INICIAR SESIÓNPram diminta menjadi pelayan oleh seorang nyonya yang cantik. Ternyata sang nyonya cantik seperti meminta pelayanan lebih! Para wanita penghuni rumah tersebut satu persatu juga meminta servis spesial. "Mas Pram! Aku butuh kamu secepatnya!"
Ver más“Ah! Di situ, Mas … enak.”
“Enak?” Pram sedikit mengernyitkan dahinya, lalu melirik wanita yang ada di bawahnya dengan dahi penuh keringat. “Ini ya, Bu?” “Shh … iyaa itu, Mas!” Pram kembali fokus pada kegiatannya. Tangannya bergerak cepat menjamah bagian-bagian yang terasa kurang pas. Namun, pikirannya terasa mulai hilang arah. Sejak tadi, Pram bertanya soal posisi plafon yang tepat pada Sisil, tetangganya, karena wanita itu meminta bantuan untuk memperbaiki plafon kamarnya yang bocor. Namun, setiap kali Pram bertanya, wanita itu menjawab dengan suara yang terdengar seperti desahan. Entah itu sugesti pikiran Pram saja karena hampir 15 menit melihat Sisil yang hanya mengenakan gaun tidur satin yang nyaris transparan. Bahkan, dari atas tangga besi itu, ia juga bisa melihat jelas onggokan buah kenyal nan bulat yang tidak diberi penyangga. Atau wanita itu memang sengaja bersuara demikian. Pram tidak tahu! Yang jelas, Pram ingin segera menyelesaikan urusannya di sini. Bahaya kalau sampai pikirannya semakin liar pada Sisil, sebab wanita itu sudah bersuami! “S–sudah, Bu, yang ini,” kata Pram setelah selesai memasang plafon itu dalam posisi yang sesuai. “Oke, turunnya pelan-pelan ya, Mas. Aku pegang tangganya biar gak geser,” kata Sisil, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya untuk memegang dua sisi tangga besi itu. Ketika Pram kembali menatap ke bawah saat akan turun dari tangga besi itu, ia kembali melihat bongkahan kenyal Sisil. ‘Gila! Gila! Gila!’ batin Pram berteriak. Ia pria normal, sejak tadi diberi pemandangan seperti itu jelas membuat tubuhnya panas dingin. Setahu Pram, Sisil ini berusia sekitar 35 tahunan. Tapi, bentuk tubuhnya benar-benar masih terawat, seperti remaja usia 20an. Dari luar, kulitnya putih bersih, terlihat lembut, dan kencang. Dan sekarang, Pram juga baru tahu kalau ternyata bagian dalamnya juga terlihat lebih wah, padat dan kenyal. “Kenapa, Mas? Kok bengong?” tanya Sisil penasaran, senyum di wajahnya tidak pernah pudar. Pram menggelengkan kepalanya. “Nggak, Bu.” Sisil tersenyum, lalu mundur selangkah ketika melihat Pram sudah menuruni tangga. “Makasih ya, Mas Pram. Plafon kamar aku jadi gak bocor lagi,” kata Sisil lembut. “Iya, Bu, senang kalau saya bisa membantu,” jawab Pram sopan. “Kalau gitu saya pamit–” “Eh, tunggu!” potong Sisil. “Sebentar, Mas, aku udah siapin minuman di kulkas. Aku ambilin, ya!” Belum sempat Pram menjawab, Sisil sudah lebih dahulu pergi ke dapur. Tanpa Pram sadari, matanya langsung tertuju kepada lekuk tubuh Sisil dari belakang. Pram menelan ludahnya, tenggorokannya terasa kering. Pram buru-buru menggeleng, menghilangkan pemikirannya tentang Sisil. Tak lama, Sisil kembali dengan segelas minuman dingin yang tampak begitu segar. Ia menyuguhkannya sambil duduk di atas sofa. “Minum, Mas. Ini jus buah naga!” Pram mengikuti Sisil duduk di atas sofa lalu segera mengambil gelas dan menyesap manisnya jus buah naga yang sudah disiapkan Sisil. “Terima kasih, Bu. Ini enak.” “Ahh.. Enak, ya, Mas?” tanya Sisil dengan senyum yang mengulas di atas wajah. Pram terperanjat dengan pertanyaan itu. Entah perasaannya saja atau bagaimana, tetapi