Share

Episode 8

Semenjak memulai rutinitas baru, Ceria kini memiliki waktu lebih sedikit untuk mengurus rumah. Baginya mengatur jadwal itu merupakan hal yang terpenting agar semua bisa berjalan dengan baik. Setiap pagi suaminya yang akan berangkat duluan ke kantor, sementara dirinya masih harus mengantar Iren ke playgroup baru kemudian berangkat kerja. Begitulah kegiatannya selama beberapa bulan terakhir. 

Sebuah keberuntungan bagi Ceria memiliki atasan seperti Mr. Mark, ternyata selain tampan, pintar dan kaya dia juga perhatian. Beberapa kali Mark melihat Ceria berjalan tergesa ketika hendak masuk ke kantor karena waktu sudah hampir mepet. Sehingga pada suatu hari Mark memberikan sebuah penawaran. 

“Ceria, how if I send a driver to pick you up every morning? I worry about your safety, then sure it will make my schedule trouble,” ucapnya pada Ceria, lelaki itu memang sudah fasih berbahasa Indonesia tetapi sesekali masih ada saja percakapan yang menggunakan Bahasa inggris. Beruntung Ceria merupakan mahasiswa yang pandai dan bisa dibilang menguasai segala bidang. Setelah beberapa detik berfikir, akhirnya wanita itu menerima tawaran bos nya. 

“Yes Sir, I am glad to hear that, thank you very much,”ucap Ceria dengan mata yang berbinar.

“But for today let me to drive for you,” ucap Mark sambil tersenyum. 

“But I need to pick up my daughter first at grandma home,”Ceria merasa tidak enak.

“It is ok, we go there first,” ucapnya sambil tersenyum. Ceria hanya mengangguk menyetujuinya, toh selama ini, Bagja juga sering berangkat atau pulang bareng juga sama staffnya. Ceria ingin lelaki itu berada pada posisi yang sama sepertinya, dan kebetulan siang tadi Bagja mengirimkan pesan kalau dia pulang cepat hari ini. Waktu yang sangat tepat pikirnya. 

Hari itu selesai dengan baik. Mark betul-betul mengantar Ceria pulang, mereka mampir dulu ke rumah Bu Marta untuk menjemput Iren, kemudian Ceria mengajak Mark untuk mampir dulu ke dapur online, mengingat suaminya sudah menunggunya di rumah. Bagja, walaupun dia pulang lebih dulu, tidak pernah ada inisiatif dia untuk sekedar menjemput Iren. Semua itu baginya adalah tugas perempuan, meskipun kini Ceria sudah memiliki kesibukan lain. 

Mark ternyata sangat menyukai anak kecil, sepanjang perjalanan dia tak henti menggoda Iren. Bahkan Mark berjanji akan membelikan mainan ketika nanti dia pulang ke Jerman untuk Iren. Perjalanan tidak terasa lama karena serunya obrolan, mobil yang mereka tumpangi kini sudah tiba didepan sebuah rumah type 36 yang sangat sederhana. Rumah milik Ceria dan Bagja. 

Wanita itu turun dari mobil dengan menggendong Iren, sementara tangan yang satunya menenteng tas kerja dan makanan yang dibelinya. Ceria mengangguk dan berterimakasih pada bosnya yang mengantarnya itu. Kaca jendela depan perlahan tertutup dan mobil itu melaju meninggalkan rumah sederhana itu.

“Ri, kamu pulang sama siapa?” terdengar suara ketus Bagja dari belakang. Ceria menoleh dan menurunkan Iren dari gendongannya. 

“Bos aku,” jawabnya singkat sambil mendekat kearah suaminya. Dia masih menjadi Ceria yang lama, tetap santun dan menghormati Bagja. Wanita itu meraih tangan Bagja dan kemudian menciumnya. 

“Mas, ayo kita makan bareng, ini aku beli banyak, kebetulan bos aku yang bayarin jadi pilih yang mahal-mahal deh,” ucapnya sambil terkekeh, dia berjalan melewati suaminya yang masih memandang tidak suka. 

“Kenapa dia nganter kamu?” Bagja masih memburunya dengan pertanyaan sambil mengikuti Ceria yang kini duduk di sofa dan sedang melepas sepatunya.

“Karena sopir yang buat ngantar jemput aku tadi ga masuk, dia khawatir terjadi apa-apa sama aku karena sering banget aku datang ke kantor berlari-lari,” ucap Ceria sambil mengikat rambutnya. 

“Kenapa kamu mau-mau aja?” Bagja protes.

“Lha, apa salahnya, ini kan hanya sebatas kerjaan, dia cuma khawatir aku kenapa-kenapa kalau terburu-buru setiap hari nanti efek sama jadwalnya dia, justru bagus dong, berarti dia memiliki empati yang besar,” ucap Ceria sambil mengajak Iren ke kamar untuk berganti pakaian. 

Diletakkannya putrinya tersebut di atas Kasur, kemudian dia membuatkan susu agar Iren bisa berisirahat sambil tiduran. Ceria menyalakan TV agar suara perdebatannya yang pastinya akan berlanjut dengan Bagja tidak menjadi perhatian. Kemudian dia berlalu ke dapur untuk menyiapkan alat makan. Ketika dia kembali Bagja masih duduk termenung di sofa. 

“Aku ga suka ya kamu dianter-anter cowok,” ucap Bagja menatapnya tajam. 

“Eh, Mas dia itu bukan cowok, dia cuma bos aku, partner kerja aku, ya ibarat kamu nganter jemput Sisy, ga ada bedanya,” ucapan Ceria telak membuat lelaki itu menjadi terdiam. Lagi-lagi dia tidak memiliki jawaban untuk menyanggah pernyataan istrinya. 

Memang selama ini ketika Ceria memintanya untuk tidak terlalu dekat dengan Sisy, itulah jawaban yang dilontarkannya dengan santai. Lelaki itu sama sekali tidak bisa menempatkan posisinya jika dia menjadi. 

“Ayo Mas makan, ini aku udah siapin, oh iya mulai besok supirnya Mark akan mengantar jemput aku, juga mengantar Iren dulu ke sekolah,” ucapnya sambil mulai menyuap. 

Bagja hanya menoleh tanpa memberikan komentar apapun. Terlihat ada kilatan tidak suka dari matanya. Mereka akhirnya makan dalam diam. Terlihat beberapa kali ponselnya Bagja bergetar, sekilas Ceria melihat ada nama Sisy muncul dilayarnya. Namun lelaki itu seperti tidak mengacuhkannya, padahal biasanya dia akan langsung sigap mengangkat telepon itu dan menomor duakannya. Apakah Bagja mulai diresapi perasaan galau takut kehilangan?

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Widya Alice
Sukurin Bagja.... emang enak
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status