Chapter: 42.Maafkan Aku SabrinaTanpa sadar sandi berjalan kearah jembatan, tatapannya kosong...ingatan terakhirnya adalah saat dia melamar sabrinaWaktu itu Sabrina berdiri dan tersenyum. "Kak Sandi? Tumben datang ke sini." Sandi melirik ke arah dalam rumah, memastikan suasana sepi. "Aku ingin bicara serius denganmu. Boleh?" Sabrina mengangguk, sedikit penasaran. Mereka pun duduk di bangku teras. Sandi terlihat tenang, tetapi ada ketegangan samar di sorot matanya. "Aku sudah bekerja selama beberapa tahun dan posisiku di kantor semakin baik. Aku punya rumah sendiri, tabungan cukup, dan hidup yang stabil," katanya, seolah membaca daftar pencapaian. Sabrina mengangguk, masih belum menangkap maksudnya. "Aku ingin menikah," lanjut Sandi, tatapannya menusuk langsung ke mata Sabrina. Sabrina mengerjap. "Oh. Selamat ya, Kak." Sandi tersenyum kecil. "Maksudku... aku ingin menikah denganmu, Sabrina." Jantung Sabrina berdetak lebih cepat. "Apa?" Sandi menyesap napas sebelum melanjutkan, suaranya semakin ma
Terakhir Diperbarui: 2025-07-02
Chapter: 41.PenyesalanSandi terduduk di kursi tua ruang tamu. Bu Rina menatapnya dengan prihatin dari dapur.“Kamu masih belum bisa merelakan, ya?” suara ibunya lembut, tapi langsung menusuk ke dalam hatinya.Sandi tidak menjawab. Ia hanya mengusap wajahnya yang terasa panas.“Dulu kamu memilih Karina, memilih Nadine, San. Sekarang kamu harus menerima kenyataan bahwa Sabrina juga sudah memilih jalannya sendiri.”Sandi menghela napas panjang. “Aku nggak menyalahkan siapa-siapa, Ma… Aku cuma… aku nggak pernah berpikir semuanya akan berakhir begini.”Bu Rina duduk di sampingnya. “Hidup nggak bisa ditebak. Tapi satu hal yang pasti, kalau kamu terus melihat ke belakang, kamu nggak akan pernah maju. Andro memang keterlaluan tapi dia juga anak ibu, ”Sandi diam. Kata-kata ibunya benar, tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang?Dunia sudah berubah. Semua orang sudah bergerak maju.Hanya ia yang masih tertinggal di tempat yang sama.-Malam itu, Sandi tidak bisa tidur. Ia bolak-balik di atas kasurnya, pikirannya dipen
Terakhir Diperbarui: 2025-06-30
Chapter: 40. PengangguranSandi melemparkan tubuhnya ke atas kasur tua, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan noda lembab. Hari ini sama seperti kemarin—panas, melelahkan, dan penuh dengan rasa kecewa. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk bangkit, tapi dunia seolah tak lagi menginginkannya. Tiba-tiba, suara dari televisi di ruang tamu menarik perhatiannya. Suara riuh penggemar, teriakan histeris, dan dentuman musik memenuhi rumah kecil itu. Sandi bangkit perlahan, berjalan menuju ruang tamu dengan rasa penasaran. Di layar, sebuah konser besar sedang disiarkan secara langsung. Lampu sorot berkedip, dan di tengah panggung, seorang pria muda berdiri dengan penuh percaya diri. Seorang pria yang sangat ia kenal. Andro. Adiknya yang dulu selalu tertinggal di sekolah. Yang dulu sering dihina karena tidak secerdas Sandi. Yang dulu selalu berlindung di balik bayangannya. Kini, Andro berdiri di atas panggung megah, dikelilingi oleh ribuan penggemar yang meneriakkan namanya. Dengan jaket kulit, rambut
Terakhir Diperbarui: 2025-06-30
Chapter: 39.Pulang Dengan Rasa MaluLangit sore memancarkan warna jingga yang suram ketika Sandi melangkahkan kakinya ke halaman rumah orang tuanya. Sudah bertahun-tahun ia tidak menginjakkan kaki di sini, dan kini, pulang dalam keadaan seperti ini terasa seperti kekalahan. Dulu, ia adalah kebanggaan keluarga. Si jenius yang selalu menjadi nomor satu di sekolah, yang membangun bisnisnya sendiri dari nol dan pernah masuk dalam jajaran pengusaha muda paling berpengaruh. Sekarang? Ia hanya seorang mantan narapidana yang bahkan tidak bisa mencari pekerjaan. Sandi mengetuk pintu dengan ragu. Tak lama, pintu terbuka, menampilkan wajah ibunya—Bu Rina. Mata perempuan itu membesar, seolah tak percaya dengan sosok yang berdiri di hadapannya. "Sandi..." suaranya bergetar. Sandi menunduk, merasa terlalu malu untuk menatap ibunya. "Ma... Boleh aku tinggal di sini sebentar?" Bu Rina menutup mulutnya dengan tangan, matanya mulai berkaca-kaca. "Ya Allah, anakku..." Tanpa banyak tanya, ia langsung menarik Sandi ke dalam pelukan
Terakhir Diperbarui: 2025-06-30
Chapter: 38.KebangkrutanSandi melangkah keluar dari gerbang penjara dengan langkah berat. Matahari menyengat kulitnya, mengingatkan bahwa dunia di luar masih berjalan tanpa dirinya. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Di dalam sana, hari-harinya berlalu lambat, dipenuhi rasa bersalah dan kemarahan yang ia telan sendiri. Kini ia bebas. Tapi kebebasan ini terasa kosong. Tak ada siapa pun yang menjemput. Tak ada sahabat, keluarga, atau bahkan Nadine, mantan istrinya. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah menuju halte bus terdekat. Tangannya merogoh saku jaket tua yang ia bawa sejak masuk ke dalam penjara. Isinya hanya beberapa lembar uang yang diberikan petugas sebelum ia keluar. Cukup untuk ongkos bus dan mungkin sebungkus rokok. Selama perjalanan, pikirannya melayang ke masa lalu. Ke saat-saat di mana ia masih punya segalanya—keluarga, bisnis, dan kehormatan. Semua itu hancur karena satu kesalahan. Perusahaannya bangkrut, lalu kasus hukum menjeratnya. Namun, yang paling menyakitkan bukanlah kehil
Terakhir Diperbarui: 2025-06-30
Chapter: 37.Nasib Yang TertulisDi sebuah jalan sepi yang diterangi lampu jalan temaram, Sandi melaju dengan mobil hitamnya yang tersisa. Hatinya berdegup kencang saat ia menuju sebuah vila kecil yang pernah menjadi tempat Karina menghabiskan waktu bersama. Setiap tikungan jalan diiringi dengan bisikan amarah dan dendam yang telah lama terpendam.Sesampainya di depan pintu gerbang vila, Sandi keluar dari mobil dengan langkah cepat dan penuh tekad. Ia menyelinap ke pekarangan, mendekati pintu utama dengan hati-hati. Di balik jendela, terlihat sosok Karina yang sedang membaca di ruang tamu dengan lampu meja menyinari wajahnya.Dengan napas tercekik, Sandi menekan pintu dengan keras. Pintu terbuka, dan tanpa sempat Karina berteriak, Sandi sudah mendekat dengan pisau terhunus di tangannya."Karina!" teriak Sandi, suaranya penuh kebencian. "Kau pikir aku akan terus terpuruk karena ulahmu?"Karina terkejut, segera bangkit dan melangkah mundur. "Sandi, apa yang kau lakukan? Tenanglah!" serunya, berusaha menjauh dari ancama
Terakhir Diperbarui: 2025-06-30
Chapter: Ancaman CarlosMimi akhirnya melewati fase kritis.Trombositnya perlahan naik. Demamnya turun. Dokter mengizinkan rawat jalan beberapa hari kemudian.Edgar sudah pulang ke rumah Mariana.Ia memilih istrinya.Ia memilih kandungan Mariana.Dan pilihan itu… tidak pernah benar-benar dimaafkan oleh Dinda.---Dua minggu kemudian.Sebuah akun anonim di media sosial mengunggah foto lama.Foto Edgar.Bersama Dinda dan Mimi.Captionnya pendek.> “Anak yang ditelantarkan demi istri kaya.”Nama Edgar tidak disebut lengkap.Tapi wajahnya jelas.Dan dunia mereka terlalu kecil untuk tidak mengenali.Dalam hitungan jam, gosip menyebar.Grup WhatsApp pengusaha.Forum bisnis.Lingkar sosial elite.Semua mulai berbisik.---Eduardo Argantara tidak pernah suka gosip.Ia lebih tidak suka dipermalukan.Pria itu berdiri di ruang kerjanya yang luas, jendela tinggi menghadap kota.Tablet di tangannya menampilkan berita yang sama.Judulnya makin liar.> “MENANTU EDUARDO ARGANTARA PUNYA ANAK DI LUAR NIKAH?”Tangannya mengepa
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Mimi Sakit Beberapa minggu berlalu. Sampai suatu sore, ponsel Edgar berdering tanpa henti. Dinda. Ia menatap layar lama sekali sebelum akhirnya mengangkat. “Kenapa lagi?” suaranya datar. Di seberang, bukan tawa. Bukan sindiran. tapi tangisan “Edgar… Mimi panas tinggi… 40 derajat. Dokter bilang trombositnya turun. Mereka curiga DBD.” Edgar langsung berdiri. “Apa?” “Kamu bisa datang sekarang? Mimi manggil kamu terus…” Edgar terdiam. Refleksnya ingin langsung pergi. Tapi pikirannya melompat ke kamar di lantai atas. Mariana. Yang sedang hamil muda. Yang beberapa hari ini sering mual dan emosi. Yang baru saja kehilangan ketenangannya karena perempuan masa lalu Edgar. “Aku…” Edgar menelan ludah. “Kamu kan udah ada di sana.” Dinda terdiam sesaat. Lalu suaranya berubah. “Jadi kamu nggak datang?” “Aku nggak bilang nggak akan datang. Aku cuma—” “Kamu takut sama istrimu ya?” potong Dinda tajam. “Atau kamu memang udah nggak sayang sama Mimi?” “Jangan mulai lagi.”
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Nyidam lagiMalam pertama, keanehan itu muncul. Mariana sedang tiduran di kamar, tiba-tiba ingin melihat Edgar memakai daster bunga-bunga warna shocking pink—bukan kaos, bukan kemeja, tapi daster bekasnya sendiri.“Sayang, pakai ini,” katanya sambil menyerahkan daster.Edgar melongo. “Loh? Aku cowok, Mariana… masa harus pakai daster?”Mariana menatapnya tajam. “Kalau nggak mau, aku nangis tiga hari tiga malam. Kamu siap, atau aku mulai hari ini?”Edgar pucat, tapi patuh. Sepuluh menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan daster gombrong, perutnya menggelambir, bulu kakinya nongol. Mariana ngakak sampai air mata menetes. “Aduh, Edgar… kok seksi banget! Jalan ala model dong!”Edgar manyun, tapi tetap jalan catwalk ala tukang ojek jadi model. “Ya Allah… kenapa cobaan istri hamilku kayak gini…”Malam itu, Mariana ketawa cekikikan, Edgar meringkuk malu, tapi tetap sabar.---2. Nyidam Nyolong ManggaBesok siang, nyidamnya naik level. Mariana menatap pohon mangga tetangga. Bukan mangga yang di
Terakhir Diperbarui: 2026-02-02
Chapter: Maya2Malam itu Mariana sudah siap dalam mode interogasi. Bantal sudah ia taruh di pangkuan, teh hangat sudah diseduh, dan tatapannya sudah disetel level “detektif KPK.” Edgar duduk di depannya, pura-pura sibuk scroll HP. Padahal jelas dari tadi Mariana sudah memicingkan mata, menatap setiap gerak-geriknya. “Edgar,” Mariana memulai dengan nada pelan tapi tajam, “aku mau tanya sesuatu. Kamu dulu pernah… main sama Maya nggak?” Edgar langsung batuk. Padahal di ruangan itu tidak ada debu. “Hah? Main? Main apa nih? Main catur? Main kelereng? Main UNO?” Mariana menaikkan satu alis. “Main yang bikin kamu panik kalau aku sebut. Jadi jawab aja, Edgar.” Edgar tertawa kering. “Hehe… sayang, kamu lucu banget. Aku sama Maya dulu tuh… ya, paling cuma main dokter-dokteran aja. Serius.” Mariana hampir menyembur tehnya. “Dokter-dokteran? Maksudnya gimana?” Edgar langsung sok dramatis, tangannya gerak-gerak seperti sedang storytelling. “Iya, waktu itu Maya bilang pengen belajar anatomi. Katanya biar l
Terakhir Diperbarui: 2026-02-02
Chapter: MayaMariana baru saja selesai kontrol ke dokter kandungan. Seharusnya hari itu biasa saja, tapi alam semesta sepertinya lagi punya sense of humor. Begitu dia melangkah ke lobi rumah sakit, matanya langsung nangkep sosok perempuan berseragam bidan, rambut diikat rapi, senyum ramah. Bidan itu baru saja ngobrol sama pasien lain, lalu menoleh ke arah Mariana dan Edgar—tepat saat dia lewat.Hawa dingin aneh langsung menusuk tulang punggung Mariana. Insting perempuan memang jarang salah.“Eh… Maya?” suara Edgar muncul dari belakang, seakan muncul dari celah waktu.Mariana berhenti, menatap Edgar. “Maya? Kamu kenal dia?”Bidan itu tersenyum kaku. “Iya… kita kenal. Hai, Edgar.”Edgar garuk-garuk kepala, jelas-jelas pura-pura bingung. “Hehe… iya, kenal. Dulu… yaaa… gitu deh.”Mariana melipat tangan di dada. “Gitu deh apa? Jangan ‘yaaa’ kayak iklan minuman. Jelasin dong.”Maya tersenyum kaku, wajahnya sudah setengah merah. “Nggak apa-apa, Mbak. Saya dulu pernah temenan deket sama Edgar.”*Temenan d
Terakhir Diperbarui: 2026-02-02
Chapter: Tetep CintaSejak hari itu, rumah Mariana berubah jadi panggung drama penuh suara gebukan, teriakan, dan kadang tangisan kucing garong yang entah nyasar dari mana. Tapi jujur saja, suara kucing itu kalah telak sama suara Mariana tiap kali ngamuk ke Edgar. Dan lucunya, Edgar masih aja setia ngekor dibelakang mariana. kayak satpam mall—walaupun jelas-jelas dia sering jadi korban gebukan. Mariana hamil, iya. Tapi justru kehamilan bikin dia makin beringas. Kayak ada kekuatan supernatural yang mengubahnya jadi kucing garong bunting: sensitif, galak, dan bawaannya pengen nyakar siapa pun yang bikin darahnya naik. Dan pemenang juara satu paling nyebelin, tanpa saingan: Edgar si Jejaka Palsu. Iya, palsu. Barang bekas ngaku asli. Dulu Edgar dengan pede bilang, “Aku suci buat kamu, sayang.” Ternyata? Koleksi mantannya cukup buat satu kecamatan buka arisan rutin. Mariana tahu semuanya. Anehya, Mariana gak pernah cerita ke Ayahnya. Buat apa? Nanti malah ayahnya ngamuk. . Akhirnya rahasia itu dia
Terakhir Diperbarui: 2026-02-02