Chapter: 112. Prahara Mie Instan"Enggak, Ci, cukup. Aku nyerah kalau harus lanjut lagi," sahut Ronald sembari melambaikan tangannya dengan gerakan menyerah, meskipun senyum nakal masih menghiasi wajahnya."Kalau kelamaan balik, nanti orang mansion pada curiga. Ini udah siang banget, bahkan kita berdua belum makan siang. Stamina kita bisa drop kalau dipaksain terus tanpa asupan," tambah Ronald lagi, mencoba bersikap logis meski tubuhnya sendiri sebenarnya masih merasakan sisa-sisa panas dari tubuh Citra.Citra mengerucutkan bibirnya, nampak tidak puas dengan jawaban Ronald. Ia menyilangkan tangan di bawah bukit indahnya yang membusung di balik gaun. "Biarin aja deh, Ron. Kak Bianca kemarin juga dampingin kamu sampai dua hari pas urusan Pak Johansyah itu. Masa giliran aku cuma beberapa jam gini?! Nggak adil banget!"Ronald terkekeh, ia memegang pundak Citra dan mendorongnya lembut agar masuk ke dalam kabin mobil. "Ya lain kali kan bisa lagi. Lagian perkebunan ini nggak bakal lari kemana-mana, kan? Masih banyak waktu
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 111. Helikopter"Tadi kamu minta gaya bebas ya? Oke, jangan nyesel kalau besok kamu nggak bisa jalan," bisik Ronald dengan seringai predator yang membuat bulu kuduk Citra meremang nikmat.Ronald segera memutar tubuh Citra hingga dalam posisi menunggang, namun kali ini ia meminta Citra untuk condong ke depan tanpa menempelkan dada. Dengan gerakan lincah, Ronald menerapkan gaya helikopter. Ia memutar-mutar pinggulnya dengan kekuatan tinggi sementara tangannya mencengkeram erat bulatan belakang Citra, memberikan stimulasi gesekan yang melingkar di dalam saluran irigasi Citra yang sudah banjir."Ohhh Ronnn! Ahhh, geli tapi enakkk! Puter terusss, hmmm shhh!" jerit Citra sembari mencengkeram sprei.Posisi tersebut berlangsung beberapa daat hingga terluhat Citra yang mulai merasa pegal di pahanya.Melihat kesulitan Citra, Ronald segera mengubah posisi menjadi gaya kupu-kupu. Ia menarik kedua kaki Citra hingga terbuka lebar dan melipatnya ke arah dada, membiarkan gerbang ruang rapat Citra terekspos sepenu
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 110. BebasRonald tersenyum tipis mendengar pengakuan jujur dari wanita yang sedang memeluknya itu. Maksud hati ingin sedikit menunjukkan perhatian dan sisi lembutnya, ternyata Citra malah ketakutan sendiri karena menganggap perubahan sikapnya sebagai sesuatu yang misterius dan tidak biasa."Ya udah, kalau kamu emang lebih suka aku yang main kasar, kamu aja yang pegang kendali sekarang. Aku nurut apa kata kamu," kata Ronald dengan nada suara yang tenang namun terdengar sangat dalam dan maskulin.Citra yang mendengar itu seolah mendapatkan suntikan tenaga baru. Tanpa banyak bicara, ia segera mendorong bahu kekar Ronald hingga pria itu kini rebah telentang di atas sprei yang sudah kusut. Dengan gerakan yang sangat sensual, Citra merangkak naik ke atas tubuh Ronald dan menduduki pahanya yang berotot. "Aku di atas aja sekarang, biar aku yang atur ritmenya!"Perlahan, tangan lembut Citra bergerak turun meraih pedang pembunuh naga milik Ronald yang masih berdiri tegak menantang. Ia menggenggamnya
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 109. Misterius Sekali"Iiyaa, Ron, iiiyaaa. Aku emang yang ngajak kamu kesini. Hancurin aku, Ronnn! Puasinn akuu! Ohhh ohh ohhh," desah Citra menggema di seluruh penjuru kamar kayu yang terisolasi itu. Suaranya yang merdu kini terdengar parau, pecah oleh gelombang kenikmatan yang terus menerjang saraf-sarafnya.Ronald yang mendengar tantangan itu menjadi semakin giat bercocok tanam di ladang subur milik Citra. Hentakannya kian kuat dan dalam, setiap dorongan pasak buminya terdengar beradu dengan kulit paha Citra yang mulus, menciptakan suara tumbukan daging yang ritmis dan keras. Ia tidak memberikan ampun, menghujamkan tongkat pemukul badaknya hingga mentok menyentuh dinding terdalam saluran irigasi Citra yang sudah banjir oleh genangan sawah."Ohhh terusss sayanggg, enakk Ronnn! Ahhh, jangan dipelanin plisss ahhh ahhh!" desah Citra tak ada hentinya. Kepalanya bergerak gelisah di atas bantal, mencari posisi paling nyaman untuk menerima gempuran yang kian brutal tersebut.Ronald meraih sepasang gunung F
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 108. Ini Yang Kamu Mau"Kamu nggak adil kalau cuma aku yang buka-bukaan begini," bisik Citra dengan napas yang memburu, jemarinya segera bergerak lincah membuka kancing kemeja Ronald satu per satu hingga pakaian itu jatuh berserakan. Dengan gerakan sedikit kasar karena gairah yang sudah di ubun-ubun, ia menarik kaos dalam Ronald lalu melepas ikat pinggang dan celana panjang pria itu hingga hanya menyisakan boxer hitam yang sudah nampak sesak di bagian depan.Ronald tak membiarkan Citra mengambil kendali terlalu lama. Ia segera menyerang sepasang gunung Fujiyama milik Citra lagi. Namun kali ini, ia tidak hanya meremas dengan tangan kekarnya yang kasar, melainkan langsung melumat salah satu puncaknya dengan bibir dan lidahnya. Ronald menghisap bagian yang sudah menegang itu masuk ke dalam mulutnya, memutar-mutar lidahnya di sekitar sana hingga menciptakan suara kecapan yang sangat erotis."Ohhh Ronnn... Hisap yang kenceng, remes yang kuattt! Ahhhh, gila enak banget!" rintih Citra sembari melengkungkan pun
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: 107. Sepasang Pria Dan WanitaRonald tak menjawab dengan kata-kata, namun sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. Ia langsung memutar kemudi dengan sigap, mengarahkan moncong mobil dobel kabin itu menuju jalan setapak yang lebih sempit menuju rumah singgah perkebunan. Rumah kayu mungil itu memang adalah tempat yang paling sepi dan menjanjikan privasi tingkat tinggi karena letaknya yang tersembunyi jauh di tengah rimbunnya tanaman kopi yang rimbun. Sudah beberapa kali Ronald menggunakan tempat terpencil itu untuk menikmati tubuh molek Citra maupun Arumi, tanpa ada satu sama lain di antara kedua wanita itu yang tahu bahwa mereka berbagi pria yang sama di ranjang kayu yang sama pula.Begitu mobil berhenti dan mesin mati, kesunyian hutan kopi menyergap. Citra segera menyambar kunci rumah singgah dari tangan Ronald dengan gerakan lincah, lalu berlari kecil menuju pintu dan membukanya. Begitu mereka melangkah masuk, aroma kayu yang khas dan udara yang sedikit lembap langsung menyambut indra penciuman mer
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: 333. Beberapa Tetes Saja"Kalian tidur aja dulu. Aku belum ngantuk kok, masih seribu watt ini mataku. Biar Bu Sisil aku yang jaga malam ini," kata Pram dengan nada suara yang tenang namun menghanyutkan.Mendengar Pram yang begitu siaga untuk menjaga ibu mereka, ketiganya pun mulai menyerah pada rasa lelah yang teramat sangat. Dara, Intan, dan Bunga mulai memposisikan diri senyaman mungkin di sofa panjang dan kursi yang tersedia. Meski hanya meletakkan tengkuk di sandaran sofa yang keras dan melipat tangan di depan bukit barisan mereka yang nampak naik turun teratur, kelelahan fisik akhirnya membuat mereka cepat terlelap. Suara dengkur halus mulai terdengar, menandakan kesadaran mereka sudah melayang jauh.Pram memastikan situasi benar-benar aman. Ia melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, lalu beralih pada ketiga gadis yang sudah tidak terjaga itu. Dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan decit suara, ia memeriksa tas kecil yang diletakkannya di bawah kursi. Di dalamnya, ia merogoh sebuah
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 332. Rencana BerisikoPram menghela napas panjang, sorot matanya nampak berkilat seolah menemukan potongan teka-teki yang hilang. "Berarti pengamatan saya bener, Dok. Kalau sumsumnya bersih tapi dia nggak bisa gerak sama sekali, berarti ada faktor eksternal yang main di dalam darahnya," gumam Pram pelan namun masih terdengar oleh yang lain."Pengamatan apa? Memangnya kamu dokter juga? Atau kamu sekolah medis di mana?" tanya dokter itu dengan nada yang mulai berubah sinis, merasa otoritasnya sedang dipertanyakan oleh orang awam."Beliau tidak sakit secara medis umum, Dok. Ada kondisi lain yang mungkin terlewat. Bisakah saya meminta pihak rumah sakit melakukan tes lab lebih menyeluruh ke sel darah dan jaringan sarafnya? Saya mau lihat apa ada zat asing atau anomali kimiawi di sana yang nggak terdeteksi tes standar," pinta Pram dengan nada mendesak.Dokter itu tertawa mengejek, tawa sumbang yang sangat merendahkan. "Kami memiliki standar operasional sendiri, Pak. Kami rumah sakit besar, bukan klinik sembarang
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 331. Teknis Medis"Nggak usah bahas itu sekarang, Nga. Nggak pas waktunya. Pokoknya fokus utama kita sekarang itu rawat Ibumu dulu biar cepet sembuh dan bisa gerak lagi," jawab Pram mengalihkan pembicaraan dengan halus.Bunga untungnya tak mengejar dengar pertanyaan menuntut penjelasan lagi.Mereka memesan empat bungkus nasi Padang dengan lauk rendang dan ayam pop, tak lupa beberapa plastik kerupuk kulit dan empat bungkus es teh manis yang dingin menyegarkan. Begitu kembali ke kamar perawatan, suasana haru kembali menyelimuti. Dara dan Intan menatap canggung ke arah bungkusan makanan itu, persis seperti perasaan Bunga di warung tadi."Dalam keadaan kayak gini, buang jauh-jauh gengsi kalian. Kalian itu manusia biasa yang butuh makan buat tetep sehat. Kalau kalian sakit, siapa yang bakal jagain Bu Sisil nanti?" nasihat Pram sembari membagikan bungkusan nasi tersebut.Mereka berempat akhirnya makan dengan lahap di sofa kamar itu. Sesekali, secara bergantian, mereka menyuapi Sisil dengan bubur rumah saki
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 330. Aroma Rendang Dan Gulai"Ya jelas sewa rumah dong, Mas! Di kosan itu nggak bebas, sempit, mana kalau mandi harus antre sama orang lain. Nggak mau!" jawab Intan dengan tegas, kembali menunjukkan sifat blak-blakan seperti biasanya."Tapi mau sewa pakai uang apa? Uang saku kami aja udah dipotong habis sama Kakek Bondan," Intan lalu berubah lemas lagi begitu teringat kondisi dompetnya yang kini kering kerontang."Pakai uangku lah. Memangnya kalian pikir aku nggak punya simpanan uang apa?" Pram tertawa kecil melihat ekspresi bingung mereka. "Tenang aja, gaji dari Bu Sisil yang selama ini kalian kasih masih banyak nangkring di tabunganku. Hampir nggak pernah aku pakai karena kan selama kerja di sini makan dan tempat tinggal udah kalian tanggung semua. Cukuplah kalau cuma buat nyewa rumah yang layak buat kalian bertiga.""Lho, terus pas Mas Pram sakit di rantau kemarin, Mas hidup pakai uang apa? Kan butuh biaya buat berobat dan makan juga?" Dara bertanya dengan nada heran, alisnya yang rapi bertaut bingung."Aku k
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 329. Malas Pulang"Terima kasih banyak ya, Mas Pram. Aku nggak tahu lagi harus berharap sama siapa kalau Mas nggak balik hari ini," kata Dara mewakili kedua adiknya. Matanya yang tegas kini nampak berkaca-kaca, memancarkan rasa lega yang teramat sangat setelah sekian lama memikul beban sendirian menghadapi keluarga parasit itu.Pram mengangguk pelan sembari tetap mengusap punggung tangan Sisil yang masih dingin. "Sudah seharusnya aku membantu, Ra. Aku ini pelayan kalian, sudah tugasku jagain keluarga ini dalam kondisi apa pun. Nggak usah sungkan gitu," jawab Pram dengan nada rendah namun penuh ketulusan. Ia menoleh ke arah Bunga dan Intan yang masih nampak sangat kuyu. "Ya udah, kalian kalau mau pulang dulu silakan. Biar bisa istirahat yang bener di rumah daripada nanti ikutan ambruk. Biar aku yang jaga Ibu kalian di sini malam ini."Namun, di luar dugaan Pram, ketiganya justru menggeleng cepat dengan ekspresi wajah yang nampak ngeri. "Lho, kenapa? Kalian butuh tidur lho. Di sini kan kursinya nggak
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 328. Mencari Jalan Keluar"Kakek dan Nenek itu nggak bolehin Ibu pindah rumah sakit, Mas," jawab Bunga lirih sembari menunduk dalam, air matanya kembali jatuh membasahi sprei ranjang rumah sakit yang ada di depannya."Kok mereka yang ngatur sih?! Emangnya mereka siapa berani nentuin hidup matinya majikanku?!" seru Pram sengit, suaranya menggelegar di dalam ruangan kamar rumah sakit yang sunyi itu hingga membuat Intan sedikit terperanjat kaget.Intan menghela napas panjang, wajahnya yang biasanya riang kini nampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata. "Karena mereka sekarang yang pegang semua akses keuangan Ibu, Mas. Rekening, deposito, sampai emas batangan milik Ibu sudah di bawah kendali Kakek Bondan dan Nenek Daniah. Mereka bilang bakal lepas tanggung jawab soal semua biaya perawatan kalau kita nekat mindahin Ibu ke rumah sakit lain yang lebih mahal. Kami nggak punya pilihan selain nurut.""Tapi ini kondisinya darurat, Tan! Bu Sisil butuh perawatan intensif di rumah sakit yang lebih lengkap peralatanny
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: L. Berdiri Di PuncakGedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: XLIX. Lonjakan DrastisPandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: XLVIII. Sarapan HarmonisCahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: XLVII. Solusi DeliaWilly menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: XLVI. Pembicaraan SeriusMOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: XLV. Harta Karun Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s
Last Updated: 2025-02-21
Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota
Aku terlahir tak diharapkan, hingga akhirnya aku tersisih. Langkah kakiku gontai dalam pelarian ke Ibu Kota, tanpa sanak tanpa saudara. Aku ingin sukses di Jakarta ini, agar kelak bisa kukatakan pada mereka, "Aku bisa berhasil tanpa kalian."
Sayangnya, harapanku musnah saat aku justru dijebak seorang mucikari dan dipekerjakan olehnya sebagai wanita penghibur.
Tak berhenti disitu, aku justru kenal dengan seorang pelanggan tampan yang semakin merubah tujuan awalku pergi ke Jakarta.
"Kau memiliki istri, Mas Gelar?"
"Ya, Bita, aku memiliki istri."
"Lalu, kenapa kau memilih 'jajan' denganku?"
Read
Chapter: 147. Simpul Yang TerbukaLangkah kaki Bita yang sedang memapah ibunya keluar dari gedung TPI tiba-tiba terhenti. Di ambang pintu yang lebar, ia baru menyadari keberadaan sosok pria yang sedari tadi berdiri mematung di sudut yang remang. Pria itu tersembunyi di balik bayangan pilar beton besar, wajahnya tak jelas terlihat, namun auranya terasa sangat berat dan penuh gejolak emosi.Pak Herman kemudian melangkah maju perlahan. Begitu cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit gedung menerpa wajahnya, Bu Ita seketika tercekat. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat. Matanya membelalak, menatap wajah Pak Herman seolah-olah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu yang paling ia hindari sekaligus ia rindukan.Bita yang merasakan perubahan drastis pada ibunya menjadi heran dan cemas. "Ibu? Ibu kenapa? Ayah, ada apa sebenarnya?" tanya Bita sambil menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya.Pak Herman tidak langsung menjawab. Ia menatap Bita dengan tatapan yang sangat dala
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: 146. Pengkhianat CintaGelar segera menekan tombol pada radio komunikasinya, memberikan sinyal hijau kepada tim luar. Tak butuh waktu lama, deru langkah kaki sepatu lars terdengar mendekat. Beberapa anak buah Pak Harto yang bertubuh kekar dan berseragam taktis masuk ke dalam gedung dengan senjata siaga. Atas perintah singkat dari Gelar, mereka langsung menyeret para penculik yang sudah tidak berdaya itu keluar gedung. Para penjahat itu dilemparkan ke dalam bak mobil terbuka untuk dibawa ke markas Pak Harto guna interogasi lebih lanjut.Di tengah ruangan yang remang, Jerry dan Sandy bergerak cepat menggunakan pisau lipat untuk memutus tali nilon tebal yang mengikat tangan dan kaki kedua korban. Begitu ikatan terlepas, pintu depan gedung terbuka lebar. Bita berlari masuk dengan napas tersengal, diikuti oleh Pak Harto yang menggendong Thomas dan Thomson di kedua lengannya."Ibu!" teriak Bita pecah.Bita langsung menghambur dan memeluk erat wanita paruh baya yang terduduk lemas itu. Bu Ita, sang ibu, seket
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 145. Gedung Pelelangan IkanIring-iringan mobil SUV hitam itu merayap pelan menembus jalanan setapak yang hanya beralaskan tanah dan kerikil. Lampu kendaraan telah dimatikan sepenuhnya, hanya menyisakan keremangan cahaya bulan yang memandu jalan mereka menuju pesisir. Di dalam kabin mobil utama, suasana terasa sangat dingin dan mencekam. Gelar, Pak Herman, Jerry, dan Sandy duduk melingkar menghadapi sebuah denah sederhana yang digambar Pak Harto di atas secarik kertas."Kita tidak bisa menyerang secara membabi buta. Gedung TPI ini memiliki struktur terbuka di bagian tengah, tapi akses masuknya sangat terbatas," ujar Pak Herman dengan suara rendah namun penuh otoritas.Gelar mengangguk, matanya menatap tajam ke arah denah. "Aku setuju. Kita harus memecah konsentrasi mereka. Jerry dan aku akan mengambil jalur utama. Kami akan masuk dari sisi depan untuk menarik perhatian jika diperlukan, atau melumpuhkan penjaga luar sebelum mereka sempat memberi sinyal.""Lalu bagaimana dengan sisi belakang?" tanya Sandy sambil
Last Updated: 2026-02-06
Chapter: 144. Menemui SahabatPak Herman melangkah menjauh ke sudut perpustakaan yang lebih privat, menjauh dari jangkauan pendengaran Gelar dan Bita. Jemarinya menekan rangkaian nomor yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi, namun masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Begitu sambungan terhubung, nada bicaranya berubah menjadi berat, penuh wibawa yang menunjukkan posisinya sebagai pemimpin besar."Harto? Ini Herman. Aku butuh bantuan besarmu sekarang juga," ujar Pak Herman tanpa basa-basi. "Ada sebuah van hitam yang membawa lari orang dekatku di sekitar Desa Srintil. Tolong kerahkan semua kenalan, jaringan, dan teman-temanmu di sana. Pantau setiap jalan keluar desa. Van seperti itu sangat jarang ada di daerahmu, pasti mudah dikenali oleh warga. Kabari aku secepatnya, aku akan langsung terbang ke Jawa Timur sekarang juga."Setelah menutup telepon dengan ekspresi tegang, Pak Herman berbalik menghampiri Gelar dan Bita yang telah menunggu dengan kecemasan yang terpancar jelas di wajah mereka."Barusan Ayah mengh
Last Updated: 2026-02-06
Chapter: 143. Dendam MucikariGelar menatap Bita dengan dahi berkerut dalam, ada kilat kecemburuan yang tidak mampu ia sembunyikan sepenuhnya meski di tengah situasi genting. "Siapa sebenarnya pria bernama Bono itu, Bita? Mengapa dia masih memiliki nomor pribadimu dan menghubungimu di saat seperti ini?" tanya Gelar dengan nada suara yang sedikit merengut, memperlihatkan sisi posesifnya sebagai seorang suami.Bita yang masih gemetar segera menggelengkan kepala, tangannya menggenggam ponsel itu dengan erat. "Mas, tolong jangan salah paham dulu. Bono tidak sedang mencoba menggodaku atau mencari perhatian. Dia adalah bagian dari masa laluku di desa, dan dia baru saja memberikan kabar yang sangat mengerikan. Ibuku... Ibu kandungku dan ayah tiriku diculik oleh sekelompok orang bersenjata tadi pagi."Mendengar penjelasan itu, Gelar dan Pak Herman secara serempak terlonjak dari kursi mereka. Rasa cemburu di wajah Gelar seketika sirna, digantikan oleh ekspresi ketegangan yang amat sangat. Mereka berdua adalah pria yang
Last Updated: 2026-02-05
Chapter: 142. Tanpa BuktiPagi yang seharusnya tenang setelah keberhasilan konferensi pers semalam justru terasa panas di dalam ruang kerja Gelar Aditama.Dengan rahang yang mengeras, Gelar menekan tombol panggil pada ponselnya, menghubungi nomor Hendy yang sudah lama tersimpan dalam daftar hitamnya. Ia tidak ingin membuang waktu. Baginya, martabat Bita adalah segalanya, dan Hendy telah menginjak-injaknya dengan cara yang paling pengecut."Halo, Pak Hendy. Aku yakin kau sedang menonton berita tadi malam," ujar Gelar tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung. Suaranya rendah, sarat dengan ancaman yang tertahan.Di ujung telepon, terdengar suara tawa kecil yang kering dan terdengar sangat licik. "Ah, Tuan Aditama yang terhormat. Ada angin apa menelepon seorang pengusaha kecil seperti saya sepagi ini? Berita? Berita yang mana?""Jangan berlagak pening, Pak Hendy. Kau tahu persis berita apa yang aku maksud. Hanya kau yang memiliki foto-foto itu. Hanya kau yang punya akses ke masa lalu kelam yang kau ciptakan se
Last Updated: 2026-02-05