Sisil kembali mengeluarkan suara seperti desahan. Meski baru saja disuguhi minum, tenggorokan Pram terasa kering lagi. Pram hanya mampu mengangguk salah tingkah. “I-iya, Bu.” “Oh, iya, Mas Pram,” Sisil memajukan tubuhnya, membuat Pram terbelalak. Pasalnya, belahan dada Sisil semakin terlihat dari sini. “Kamu betulan nggak mau jual rumahmu? ‘Kan lumayan kalau Mas Pram masih kerja serabutan.” Rumah milik Pram memang sudah lama ingin dibeli keluarga Sisil untuk memperluas lahan. Sebetulnya itu penawaran menarik karena Pram belum memiliki pekerjaan tetap. Uang hasil menjualnya pasti bisa Pram gunakan untuk kebutuhan sehari-hari selama beberapa waktu. Namun, Pram enggan menjualnya. Ia ingin mempertahankan satu-satunya harta yang dimiliki. “Nggak, Bu,” kata Pram tegas sambil terdengar sopan. Sisil tersenyum dan mengangguk, mencoba menghormati keputusan Pram. “Kalau gitu, Mas Pram mau nggak kerja sama saya?” Pram terkejut. “Kerja sama Bu Sisil?” “Iya!” seru Sisil. “Kerja kayak tadi, Mas Pram. Bantu aku membetulkan plafon atau pipa bocor, oh, Mas Pram juga bisa nyetir ‘kan?” “Bisa, sih, Bu…,” Pram mengerutkan dahinya, terlihat sedikit bingung dengan tawaran Sisil. “Tapi, maaf, Bu. Memangnya suami Bu Sisil nggak bisa membantu buat hal-hal itu?” Alih-alih tersinggung, Sisil justru tertawa mendengar pertanyaan itu. “Ah, kamu kayak nggak tahu aja, Mas Pram! Suamiku ‘kan jarang ada di rumah!” Pram mengingat-ingat. Memang suami Sisil jarang terlihat di rumah. Pram pikir karena suaminya sering bekerja lembur. “Lagipula, Mas Pram,” Sisil melanjutkan. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi. Napas Pram tercekat. Wangi tubuh Sisil semakin tercium. “Suamiku itu pemalas. Nggak kayak, Mas Pram yang rajin!” Pujian itu tidak membuat Pram tergerak sebab inderanya terlanjur dimanja oleh wangi dan tubuh Sisil yang menggoda. Pram menelan ludahnya lagi. Ia merasa sebentar lagi dirinya akan menjadi gila. Lalu, pikirannya kembali mengarah kepada penawaran Sisil. Jika ia menerima tawaran pekerjaan itu, apakah Sisil akan terus berpakaian dan berlagak seperti … ini? ‘Ah, tapi kayaknya nggak mungkin. Paling kebetulan!’ batin Pram meyakinkan dirinya. Lagipula, Pram membutuhkan uang untuk hidup sehari-hari. Di hadapannya, Sisil dengan kulit seputih susu dan wajah cantiknya masih menatap Pram, menunggu jawabannya. “Gimana, Mas Pram? Aku bayar dengan layak kok!” Tidak ingin membuat wanita itu menunggu padahal sudah baik untuk menawarkan, Pram akhirnya membuat keputusan. “Saya mau, Bu Sisil,” ujar Pram. Wajah Sisil langsung berbinar mendengarnya. “Syukurlah!” Pram mengangguk sopan. “Kalau begitu, saya pamit pulang dulu, Bu.” Pram dan Sisil berdiri dari duduknya di sofa. Namun, ketika ingin berjalan ke pintu depan, Sisil tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan… “Aduh!” Sebelum Sisil jatuh, Pram dengan sigap menangkapnya dari belakang. Punggung Sisil berada di atas dada Pram, sementara tangan kanan Pram jatuh di atas dada Sisil yang dibalut pakaian tipis."Aku belum puas, Mas! Jangan pikir bisa lolos secepat itu setelah kamu bikin hatiku berantakan!" desis Dara dengan napas yang memburu, matanya memerah menatap Pram yang masih terikat tak berdaya.Dara tidak menunggu jawaban. Ia kembali naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat kasar.Ia memposisikan dirinya tepat di atas pangkal paha Pram yang masih menegang akibat stimulasi paksa tadi. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, ia mengarahkan pedang pusaka Pram tepat di mulut relung curamnya.Blas!Pedang pusaka itu melesak masuk sepenuhnya, menembus lorong labirin Dara yang sudah banjir oleh cairan gairah dan sisa-sisa pelepasan sebelumnya. Dara langsung menggoyang pinggulnya dengan sangat cepat dan ritmis, persis seperti seorang penunggang kuda yang sedang memacu hewan tunggangannya di lintasan balap.Tubuh Dara meliuk-liuk liar di atas tubuh Pram. Ia menjambak rambutnya sendiri, mendongakkan kepala ke
"Rasain ini, Mas! Jangan harap bisa lolos gitu aja setelah bikin aku kesel di depan Tante Sonya tadi!" desis Dara dengan mata berkilat, tangannya semakin kencang mengocok mercusuar Pram yang sudah berada di titik nadir ketahanannya.Pram hanya bisa mengerang sangat panjang di balik penyumpal mulutnya. Tubuhnya yang terikat kencang pada sandaran ranjang mendadak menegang kaku seperti ditarik kawat baja. Sedetik kemudian, semburan dahsyat dari senapan runduknya memancar keluar dengan tekanan hebat, memenuhi rongga mulut Dara yang masih setia mengulum puncaknya.“Ahummm, mmmmm!“ teriakan Pram tertahan penyumpal mulut.Dara tidak melepaskan hisapannya sedikit pun. Dengan gerakan tenggorokan yang terlihat jelas, ia menelan seluruh cairan panas dan kental itu dalam satu tegukan rakus tanpa sisa. Setelah memastikan milik Pram benar-benar bersih, ia baru melepasnya dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum
"Ada apa lagi, Dara? Masih ada tugas lain? Aku lagi tanggung nih nyuci mobil kamu tadi," tanya Pram sesaat setelah pintu kayu jati kamar Dara terbuka sedikit dari dalam.Dara tidak langsung menjawab. Wajah cantiknya nampak sangat datar, matanya menatap Pram dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin namun menyimpan bara yang siap meledak. Ia hanya memberikan perintah singkat dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Masuk!"Pram melangkah masuk dengan ragu. Begitu kakinya melewati ambang pintu, Dara segera menutup pintu itu dengan keras dan memutar kunci dua kali. Clak!Clak!Pram berdiri mematung di tengah ruangan yang harum aroma mawar itu, menanti apa yang akan dilakukan oleh putri sulung Sisil tersebut.Dara berjalan dengan langkah tegas menuju lemari pakaian mewahnya. Amarah yang ia rasakan sejak di bangunan milik Sonya tadi nampaknya belum surut sama sekali. Ia membuka laci rahasia di b
Clak! “Toiletnya bersih banget, Tante. Airnya juga kenceng, pas banget buat kenyamanan pelanggan nanti," ujar Dara sambil melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang nampak segar setelah membasuh muka.Pembicaraan rahasia antara Pram dan Sonya seketika terhenti. Pram segera menarik diri satu langkah menjauh dari Sonya, memasang wajah sedatar mungkin seolah mereka hanya sedang membicarakan teknis bangunan. Jantungnya masih berdegup kencang karena tuduhan tak berdasar dari Sonya.Dara kemudian mendekat ke arah jendela besar di lantai satu, menatap ke arah jalan raya. "Kira-kira kapan bangunan ini udah bisa aku gunain, Tante? Aku pengen secepatnya masukin interior sama barang-barang butik."Sonya tersenyum profesional, mencoba mengabaikan sisa ketegangan dengan Pram. "Sebaiknya setelah minggu depan aja, Mbak Dara. Biar kami bersihin dulu sebelum ditempati."Dara mengangguk setuju, ia nampak tidak sabar untuk memu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas