Together But Hurt
Together But Hurt
Author: Dwi Sartika Juni
Gwen dan Alexi

Sore ini, dijadikan sebagai hari jadi persahabatan mereka berlima. Di mana mereka sepakat untuk merayakannya tanpa perlu ambil pusing pada tanggal dan bulan berapa tepatnya, persahabatan mereka terbentuk.

Yang jelas, tahun ini, usia persahabatan mereka memasuki tahun ke lima belas. Dan itu dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa bagi mereka berlima. Mungkin juga untuk sebagian orang.

Mari sejenak kita perkenalkan tentang siapa saja lima sekawan ini. Di mulai dari wanita cantik yang terlihat berjalan tergesa memasuki salah satu ruang Very Important Person sebuah kafe. Dia memang tak pernah datang tepat waktu.

Gwen Himeka. Terkenal seksi bukan hanya tubuh, tapi juga otaknya yang cemerlang. Berambut pirang panjang yang jarang di sisir. Bermata kecokelatan dan paling berisik.

Alexi Millard. Playboy kelas kakap pada masanya, berlesung pipi, berambut tebal dan hitam dengan potongan mullet. Dia mempertahankan model rambutnya tetap seperti itu selama tiga tahun terakhir. 

Inez Gianina. Sumber masalah, senang membuat keributan dengan siapa saja. Tapi sebenarnya, dia cukup pendiam untuk diingat sebagai gadis manis yang menggoda dengan rambut dan kedua bola mata hitam pekat miliknya.

Jupiter Lais. Hanya ada uang dan kesenangan dalam kepalanya. Ia tampan dengan tubuh paling tinggi di antara sahabatnya yang lain. Sorot mata selalu tajam mempesona, itulah ciri khasnya.

Eric Fagan. Manusia paling lurus, julukan paling tepat untuk disematkan padanya. Ia berwajah tirus dengan kulit putih pucat tanpa cela. Sejujurnya, ia membenci wanita. Terutama yang terlalu berani dan menggoda. Ia senang mencintai dirinya sendiri melebihi siapa pun.

Dan kini kembali pada Gwen, yang tiba dengan wajah penuh keringat, ia tersenyum lebar melihat ke empat sahabatnya menunggu kedatangan seorang Gwen Himeka tanpa raut wajah kesal sama sekali.

“Ratu yang ditunggu datang juga,” seru Jupiter seraya tangan menarik kursi di sampingnya yang kosong, “kemarilah, Ratuku.”

Seisi ruangan yang hanya berisi lima sekawan ini menggemakan tawa gembira. Gwen duduk sambil menepuk pundak Jupiter yang berlagak seperti seorang pelayan sedang melayani Ratunya.

“Teman-teman, maaf aku terlambat.”

“Macet di akhir pekan?” tanya Inez sekilas dengan tangan yang sibuk mencabuti anggur kehitaman dari tangkai kecilnya.

“Hei, dari mana kau dapatkan anggur itu?” Alexi menjulurkan tangannya dengan penuh semangat, dari seberang kursi.

“Aku bawa dari rumah.” Inez memalingkan tubuh sekaligus tangannya ke arah kiri, tepat di samping Eric. “Tidak Lexi. Dia milikku.”

“Hmm? Siapa?” Eric bereaksi karena ucapan Inez.

“Anggur ini.” Inez menggoyangkan anggur yang kini menyisakan banyak buah bergerombol di tangkainya.

“Jangan serakah, sisakan beberapa untukku!” protes Alexi tak pantang menyerah.

“Iya, tapi nanti!” Inez melotot pada Alexi, lalu menatap Gwen yang sedang memandangi tingkahnya. “Baru beberapa bulan tak bertemu, kau semakin cantik, Gwen,” puji Inez dengan kedipan sebelah mata.

“Kapan akan kita mulai acaranya?” tanya Eric, ia menjadi tidak sabar tak lama setelah melihat isi ponselnya.

“Ada apa? Kau harus cepat kembali?” Gwen mengalihkan pandangan pada Eric yang berada di samping Inez.

“Yap. Ada sedikit masalah di rumah.”

“Baiklah, kita mulai saja kalau begitu,” sambung Jupiter.

“Piter ... jangan goyang-goyangkan kakimu seperti itu, kau bukan remaja tujuh belas tahun lagi,” protes Gwen yang ikut merasakan getaran dari gerakan kaki Jupiter di kursinya.

“Cara lain untuk menikmati kesenangan, cantik.” Jupiter mengedip, memajukan bibirnya, seolah ingin mencium Gwen.

Gwen tertawa dan menempelkan tiga jarinya—telunjuk, tengah, dan manis—di bibir Jupiter. “Ini ciumanmu.”

Mereka berlima tertawa lepas bersama, melewati sore menuju senja dengan candaan-candaan yang tak ada artinya itu.

*****

Tiga puluh dua menit setelah pesta perayaan berakhir.

“Kapan kau tiba?” Gwen bertanya pada tamu yang tiba-tiba sudah duduk di tepi ranjang, saat ia keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di kepala.

“Lebih dari lima menit,” jawab si tamu dengan senyum manis tanpa mengalihkan tatapan dari Gwen di depannya yang mulai melepas handuk di kepala, bersiap mengeringkan si pirang.

“Kau yakin mereka tidak melihatmu saat menuju ke sini?” Gwen meraih hair dryer dari atas meja riasnya.

Pria itu bangkit, mengambil alih benda pengering rambut itu dari genggaman Gwen, “Biar aku saja.” 

“Hem, terima kasih.” Gwen bersiap duduk di kursi dengan rambut yang masih setengah basah.

“Tadi aku yang terakhir kali pergi dari sana,” jelas pria itu dengan jari jemari menyisip di balik helaian rambut Gwen sembari mempertemukannya dengan ujung hair dryer, “kenapa kau datang paling terlambat dan pulang lebih awal?”

“Masih ada pekerjaan di kantor yang harus kuselesaikan, Lexi. Ini bulan keduaku menjadi Sekretaris di Winston Corporation,” keluh Gwen sedikit memiringkan kepalanya.

Si pria itu, Alexi Millard, mencium kening Gwen di sela kegiatannya mengeringkan rambut pirang lurus milik Gwen. “Kau selalu menjadi wanita tangguh dan menawan.”

“Terima kasih, Lexi.” Gwen tersenyum, tapi singkat, kemudian berganti dengan ekspresi datar.

“Boleh kubuka?” tanya Alexi hati-hati dengan kedua mata menatap lekat, pada jubah mandi berwarna putih yang dikenakan Gwen.

Gwen menggeleng dengan murung. “Tidak, Lexi. Aku sudah menahannya selama hampir dua tahun ini, demi memberikan seutuhnya diriku padamu.”

“Baiklah, aku mengerti,” angguk Alexi dengan senyum lembut yang selalu hampir mematahkan keteguhan hati Gwen, “maafkan aku,” bisiknya di telinga Gwen, mengecup pelan di pipi wanita bertubuh indah dan berwajah rupawan, sempurna di mata Alexi.

“Tak apa, salahku yang menerimamu meski tahu keadaan dan kenyataannya, berbeda jauh dari harapan semua wanita di dunia ini,” keluh Gwen, menahan air mata yang mungkin akan jatuh jika saja Alexi tidak segera memeluknya dengan erat.

“Aku mencintaimu, Gwen Himeka, apa pun yang terjadi,” gumam Alexi dengan senyum getir yang ia sembunyikan di balik punggung Gwen.

Gwen hanya mengangguk sebagai pertanda dia setuju dengan apa pun ucapan Alexi.

Karena ia selalu menghormati keputusan sahabat sekaligus pria yang berani dicintainya dalam risiko besar, selama hampir dua tahun terakhir ini.

“Selamat untuk kelahiran Putri pertamamu, Lexi,” ucap Gwen, terdengar tulus.

Alexi segera melepas pelukannya, menatap lekat pada Gwen yang tersenyum. Senyum sedih, lebih tepat dan memang terlihat seperti itu.

“Gwen ... ma-maaf, itu ketidak sengajaan. Kau tahu bukan, kami tinggal serumah dengan Ayah dan Ibunya Anna. Aku tetap harus tidur sekamar dengan Anna, lalu—”

“Sudahlah, Lexi. Memang itu hak yang seharusnya kau dapatkan dan kewajiban yang harus Anna lakukan sebagai istrimu,” sela Gwen cepat, tanpa amarah yang terlihat. Ia menyembunyikan segala perih dalam hatinya.

Alexi merasa bersalah, hanya bisa terdiam dan salah tingkah melihat wanita yang begitu dicintainya, menahan perih dan terluka selama ini.

Mungkin Gwen tak pernah tahu, bahwa ia sudah menyukainya, sejak sepuluh tahun yang lalu.

“Gwen ... aku berjanji akan segera menyelesaikan ini.” Alexi memegang kedua pundak Gwen, berbicara dengan kesungguhan.

“Apa maksudmu?”

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status