LOGINRakai Walaing Mpu Kumbhayoni, seorang resi pengendali api dan penguasa Sanjaya terakhir yang murni, kehilangan segalanya saat wangsanya dihancurkan oleh ekspansi Syailendra. Dengan hati penuh dendam, ia menyelamatkan pewaris takhta Sanjaya yang masih kecil, Manuku, dan menggemblengnya selama bertahun-tahun untuk menjadi senjata pembalasan yang sempurna. Namun, harapannya pupus ketika Manuku—kini bergelar Rakai Pikatan—memilih jalan damai dengan menikahi putri Syailendra, sebuah tindakan yang dianggap Kumbhayoni sebagai pengkhianatan terbesar. Guru dan murid itu kini berseberangan, terkunci dalam perang dingin ideologis. Dalam upaya putus asa untuk menyatukan kembali wangsa, putra Rakai Pikatan dikirim menyamar sebagai seniman untuk memikat hati Dyah Ron Ayu, putri kesayangan Kumbhayoni. Ketika cinta terlarang bersemi di atas fondasi kebohongan, Kumbhayoni harus menghadapi pilihan: memaafkan masa lalu demi masa depan cucunya, atau melepaskan api kemarahannya yang akan menghancurkan sisa-sisa terakhir dari warisannya.
View MoreNamun, kegembiraan itu belum usai. Belum sempat Kayuwangi menghela napas lega, rintihan Ron Ayu kembali terdengar, disusul oleh deru perjuangan yang tak kalah heroik dan gigih. Kemudian, beberapa saat setelahnya, tangisan kedua, lebih nyaring dan tajam, merobek malam yang sakral. Kali ini, tangisan itu datang dari suara yang berbeda, membelah atmosfer yang sudah dipenuhi oleh keajaiban.Nyi Rumbangwangi, dengan suara bergetar dan mata tuanya berkaca-kaca haru, berkata, "Dan… dan seorang putri, Gusti! Astaga, sebuah anugerah tak terkira! Puji syukur, dua kali puji syukur kita haturkan… kembar dhampit, Gusti Rakai… Sepasang putra dan putri, lahir selamat di Malam Siwaratri yang sakral ini!"Keajaiban itu sungguh tak terduga. Sepasang putra dan putri, kembar dhampit, terlahir dengan selamat di bawah restu kegelapan malam, di tengah peperangan yang berkecamuk. Mereka terlahir seolah menjadi penawar paling mujarab atas segala kebencian dan permusuhan ya
Selama tiga hari tiga malam, perbukitan Walaing menjadi medan perseteruan tiada henti, kawah candradimuka yang membara di bawah langit Jawa yang dingin. Duel antara Rakai Kayuwangi, Mahamentri I Hino dari Kerajaan Mataram, dan Prabu Boko, Sang Rakai Walaing yang dikenal juga sebagai Mpu Kumbhayoni, tidak hanya menguras tenaga dan tekad kedua pendekar tangguh itu, tetapi juga mengguncang tatanan alam.Bumi seolah turut mengerang, saksi bisu atas keangkuhan dan kesakitan manusia. Dendam yang membara telah mengukir kisah pahit di antara wangsa-wangsa yang dahulunya terikat oleh ikatan suci. Namun, di tengah gema denting baja dan lolongan angin malam, tibalah Malam Siwaratri—malam tergelap dalam setahun, saat kegelapan paling pekat menyelimuti semesta, malam di mana Batara Siwa diyakini melakukan tarian Pralaya, tarian penghancuran sekaligus pemurnian, membawa siklus kehidupan kembali pada keheningan awal.Malam itu, dengan restu para brahmana dan pemimpin perang dari kedua belah pihak, g
Di tengah padang luas yang bergolak, nun jauh dari keramaian Istana Manguntur, sebidang bumi yang semula tenang kini menjadi saksi bisu pertumpahan darah yang mengerikan. Ribuan prajurit Dandang Wilis, di bawah komando Tumenggung Guntur Senawa yang wajahnya mengeras serupa batu karang, melepaskan anak-anak panah bertubi-tubi. Desing dan siulan membelah angkasa, menciptakan sebuah tirai kematian yang hitam, siap menerkam siapa pun yang bergerak atau menunjukkan tanda kehidupan. Debu berterbangan, bercampur asap dari obor-obor yang jatuh, dan di tengah lautan huru-hara tersebut, terciptalah sebuah lingkaran hening yang ganjil. Sebuah lingkaran kosong tempat tak satu pun prajurit, dari kedua belah pihak, berani melangkah mendekat.Di sanalah, dua sosok raksasa kanuragan berdiri saling berhadapan, bagai patung perunggu yang menjulang. Atmosfer di sekitar mereka berdenyut, memancarkan gelombang tenaga dalam yang dahsyat, mengoyak-ngoyak dedaunan dan mementalkan anak-anak panah yang berani
Di tengah kegelapan malam yang mencekam, diselimuti bayang-bayang pepohonan tua yang melambai ditiup angin lembah, sebuah kereta kencana agung yang dilapisi kain beludru tebal meluncur pelan meninggalkan perbukitan Walaing. Roda-rodanya yang terbuat dari kayu jati pilihan berderak nyaris tanpa suara di atas jalan setapak berbatu, sementara lentera-lentera temaram yang menggantung di sisi kereta berayun mengikuti irama perjalanan, menciptakan fatamorgana cahaya di sekeliling. Di dalamnya, Ron Ayu, yang perutnya kian membuncit—membawa pewaris darah gabungan Walaing-Mamatripura yang kelak akan menyatukan dua entitas kekuasaan purba—menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada bahu Mayang Salewang, sang bibi yang senantiasa menaunginya. Aura kebingungan terpancar jelas dari raut wajah sang putri, sebuah tanda dari batin yang sedang tidak tenang.“Mengapa kita harus pergi pada saat rembulan baru merekah demikian, Bibi?” tanya Ron Ayu pelan, suaranya mengandung nada kecemasan yang mendalam
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews