Untuk Asa (Indonesia)
Untuk Asa (Indonesia)
Author: ByMiu
1 | Perayaan Kecil-Kecilan

"Selamat ulang tahun, istriku."

Abimanyu, dipanggil Abi, menciumi puncak kepala istrinya mesra. Istrinya hari itu resmi menginjak usia 19. Larasati Wijaya yang baru bangun dari tidurnya langsung kesenangan. Dia memegangi punggungnya, dan nafasnya sedikit terengah saat mencoba beranjak dari kasur. Segera Abi singkiran kue black forest yang baru dia beli semalam, dan membantu berdiri.

"Makasih, mas." Ditiuplah lilin itu, lalu memeluk Abi erat. Tapi agak terhalang oleh perut Laras yang sudah persis bola. Ada dedek bayik. Sudah 9 bulan betah di sana.

"Iya, Ra. Cuman bisa ini aja. Maapin mas ya."

Rara adalah panggilan sedari kecil seorang Larasati.

"Apa sih mas. Aku udah seneng banget tau." Rara terkekeh, mencomot kue itu dengan jarinya, diikuti matanya berbinar. "Mas beli di mana? Enak ih."

"Di deket tempat kerja. Masa? Coba sini suapin."

Manja sekali. Sudah 29 tahun masih merengek minta disuapi. Namun tetap Rara lakukan. Mereka berakhir suap-suapan di atas kasur. Black forest yang sebenarnya tidak seberapa, entah secara harga ataupun rasa, tapi bagi Rara ini luar biasa. Pasalnya gaji Abi di tempat baru tidak sebesar saat menjadi guru di SMA Bakti Persada. Mereka pun banyak berhemat, sehingga kue ini bisa dikategorikan mewah.

"Lucu juga pake tulisan. Tapi kok sebutannya mama? Kan aku baru mau otw jadi mama, belum resmi loh."

Di kue itu ada tulisan; Selamat Ulang Tahun, Mama. Ada gambar hati juga.

"Tanpa kamu ngisi pun, kamu tetep mama. Mamanya Abimanyu Wicaksono."

"Gede dong anakku, mas? Tua juga." Candanya geli.

Abi terkekeh dan menciumi pipi istrinya yang semakin hari semakin gembul saja. Jujur Abi jadi kian senang untuk mencubit dua bongkah daging itu. Pipi maksudnya. "Tua tua gini juga kamu sayang, kan?"

"Heem."

Kalau bisa Abi ingin mengunjungi dedek bayik mereka sebentar saja. Dia kangen. Walau Rara memang ada di pelupuk matanya, dia tetap kangen, dalam artian lain tentu saja. Tapi ini sudah hampir jam setengah tujuh, dia harus berangkat. Abimanyu bekerja di bagian produksi sebuah perusahaan sepatu. Dia merasa sulit kembali ke dunia mengajar selepas namanya menjadi perbincangan hangat selama satu tahun terkahir. Setidaknya, di tempat baru itu tak ada yang mengenalinya.

"Nanti malam kita makan di luar ya. Itung-itung rayain ulang tahun kamu."

"Beneran?!"

"Duh, Ra. Mas nggak budek."

Rara tidak peduli. Dia anteng memeluk tangan Abi. Mesra-mesra tak kenal waktu. Mereka masih punya beberapa menit sebelum Abi pergi untuk menancapkan motor kesayangannya. Rara awalnya bergumam dia mau makan bebek goreng. Berganti ke ayam geprek, lalu ke steak. Abi beristigfar dalam hati. Banyak sekali pilihan Rara.

"Emangnya perut kamu muat?"

"Muat dong. Dedek bayik kan ikut makan. Porsi dia satu, akunya satu."

Abi hanya menggeleng gemas. Rara memang mirip abege, atau bisa dibilang Rara masih pantas disebut demikian karena secara umur saja belum menginjak kepala 2.

"Mau makan apa dong, ma?"

Yang disebut ma shock. Wajah cantik itu bahkan sampai memerah. Rara tahu harus membiasakan diri sebelum si kecil lahir. Mengingat bulan depan sudah memasuki HPL (Hari Perkiraan Lahir). Namun Rara tak bisa menghindar bahwa perasaannya berbunga-bunga.

"Terserah mas aja. Aku ikut." Mendadak Rara kalem maksimal.

"Terserah? Yakin?"

"Iya."

"Yaudah. Nanti papa riset dulu di tempat kerja. Kan mama nggak boleh asal makan."

Rara mengangguk dengan wajah bersemu persis kepiting rebus. Tangannya terulur mengambil sepasang kaus kaki bersih dekat kasur, sebelum diberikan kepada si pemilik. Abi langsung mengenakannya dan mencium bibir Rara secepat kilat.

"Assalamualaikum." Pamit Abi buru-buru usai rapih.

"Walaikumsalam."

Rara melihat Abi melambaikan tangan dari jok motornya dan pergi. Dengan semangat 45, Rara berniat membersikan kamar kosan mereka. Ah ya, nyuci aja dulu deh, pikir Rara. Selanjutnya dia sudah siap perang dengan sikat dan sabun cuci.

Tunggu aku, bebek goreng! Batin Rara kegirangan.

*****

Rara: Jae, keadaan di rumah gimana?

Dikirimkanlah pesan singkat dari Rara ke Jae, adik satu-satunya. Usia mereka terpaut dua tahun saja, jadi mereka bisa dibilang seperti teman. Tak lama balasan dari adiknya datang.

Jae: Mereka ga perlu ditanyain. Lo yang gimana? Udah dapet rumah belum?

Rara menatap kesekeliling kamar kosan berukuran 3x4 ini. Memang cukup besar, tapi jika boleh jujur lebih besar kamar mandi dirinya ketika masih memiliki rumah. Ah, rumah. Rara kehilangan rumah semenjak ketahuan memiliki janin di kandungannya. Orang tuanya mengusir Rara. Jadi jembatan penghubung yang dia punya sekarang hanyalah Jae.

Rara: Udah. Mama sama papa sehat?

Jae: Mereka lagi liburan ke Jepang.

Hati Rara tercubit. Bukan perkara liburannya, tapi ada rasa kesal yang dia rasakan. Untuk ke Jepang bisa. Lalu sesulit itukah menanyakan kabar Rara? Sekali saja? Bukan apa-apa. Rara hanya rindu mama dan papanya.

Jae: Kak, lo kapan lahirannya sih?

Rara: Perkiraan bulan depan. Kasih gue kado ya!

Jae: Mau apa?

Mau pulang...

Tiba-tiba air mata Rara menetes teringat sosok mama. Rindu sekali. Terakhir mereka bertemu yaitu saat mamanya mengusir Rara. Dia sadar sudah membuat mamahnya sakit hati, terkhianati, malu. Akan tetapi dia juga tak bisa mengambil pilihan yang mamanya tawarkan; gugurkan anak itu atau kamu nggak akan pernah lihat mama lagi.

"Heh! Lo tuh kenapa nangis terus sih? Capek gue dengernya!"

Pintu kamarnya dipukul keras-keras. Tentangga kosan. Rara otomatis menggigit bibirnya dan menangis dalam diam. Memang jika Abi sedang bekerja, Rara jadi tidak punya teman bicara. Pikirannya langsung kemana-mana. Istilahnya overthinking. Mau mencari kenalan di kamar kiri kanan pun ditolak duluan. Mereka tahu dirinya hamil di luar nikah. Sekalipun Abi sudah menjadi suaminya, cap sebagai gadis nakal seolah masih lekat.

"M-maaf." Lirih Rara dengan suara kecil.

Lelah berbenah dan menangis menjadikan Rara ketiduran di sore hari. Bangun-bangun dia sudah menemukan Abi yang baru keluar dari kamar mandi. Suaminya hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, dan rambut basahnya dikibas-kibas terus. Padahal potongan rambut itu pendek nan cepak.

"Mas, tuh liat lantainya jadi becek kan."

Entah kenapa dia tiba-tiba sewot pada Abi. Kepalanya pusing dan perutnya sakit serasa kram. Lalu Abi dengan santainya mengotori lantai yang sudah dipel. Terlebih lagi baju kotor Abi ditaruh asal saja. Rara jadi sebal.

"Iya, nanti mas bersihkan. Kamu belum mandi, Ra? Kita jadi pergi nggak?"

"Kenapa emang? Mas nggak mau keluarin uang buat aku jajan?"

Yang kemudian Abi sesalkan pertanyaannya. Betulan bukan itu maksud Abi. Dirinya hanya heran kenapa istrinya terlihat berantakan, seperti habis menangis lama. Jadi Abi khawatir dan pergi keluar untuk makan bersama tidak lagi jadi prioritas. Namun pertanyaan nyelekit Rara menyingkirkan rasa penasarannya.

"Ayo, kita makan di luar. Kamu bebas pilih tempat." Jawab Abi aman. Dia menghindari keributan, walau Abi di kantor sudah membuat list tempat yang aman bagi ibu hamil.

Kini Rara bergantian ngeloyor ke kamar mandi, mulai membersihkan diri. 10 menit berlalu, Rara sudah siap dengan helm yang nangkring di kepalanya, menutupi rambut sebahu yang sengaja dia ikat.

"Makan bebek goreng Haji Slamet gimana, mas? Terus pulangnya jajan ciki sama minuman manis boleh?" Tanya Rara beruntun sambil melingkarkan tangan di perut Abi.

"Boleh dong, sayang. Kamu udah siap?" Motor Abi melesat. Sangat pelan tentunya, ada Rara dan perut besarnya yang mengharuskan Abi ekstra hati-hati. "Tadi kamu kesel karena lapar, ya?"

"Iya." Rara asal jawab saja. Jalanan terlalu berisik dan entah kenapa Abi sejak dulu senang mengajak ngobrol di atas motor. Kalau di atas kasur mah tidak usah ditanya, ehem! Katanya sih Abi senang buat percakapan di jalan biar romantis. Padahal yang Rara dengar cuma suara knalpot motor sang suami.

"Kamu mau kado apa? Shopee kamu mau mas check out-in?" Abi berinisiatif, walau hatinya dagdigdugser. Was-was lantaran tabungannya jauh dari kata banyak, tapi niatan hati selalu ingin menyenangkan perasaan Rara.

"Iya, nanti sekalian pesen pete." Balas Rara lagi.

Abi tertawa sendiri. Dia akhirnya memilih melontarkan sejumlah pertanyaan nanti saat sudah di tempat makan. Setibanya di tempat yang dimaksudkan Rara, mereka turun. Namun belum sempat pesan ini itu, Rara terlebih dahulu meringis kesakitan. Dia memegangi perut buncitnya, menahan nyeri yang perlahan menular pada si suami.

"Mas, sakit..."

Dipegangi dahi Rara yang banjir keringat dingin. "Ra, k-kamu kenapa?"

"Kayaknya dedeknya mau keluar sekarang..."

Abimanyu pun sukses dibuat panik.

-----

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status