05 - Akhirnya

*****

Sapuan kuas dengan lincah sedang dilakukan oleh seorang Zeline pada wajah mulus seseorang. Pasalnya saat ini, dirinya tengah fokus mendandani seorang penyanyi papan atas yang tengah naik daun. Namanya tengah melambung tinggi di dunia blantika musik Indonesia. Zeline dipercaya untuk memoles wajah cantiknya agar semakin cantik.

Penyanyi tersebut akan tampil dalam sebuah acara Internasional yang diadakan di Bali oleh salah satu Instansi Negara. Saat sudah bermain dengan kuas, spons dan alat make up lainnya, tingkat keseriusan Zeline meningkat tajam. Ia akan mengabaikan semua hal, termasuk ponselnya.

Seperti saat ini, Zeline begitu fokus, ia mematikan nada dering ponselnya yang ia simpan rapi di dalam tas. Sesekali ia mematut wajah sang penyanyi dari cermin yang berada di hadapannya. Mengkoreksi setiap hal yang terlihat kurang atau berlebihan di wajah cantik penyanyi tersebut.

"Zel, kenapa kau tidak mau menjadi MUA pribadiku? Aku begitu menyukai setiap hasil make up yang kau lakukan," ucap Bunga, penyanyi yang tengah naik daun itu. Pertanyaan serta penyataan Bunga membuat Zeline tersenyum mendengarnya.

"Ini hanya hobiku semata, Kak Bunga. Jika kau membutuhkan bantuanku, selama aku free, aku akan datang ketempatmu," kata Zeline jujur.

"Padahal kau sangat berbakat sekali. Banyak teman-teman artisku ingin merasakan sapuan kuasmu di wajah mereka," celoteh Bunga.

Zeline tertawa mendengar pernyataan Bunga yang dirasa terlalu memujinya. "Aku tidak sehebat itu, Kak Bunga. Hanya saja, aku sedikit membatasi waktu mendandani orang lain, karena aku masih ingin hidup bersantai dan bersenang-senang,"

"Jadi, apa rencanamu setelah ini? Kau akan langsung pulang ke Jakarta atau menetap di Bali beberapa hari?" tanya Bunga penasaran.

"Aku akan berlibur beberapa hari di sini. Aku merindukan suara deburan ombak dan pasir putih. Di Ibukota terlalu bising dan pengap," jawab Zeline.

"Nikmati liburanmu, Zel. Jika aku punya waktu luang, aku pun akan memilih untuk beristirahat sejenak,"

"By the way, kau di sini berlibur dengan kekasihmu?" pertanyaan Bunga singkat namun menohok bagi Zeline.

"Aku tidak punya kekasih, Kak. Aku sedang menikmati waktu sendiriku," kata Zeline malu-malu.

“Benarkah? Rasanya sulit dipercaya jika wanita secantik dirimu tidak memiliki kekasih.” Bunga menyuarakan pendapatnya.

“Kak Bunga terlalu berlebihan memujiku. Belum ada pria yang mau denganku,” ucap Zeline merendah.

“Kau terlalu merendah diri, Zel. Tapi memang lebih baik sendiri dulu dan memilih pria terbaik untuk langsung dijadikan pasangan hidup. Aku berdo'a, kau segera menemukan pria yang menjadi jodohmu, Aamiin.” Bunga memberikan nasihat, Zeline begitu tersentuh mendengar do’a tulus dari salah kliennya dan ikut mengamini do’a tersebut.

“Terima kasih, Kak Bunga untuk do’anya. Zeline akan ingat nasihat Kak Bunga untuk Zel.” ucap Zeline sambil memeluk Bunga dari belakang lehernya. Mereka berdua tersenyum bersama.

Zeline melanjutkan untuk mengecek sekali lagi hasil jerih payah tangannya pada wajah Bunga. Bunga dan tim-nya nampak begitu puas melihat hasil riasan Zeline pada wajah penyanyi tersebut.

"Selalu luar biasa, sempurna," puji manajer Bunga dan Bunga ikut mengancungkan dua jempol pada Zeline.

Bunga pamit meninggalkan Zeline untuk segera tampil mengisi acara, sedangkan Zeline membereskan alat make up-nya dan bergegas untuk kembali ke hotel tempat ia menginap.

✈✈✈✈✈

The Seminyak Beach Resort & Spa, menjadi pilihan Zeline untuk menghabiskan weekendnya di Bali. Zeline merebahkan tubuhnya pada kasur empuk dan segera merogoh isi tasnya, mengeluarkan ponsel serta macbooknya. Kedua benda yang diabaikannya selama ia bekerja.

Ratusan pesan masuk di notifikasi Whatsapp dan puluhan e-mail menyerbu ponselnya. Ponsel pribadinya selalu dipenuhi oleh ocehan grup yang akan sampai ribuan perbincangan tidak penting oleh ketiga sahabatnya. Dan kali ini, isi grup tersebut menanyakan perihal keberadaan Zeline dan rencana menyusul yang akan dilakukan ketiga sahabatnya itu.

Zeline hanya bisa pasrah jika liburannya kali ini akan menjadi obat nyamuk dari ketiga sahabatnya itu. Mereka semua pasti membawa serta pasangannya.

Wanita cantik itu mengecek lagi isi pesan yang mampir di aplikasi WhatsApp-nya itu. Satu nomor asing yang tidak dikenal Zeline mengirimkan beberapa chat padanya.

Gadis itu ingat, ia memberikan nomor ponsel pribadinya pada salah satu teman aplikasi dating yang diikutinya. Ternyata pria tampan itu menghubunginya sejak tadi. Zeline membalas chatnya meskipun kemungkinan kecil pria itu akan membalas pesannya, mengingat perbedaan waktu 13 jam antara Bali dan New York.

Saat ini di New York tentu masih larut malam, tidak seperti di Bali yang menjelang sore hari. Pria yang diketahui Zeline bernama Fello itu ternyata membalas cepat chatnya dan mengajaknya untuk melakukan video call melalui skype.

Zeline patut khawatir, masih jelas diingatannya para pria bule dari aplikasi dating itu mengajak skype hanya untuk menunjukkan sosis yang panjang dan berurat itu. Menjijikan sekaligus membuat il-feel Zeline seketika.

✈✈✈✈✈

Butuh waktu lima jam bagi Ricard menanti balasan chat yang dikirimkannya pada wanita asal Indonesia itu. Entah mengapa, Ricard merasa sangat penasaran sekali dengan wanita itu. Wanita yang selalu slow respon menanggapi pesan-pesannya.

Saat ini Ricard tengah duduk di atas ranjang di dalam kamarnya, menikmati malam temaram dengan menonton film action di netflix. Ponsel diletakkan tepat di sebelahnya, ia masih berharap wanita yang bernama Zeline itu membalas chat-nya. Sungguh, Ricard merasa dirinya sudah gila. Belum pernah bertemu sekalipun dengan wanita itu, hanya melihat fotonya tapi wanita itu berhasil memancing rasa penasaran Ricard yang begitu besar.

Ponsel Ricard berkedip dan dengan kekuatan cahaya persekian detik tangan Ricard memeriksa notifikasi ponselnya. Senyum yang tersungging di wajah tampannya mendadak lenyap saat melihatnya ternyata bukan balasan dari Zeline namun email meminta perkenalan lagi padanya. Ricard melempar ponselnya ke bawah bantal dan mengacak rambutnya kesal.

“Sialan!” umpat Ricard.

Ia benci menunggu seperti saat ini. Kebodohan pertama kali dilakukan seorang Ricard selama hidupnya yaitu dibuat penasaran oleh wanita yang tidak pernah ia temui secara langsung alias wanita dunia maya.

Saat Ricard mulai memejamkan mata, ingin menormalkan isi kepalanya, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Kali ini, Ricard tidak seantusias tadi. Ia masih mengira jika itu notifikasi dari email perkenalan yang masuk. Namun, saat ia melihat layar ponselnya, spontan Ricard duduk dengan jantung yang bergemuruh.

Zeline membalas chatnya dan bersedia melakukan video call dengannya dari Skype. Ricard bergegas turun dari ranjang dan mengambil MacBook yang berada di atas meja kerjanya. Ia lantas mengaktifkan aplikasi Skype.

Untuk pertama kalinya, ia begitu gugup saat ingin berbincang dengan seorang wanita.

✈✈✈✈✈

"Awas saja kalo Skype nanti hanya ingin pamer sosis berurat yang panjang itu! Akan ku iris tipis-tipis dengan pisau tajam nanti," gumam Zeline sambil menghidupkan MacBook-nya.

Tidak ada perasaan apa pun yang dirasakan Zeline, mengingat Zeline cukup sulit untuk menemukan kekasih yang pas menurutnya.

Skype terhubung dan layar MacBooknya menampilkan seorang pria berwajah tampan, ah- sepertinya di atas level tampan.

Zeline terpaku dan terdiam beberapa saat. Seketika otaknya berpikir, jika pria yang berada di layar adalah halusinasinya semata. Namun, disisi lain, otaknya malah berpikir. ‘Tidak mungkin pria di atas level kata tampan ini, tidak bisa mendapatkan kekasih di sekitarnya, sekalipun pria itu adalah seorang gay.’ batin Zeline.

Lamunan Zeline seketika buyar, saat suara berat dan rendah dari pria itu menyapanya.

Zeline harus mengakui, jika pria ini adalah pria paling tampan yang pernah ia lihat di layar Skype atau yang ia kenal dari situs kencan yang tengah ia ikuti.

"Hai, apa kabar?"

Rasanya Zeline ingin terkekeh mendengar sapaan kaku dari pria itu. Namun, sebisa mungkin Zeline menahan diri agar tidak terbahak karenanya.

"Aku baik. Kenalkan namaku Zeline,"

"Ah, iya. Aku Fello. Senang bisa berkenalan langsung denganmu seperti ini,"

"Ah- aku juga senang bisa berkenalan denganmu. Aku kira kau sudah tidur, maaf lama membalas pesanmu,”

"Belum. Ah- itu, tidak masalah. Yang terpenting, saat ini kita sedang mengobrol. Apakah aku mengganggu waktumu?"

"Tidak. Aku sedang bersantai sekarang. Hanya saja, bukankah di sana sudah dini hari?"

"Ya, saat ini pukul 02.14 a.m. Akan tetapi, aku belum mengantuk sama sekali,"

"Baiklah kalau begitu. Namun, bukankah besok kau harus bekerja?"

"Besok, weekend. Aku libur. Apa yang kau lakukan di sana?"

Zeline menyatukan kedua alisnya atas pertanyaan pria di hadapannya ini. Ia begitu ingin tahu apa yang Zeline lakukan. Biasanya para pria yang Skype dengannya kebanyakan tidak pernah berbasa basi seperti pria ini.

"Aku tadi bekerja. Cukup memakan waktu setengah hari. Jadi, maaf jika pesanmu baru aku balas saat aku luang,"

"Tidak masalah. Aku malah akan merasa bersalah jika mengganggu waktu kerjamu,"

Tanpa terasa mereka berdua sudah menghabiskan waktu dua jam untuk berbincang meskipun hanya lewat video call. Hampir saja Zeline melupakan janji untuk bertemu dengan temannya yang tinggal di Bali karena keasyikan berbincang dengan Ricard atau Fello. Dengan berat hati, Zeline harus mengakhiri obrolannya. Jika Zeline tak salah menilai, perubahan raut wajah Fello begitu ketara, ia seakan tidak rela saat Zeline meminta menghentikan kegiatan video call-nya.

Mereka berdua telah sepakat untuk berkomunikasi lagi, jika sama-sama memiliki waktu luang.

Ketakutan serta kekhawatiran Zeline ternyata tidak terjadi. Fello sama sekali tidak bertindak sesuatu yang membuatnya il-feel. Fello hanya banyak bertanya mengenai keseharian Zeline dan pekerjaan serta tempat wisata apa saja yang terkenal di negara Zeline menetap. Hal-hal yang cukup menyenangkan dan membuat Zeline cukup nyaman sejauh ini.

Zeline berlalu ke kamar mandi sesaat setelah mematikan sambungan Skypenya.

'Aku mungkin sudah benar-benar gila. Dia cantik dan apa adanya. Wanita yang menarik,' gumam Ricard sambil tersenyum menatap hasil screenshot wajah Zeline yang diambilnya secara diam-diam.

*****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status