Share

Chapter 7

     Tuan Li kurang lebih telah dapat menebak hasil seperti apa yang didapatkan Yu Shi, karena mimik depresi yang ditampakkan pemuda itu sangat jelas. "Kau tidak berhasil?"

    "Lebih parah lagi, Guru. Aku tidak bisa memberikan jawaban apapun." Selanjutnya Yu Shi menceritakan apa persisnya yang telah dialaminya.

    Tuan Li segera bangkit berdiri, berseru marah. "Mereka jelas telah melanggar ketentuan! Bahkan negara dengan pemerintahan terbodoh sekalipun tidak akan mengeluarkan jenis soal seperti itu!"

    "Percuma saja Guru. Rasa-rasanya memang seperti itulah jenis soal yang mereka ujikan setiap tahunnya," Yu Shi menggumam letih. "Kalau begini caranya, kita harus menempuh cara lain..."

    Tuan Li menarik nafas, kemudian menepuk bahu Yu Shi. "Ya, pasti ada cara lain."

***

    Dua tahun kembali berlalu, namun Yu Shi masih belum mendapatkan jalan masuk ke istana. Tuan Li telah mencoba untuk memakai segala macam cara juga koneksi, tetapi ia kalah dari para saudagar kaya yang mampu menyuap lebih besar, dan jalan Yu Shi terlangkahi oleh anak-anak para saudagar kaya itu. Satu-satunya jalan  bagi Yu Shi untuk menjadi warga istana hanyalah menjadi seorang kasim. Bila Yu Shi wanita, ia tentu tidak berkeberatan menjadi dayang, tetapi menjadi seorang kasim dan dengan demikian menjadi seorang manusia yang tak lengkap? Yu Shi masih lebih memilih menjadi seorang budak.

    Betapapun, Yu Shi tetap melanjutkan menggembleng dirinya dengan tekun. Dan karena segala hal yang Tuan Li ingin ia pelajari sudah berhasil ia kuasai, ia punya banyak waktu luang untuk mempelajari apa yang sejak semula ingin ia pelajari - ilmu beladiri. Bersama Cao Xun, ia berlatih beladiri siang dan malam. Berlainan dengan ilmu bahasa asing yang sangat sulit untuk ia pelajari, ia mampu menguasai ilmu beladiri sampai ke tingkat yang cukup tinggi dalam waktu relatif singkat. Kini ia dan Cao Xun boleh disebut sebagai pendekar dengan ilmu yang sulit ditandingi lawan biasa, walaupun kemampuan Yu Shi masih setingkat lebih tinggi di atas.

    Untung sekali baginya ia berhasil menguasai ilmu tersebut, karena tak lama kemudian ilmu tersebut menjadi sangat berguna baginya.

    Pada suatu siang, di saat matahari panas merekah dan para penduduk kota melakukan aktivitas mereka seperti biasa, dari arah timur laut muncul segerombolan orang berpakaian perompak dalam jumlah besar. Mereka membawa berbagai macam senjata, dan mulai membuat kerusuhan. Mereka merusak barang apapun dan menyerang siapapun yang mereka temui. Dan para penduduk Cheng Shu yang malang hanya bisa berlarian ke sana kemari, menyelamatkan diri.

    Yu Shi, Cao Xun dan Tuan Li termasuk di antara mereka yang sibuk berlarian.

     "Pemberontakan Cheng Xi Bo!" orang-orang berseru-seru. Jerit ketakutan dan teriak kesakitan acap kali terdengar setiap para pemberontak menyerang dan melukai mereka. Bahkan anak-anak kecil pun tak luput dari sasaran mereka. Tak sengaja Yu Shi melihat seorang pemberontak tengah menyorongkan pedangnya ke arah seorang gadis kecil yang tidak sempat menghindar. Gadis itu menjerit, dan Yu Shi merasakan kakinya melayang berlari. Tahu-tahu saja ia telah berada di depan gadis itu, tangannya memegang pedang yang kini menusuk tepat ke bagian diafragma kanan si pemberontak. Si pemberontak pun jatuh tersungkur. Tapi beberapa detik kemudian, beberapa pemberontak lain datang menyerang. Namun mereka semua ternyata bukanlah tandingan Yu Shi. Dalam waktu singkat ia berhasil mengalahkan mereka semua, pun menarik si gadis untuk mengikutinya menyelamatkan diri ke tempat yang aman.

    Karena tidak ada lagi tempat yang aman di Cheng Shu, semua orang yang berhasil lolos dari maut terpaksa mengungsi ke kota sebelah Xu Du.

    "Bagaimana dengan Bibi Guru?!" Yu Shi bertanya panik.

    Cao Xun yang muncul semenit kemudian menjawab pertanyaan Yu Shi dengan menggandeng tangan Nyonya Li, yang kini menangis terisak, "Mereka telah menghancurkan rumah kita..."

    "Apakah mereka juga akan menyerang ke Xu Du ini?" seorang pengungsi bertanya.

    Tuan Li termangu. "Seharusnya tidak... Kuamati Cheng Shu ini hanya merupakan pembukaan serangan semata. Tujuan mereka adalah An Chang, untuk mengacaukan stabilitas ibukota bahkan kalau bisa istana." Ia mengangkat bahu. "Kita lihat saja bagaimana Kaisar Liang mengatasi semua ini."

    Perkiraan Tuan Li sangatlah tepat, pemberontakan Cheng Xi Bo dengan cepat merambah ke Ibukota An Chang. Bahkan terdengar desas-desus mereka berhasil membuat kerusakan jauh lebih parah dibandingkan saat mereka memorak-morandakan Cheng Shu.

