagai Mpu Kumbhayoni, tidak hanya menguras tenaga dan tekad kedua pendekar tangguh itu, tetapi juga mengguncang tatanan alam.Bumi seolah turut mengerang, saksi bisu atas keangkuhan dan kesakitan manusia. Dendam yang membara telah mengukir kisah pahit di antara wangsa-wangsa yang dahulunya terikat oleh ikatan suci. Namun, di tengah gema denting baja dan lolongan angin malam, tibalah Malam Siwaratri—malam tergelap dalam setahun, saat kegelapan paling pekat menyelimuti semesta, malam di mana Batara Siwa diyakini melakukan tarian Pralaya, tarian penghancuran sekaligus pemurnian, membawa siklus kehidupan kembali pada keheningan awal.Malam itu, dengan restu para brahmana dan pemimpin perang dari kedua belah pihak, g
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12
Chapter: Bab 267: Duel di Ambang FajarDi tengah padang luas yang bergolak, nun jauh dari keramaian Istana Manguntur, sebidang bumi yang semula tenang kini menjadi saksi bisu pertumpahan darah yang mengerikan. Ribuan prajurit Dandang Wilis, di bawah komando Tumenggung Guntur Senawa yang wajahnya mengeras serupa batu karang, melepaskan anak-anak panah bertubi-tubi. Desing dan siulan membelah angkasa, menciptakan sebuah tirai kematian yang hitam, siap menerkam siapa pun yang bergerak atau menunjukkan tanda kehidupan. Debu berterbangan, bercampur asap dari obor-obor yang jatuh, dan di tengah lautan huru-hara tersebut, terciptalah sebuah lingkaran hening yang ganjil. Sebuah lingkaran kosong tempat tak satu pun prajurit, dari kedua belah pihak, berani melangkah mendekat.Di sanalah, dua sosok raksasa kanuragan berdiri saling berhadapan, bagai patung perunggu yang menjulang. Atmosfer di sekitar mereka berdenyut, memancarkan gelombang tenaga dalam yang dahsyat, mengoyak-ngoyak dedaunan dan mementalkan anak-anak panah yang berani
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12
Chapter: Bab 266: Pesta di Atas BaraDi tengah kegelapan malam yang mencekam, diselimuti bayang-bayang pepohonan tua yang melambai ditiup angin lembah, sebuah kereta kencana agung yang dilapisi kain beludru tebal meluncur pelan meninggalkan perbukitan Walaing. Roda-rodanya yang terbuat dari kayu jati pilihan berderak nyaris tanpa suara di atas jalan setapak berbatu, sementara lentera-lentera temaram yang menggantung di sisi kereta berayun mengikuti irama perjalanan, menciptakan fatamorgana cahaya di sekeliling. Di dalamnya, Ron Ayu, yang perutnya kian membuncit—membawa pewaris darah gabungan Walaing-Mamatripura yang kelak akan menyatukan dua entitas kekuasaan purba—menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada bahu Mayang Salewang, sang bibi yang senantiasa menaunginya. Aura kebingungan terpancar jelas dari raut wajah sang putri, sebuah tanda dari batin yang sedang tidak tenang.“Mengapa kita harus pergi pada saat rembulan baru merekah demikian, Bibi?” tanya Ron Ayu pelan, suaranya mengandung nada kecemasan yang mendalam
Terakhir Diperbarui: 2026-02-11
Chapter: Bab 265: Genderang PuputanHening yang mematikan menyelimuti balairung Puri Walaing setelah pengakuan mengejutkan yang memecahkan selubung misteri yang selama ini menyelubungi Kayuwangi. Suasana berubah drastis dari sidang perselisihan internal menjadi arena deklarasi takdir yang kejam. Prabu Boko, setelah mendengarkan dengan segenap sanubari dan nalar, perlahan-lahan menurunkan keris pusakanya yang sedari tadi terhunus, bukan sebagai tanda penyerahan diri atau penerimaan, melainkan sebagai persiapan untuk babak baru. Matanya yang sebelumnya berkaca-kaca menahan getir kini mengering sempurna, digantikan oleh sorot mata membeku seorang ksatria sejati yang telah membuang segala harapan, segala kelembutan, dan hanya menyisakan kobaran tekad untuk mempertahankan harga diri hingga titik darah penghabisan. Aura dukanya sirna, tergantikan oleh ketegasan baja yang memancar dari seluruh sosoknya."Jadi ini caramu, Kayuwangi?" suara Prabu Boko terdengar parau namun sarat dengan bobot otoritas dan kemarahan yang terkumpul
Terakhir Diperbarui: 2026-02-11
Chapter: Bab 292: Diplomasi di Atas AwanDeru mesin jet pribadi yang membawa mereka pulang ke Jakarta terdengar stabil, seolah ikut menenangkan pikiran, namun tidak dengan suasana di dalam kabin mewah itu. Di tengah ruangan, Aradea Karna dan Bramantya Dharma duduk berhadapan langsung dengan dua klien mereka yang entah kenapa ego dan emosinya setinggi langit — atau mungkin setinggi awan yang sekarang sedang mereka terobos. Ketegangan memenuhi udara, jauh lebih padat dari tekanan kabin."Poliamori??" Alvin menumpahkan kekesalannya, mengerutkan dahi dalam-dalam sampai garis-garis samar terlihat di antara alisnya. Matanya yang kelelahan menatap tajam Aradea, seolah pengacaranya itu baru saja menyarankan mereka semua memakai toga pink ke pengadilan. "Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Dea? Kita di Budapest untuk urusan keselamatan Lidya dan malah berakhir dengan saran gila seperti ini?"Aradea mencoba tetap tenang. Dengan gerakan anggun yang biasa, ia memperbaiki letak kacamatanya, bola matanya yang hitam legam bertemu tatap
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Bab 291 Fajar di BudapestFajar menyingsing di atas Budapest, membias warna keemasan ke hamparan salju yang menyelimuti kota. Cahaya dingin, namun begitu terang, menembus kaca jendela kantor pusat kepolisian Hungaria, menerangi sel tahanan di lantai bawah. Di sana, Dr. Surya duduk bersandar di dinding semen yang lembap, tatapannya kosong, terpaku pada ubin abu-abu di hadapannya. Ia resmi menjadi tahanan. Kepergiannya ke Eropa, rencana jahatnya, semua berakhir begitu saja di tempat yang paling tidak pernah ia duga.Koordinasi cepat antara Bramantya Dharma, agen interpol yang selama ini bekerja di balik layar bersama Kevin, serta kepolisian setempat, telah menutup rapat setiap celah pelarian bagi Surya. Proses ekstradisi segera diatur. Pengkhianatannya terhadap profesi medis, serangkaian tindakan kriminal yang disamarkannya di bawah jubah dokter, kini telah mencapai garis finis di benua lain, jauh dari Jakarta dan jejak kekejaman yang telah ia tanam.Sementara itu, di bangsal perawatan intensif Szent Imre Hospit
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Bab 290: Pukulan PenebusanDi tengah desiran angin malam Budapest yang dingin, suasana di luar rumah sakit masih sepanas api yang melahap dendam. Surya, dalam usahanya yang kalut untuk melarikan diri, mengambil rute yang paling tidak terpikirkan: jalur tikus di balik gudang mesin rumah sakit. Lorong sempit dan gelap itu berbau oli dan besi, menjadi saksi bisu kepanikannya yang melampaui batas. Ia bergerak cepat, yakin bisa lolos dari pengawasan yang ia duga terfokus di lobi utama. Tapi dia lupa, ini Eropa, dan orang yang mengejarnya bukan sembarang orang. Bramantya Dharma telah berpikir satu langkah di depannya. Sejak awal Bramantya sudah berkoordinasi dengan kepolisian Budapest, memastikan setiap akses keluar rumah sakit – sekecil apa pun – tertutup rapat."Monitor semua pintu belakang dan jalur servis," suara Bramantya terdengar tegas melalui earpiece Komandan László, kepala regu kepolisian yang bertanggung jawab. "Ada pintu darurat di ujung lorong sebelah tenggara, dekat ruang sterilisasi. Itu mungkin target
