LOGIN⚠️WARNING! KAWASAN DEWASA. Aku terlahir tak diharapkan, hingga akhirnya aku tersisih. Langkah kakiku gontai dalam pelarian di Ibu Kota, tanpa sanak tanpa saudara. Aku ingin sukses di Jakarta ini, agar kelak bisa kukatakan pada mereka, "Aku bisa berhasil tanpa kalian." Sayangnya, harapanku musnah saat aku justru dijebak seorang mucikari dan dipekerjakan olehnya sebagai wanita penghibur. Tak berhenti disitu, aku justru kenal dengan seorang pelanggan tampan yang semakin merubah tujuan awalku pergi ke Jakarta. "Kau memiliki istri, Mas Gelar?" "Ya, Bita, aku memiliki istri." "Lalu, kenapa kau memilih 'jajan' denganku?" # #
View More“Aku tidak mau tahu," seru Pak Johan dengan suara bergetar. "Karena kalian terlambat membayar utang dua ratus lima puluh juta itu, maka sekarang kalian harus membayar lima ratus juta!" teriak Pak Johan, sang rentenir desa.
Pak Kusen, ayah Bita, memohon dengan sangat. Ia melipat kedua tangan di depan dada. "Tolong, Pak Johan. Beri kami keringanan waktu agar kami bisa membayarnya." Pak Johan merengut, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Waktu? Kalian tidak memiliki jaminan apa pun. Atas dasar apa aku berani memberikan kalian kelonggaran waktu? Bahkan, meski diberikan waktu dua puluh tahun sekalipun, kalian tidak akan mampu membayarnya!" Bu Ita, ibu Bita, mulai menangis panik. "Kami akan berusaha, Pak. Saya mohon." Brak! Pak Johan menggebrak meja dengan keras, membuat seisi ruangan terhenyak. "Sudah kubilang, kan? Kalian itu tidak memiliki jaminan apa-apa. Jangan hanya bisa memberikan janji mimpi padaku!" Sabita hanya diam, menatap dingin, tanpa ada niatan untuk ikut campur urusan utang tersebut. Baginya, itu adalah konsekuensi yang harus Ayah sambungnya tanggung karena hanya menghamburkan uang untuk mabuk-mabukan dan judi. Pak Johan beralih menatap Bita. Tatapannya berubah total, menjadi mesum dan menjijikkan. Ia mencolek dagu Bita, matanya berkedip menggoda. "Gadis cantik, kenapa diam saja, hah?! Apa kau tidak ingin membantu orang tuamu untuk melunasi utang ini?“ Tiba-tiba, mata Pak Kusen berbinar sesaat. Ia seolah menemukan solusi. "Pak Johan, kami memang tidak memiliki uang, tetapi kami memiliki Bita. Bagaimana jika putri kami saja yang kamu gunakan sebagai alat pembayaran?" Seketika Bita tersentak, menatap ayahnya dengan sorot tak percaya. "Bapak! Jangan asal bicara dong! Apa-apaan ini?!" Pak Kusen menatap tajam Bita, tanpa sedikitpun rasa kasihan. "Buat apa aku peduli padamu? Kamu, kan, bukan anak kandungku. Apalagi selama dua puluh lima tahun aku menanggung hidupmu, seharusnya kamu menggantinya!" Bu Ita sejenak terlihat kaget, namun tiba-tiba ia ikut mengangguk. "Bita, perkataan Bapakmu ada benarnya. Bukankah kamu nanti justru bisa hidup enak di rumah Pak Johan?" Pak Johan manggut-manggut, menyambut ide itu dengan tawa kecil. "Hehe, orang tuamu cukup cerdas juga ternyata, Bita!" Bita memicing, menatap Ibunya dengan perasaan tak percaya. Muncul perasaan terbuang yang seketika menyesak ke dalam jiwanya. Ia meragukan apa yang baru saja didengarnya. Lalu air mata Bita mulai mengalir deras di atas pipi. "Tidak! Ibu, aku ini anakmu, Bu. Aku memang bukan anak kandung Bapak, tetapi aku anak kandungmu, Bu!" Bu Ita tersenyum getir, senyum yang terasa dingin. "Kehadiranmu tak diharapkan, Bita. Kelahiranmu adalah kesalahan pacar Ibu yang dulu menghamili Ibu dan pergi minggat entah ke mana. Kamu harusnya berterima kasih karena selama ini masih diterima oleh Pak Kusen, meski dia bukan ayahmu. Jadi, kali ini, tolong balas kebaikannya." Bita menggeleng, menangis tersedu-sedu. "Ibu! Setega itu Ibu dengan darah dagingmu sendiri? Apakah nurani Ibu sudah mati?" ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Aku sudah dewasa, Bu. Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri!” Pak Johan yang menyaksikan pertikaian kecil tersebut merasa tak peduli. “Sepertinya diskusi kalian cukup alot. Silakan kalian rembukkan dulu urusan ini. Aku tak akan ikut campur masalah internal di keluarga kalian,” ia kemudian melangkah pergi begitu saja. — Sehari kemudian, Bita sedang menyetrika pakaiannya saat tiba-tiba terdengar panggilan keras Pak Kusen dari arah ruang tamu. “Bitaaa!“ Bita masih merasakan api amarah yang belum padam di dalam dadanya sejak perkataan Pak Kusen kemarin yang ingin memberikan dirinya pada Pak Johan. Dengan malas Bita melangkah masuk dan melihat Pak Kusen dan Ibunya sedang duduk di ruang tamu sambil menatapnya. “Ada apa, Pak?“ tanyanya dengan wajah enggan. Pak Kusen berdiri, menatap tajam Bita. “Pak Johan baru saja menemui Bapak tadi pagi di ladang. Dia meminta keputusan secepatnya. Jadi, Aku dan Ibumu sepakat untuk memberikanmu pada Pak Johan sebagai pelunasan utang.” Bita menatap tajam ke arah Pak Kusen dan Bu Ita. Ada kepedihan yang muncul dari kilat tatapannya. Ia seperti tak percaya jika kalimat itu diucapkan oleh orang yang selama ini ia panggil sebagai ‘Bapak’, orang yang sudah dua puluh lima tahun ini tinggal serumah dengannya. Bita susah payah menahan agar air mata supaya tidak jatuh dari kelopak matanya. “Itu kesepakatan kalian, bukan keputusanku. Aku tetap tidak setuju.” Bu Ita menyela. “Bita, kau harus tahu cara berbakti pada kami. Lagipula, jika kau sudah menjadi miliknya, kesejahteraanmu dan keluarga akan terjamin. Kita akan kaya raya!” ucapnya penuh penekanan. Bita tersenyum dingin. “Maaf, Bu. Aku tidak sependapat. Aku ini manusia. Aku adalah wanita dewasa yang memiliki akal dan martabat, bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan.” # #Waktu seolah terbang begitu cepat di tengah balutan kebahagiaan yang mereka bangun di Yogyakarta. Tanpa terasa, tujuh hari telah berlalu sejak kedatangan mereka di kota ini. Agenda bulan madu yang awalnya terasa begitu panjang, kini sudah mendekati garis akhir. Di dalam kamar Diamond Suite, Bita sedang melipat beberapa pakaian dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, sementara Gelar sedang sibuk memeriksa jadwal kepulangan mereka melalui ponselnya."Mas, tidak terasa ya? Lusa kita sudah harus kembali ke Jakarta. Aku mulai rindu berat pada Thomas dan Thomson," ujar Bita sambil memasukkan oleh-oleh mainan kayu ke dalam koper.Gelar berjalan mendekat, memeluk bahu istrinya dari samping. "Aku juga, Sayang. Jakarta sudah menunggu kita, begitu juga dengan anak-anak. Tapi aku janji, kehidupan kita di sana tidak akan lagi penuh tekanan seperti dulu. Aku akan memastikan kalian aman dan bahagia."Namun, takdir yang manis itu mendadak berubah menjadi pahit dalam sekejap mata. Sore hari, menj
Tiga hari telah berlalu sejak kedatangan mereka di kota gudeg ini. Dari rencana awal satu minggu agenda bulan madu yang telah disusun rapi oleh tim asisten Gelar, sebagian besar waktu justru mereka habiskan di dalam kedapnya dinding Diamond Suite Hotel JogjaJaya. Ruangan mewah itu telah menjadi saksi bisu bagaimana dua jiwa yang lama dahaga akan kasih sayang saling menuntaskan rindu dengan cara yang paling primitif sekaligus paling suci.Pagi itu, Bita berdiri di depan jendela besar, menatap hiruk-pikuk kendaraan yang mulai memenuhi jalanan di bawah sana. Ia merasa fisiknya sedikit letih, namun hatinya jauh lebih tenang. Trauma yang di awal berangkat sempat menyergap kini perlahan terkikis oleh perhatian dan kasih sayang tanpa henti yang diberikan Gelar.Gelar menghampirinya, mengenakan jubah mandi putih yang senada dengan milik Bita. Ia memeluk istrinya dari belakang, menciumi pundaknya yang masih menyisakan beberapa tanda kemerahan akibat percintaan mereka semalam. "Bita, ini sudah
Waktu seolah kehilangan maknanya di dalam dinding-dinding mewah Diamond Suite Hotel JogjaJaya. Setelah tiga jam tenggelam dalam lautan gairah yang meluap-luap sejak fajar menyingsing, Bita akhirnya terjaga saat matahari sudah berada tepat di atas kepala. Tubuhnya terasa lemas namun ringan, sebuah perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Di sampingnya, Gelar sudah terjaga lebih dulu, bersandar pada tumpukan bantal sambil menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh dengan kemenangan dan cinta yang tak terukur."Selamat siang, Nyonya Aditama. Apakah tidurmu nyenyak setelah petualangan panjang kita pagi tadi?" tanya Gelar dengan suara bariton yang serak namun terdengar sangat lembut.Suara itu mengingatkan Bita saat pertama kali mereka bertemu dan berkenalan 5 tahun yang lalu. Kalau itu Bita langsung terkesan mendengar suara bariton Gelar Aditama yang menurutnya sangat dewasa dan bernuansa mengayomi.Bita hanya bisa tersenyum malu-malu, menarik ujung selimut untuk menutupi dada
Gelar merasakan darahnya berdesir hebat saat jemari Bita bertautan di tengkuknya. Binar kekaguman di mata Gelar perlahan berubah menjadi api gairah yang dalam dan gelap, namun tetap sarat dengan pemujaan. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Bita, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Aroma parfum vanilla yang 'gurih' bercampur dengan wangi alami kulit Bita seolah menjadi candu yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan diri Gelar."Bita... kamu benar-benar ingin menyiksaku, hm?" bisik Gelar dengan suara serak, napasnya terasa panas di permukaan kulit pipi Bita.Bita tidak menjawab, namun ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gelar, menghirup aroma maskulin yang selama lima tahun ini hanya mampu ia bayangkan dalam mimpi. "Aku hanya ingin menjadi milikmu seutuhnya, Mas. Tanpa ada bayang-bayang siapa pun lagi. Aku ingin kamu menghapus semua ketakutanku," jawab Bita dengan suara yang bergetar namun penuh determinasi.Gelar tidak menunggu lebih lam












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews