LOGINLampu indikator di ruang operasi Szent Imre itu merah menyala, bikin siapa pun yang lihat langsung tahu, ini situasi gawat darurat. Di atas meja bedah, Darren tergeletak pucat pasi, terus-menerus kehilangan cairan kehidupannya yang berharga. Suara monitor jantung di sudut ruangan berbunyi bip pendek dan cepat, seperti detak jam yang menghitung mundur, menandakan tekanan darahnya terus merosot tajam. Parahnya, di dalam ruangan ini, setiap suara monitor seakan menjadi gema ketegangan yang menin
Deru mesin jet pribadi yang membawa mereka pulang ke Jakarta terdengar stabil, seolah ikut menenangkan pikiran, namun tidak dengan suasana di dalam kabin mewah itu. Di tengah ruangan, Aradea Karna dan Bramantya Dharma duduk berhadapan langsung dengan dua klien mereka yang entah kenapa ego dan emosinya setinggi langit — atau mungkin setinggi awan yang sekarang sedang mereka terobos. Ketegangan memenuhi udara, jauh lebih padat dari tekanan kabin."Poliamori??" Alvin menumpahkan kekesalannya, mengerutkan dahi dalam-dalam sampai garis-garis samar terlihat di antara alisnya. Matanya yang kelelahan menatap tajam Aradea, seolah pengacaranya itu baru saja menyarankan mereka semua memakai toga pink ke pengadilan. "Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Dea? Kita di Budapest untuk urusan keselamatan Lidya dan malah berakhir dengan saran gila seperti ini?"Aradea mencoba tetap tenang. Dengan gerakan anggun yang biasa, ia memperbaiki letak kacamatanya, bola matanya yang hitam legam bertemu tatap
Fajar menyingsing di atas Budapest, membias warna keemasan ke hamparan salju yang menyelimuti kota. Cahaya dingin, namun begitu terang, menembus kaca jendela kantor pusat kepolisian Hungaria, menerangi sel tahanan di lantai bawah. Di sana, Dr. Surya duduk bersandar di dinding semen yang lembap, tatapannya kosong, terpaku pada ubin abu-abu di hadapannya. Ia resmi menjadi tahanan. Kepergiannya ke Eropa, rencana jahatnya, semua berakhir begitu saja di tempat yang paling tidak pernah ia duga.Koordinasi cepat antara Bramantya Dharma, agen interpol yang selama ini bekerja di balik layar bersama Kevin, serta kepolisian setempat, telah menutup rapat setiap celah pelarian bagi Surya. Proses ekstradisi segera diatur. Pengkhianatannya terhadap profesi medis, serangkaian tindakan kriminal yang disamarkannya di bawah jubah dokter, kini telah mencapai garis finis di benua lain, jauh dari Jakarta dan jejak kekejaman yang telah ia tanam.Sementara itu, di bangsal perawatan intensif Szent Imre Hospit
Di tengah desiran angin malam Budapest yang dingin, suasana di luar rumah sakit masih sepanas api yang melahap dendam. Surya, dalam usahanya yang kalut untuk melarikan diri, mengambil rute yang paling tidak terpikirkan: jalur tikus di balik gudang mesin rumah sakit. Lorong sempit dan gelap itu berbau oli dan besi, menjadi saksi bisu kepanikannya yang melampaui batas. Ia bergerak cepat, yakin bisa lolos dari pengawasan yang ia duga terfokus di lobi utama. Tapi dia lupa, ini Eropa, dan orang yang mengejarnya bukan sembarang orang. Bramantya Dharma telah berpikir satu langkah di depannya. Sejak awal Bramantya sudah berkoordinasi dengan kepolisian Budapest, memastikan setiap akses keluar rumah sakit – sekecil apa pun – tertutup rapat."Monitor semua pintu belakang dan jalur servis," suara Bramantya terdengar tegas melalui earpiece Komandan László, kepala regu kepolisian yang bertanggung jawab. "Ada pintu darurat di ujung lorong sebelah tenggara, dekat ruang sterilisasi. Itu mungkin target
Lampu indikator di ruang operasi Szent Imre itu merah menyala, bikin siapa pun yang lihat langsung tahu, ini situasi gawat darurat. Di atas meja bedah, Darren tergeletak pucat pasi, terus-menerus kehilangan cairan kehidupannya yang berharga. Suara monitor jantung di sudut ruangan berbunyi bip pendek dan cepat, seperti detak jam yang menghitung mundur, menandakan tekanan darahnya terus merosot tajam. Parahnya, di dalam ruangan ini, setiap suara monitor seakan menjadi gema ketegangan yang menindih, membuat udara terasa sesak dan berat."Sialan! Tekanan sistoliknya di bawah 60!" Alvin, kepala tim bedah, berseru lantang. Jemarinya sibuk menahan laju perdarahan yang membanjiri area aorta abdominalis Darren. Wajahnya keras, fokus, tapi sorot matanya jelas menunjukkan kecemasan yang membayangi. "Mana kantong darah tambahan?! Kita butuh O-negatif sekarang juga!"Seorang perawat muda, Dinda, buru-buru berlari masuk, napasnya tersengal-sengal dan wajahnya pucat pasi seperti kert
Kamar pemulihan Lidya di lantai atas rumah sakit VIP itu mendadak jadi semacam kapsul kedamaian. Di tengah desahan lelah sang ibu, tangisan renyah bayi laki-laki yang baru lahir tadi terasa seperti simfoni paling indah yang pernah mereka dengar. Suara tangisnya, yang tadinya terasa sangat nyaring, perlahan meredup, digantikan dengkuran halus saat si kecil menempel di dada ibunya, merasakan hangat dan denyut kehidupan yang akrab. Bima membungkuk, menyorotkan tatapan lembut pada Lidya, tangannya menyentuh kening istrinya yang berkeringat dingin dengan gerakan yang hati-hati, penuh kasih sayang yang dalam."Kau luar biasa, Lidya," bisik Bima, suaranya berat tapi terdengar seperti lagu pengantar tidur. Dia mengecup kening Lidya, bibirnya lama menempel di sana, seolah ingin menyerap semua rasa sakit dan kelelahan wanita itu. "Istirahatlah, jaga si kecil baik-baik. Aku akan segera kembali, aku sedang menyiapkan sebuah nama yang indah untuknya."Lidya tersenyum tipis, kelopak matanya yang te
Udara di lantai bawah tanah Szent Imre Hospital memang selalu menusuk, bahkan di lorong buntu yang remang dan bau anyir antiseptik campur apek. Pipa-pipa uap berderit di atas kepala, seperti melantunkan melodi ketegangan yang kian membukit. Di tengah suasana itu, Surya berdiri terhuyung, tubuhnya masih pucat pasi dengan plester besar menempel di pelipis, menutupi luka bekas benturan kemarin. Di depannya, Darren dan Kevin berdiri tegang. Tapi masalahnya, mereka tidak sendiri.Bayangan tiga dokter spesialis yang dikenal sebagai Trio Spesialis Songong—Vito, Gerald, dan Kaiden—mengembang memenuhi lorong sempit itu. Mata mereka merah padam, bukan karena kantuk atau efek lembur, tapi jelas karena amarah yang memuncak. Situasinya jelas sekali: di sinilah segala drama itu akan mencapai klimaksnya."Kalian menjebak kami! Kalian menjebak Franda!" raung Kaiden, suaranya menggelegar memantul dari dinding beton yang kusam, seakan setiap inci lorong ikut merasakan ledakan emosinya. "Karier Franda h







