Chapter: 124. Puncak Imajinasi"Sekarang nggak ada yang boleh ganggu, pintu sudah aku kunci rapat. Waktu ini cuma milik kita berdua, Mas Pram," bisik Sisil sambil menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu jati tersebut.Matanya menatap Pram dengan binar yang sangat berbeda, bukan lagi tatapan majikan yang sedang tertekan, melainkan wanita yang sedang haus akan belaian.Ia melangkah mendekat, membiarkan jemarinya yang lentik merambat di kemeja Pram lalu memeluk pinggang pria itu dengan erat. Wajahnya ia benamkan di dada Pram yang bidang. "Makasih banyak ya, Mas. Makasih karena Mas Pram selalu ada di garda terdepan buat jagain aku dari orang-orang jahat kayak tadi."Pram mengelus rambut Sisil yang halus, menghirup aroma wangi shampoonya. "Sudah jadi tugas saya sebagai pelayan buat memastikan Bu Sisil selalu aman dan nyaman, Bu."Sisil mendongak, bibirnya yang merah merekah membentuk lengkungan genit. "Kalau gitu, apa Mas Pram bisa bantu aku satu hal lagi siang ini? Aku bener-bener butuh bantuanmu, Mas...""Bantu
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: 123. Sudah Kering"Tadinya saya cuma mau beralasan ambil dompet biar Pak Rekan ini tahu diri dan sadar kalau saya masih mengawasi,” tutur Pram lirih. “Tapi karena Pak Relan malah menghardik saya, mending saya blak-blakan aja sekarang. Saya beneran nggak suka lihat tingkah genit Pak Rekan pada Bu Sisil tadi!" ucap Pram dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman.Pak Rekan yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang pelayan di depan kliennya yang cantik langsung kehilangan kendali. Wajahnya memerah padam, urat lehernya menonjol, dan tanpa babibu ia melayangkan sebuah tinju mentah ke arah wajah Pram. "Kurang ajar kamu! Berani-beraninya ceramahi saya!"Namun, Pram bukan pria sembarangan. Sebagai pria yang sarat akan pengalaman, refleksnya jauh di atas manusia rata-rata. Dengan gerakan yang sangat lincah, Pram menangkap kepalan tangan Pak Rekan di udara sebelum menyentuh pipinya. Tak butuh waktu lama, Pram langsung memutar pergelangan tangan pria berkacamata itu dan memelintirnya k
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: 121. Diskusi Sok Penting"Iya Pak, siap. Ayo Bi, kita berangkat sekarang biar Pak Rekan nggak kelamaan nunggu rokoknya," ucap Pram dengan nada yang dibuat patuh, sambil menyambar dua lembar uang merah itu dan menarik lembut lengan Bi Surti keluar dari rumah.Begitu mereka sampai di luar gerbang dan memastikan posisi mereka tidak terlihat dari jendela ruang tamu, Pram langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Bi Surti yang nampak bingung. "Bi, Bibi pergi sendiri aja ya ke supermarket depan. Ini uangnya bawa semua, sisa kembaliannya buat Bibi aja, saya nggak usah."Bi Surti mengerutkan kening, lesung pipitnya nampak tenggelam karena rasa heran. "Lho, kok gitu Mas Pram? Kan tadi pesannya kita berdua yang disuruh pergi. Kenapa Mas malah nyuruh saya sendirian belinya?"Pram mendekatkan wajahnya, berbisik serius di telinga Bi Surti yang masih menyisakan aroma keringat asmara mereka tadi. "Saya beneran nggak sreg sama pengacara itu, Bi. Matanya liar banget dari tadi liatin Bu Sisil. Saya mau balik ke da
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: 120. Hati-hati, Bu"Lho, Bu Sisil, kok sudah pulang? Saya kira bakal sampai sore di pengadilan," sapa Pram sambil melangkah mendekat ke arah pintu mobil yang baru saja terbuka.Sisil turun dengan anggun, meski wajahnya nampak sedikit lelah karena urusan birokrasi yang menguras emosi. "Iya, Mas Pram. Ternyata berkas surat gugatan cerai yang disiapkan Pak Rekan sudah sangat lengkap dan rapi, jadi tadi proses administrasinya cepat banget diterima pihak pengadilan."Pram mengangguk, namun matanya tak lepas memperhatikan gerak-gerik Pak Rekan yang turun dari kursi kemudi. Lagi-lagi, pria berkacamata itu melirik ke arah dada Sisil dengan tatapan rakus yang sangat tidak sopan, seolah ingin menembus blazer yang membungkus sepasang timun suri ranum milik nyonya majikannya itu. Pram mengepalkan tangannya di samping paha, merasa geram melihat tingkah laku pria yang seharusnya profesional itu."Apa ada tugas lagi buat saya setelah ini, Bu?" tanya Pram, mencoba mengalihkan perhatian.Sisil menoleh ke arah Pak Rek
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: 119. Melipur Lara"Goyang lebih kencang lagi, Bi! Teriak yang kenceng, desah aja yang liar mumpung sepi!" pinta Pram dengan suara yang berat dan serak, tangannya meremas pinggul Bi Surti yang lebar untuk membantunya menghentak lebih dalam.Bi Surti semakin menggila dalam bergoyang di atas tubuh Pram. Napasnya terengah-engah, peluh mulai bercucuran dari dahi dan lehernya, namun semangatnya seolah tidak ada habisnya. Dua buah granat tangan raksasanya berguncang hebat ke atas dan ke bawah mengikuti setiap gerakan liar pinggulnya yang menghantam tubuh Pram. Bunyi gesekan kulit yang basah oleh keringat dan cairan asmara terdengar sangat jelas di kamar kecil itu."Hhaahh... hhaah... Mas Pram, enak banget... Bibi sudah beberapa tahun nggak ngerasain yang sekeras ini sejak menjanda. Rasanya kayak melayang saking nikmatnya!" racau Bi Surti sambil memejamkan mata rapat-rapat, menikmati gesekan meriam Pram yang memenuhi setiap sudut relung curamnya yang sempit.Pram mendongakkan kepalanya, urat-urat di leherny
Last Updated: 2026-03-02
Chapter: 118. Kuda Sembrani"Tanggung banget kalau cuma daster aja yang dibuka. Buat apa celana dalamnya disisakan, Bi? Lepas semuanya aja biar saya bisa memandang keindahan tubuh Bi Surti seutuhnya," pinta Pram dengan suara serak, matanya menatap liar ke arah kain terakhir yang masih menempel di pangkal paha Bi Surti.Bi Surti yang darahnya sudah mendidih karena gairah yang tertahan sejak di dapur tadi segera menuruti perintah itu. Dengan tangan sedikit gemetar, ia meloloskan sisa penutup terakhirnya hingga jatuh ke lantai kamarnya. Kini, Bi Surti benar-benar polos di hadapan Pram, memamerkan keindahan tubuh matangnya yang tersembunyi selama ini.Pram menarik napas panjang, matanya menjelajahi setiap inci tubuh wanita di depannya. "Luar biasa, Bi. Dada Bibi ini bener-bener besar, jauh lebih mantap daripada yang saya bayangin. Perut Bibi juga masih ramping begini, pinggulnya apalagi... bener-bener indah buat dipandang," puji Pram dengan jujur.Mendengar pujian itu, Bi Surti yang dulu saat di rumah sakit hanya
Last Updated: 2026-03-02
Chapter: L. Berdiri Di PuncakGedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: XLIX. Lonjakan DrastisPandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: XLVIII. Sarapan HarmonisCahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: XLVII. Solusi DeliaWilly menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: XLVI. Pembicaraan SeriusMOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: XLV. Harta Karun Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s
Last Updated: 2025-02-21
Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota
Aku terlahir tak diharapkan, hingga akhirnya aku tersisih. Langkah kakiku gontai dalam pelarian ke Ibu Kota, tanpa sanak tanpa saudara. Aku ingin sukses di Jakarta ini, agar kelak bisa kukatakan pada mereka, "Aku bisa berhasil tanpa kalian."
Sayangnya, harapanku musnah saat aku justru dijebak seorang mucikari dan dipekerjakan olehnya sebagai wanita penghibur.
Tak berhenti disitu, aku justru kenal dengan seorang pelanggan tampan yang semakin merubah tujuan awalku pergi ke Jakarta.
"Kau memiliki istri, Mas Gelar?"
"Ya, Bita, aku memiliki istri."
"Lalu, kenapa kau memilih 'jajan' denganku?"
Read
Chapter: 147. Simpul Yang TerbukaLangkah kaki Bita yang sedang memapah ibunya keluar dari gedung TPI tiba-tiba terhenti. Di ambang pintu yang lebar, ia baru menyadari keberadaan sosok pria yang sedari tadi berdiri mematung di sudut yang remang. Pria itu tersembunyi di balik bayangan pilar beton besar, wajahnya tak jelas terlihat, namun auranya terasa sangat berat dan penuh gejolak emosi.Pak Herman kemudian melangkah maju perlahan. Begitu cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit gedung menerpa wajahnya, Bu Ita seketika tercekat. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat. Matanya membelalak, menatap wajah Pak Herman seolah-olah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu yang paling ia hindari sekaligus ia rindukan.Bita yang merasakan perubahan drastis pada ibunya menjadi heran dan cemas. "Ibu? Ibu kenapa? Ayah, ada apa sebenarnya?" tanya Bita sambil menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya.Pak Herman tidak langsung menjawab. Ia menatap Bita dengan tatapan yang sangat dala
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: 146. Pengkhianat CintaGelar segera menekan tombol pada radio komunikasinya, memberikan sinyal hijau kepada tim luar. Tak butuh waktu lama, deru langkah kaki sepatu lars terdengar mendekat. Beberapa anak buah Pak Harto yang bertubuh kekar dan berseragam taktis masuk ke dalam gedung dengan senjata siaga. Atas perintah singkat dari Gelar, mereka langsung menyeret para penculik yang sudah tidak berdaya itu keluar gedung. Para penjahat itu dilemparkan ke dalam bak mobil terbuka untuk dibawa ke markas Pak Harto guna interogasi lebih lanjut.Di tengah ruangan yang remang, Jerry dan Sandy bergerak cepat menggunakan pisau lipat untuk memutus tali nilon tebal yang mengikat tangan dan kaki kedua korban. Begitu ikatan terlepas, pintu depan gedung terbuka lebar. Bita berlari masuk dengan napas tersengal, diikuti oleh Pak Harto yang menggendong Thomas dan Thomson di kedua lengannya."Ibu!" teriak Bita pecah.Bita langsung menghambur dan memeluk erat wanita paruh baya yang terduduk lemas itu. Bu Ita, sang ibu, seket
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 145. Gedung Pelelangan IkanIring-iringan mobil SUV hitam itu merayap pelan menembus jalanan setapak yang hanya beralaskan tanah dan kerikil. Lampu kendaraan telah dimatikan sepenuhnya, hanya menyisakan keremangan cahaya bulan yang memandu jalan mereka menuju pesisir. Di dalam kabin mobil utama, suasana terasa sangat dingin dan mencekam. Gelar, Pak Herman, Jerry, dan Sandy duduk melingkar menghadapi sebuah denah sederhana yang digambar Pak Harto di atas secarik kertas."Kita tidak bisa menyerang secara membabi buta. Gedung TPI ini memiliki struktur terbuka di bagian tengah, tapi akses masuknya sangat terbatas," ujar Pak Herman dengan suara rendah namun penuh otoritas.Gelar mengangguk, matanya menatap tajam ke arah denah. "Aku setuju. Kita harus memecah konsentrasi mereka. Jerry dan aku akan mengambil jalur utama. Kami akan masuk dari sisi depan untuk menarik perhatian jika diperlukan, atau melumpuhkan penjaga luar sebelum mereka sempat memberi sinyal.""Lalu bagaimana dengan sisi belakang?" tanya Sandy sambil
Last Updated: 2026-02-06
Chapter: 144. Menemui SahabatPak Herman melangkah menjauh ke sudut perpustakaan yang lebih privat, menjauh dari jangkauan pendengaran Gelar dan Bita. Jemarinya menekan rangkaian nomor yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi, namun masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Begitu sambungan terhubung, nada bicaranya berubah menjadi berat, penuh wibawa yang menunjukkan posisinya sebagai pemimpin besar."Harto? Ini Herman. Aku butuh bantuan besarmu sekarang juga," ujar Pak Herman tanpa basa-basi. "Ada sebuah van hitam yang membawa lari orang dekatku di sekitar Desa Srintil. Tolong kerahkan semua kenalan, jaringan, dan teman-temanmu di sana. Pantau setiap jalan keluar desa. Van seperti itu sangat jarang ada di daerahmu, pasti mudah dikenali oleh warga. Kabari aku secepatnya, aku akan langsung terbang ke Jawa Timur sekarang juga."Setelah menutup telepon dengan ekspresi tegang, Pak Herman berbalik menghampiri Gelar dan Bita yang telah menunggu dengan kecemasan yang terpancar jelas di wajah mereka."Barusan Ayah mengh
Last Updated: 2026-02-06
Chapter: 143. Dendam MucikariGelar menatap Bita dengan dahi berkerut dalam, ada kilat kecemburuan yang tidak mampu ia sembunyikan sepenuhnya meski di tengah situasi genting. "Siapa sebenarnya pria bernama Bono itu, Bita? Mengapa dia masih memiliki nomor pribadimu dan menghubungimu di saat seperti ini?" tanya Gelar dengan nada suara yang sedikit merengut, memperlihatkan sisi posesifnya sebagai seorang suami.Bita yang masih gemetar segera menggelengkan kepala, tangannya menggenggam ponsel itu dengan erat. "Mas, tolong jangan salah paham dulu. Bono tidak sedang mencoba menggodaku atau mencari perhatian. Dia adalah bagian dari masa laluku di desa, dan dia baru saja memberikan kabar yang sangat mengerikan. Ibuku... Ibu kandungku dan ayah tiriku diculik oleh sekelompok orang bersenjata tadi pagi."Mendengar penjelasan itu, Gelar dan Pak Herman secara serempak terlonjak dari kursi mereka. Rasa cemburu di wajah Gelar seketika sirna, digantikan oleh ekspresi ketegangan yang amat sangat. Mereka berdua adalah pria yang
Last Updated: 2026-02-05
Chapter: 142. Tanpa BuktiPagi yang seharusnya tenang setelah keberhasilan konferensi pers semalam justru terasa panas di dalam ruang kerja Gelar Aditama.Dengan rahang yang mengeras, Gelar menekan tombol panggil pada ponselnya, menghubungi nomor Hendy yang sudah lama tersimpan dalam daftar hitamnya. Ia tidak ingin membuang waktu. Baginya, martabat Bita adalah segalanya, dan Hendy telah menginjak-injaknya dengan cara yang paling pengecut."Halo, Pak Hendy. Aku yakin kau sedang menonton berita tadi malam," ujar Gelar tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung. Suaranya rendah, sarat dengan ancaman yang tertahan.Di ujung telepon, terdengar suara tawa kecil yang kering dan terdengar sangat licik. "Ah, Tuan Aditama yang terhormat. Ada angin apa menelepon seorang pengusaha kecil seperti saya sepagi ini? Berita? Berita yang mana?""Jangan berlagak pening, Pak Hendy. Kau tahu persis berita apa yang aku maksud. Hanya kau yang memiliki foto-foto itu. Hanya kau yang punya akses ke masa lalu kelam yang kau ciptakan se
Last Updated: 2026-02-05