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12
Chapter: Bab 289: Pisau Bedah yang BergetarLampu indikator di ruang operasi Szent Imre itu merah menyala, bikin siapa pun yang lihat langsung tahu, ini situasi gawat darurat. Di atas meja bedah, Darren tergeletak pucat pasi, terus-menerus kehilangan cairan kehidupannya yang berharga. Suara monitor jantung di sudut ruangan berbunyi bip pendek dan cepat, seperti detak jam yang menghitung mundur, menandakan tekanan darahnya terus merosot tajam. Parahnya, di dalam ruangan ini, setiap suara monitor seakan menjadi gema ketegangan yang menindih, membuat udara terasa sesak dan berat."Sialan! Tekanan sistoliknya di bawah 60!" Alvin, kepala tim bedah, berseru lantang. Jemarinya sibuk menahan laju perdarahan yang membanjiri area aorta abdominalis Darren. Wajahnya keras, fokus, tapi sorot matanya jelas menunjukkan kecemasan yang membayangi. "Mana kantong darah tambahan?! Kita butuh O-negatif sekarang juga!"Seorang perawat muda, Dinda, buru-buru berlari masuk, napasnya tersengal-sengal dan wajahnya pucat pasi seperti kert
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12
Chapter: Bab 288: Sumpah di Atas DendamKamar pemulihan Lidya di lantai atas rumah sakit VIP itu mendadak jadi semacam kapsul kedamaian. Di tengah desahan lelah sang ibu, tangisan renyah bayi laki-laki yang baru lahir tadi terasa seperti simfoni paling indah yang pernah mereka dengar. Suara tangisnya, yang tadinya terasa sangat nyaring, perlahan meredup, digantikan dengkuran halus saat si kecil menempel di dada ibunya, merasakan hangat dan denyut kehidupan yang akrab. Bima membungkuk, menyorotkan tatapan lembut pada Lidya, tangannya menyentuh kening istrinya yang berkeringat dingin dengan gerakan yang hati-hati, penuh kasih sayang yang dalam."Kau luar biasa, Lidya," bisik Bima, suaranya berat tapi terdengar seperti lagu pengantar tidur. Dia mengecup kening Lidya, bibirnya lama menempel di sana, seolah ingin menyerap semua rasa sakit dan kelelahan wanita itu. "Istirahatlah, jaga si kecil baik-baik. Aku akan segera kembali, aku sedang menyiapkan sebuah nama yang indah untuknya."Lidya tersenyum tipis, kelopak matanya yang te
Terakhir Diperbarui: 2026-02-11
Chapter: Bab 287: Belati di Balik Jas PutihUdara di lantai bawah tanah Szent Imre Hospital memang selalu menusuk, bahkan di lorong buntu yang remang dan bau anyir antiseptik campur apek. Pipa-pipa uap berderit di atas kepala, seperti melantunkan melodi ketegangan yang kian membukit. Di tengah suasana itu, Surya berdiri terhuyung, tubuhnya masih pucat pasi dengan plester besar menempel di pelipis, menutupi luka bekas benturan kemarin. Di depannya, Darren dan Kevin berdiri tegang. Tapi masalahnya, mereka tidak sendiri.Bayangan tiga dokter spesialis yang dikenal sebagai Trio Spesialis Songong—Vito, Gerald, dan Kaiden—mengembang memenuhi lorong sempit itu. Mata mereka merah padam, bukan karena kantuk atau efek lembur, tapi jelas karena amarah yang memuncak. Situasinya jelas sekali: di sinilah segala drama itu akan mencapai klimaksnya."Kalian menjebak kami! Kalian menjebak Franda!" raung Kaiden, suaranya menggelegar memantul dari dinding beton yang kusam, seakan setiap inci lorong ikut merasakan ledakan emosinya. "Karier Franda h
Terakhir Diperbarui: 2026-02-11
Chapter: Perpisahan di Bawah Cahaya Fajar: Janji untuk Seorang ChakrawartinFajar merekah di ufuk timur, menyinari tanah Medang dengan sinar keemasan yang lembut. Angin pagi berhembus perlahan, seakan ikut merasakan beban yang menggantung di hati mereka yang berkumpul di halaman istana. Hari ini adalah hari perpisahan, dan tak ada yang bisa menghindari kepedihannya.Di gerbang utama, rombongan kecil telah siap berangkat menuju pelabuhan. Pangeran Balaputeradewa berdiri gagah dengan jubah perjalanannya, sementara di sisinya, Ganika menggenggam tangan anak-anak mereka erat, seolah tak ingin kehilangan satu detik pun bersama mereka. Jentra dan Candrakanti berdiri sedikit di belakang, mata mereka dipenuhi emosi yang tak terucapkan. Amasu dan Wiku Sasodara juga telah bersiap, wajah mereka menyiratkan keteguhan untuk menemani perjalanan menuju Swarnabhumi.Namun di antara mereka, ada satu sosok yang memilih tetap tinggal—Rukma.Ia berdiri tegak, tangannya mengepal di sisi tubuhnya, berusaha menahan perasaan yang mendesak keluar. Di sampingnya, Gaurika, istrinya, me
Terakhir Diperbarui: 2025-02-10
Chapter: SEBUAH HUKUMANBalaputerdewa dihadapkan pada majelis Pamgat yang dipimpin oleh Maharaja sendiri.Jentra, Rukma, Amasu dan Sasodara yang hadir di situ terpekur dengan sedihnya. Sebagai Mahamentri, kedatangan Balaputeradewa dikawal dan dijaga ketat oleh pasukan kawal istana maupun para Sanditaraparan. Namun kehadirannya dalam majelis itu masih diperkenankan memakai pakaian kebesarannya.Wiku Wirathu membuka sidang dengan pembacaan sutera dan segera setelahnya, para Pamgat yang terdiri dari pangeran-pangeran sepuh dan para Wiku duduk baik sebagai penuntut maupun sebagai pembela. Banyak Pangeran sepuh wangsa Syailendra yang berdiri dibelakang Sang Mahamentri I Halu. Tapi yang muda lebih banyak menentangnya karena fanatisme wangsa dianggap sebagai pemahaman kuno yang sudah tidak relevan dengan perkembangan jaman. Sementara hakim yang mengadili adalah Maharaja sendiri di dampingi, Mahamentri I Hino yang dalam hal ini diwakili Rakai Pikatan, Wiku Wirathu dan Wiku Sasodara.Semua tuntutan dibacakan untuk me
Terakhir Diperbarui: 2024-12-11
Chapter: RUNTUHNYA SANG BALAPUTERADEWATernyata kekuatan tentara Walaing, benar-benar tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan pasukan Medang. Mereka menggulung kekuatan tentara Walaing seperti badai menelan segala yang dilewatinya, meskipun pesan Sang Rakai adalah tidak membunuh tapi hanya melumpuhkan saja. Welas asih dan dhamma yang diajarkan para Wiku ternyata begitu merasuk dalam hati Sang Pikatan sehingga peperangan yang dilakukan-pun seminimal mungkin membawa korban jiwa.Sementara Jentra menyusup memasuki kedaton Walaing yang telah mulai terbakar api. Rupanya Sang Balaputeradewa-pun telah bertekad untuk melakukan puputan yang artinya bahwa jika ia kalah maka ia akan menghadapi mahapralaya itu dengan kematiannya sendiri. Saat Balaputeradewa melihat pasukan belakangnya telah mencapai ambang kehancuran dan tentara musuh mulai menjejakan kaki ke halaman istananya. Ia telah mulai mencabut pedang dan kerisnya siap menjemput maut sebagai seorang ksatria dan Mahamentri wangsa besar yang dibanggakannya."Berhenti tuanku. Dul
Terakhir Diperbarui: 2024-09-10
Chapter: PUPUTAN"Gusti, apa Gusti akan yakin akan melakukan perang Puputan. Sekali lagi hamba mohon Gusti, jangan gegabah memutuskan untuk perang puputan. Gusti harus ingat bahwa di Walaing, bukan hanya peninggalan Walaing saja yang harus tuanku jaga. Tetapi di Walaing ada Abhaya Giri Wihara peninggalan Syailendra Wangsa Tilaka yang lainnya yaitu Sri Maharaja Rakai Panangkaran. Apa Gusti akan membiarkan putera wangsa Sanjaya menghancurkannya hingga rata dengan tanah." Aswin menyembah hingga hidungnya menempel ke tanah."Tetapi ini adalah masalah harga diri dan kehormatan Aswin. Apa kau rela kita akan hidup sebagai orang yang kalah dan dicemoohkan setiap kali? Itu-pun kalau Sri Maharaja Samarattungga tidak menghukum mati kita juga. Jadi apa bedanya Aswin?" Sahut Balaputeradewa saat bersiap untuk kembali ke Walaing."Permohonan saya, Iswari dan Karmika tetap sama Gusti. Lebih baik kita kehilangan harga diri dan kehormatan daripada kita berdosa kepada leluhur wangsa Syailendra. Apalagi putra tuanku masi
Terakhir Diperbarui: 2024-08-14
Chapter: PERMATA WANGSA SYAILENDRAPangeran Balaputeradewa menembus kabut tebal dan dinginnya malam untuk menyambut kedua buah hatinya. Bersama Aswin ia berkuda tanpa atribut sebagai seorang Mahamentri. Pengawal yang menyertainya juga hanya enam sampai tujuh orang saja, juga tanpa atribut sebagai perajurit tapi menyamar sebagai warga biasa."Apakah tempat itu sangat jauh Aswin?" Tanya Pangeran Balaputeradewa."Ya tuanku. Tapi dengan berkuda cepat seperti ini saya memperkirakan tengah malam kita akan sampai." Jawab Aswin."Aku tidak bisa meninggalkan Walain terlalu lama, karena kakak iparku Samarattungga pasti sudah tidak sabar untuk memotong kepalaku ini." Jawab pangeran Balaputeradewa."Jangan berpikir yang buruk tuanku. Apalagi di saat tuanku memiliki putra. Anggaplah keduanya hadiah dari Yang Maha Agung sehingga kelak akan menjadi permata wangsa Syailendra. Saya rasa tuanku Samarattungga tidak akan segera menyerang saat fajar menyingsing karena mengerahkan puluhan ribu pasukan bukanlah hal mudah." Aswin mencoba mene
Terakhir Diperbarui: 2024-07-20
Chapter: PERLAWANAN TERAKHIR SANG PANGERANAswin mengikuti Pangeran Balaputeradewa ke bangsal agung Perdikan Walaing. Seluruh pasukan telah dimobilisasi, namun warga asli Walaing memilih untuk menyembunyikan diri di gua-gua yang tersebar di pesisir Walaing. Mereka ketakutan jika peristiwa pembantaian beberapa tahun lalu terjadi lagi."Atreya! Atreya!" Teriak Pangeran Balaputeradewa memanggil orang kepercayaan untuk menghadap. Atreya tergopoh-gopoh datang dan menyembah."Sembah hamba paduka Mahamentri I halu. Tuanku sudah kembali. Apa yang bisa hamba lakukan untuk tuanku?" Tanya Atreya. "Perkuat pertahanan dan tutup semua jalan menuju Walaing. Siagakan semua tentara cadangan, pasukan gajah dan pasukan berkuda." Kata Sang pangeran."Baik paduka. Tapi siapa musuh kita kali ini hingga semua sumber daya dikerahkan?"TanyaAtreya."Apa pedulimu lakukan saja. Kita akan berperang melawan orang-orang Kedu. Orang-orang Samarattungga." Jawab Pangeran Balaputeradewa tanpa rasa hormat.Atreya seketika bersujud di bawah kaki Sang pangeran, b
Terakhir Diperbarui: 2024-07-19