    Kaisar Liang yang marah dengan segera mengutus laskarnya untuk meredam pemberontakan kali ini. Tetapi ternyata jumlah prajurit kerajaan yang handal masih kalah jumlah dibandingkan pasukan pemberontak. Terpaksa pihak istana menarik tentara dari masyarakat awam, dan karena keadaan yang mendesak, mereka tidak melakukan tes dan siapa saja - asalkan mereka pria di atas lima belas tahun - wajib bergabung masuk angkatan militer.

    "Ini kesempatan bagus, Nak! Kau bisa menjadi prajurit!" ujar Tuan Li sangat bersemangat. "Bila kau berhasil, kau bisa naik pangkat ke epselon yang lebih tinggi, dan tidak tertutup kemungkinan kau diangkat sebagai jenderal atau panglima serta memiliki pasukan sendiri!"

    "Tapi... bagaimanapun ini adalah perang..." Nyonya Li berkata khawatir.

    Yu Shi segera menenangkannya. "Bibi Guru tenang saja, lihat, kami telah menguasai ilmu beladiri dengan baik. Kami akan baik-baik saja dan kembali dengan selamat."

    "Ya... ya... Nak..." Nyonya Li tersendat, seolah tengah berusaha menahan agar airmatanya tidak keluar. "Kalian harus kembali dengan selamat... Dan jangan pergi menyusulnya..."

    "Yu Shi tidak akan apa-apa! Dewa Yama cukup menarik Run Cheng seorang, dan bila dia memiliki hati nurani, dia akan membiarkan mereka tetap bersama kita!" Tuan Li menukas.

    Yu Shi terpekur. Run Cheng adalah putera satu-satunya Tuan dan Nyonya Li yang tewas dalam perang saat Han berusaha merebut kembali Tukhestan dua puluh tahun lalu.

    Tapi tetap sangat sulit bagi Nyonya Li untuk dapat melepaskan genggaman tangan mereka berdua. Tiga tahun berlalu, Yu Shi dan Cao Xun telah begitu dekat dengan pasangan tua itu dan bagi mereka, kedua pemuda itu sudah seperti putera mereka sendiri. Begitu juga Yu Shi dan Cao Xun. Namun bagaimanapun juga, mereka harus pergi. Yu Shi lantas berkata, "Bibi Guru, saya pergi dengan mengusung satu tujuan; mengembalikan kejayaan Han Yang Agung seperti juga yang dicita-citakan Guru dan Bibi Guru. Ayahanda, Ibunda, kakak dan adik, serta para leluhur pendahulu saya yang berada di atas sana akan merestui perjuangan kami dan menuntun kami agar bisa kembali dengan membawa kemenangan."

    Ia mengangguk meyakinkan. Nyonya Li pun turut mengangguk pelan, kemudian melepaskan genggaman tangannya. Dan mengantar kepergian kedua pemuda itu, sampai bayangan mereka menghilang dari pandangan.

    "Kakak, kau mau pergi mendaftar ikut masuk militer?" Sebuah suara bertanya. Yu Shi dan Cao Xun menoleh. Ternyata gadis kecil yang tempo lalu Yu Shi selamatkan. Ia kini bersama seorang pria paruh baya yang sepertinya adalah ayahnya.

    Yu Shi mengangguk. "Benar, Dik. Kami mengikuti seperti yang diinstruksikan oleh pemerintah."

    Si gadis berpaling pada pria di sebelahnya tersebut. "Kakak inilah yang dahulu pernah menyelamatkanku, Ayah."

    "Ah, jadi rupanya kaulah pemuda pemberani itu. Terima kasih banyak telah menyelamatkan puteriku, dan maaf sekali aku baru sempat mengucapkan terima kasih sekarang. Ah... seharusnya kami memberikanmu tanda mata sebagai tanda terima kasih..."

    "Tidak perlu repot-repot, Tuan!... Lagipula, itu memang kewajiban saya harus menyelamatkan sesama yang membutuhkan bantuan..."

    Ayah si gadis mengamati Yu Shi lekat-lekat. "Kau hendak mendaftar wajib militer? Sebagai apa?"

    "Ah, saya hanya orang rendahan, mereka pastilah hanya menempatkanku menjadi prajurit biasa."

    Alis sang pria berkeriut. "Jangan!" ia berseru. "Prajurit biasa adalah prajurit yang paling cepat mati karena mereka akan selalu ditempatkan di garis paling depan. Kau harus menempati jabatan yang lebih tinggi, pula kulihat kau memang memiliki kemampuan yang memadai."

    "Tapi saya mana punya hak untuk meminta seperti itu..."

    "Bisa. Bila aku yang meminta. Aku adalah Walikota Cheng Shu."

    Yu Shi tak dapat mempercayai kemujuran tak terduga itu begitu saja. Tetapi semuanya berjalan begitu cepat. Walikota Cheng Shu dengan mudah mengatur agar Yu Shi mendapatkan jabatan kapten, dan Cao Xun dimasukkan dalam regu pimpinannya.

    "Ini benar-benar bagus, Yu Shi," Cao Xun berujar gembira. "Memang benar katamu, Langit memihak kita. Kau mendapatkan posisi tinggi dalam kemiliteran dan karenanya kita pasti akan menang!"

    Yu Shi tersenyum kecil. Ia menengadahkan wajahnya, menatap matahari senja berwarna jingga kemerahan di hadapannya, lantas menarik nafas panjang.

    Ya. Langit, serta leluhurku dan keluargaku di atas sana pasti akan melindungiku.

    Pasti.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status