MasukKevin (26), seorang dokter muda, dan Lidia (24), intern medis, menikmati romansa di tengah gemerlap kota. Tanpa mereka tahu, takdir telah menjalin hubungan mereka dengan Dr. Bima (32), atasan Lidia yang diam-diam adalah adik tiri ibu Kevin. Ketenangan hidup Kevin dan Lidia koyak oleh pertengkaran hebat, membuat Lidia gelap mata. Dalam balutan emosi dan alkohol, ia terjerumus dalam pelukan seorang pria asing. Kengerian menghantam Lidia saat menyadari pria itu adalah Dr. Bima – atasan sekaligus om tiri kekasihnya. Kehancuran etika dan ikatan keluarga tak terhindarkan. Bima yang semula menganggapnya khilaf, kini terjerat hasrat mematikan. Lidia terperangkap dalam tarik-ulur perasaan, antara cinta tulus pada Kevin dan tekanan Bima, sementara Kevin mulai merasakan kejanggalan. Rahasia kelam ini siap meluluhlantakkan hidup mereka semua.
Lihat lebih banyakKupandangi wajah tampan yang sudah lelap dalam tidurnya. Rasa damai memenuhi hati ini hanya saat mata Arsya Narendra—suamiku—sedang memejam. Dia terlihat seperti malaikat yang sudah menggenapi hidupku yang sempat hampa.
Lelaki berhidung bangir dengan kulit sawo matang itu telah menghalalkanku di depan Ayah tepat tiga bulan yang lalu. Rasanya masih belum percaya jika hubungan kami yang begitu mesra berubah sedingin bongkahan es.“Kamu ngapain di sini?”Aku terperanjat. Mas Arsya tiba-tiba membuka mata, padahal baru sekitar setengah jam dia tertidur. Gegas kubawa tubuh ini turun dari tempat tidur tanpa menjawab pertanyaannya. Aku diam, menunduk dalam posisi berdiri di samping tempat tidur. Tubuh ini gemetar dengan ujung jari saling meremas.“Kamarmu di sebelah! Lupa?” tukasnya sedikit membentak.“Ma–maaf, Mas. Ta–tadi ada tikus masuk kamarnya Mas Arsya,” jawabku gugup.Mas Arsya menggeleng kasar, lalu menoleh ke arah pintu saat aku memandangnya. Sepertinya, itu isyarat agar aku keluar.“Permisi, Mas,” pamitku sebelum melangkah ke luar kamar.“Tunggu!” seru Mas Arsya. “Ambilkan saya minum dulu!” lanjutnya.Aku pun berlalu dengan hati yang terasa kembali tersayat. Ingin rasanya mengaku kalah dan pergi jauh, tetapi seolah-olah ada yang berbisik agar aku bertahan. Entah dorongan dari mana dan untuk apa? Aku hanya ingin bahagia.Segelas air putih kuangsurkan pada Mas Arsya yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur. Kemudian, aku segera pergi dari kamarnya. Gugup ini selalu menguasai jika bertemu muka dengan Mas Arsya karena kedua matanya yang menatapku benci. Air mata pun mulai mengalir membasahi pipi.Semua berawal dari liburan bersama bulan lalu. Aku, Mas Arsya, dan Arumi—putri Mas Arsya dari istri pertamanya yang sudah meninggal—berencana untuk menghabiskan akhir pekan di rumah orang tuaku. Memang setelah menikah, kami belum sempat mengunjunginya sekali pun.Ya, takdirku memang menjadi istri kedua dari Mas Arsya, tetapi bukan itu masalah sebenarnya. Keteledoranku saat menjaga Arumi yang masih berusia tiga tahun membuat gadis kecil itu tutup usia.Saat itu, kami sedang menghentikan perjalanan untuk makan siang. Sementara Arumi merengek untuk dibelikan es krim. Aku pun pamit pada Mas Arsya untuk mengajak putrinya ke minimarket yang letaknya tepat di seberang restoran. Dan musibah itu terjadi. Arumi berlari cukup kencang hingga tanganku yang tadinya menggandeng tangannya terlepas. Gadis kecil itu tertabrak sepeda motor meskipun aku sudah mendapatkan tangannya lagi. Sebenarnya, aku juga terluka, tetapi Arumi tidak selamat.*** Aku mendesah berat. Meskipun Mas Arsya masih memberikan nafkah lahir, tetapi aku seolah-olah bukan lagi seorang istri. Semua pekerjaan rumah sudah diambil alih oleh asisten rumah tangga, padahal sebelumnya, untuk urusan memasak diserahkan kepadaku. Dulu, dia sangat suka dengan apa pun yang aku masak, tapi sekarang, hanya sekadar menyebut namaku saja, dia enggan. Memang kesalahan yang kuperbuat tidak akan bisa dimaafkan. “Yang sabar, Mbak. Mas Arsya pasti akan luluh lagi. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Setelah kehilangan mamanya Non Arumi, dia juga harus kehilangan putrinya.”Perkataan Bik Narti justru membuat hati ini makin merasa bersalah. Aku memang bukan istri dan ibu yang baik. Aku, Amanda Nurita sudah membunuh putri dari suamiku sendiri.Aku memejam sambil menarik napas panjang untuk mengurai sesak di dada yang terasa kian mengimpit. Bersamaan butiran kristal hangat yang keluar dari sudut mata, beban hati ini pun ikut meluruh meskipun hanya sedikit.“Mbak Amanda jadi ke makam? Kalau jadi, saya ikut,” pinta Bi Narti, membuyarkan lamunanku.“Jadi, Bi … jam delapan kita berangkat,” jawabku, lalu meninggalkannya ke kamar.Hari ini, tepat empat puluh hari Arumi pergi. Namun, Mas Arsya tidak mau diadakan pengajian di rumah. Bahkan, dia selalu pergi lebih pagi dan pulang larut malam setiap harinya, di hari libur sekalipun. Untuk menghindariku pastinya.'Aku mencintaimu, Mas. Namun, aku kesulitan untuk bertahan dalam pernikahan yang penuh kebencian.'Tepat jam delapan pagi, aku dan Bi Narti berangkat menuju makam Arumi. Mendoakannya adalah yang utama. Dan setelah ini, mungkin aku akan melepaskan Mas Arsya dari beban. Dia tidak perlu lagi melihat wajahku, bahkan bayanganku di rumahnya.Di depan pusara anak yang sudah sangat kusayangi, lutut ini melemas. Aku ingat betul kejadian di mana darah bersimbah di sekitar kepala Arumi sebelum aku ikut tak sadarkan diri. Aku tergugu dan tentunya masih saja menyalahkan diri sendiri yang teledor."Maafkan bunda, Nak. Bunda tidak bisa menjadi pengganti mamamu." Aku berucap lirih sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Air mata ini tidak boleh jatuh lagi meskipun tidak mampu ditahan.Saat doa sedang kupanjatkan, suara keras membuatku kaget. Aku yang dalam posisi jongkok, langsung terjungkal ke belakang. Tentu aku terkejut bukan main"Siapa yang mengizinkanmu kemari?! Kamu sudah membunuh anakku dan kamu masih beraninya kemari! Pergi! Jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi di depan makam Arumi!" Mas Arsya memekik dengan mata berkilat amarah.Aku bangkit dibantu Bi Narti. Asisten rumah tangga itu tampak ketakutan melihat majikannya yang dipenuhi emosi. Tangan perempuan berusia sekitar lima puluh tahunan itu gemetar saat memegang lenganku."Ayo, kita pulang, Mbak. Kita nggak bisa apa-apa kalau Mas Arsya sudah marah. Bibi takut kalau Mbak Amanda jadi korban pelampiasannya lagi," bujuk Bi Narti dengan suara pelan.Ya, memang sejak kepergian Arumi, Mas Arsya mulai bersikap dingin kepadaku. Beberapa kali bentakan dan cacian pernah kuterima hanya karena masuk ke kamar putrinya. Meskipun tidak pernah ada kekerasan fisik, Mas Arsya tampak menyesal setelahnya. Biarpun tidak ada kata maaf keluar dari mulutnya, aku tahu dari sorot matanya. Dia pasti langsung pergi dari rumah dan kembali di pagi hari, kemudian pergi lagi setelah membersihkan diri.***Aku mulai memasukkan pakaian ke dalam koper dan bersiap untuk pergi selagi Mas Arsy tidak di rumah dan Bi Narti sudah tidur. Gelapnya malam ini hampir sama dengan gelapnya nasibku. Meskipun hati ini berat meninggalkan Mas Arsya, tapi aku juga tidak mungkin tetap tinggal di tempat yang sudah menginginkan kepergianku.Brak!Aku menoleh seketika saat suara keras terdengar diikuti pintu kamar yang terbuka."Bagus," ucap Mas Arsya sambil bertepuk tangan. Ada seringai menakutkan di wajahnya saat menatapku."Ma–Mas." Aku perlahan berdiri dan beringsut mundur. Napas ini pun mulai pengap karena ketakutan yang tiba-tiba menyergap."Aku tidak akan membiarkanmu pergi dan bahagia sendiri setelah merenggut Arumi dariku." Mas Arsya mulai mendekat."Ma–maaf, Mas. Aku—" Tubuh ini terasa gemetar dan ucapanku pun terhenti saat jarak dengan laki-laki yang dikuasai emosi itu sangat dekat.Tangan kanan Mas Arsya terangkat dan itu makin membuatku tidak bisa berkutik. Aku memilih menunduk dan memejam, menunggu apa yang akan terjadi setelahnya.Cahaya keemasan matahari terbenam menyusup melalui celah jendela kafe The Healer, membias di atas cangkir kopi yang mengepul dan tumpukan laporan medis yang setengah terabaikan. Di meja sudut, lokasi langganan mereka sejak masa-masa koas, empat wanita kini duduk melingkar, sisa-sisa keterkejutan masih membayangi ekspresi masing-masing setelah serangkaian peristiwa dramatis di Cendekia Medika. Suasana kafe, yang biasanya riuh dengan bisikan dokter dan mahasiswa kedokteran, sore itu terasa dipenuhi oleh ketegangan yang hening di meja mereka. Sebuah tajuk berita internal rumah sakit yang baru saja dirilis terhampar di antara mereka, kata-kata yang tertera seolah memantul sebagai gema dalam pikiran, mengusik alam reflektif mereka.Wulan, dengan sorot mata yang tak beralih dari layar tablet, menyesap kopinya perlahan, seolah mencoba menenggelamkan ganjalan di tenggorokannya. Ia menggelengkan kepalanya samar. "Poliamori. Perjanjian tiga pria. Aku masih merasa ini seperti skenario film yang
Aula besar Cendekia Medika, jantung operasional sekaligus arena intrik bisnis medis nasional, hari itu dibalut keheningan yang tebal. Hening yang bukan dari ketiadaan suara, melainkan hening yang terbentuk dari beratnya sebuah momen penentuan. Di dalamnya berkumpul bukan hanya para eksekutif dan direksi, melainkan figur-figur paling berkuasa di seluruh industri medis nasional—para titan yang kini menghadapi perubahan fundamental. Di atas meja jati mahogani yang berkilauan, memancarkan aura otoritas yang telah bertahan turun-temurun, sebuah naskah legal setebal lima puluh halaman terhampar. Judulnya, ‘Perjanjian Poliamori’, mencakup lebih dari sekadar pembagian aset; ia merangkum restrukturisasi saham, nasib keluarga, garis darah yang bercampur, dan ikatan cinta yang kini terpuntir dalam simpul yang tak dapat dipisahkan.Darren Wisesa menatap angka 5% yang tercetak di kolom pengalihan saham ke nama Lidya Paramitha Wardhana. Rahangnya mengeras. "Ini," desis Darren, suaranya tajam namun
Lampu kristal di kamar utama berpendar redup, menyisakan jejak cahaya yang melambung rendah di langit-langit berukir. Bayangan dua orang yang terjebak dalam pusaran ego dan luka lama terukir jelas di dinding, memperpanjang dilema yang mendera hati mereka. Lidya Paramitha Wardhana berdiri mematung di tengah ruangan yang luas, sorot matanya yang basah namun tajam terpaku pada Bima yang masih tampak bersikeras dengan kecurigaannya. Setiap tarikan napasnya terasa memberatkan, sebuah beban tak kasat mata yang mendesak di dadanya. Wajah Lidya terlihat letih, dengan guratan halus yang belum lama muncul di sudut matanya, menyingkap kesedihan yang mendalam terpancar dari pelupuk yang mulai berkaca-kaca. Atmosfer yang sebelumnya terasa romantis oleh kehadiran bunga dan aroma samar lilin kini berangsur memudar, digantikan oleh ketegangan yang memekakkan telinga."Jadi, begini caramu memandangku sekarang, Bima?" Suara Lidya terdengar lirih, nyaris seperti bisikan di tengah keheningan, namun memil
Matahari pagi yang bersembunyi di balik gedung-gedung tinggi Jakarta gagal menembus kegelapan tebal di ruang rapat pribadi yang terisolasi. Di sana, di balik pintu berlapis kayu ek gelap dan jendela antipeluru, ketegangan menguar, terasa kental dan pahit, seperti kopi yang telah mendingin di cangkir porselen di atas meja marmer. Aroma persaingan yang menyesakkan, dicampur dengan remah-remah masa lalu yang kelam, seolah merasuk ke setiap pori-pori ruangan itu. Bima Adnyana, Alvin Satria Mahawira, dan Kevin Abimanyu Wisesa—tiga sosok yang masing-masing membawa beban sejarah yang berat, luka menganga akibat skandal Puncak, serta tanggung jawab atas kehormatan klan masing-masing—kini terpaksa duduk melingkar. Keadaan, sang hakim yang kejam, telah memaksa mereka merajut benang masa depan Cendekia Medika, sebuah institusi yang berdiri megah namun kini menggantung di ujung jurang kebangkrutan moral dan finansial.Di tengah mereka, sebuah dokumen perjanjian yang dicetak rapi di atas kertas pr
Di sudut ruangan kerja dr. Alvin, yang kini terasa begitu asing dan dingin, ia duduk meringkuk di sebuah kursi berlengan, punggungnya melengkung, seolah mencoba mengecilkan diri dari kenyataan yang baru saja menghantamnya tanpa ampun. Pencidukan ibunya, Kanaya, adalah pukulan telak yang membuat tul
Suasana di dalam ruang kerja Darren terasa seberat timah, dingin dan membebani jiwa. Cahaya lampu meja yang temaram, memancarkan spektrum keemasan yang murung, hanya cukup menyinari separuh wajah pria itu, meninggalkan sisi lainnya dalam bayangan misterius yang mendalam. Siluet Darren terpantul sam
Telepon dari Darren pagi itu menyentakkan Kevin dari lamunannya, suaranya terasa laksana perintah militer yang dingin dan tidak terbantahkan. Udara sejuk Semarang seketika terusir oleh desakan serius dari seberang. "Bawa Lidya kembali ke Jakarta sekarang, Kevin. Bima sudah lepas kendali, dan dokume
Angin malam di Semarang Atas terasa lebih menggigit daripada biasanya, menerpa melalui celah jendela kamar Kevin yang terbuka sebagian. Aroma melati dari kebun tetangga bercampur dengan hembusan udara dingin, seolah turut menyampaikan pertanda buruk. Kevin menekan tombol merah pada ponselnya, memut












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.