Share

08

Happy Reading and Enjoy~



"Nikahi aku!"



Allard membalikkan kursinya, menatap tertarik ke arah seorang gadis yang berdiri di hadapannya. Mata gadis itu memancarkan kesungguhan, yang membuat Allard menyunggingkan senyuman tipis.



Mengangkat alisnya dengan gaya sombong, Allard berujar, "Layani aku satu malam, jika pelayananmu memuaskan aku akan mempertimbangkan untuk menikahimu."



Gadis itu tersentak, tubuhnya menegang. Matanya yang berair menatap Allard dengan pandangan gelisah. Dengan gugup ia menggigit bibir bawahnya kecil untuk menyalurkan rasa dingin yang menjalari tubuhnya.




"Ji-jika pelayananku tidak memuaskanmu?"



Mengangkat kedua bahunya ringan, Allard berujar. "Kita tidak jadi menikah."



"Aku tidak mau!"



"Aku juga tidak mau menikahimu, mudah, bukan?"



Gadis itu berkedip, membuat air yang menggenang di matanya jatuh perlahan. "A-aku belum berpengalaman, tuan Allard. Tolonglah kasihani diriku. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa memuaskanmu."



Allard berdiri, sebelah tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Berjalan dengan perlahan guna membuat gadis di hadapannya merasa terintimidasi. Dan memang benar. Tanpa sadar gadis itu mundur selangkah.



Ia mengulurkan tangannya memeluk Luna, menarik pinggang ramping itu mendekat. Aroma vanilla yang manis langsung menerpa hidungnya. Allard menyukai aroma ini. Ia menunduk guna melihat wajah Luna lebih jelas. Gadis itu menatap dengan mata besarnya.



Seperti boneka.



Jika Allard tidak merasakan napas hangat Luna yang menerpa wajahnya, mungkin ia merasa saat ini sedang memeluk manekin. Tubuh dalam pekukannya tegang, wajah yang kaku dengan bola mata yang membesar.



"Baiklah, dimulai dari hal yang paling kecil saja. Cium aku, di bibir."



Gadis itu langsung menggigit kecil bibir bawahnya, matanya bergerak gelisah. Menandakan saat ini dirinya butuh pertolongan, tetapi persetan dengan itu semua. Allard tidak perduli, menikah bukan sesuatu yang mudah. Jadi, ia harus melihat terlebih dahulu, sejauh mana gadis kecil ini bisa berlayar.



Luna mengalungkan tangannya ke leher Allard. Berjinjit, Lalu ...



Cup.



Sentuhan seringan bulu, bahkan Allard mengira itu ciuman dari bibir kupu-kupu. Mengangkat alisnya dengan sikap mengejek, Allard berucap sadis. "Bahkan anjingku lebih baik ketika berciuman, setidaknya dia pandai memainkan bibir. Kau tidak lolos, Luna. Pulanglah dan pilih jalanmu, menikahi pria tua."



"Aku tidak mau!" Tanpa diduga Luna menangkup pipi Allard, berjinjit lalu kembali menempelkan bibir mereka.



Manis. Bibir gadis ini manis, Allard menahan diri agar tidak mengambil alih. Membiarkan gadis ini berbuat sesukanya. Luna sendiri menggerakkan bibirnya dengan gerakan amatir. Mata gadis itu terpejam rapat, wajahnya terlihat menggemaskan.



Allard tersenyum, gerakan bibir yang amatir ini membuat dirinya terangsang. Pasalnya ia belum berpengalaman menghadapi cewek amatir bahkan hanya untuk sebuah ciuman.



Ketika Luna melepaskan ciumannya, wajah gadis itu memerah, napasnya terengah. Berbanding terbalik dengan Allard yang tidak merasakan apapun.



"Hanya sampai di situ kemampuanmu? Itu hanya menempelkan bibir."



Dahi gadis itu berkerut. "Bukankah ciuman memang menempelkan bibir?" tanyanya dengan polos.



Tawa Allard tercetus. "Aku tidak punya pengalaman dengan perempuan amatir, terlebih dengan gadis kecil sepertimu. Tetapi aku juga tidak bisa membiarkan gadis kecil sepertimu pulang tanpa pengalaman."



Allard menunduk, mengecup ujung hidung Luna sebagai bentuk pemanasan sebelum melabuhkan bibirnya. Menggigit kecil bibir Luna agar terbuka lalu menelusupkan lidahnya, mengait lidah Luna dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli.



Allard mengerang, merasakan tekstur bibir Luna yang lembut dan panas. Manis bibir Luna membuatnya kehilangan akal. Bibir ini membuatnya kecanduan.



Luna merasakan keanehan pada tubuhnya, sejak Allard melabuhkan bibirnya. Luna merasa dirinya melayang. Terlebih, saat bibir Allard bergerak di atas bibirnya.



Ada sensasi panas yang menggelenyar, membuatnya mau tak mau meremas jas depan pada bagian dada milik Allard. Ketika Allard mengerang, Luna merasa kedua kakinya lumpuh.



Tubuhnya seketika lemas dengan hasrat yang semakin bergelung. Tidak bisa dibiarkan, ini sesuatu yang salah. Ia memukul-mukul dada Allard, selain dirinya yang merasa panas Luna juga kehabisan napas. Ketika tautan bibir mereka berpisah, Luna terengah dengan wajah memerah. Sementara pria itu tampak biasa saja. Senyum sinis terukir di bibir pria itu.



"Itu namanya ciuman. Sekarang, cium aku dengan benar."



"Tap-tapi ...."



"Tidak boleh membantah, ini adalah syarat paling ringan yang bisa ku berikan padamu. Untuk membuatku bisa menikahimu tentunya tidak akan mudah. Ada beberapa syarat yang harus kau patuhi. Syarat yang semakin hari akan semakin bertambah dengan level yang berbeda-beda."



Melihat Luna yang diam saja, Allard kembali menambahkan. "Waktuku tidak banyak. 1 jam yang ku gunakan untuk meladenimu sama saja dengan membuang ratusan dollar. Sebelum kau bisa melunasi hutang keluargamu yang bangkrut itu, kau juga harus melunasi hutangmu padaku. Semakin kau menunda waktumu, semakin banyak dollar yang terbuang sia-sia."



Ha? Pria di hadapannya saat ini Allard Washington, kan? Iya, kan? Kenapa pria ini kelihatan pelit, padahal perusahaannya masuk dalam jejeran 5 besar di negaranya.



"Ratusan dollar atau menciumku dengan benar? Pilihan ada di tanganmu."



Luna mendengus, lelaki ini menyebalkan. Bibirnya sudah tidak perawan lagi, apakah itu belum cukup?



Luna berjinjit, matanya menatap manik abu itu dengan gugup. Ketika bibirnya tepat berada di atas bibir Allard, Luna berucap, "Kenapa kau tidak menutup matamu?"



Tawa kecil tercetus. "Memangnya kenapa jika mataku terbuka?"



"Ci-ciuman harus menutup mata, bukan? Luna menjauhkan wajahnya. "Aku tidak bisa menciummu jika kau tidak menutup mata."



Allard mempererat jarak mereka. "Ini masalah bagiku, ternyata kau lebih polos dari dugaanku." Ia menunduk lalu menggigit bibir bawah Luna. Matanya menatap sinis ke arah Luna yang melotot kaget.



"Aku akan menutup mataku jika kau berhasil membuatku terhanyut dengan ciumanmu. Tetapi jika aku tidak merasakan apapun, mata ini akan tetap terbuka. Dan kau gagal."



"Jika aku berhasil menciummu dan membuatmu menutup mata, kau akan menikahiku, kan?"



Allard terbahak. Puluhan gadis di luar sana memohon untuk dinikahinya, bersujud di kakinya, bersandiwara hamil anaknya, bahkan ada yang nekat bunuh diri. Itu semua dilakukan untuk mengikat Allard dalam pernikahan, tetapi sayang, tidak ada yang berhasil satupun. Sekalipun wanita itu mati, Allard tidak perduli. Bagaimana bisa ia menikahi gadis kecil hanya karena ciuman? Tentu saja itu akan menjadi lelucon terlucu.



Memainkan gadis kecil yang polos membuatnya terhibur. Apa mungkin karena ia terlalu sering bermain dengan ular, sehingga melupakan bahwa kelinci kecil lebih menyenangkan.



"Tidak, sudah ku katakan kau harus memenuhi ujian yang lain." Allard mendekat, berbisik dengan nada dingin di telinganya. "Sebuah ciuman tidak bisa membuatku percaya padamu. Berikan tubuhmu sekarang dan jadi pelacurku. Atau jadilah boneka yang diam dan penurut. Jika kau tau batasan, aku tanpa ragu akan menikahimu."



Luna meremas tangannya dengan gugup. "Aku setuju."



Bersambung...


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status