LOGINHanna Alexander, terpaksa menikah akibat kecelakaan yang membuat dirinya hamil. Namun, pernikahan hanya berjalan sampai anak mereka lahir. Keduanya bercerai, meninggalkan bayi kecil bersama Evan—Julion. Hingga, 10 tahun kemudian hal tak terduga terjadi. Dimana, Hanna harus kembali terlibat dengan Evan dan menjadi ibu susu bagi putra kecil pria itu. “Aku bukan ibu yang baik, tapi aku ingin putriku tahu bahwa aku adalah ibunya!”~Hanna Alexander “Tidak, cuma mama Naura ibunya Maira.”~Maira Gavaputri
View MoreHanna yang sedang menyusui Baby Raihan, seketika tidak bisa fokus karena pikirannya yang sedang sibuk memikirkan bagaimana cara ia bisa pulang sebentar ke rumahnya untuk menjenguk ibunya. Beberapa hari ini Hanna tidak bertemu dengan ibunya, dan dia sangat ingin melihat kondisi ibunya yang sedang sakit. Namun, Baby Raihan yang sedang menyusu, tidak bisa lagi ditinggalkan karena anak itu tidak mau lagi minum asi dari botol. Oek! Oek! “Reihan... tante ada di sini, Nak," kata Hanna, sambil mencoba menenangkan Baby Raihan yang mulai menangis karena merasa ketegangan dari ibu susunya. Namun, Babby Raihan tidak mau diam, dia terus menangis dan menggenggam-genggam tangan Hanna. Hanna merasa sedikit sabar, mencoba untuk fokus pada menyusui Baby Raihan, namun pikirannya terus melayang ke ibunya. "Aku harus pulang sebentar, tapi bagaimana dengan Reihan?" kata Hanna, sambil berbicara sendiri. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena Raihan sangat bergantung pada asi langsung dar
Tangan Hanna membuka gagang pintu kamar dengan hati-hati, lalu pintu terbuka dengan pelan. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan melihat Reyhan yang tertidur pulas di tempat tidurnya. Bayi itu sama sekali tidak rewel, membuat Hanna tersenyum kecil. Hanna mendekati tempat tidur Reyhan dan mengusap pelan pipi cumbinya yang lembut. Dia merasa hatinya dipenuhi dengan kasih sayang dan kehangatan. "Tidur yang nyenyak ya, sayang," bisik Hanna, suaranya hampir tidak terdengar. Reyhan yang sedang tertidur, sedikit menggerakkan kepalanya, membuat Hanna tersenyum lagi. Dia terus mengusap pelan rambut Reyhan, merasa bahagia melihat bayi itu tidur dengan damai. Hanna terus mengusap pelan rambut Reyhan, merasa bahagia melihat bayi itu tidur dengan damai. Dia merasa seperti memiliki dunia di tangannya, dengan damai. Tiba-tiba, Hanna teringat dengan Maira yang masih di kamar sebelah. Dia merasa sedikit bersalah karena tidak bisa memberikan perhatian yang sama kepada Maira. Hanna memutus
Huaaaa!Tangisan Maira terdengar pecah dari belakang kursi kemudi, seperti letusan gunung yang telah lama menumpuk. Anak itu masih tidak rela pulang ke rumah, masih ingin tinggal di rumah Cila yang menurutnya sangat menyenangkan. "Maira, kenapa kamu?" tanya Evan, suaranya terdengar lembut tapi sedikit panik, sambil menyitir mobil dengan hati-hati.Maira yang menangis, mengangkat wajahnya yang merah dan basah oleh air mata. "Ini semua karena papa! Maira tidak mau pulang... kenapa papa jemput Maira," teriak Maira di sela-sela tangisnya, suaranya terdengar seperti protes yang tidak ingin didengar.Evan yang mendengar itu, menghela napas dan suaranya sedikit meninggi. "Diam, Maira. Kamu masih punya rumah sendiri kan? Papa tidak izinin kamu tidur di rumah orang lain," ujar Evan, mencoba untuk menenangkan anaknya, tapi suaranya masih terdengar sedikit tenang.Hanna yang duduk di samping kemudi hanya diam saja melihat interaksi anak dan ayah itu yang sedang berdebat.Maira yang masih mena
Sementara di rumah Marco, kedua gadis kecil sedang asik bernyanyi bersama melalui mikrofon yang tersambung dari televisi. "Kupu kupu terbang melayang... aku cantik banyak yang sayang... aku anak mami papi lalalala" Kedua anak itu bergoyang-goyang mengikuti irama lagu tersebut, suara mereka yang ceria dan riang memenuhi ruangan.Bella datang menghampiri kedua anak kecil itu, ia tersenyum melihat keasikan mereka. Cila hanya anak tunggal sangat bahagia kedatangan temannya seharian. "Maira..." panggil Bella lembut pada gadis kecil itu, suaranya yang lembut membuat Maira berhenti bernyanyi dan menoleh ke arah Bella.Maira tersenyum, "Iya, Kenapa Tante?" tanya Maira, suaranya yang ceria masih terdengar. Bella duduk di sebelah Maira, "Maira sudah ngabarin orang rumah, karena tidak pulang. Tante takut nanti papa Maira khawatir," kata Bella, suaranya yang manis membuat Maira tersenyum.Cila yang duduk di sebelah Maminya, mengangguk-angguk, "Tapi Maira tidur di rumah kita Mami. Maira bilang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.