INICIAR SESIÓNDelapan tahun setelah cinta mereka dikubur paksa demi status dan gengsi keluarga, Ravika, anak buruh bangunan, memilih hidup sebagai ibu tunggal yang menolak melupakan masa lalu, meski tersembunyi dari Nayottama. Di sisi lain, Nayottama, sang pewaris dan CEO DharmaLux Corporation, menjalani hidupnya sebagai raja di kekaisaran kaca yang dibangun di atas fondasi kompromi. Ketika putri kecil Ravika, Elira, terdiagnosis penyakit langka yang hanya bisa disembuhkan lewat donor genetik yang cocok, Ravika dipaksa mendatangi masa lalunya itu, alih-alih meminta cinta, meski butuh, tapi demi menyelamatkan nyawa. Yang ia tidak tahu, Nayottama juga tengah berada di ambang kehancuran bisnisnya, pernikahannya, dan dirinya sendiri. Cinta mereka mungkin bisa dikubur, tapi rahasia darah tak pernah bisa dimakamkan. Apakah mereka akan bersatu kembali atau menempuh jalan pintas perselingkuhan, atau kembali menyelami nasib masing-masing setelah mereka bertemu dan saling memahami keadaan yang sebenarnya? Sementara Nayottama juga sudah memiliki dua anak dari hasil perjodohannya.
Ver másBeberapa hari setelah itu, suasana mulai menemukan ritmenya sendiri. Bukan berarti semuanya langsung terasa normal. Normal itu kata yang terlalu sederhana untuk keluarga yang baru saja menata ulang definisi darah dan perannya. Tapi setidaknya, tidak ada lagi ketegangan yang bersembunyi di balik sebuah kalimat.Sore itu, Elyra kembali ke rumah Tama. Kali ini bukan hanya untuk bermain. Ia membawa hasil kontrol perkembangan transplantasi ginjal terbarunya.“Dokter bilang jahitannya udah bagus,” katanya pelan sambil duduk di sofa.Karin langsung mendekatinya. “Berarti bentar lagi boleh lari-lari?”“Katanya sih jangan dulu,” jawab Elyra sambil tersenyum tipis.Sony memiringkan kepalanya. “Ginjalnya Papa masih di dalam Kakak, ya?”Tama yang sedang menuang air hampir tersedak kecil.“Iya, Nak.”“Terus Papa sekarang nggak pakai ginjal?”Tama tersenyum lebar. “Papa masih punya satu, Sony.”Sony tampak berpikir keras."Tiap orang punya ginjal dua, Nak. Di kanam sama kiri," imbuh Tama sambil
Malamnya, Ravika menghubungi Tama.“Alya kirim surat ke aku, Mas,” katanya pelan.Tama terdiam di ujung telepon.“Apa isinya?”“Bukan marahan, sih.”“Hmm... terus apa?”“Dia bilang terima kasih.”"Terima kasih...?" ulang Tama heran.Hening beberapa detik menjeda.Tama mengembuskan napasnya perlahan.“Tentang apa?” lanjutnya. Ravika menatap meja di depannya yang terdapat buku-buku Elyra yang masih berserakan. Ia lalu memotret surat tulsan Alya dan mengirimkannya ke Tama. Tama membacanya dengan seksama. Dadanya menghangat. "Itu memang tulisan Alya, Vik."“Aku nggak tahu harus apa jawabnya, Mas.”“Tidak semua surat butuh balasan, Vik,” jawab Tama.Di rumahnya, Tama duduk sendirian setelah menutup telepon dari Ravika.Ia mengenal Alya.Ia tahu mantan istrinya bukan orang yang mudah mengakui sesuatu.Jika ia menulis surat seperti itu, berarti ia sudah melewati fase marahnya sendiri.-oOo- Keesokan paginya, Karin menemukan Alya duduk di teras rumahnya."Mamaaaa... Kok Mama ada di sini?"
Halaman kosong di album foto itu bukan lagi simbol keterlambatan. Ia menjadi ruang harapan yang belum diisi.Dan mungkin memang harus kosong dulu selama delapan tahun lalu, sebelum akhirnya diisi dengan kesadaran yang nyata.“Pa,” kata Karin tiba-tiba, “Papa sedih nggak waktu baru tahu itu?”Tama berpikir sejenak.“Terkejut, iya. Sedih juga pastinya. Tapi lebih takut kehilangan kesempatan kedua.”“Kehilangan siapa?”“Elyra dan... Mamanya.”Elyra menunduk sedikit mendengar itu. “Papa nggak marah sama Mama?” tanya Karin hati-hati."Mama siapa?" "... T-Tante Ravika... maksudnya," jawab Karin terbata. Tama menggeleng.“Waktu itu bukan waktunya marahan, Nak. Tapi waktunya menyelamatkan.”Karin mengangguk pelan.Di kepala anak kecil itu, mungkin belum semua tersusun rapi semua potongan puzzle masa lalu. Tapi satu hal sudah jelas, tidak ada yang berbohong lagi di antara mereka.Dan halaman kosong di album itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang hilang. Ia terasa seperti awal dari kehid
Siang harinya, saat Elyra dan Ravika sedang makan bersama, ponsel Elyra kembali berbunyi.Video call dari Karin.Ravika menatapnya sekilas, lalu mengangguk kecil.Elyra mengangkatnya.Wajah Karin langsung memenuhi layar.“Kak!”Elyra tersenyum.“Iya.”“Kita beneran saudara ya?”“Iya.”“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”Elyra terdiam sebentar.“Aku disuruh nunggu sampai Papa yang cerita sendiri.”Karin mengangguk cepat dan menerima alasan itu tanpa drama.“Berarti waktu Papa donor ginjal itu… kamu takut nggak?”“Takut dong, Rin.”“Tapi kamu tahu Papa pasti nolong, kan?”“Iya.”Karin tersenyum bangga.“Papa emang gitu orangnya.”Ravika mendengarkan kalimat itu tanpa menyelanya. Bibirnya tersenyum tanpa berlebihan. Ia hanya membiarkan dua anak itu membangun hubungan yang memang sudah ada sejak lahir, hanya saja belum pernah dinamai.“Kak,” lanjut Karin, “kamu lebih tua berapa bulan sih?”“Empat bulan.”“Ohya... nggak jauh-jauh amat.”Elyra tertawa kecil.“Aku tetap lebih tua.”“Berarti a
Ruang tamu rumah Tama sore itu sunyi, hanya suara gesekan jarum jam yang terdengar di antara interior megah bergaya mediteran. Karin dan Sony, sedang ditemani Sari, pembantu mereka untuk belajar santai dan bermain di kamar lantai atas. Sementara Alya, istri Tama duduk di sofa abu-abu ruang keluar
Beberapa jam kemudian, setelah menelan sisa resahnya di dalam perjalanan panjang, Ravika kembali mengenakan wajah gurunya di sekolah. Jam pulang sekolah selalu jadi momen paling ramai di SD Harapan Bunda. Suara anak-anak bersahutan, peluit satpam bersiaga, dan deru mobil orang tua membentuk orkest
Ia menatap ke arah Ely yang kini sibuk menggambar matahari besar di kertasnya, matahari yang memancarkan dua cahaya ke arah berbeda.“Kenapa dua cahayanya?” tanya Ravika mendekat, pura-pura ringan.“Biar bisa nyentuh semua orang,” jawab Ely polos, tanpa sadar kalimat itu seperti doa yang menunggu t
Waktu tujuh tahun sangat cepat berlalu...Pagi di gang sempit itu masih basah, meski hujan semalam sudah lama berhenti.Air menetes dari talang bocor, menghunjam ember plastik yang menampung cucian malam tadi. Dari dalam kontrakan paling ujung, sayup terdengar suara perempuan menyanyi kecil, pelan,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás