LOGINAku terlahir tak diharapkan, hingga akhirnya aku tersisih. Langkah kakiku gontai dalam pelarian ke Ibu Kota, tanpa sanak tanpa saudara. Aku ingin sukses di Jakarta ini, agar kelak bisa kukatakan pada mereka, "Aku bisa berhasil tanpa kalian." Sayangnya, harapanku musnah saat aku justru dijebak seorang mucikari dan dipekerjakan olehnya sebagai wanita penghibur. Tak berhenti disitu, aku justru kenal dengan seorang pelanggan tampan yang semakin merubah tujuan awalku pergi ke Jakarta. "Kau memiliki istri, Mas Gelar?" "Ya, Bita, aku memiliki istri." "Lalu, kenapa kau memilih 'jajan' denganku?"
View MoreLangkah kaki Bita yang sedang memapah ibunya keluar dari gedung TPI tiba-tiba terhenti. Di ambang pintu yang lebar, ia baru menyadari keberadaan sosok pria yang sedari tadi berdiri mematung di sudut yang remang. Pria itu tersembunyi di balik bayangan pilar beton besar, wajahnya tak jelas terlihat, namun auranya terasa sangat berat dan penuh gejolak emosi.Pak Herman kemudian melangkah maju perlahan. Begitu cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit gedung menerpa wajahnya, Bu Ita seketika tercekat. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat. Matanya membelalak, menatap wajah Pak Herman seolah-olah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu yang paling ia hindari sekaligus ia rindukan.Bita yang merasakan perubahan drastis pada ibunya menjadi heran dan cemas. "Ibu? Ibu kenapa? Ayah, ada apa sebenarnya?" tanya Bita sambil menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya.Pak Herman tidak langsung menjawab. Ia menatap Bita dengan tatapan yang sangat dala
Gelar segera menekan tombol pada radio komunikasinya, memberikan sinyal hijau kepada tim luar. Tak butuh waktu lama, deru langkah kaki sepatu lars terdengar mendekat. Beberapa anak buah Pak Harto yang bertubuh kekar dan berseragam taktis masuk ke dalam gedung dengan senjata siaga. Atas perintah singkat dari Gelar, mereka langsung menyeret para penculik yang sudah tidak berdaya itu keluar gedung. Para penjahat itu dilemparkan ke dalam bak mobil terbuka untuk dibawa ke markas Pak Harto guna interogasi lebih lanjut.Di tengah ruangan yang remang, Jerry dan Sandy bergerak cepat menggunakan pisau lipat untuk memutus tali nilon tebal yang mengikat tangan dan kaki kedua korban. Begitu ikatan terlepas, pintu depan gedung terbuka lebar. Bita berlari masuk dengan napas tersengal, diikuti oleh Pak Harto yang menggendong Thomas dan Thomson di kedua lengannya."Ibu!" teriak Bita pecah.Bita langsung menghambur dan memeluk erat wanita paruh baya yang terduduk lemas itu. Bu Ita, sang ibu, seket
Iring-iringan mobil SUV hitam itu merayap pelan menembus jalanan setapak yang hanya beralaskan tanah dan kerikil. Lampu kendaraan telah dimatikan sepenuhnya, hanya menyisakan keremangan cahaya bulan yang memandu jalan mereka menuju pesisir. Di dalam kabin mobil utama, suasana terasa sangat dingin dan mencekam. Gelar, Pak Herman, Jerry, dan Sandy duduk melingkar menghadapi sebuah denah sederhana yang digambar Pak Harto di atas secarik kertas."Kita tidak bisa menyerang secara membabi buta. Gedung TPI ini memiliki struktur terbuka di bagian tengah, tapi akses masuknya sangat terbatas," ujar Pak Herman dengan suara rendah namun penuh otoritas.Gelar mengangguk, matanya menatap tajam ke arah denah. "Aku setuju. Kita harus memecah konsentrasi mereka. Jerry dan aku akan mengambil jalur utama. Kami akan masuk dari sisi depan untuk menarik perhatian jika diperlukan, atau melumpuhkan penjaga luar sebelum mereka sempat memberi sinyal.""Lalu bagaimana dengan sisi belakang?" tanya Sandy sambil
Pak Herman melangkah menjauh ke sudut perpustakaan yang lebih privat, menjauh dari jangkauan pendengaran Gelar dan Bita. Jemarinya menekan rangkaian nomor yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi, namun masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Begitu sambungan terhubung, nada bicaranya berubah menjadi berat, penuh wibawa yang menunjukkan posisinya sebagai pemimpin besar."Harto? Ini Herman. Aku butuh bantuan besarmu sekarang juga," ujar Pak Herman tanpa basa-basi. "Ada sebuah van hitam yang membawa lari orang dekatku di sekitar Desa Srintil. Tolong kerahkan semua kenalan, jaringan, dan teman-temanmu di sana. Pantau setiap jalan keluar desa. Van seperti itu sangat jarang ada di daerahmu, pasti mudah dikenali oleh warga. Kabari aku secepatnya, aku akan langsung terbang ke Jawa Timur sekarang juga."Setelah menutup telepon dengan ekspresi tegang, Pak Herman berbalik menghampiri Gelar dan Bita yang telah menunggu dengan kecemasan yang terpancar jelas di wajah mereka."Barusan Ayah mengh
Gelar menyentak, membela diri mati-matian dari godaan para sahabatnya. “Malarindu dari Hongkong?! Yang benar saja kamu, Jer! Aku sedang memikirkan bisnis. Larasa Company itu prospeknya sangat besar!”Jerry dan Sandy terkekeh bersamaan, menikmati kepanikan Gelar. Sandy menggoda, "Kalau tidak merasa
Kembali ke posisi Sabita. Setelah diajak pergi oleh pria paruh baya penyelamatnya, ia dibawa menjauh dari rumah tua yang menjijikkan itu. Mereka menaiki sebuah mobil double cabin berwarna gelap yang terparkir agak jauh, tersembunyi di balik semak-semak, menunjukkan betapa kebetulannya kedatangan pr
Di atas ranjang king size yang mewah, Bita tergolek lemah tanpa busana, hanya diselimuti oleh selimut putih hotel yang tebal. Kehangatan selimut itu terasa kontras dengan dinginnya kehampaan yang menjalar di hatinya. Di sampingnya, Gelar yang juga tanpa busana tampak sedang asyik membuka ponsel dan
Bita melangkah mundur dengan tergesa-gesa, wajahnya pucat pasi, hingga punggungnya mendapati dinding dingin kamar hotel. Ia menempel pada permukaan itu, tak bisa mundur lebih jauh lagi."Tidak, apa maksud Anda? Saya tidak untuk dipesan," ucap Bita, suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha keras
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore