3. Dokter Bella

"Tuan, mohon maaf Marcus mengganggu kesibukan Tuan Devin."

Devin Chayton berusaha bernapas normal, seolah sejak tadi berada di ruangan tenang dan duduk santai bersama pialang. Napas memburu seperti ini, memang sulit dinormalkan dalam waktu cepat. Tapi Marcus tidak boleh mendengarnya melalui sambungan telepon atau dia akan curiga.

"Tidak, aku baru masuk ke toilet." Devin membuka kran dan membiarkan kucuran airnya terdengar oleh Marcus di sambungan telepon.

"Oh, maaf, Tuan Devin. Apakah pertemuan dengan pialang sudah selesai?"

"Belum," tukas Devin sembari mematikan kran. Dia mengendus jas hitam pekat yang sudah dikenakannya kembali, lalu melempar jaket kulit berdebunya ke keranjang di sudut toilet.

Besok pagi, semoga Liliana tidak lupa mencucinya. Sejak dia tak lagi bekerja di Mansion Batista, Devin memintanya merawat rumah tempat persembunyiannya, lima belas kilometer dari mansion. Liliana tentu saja sangat mengharapkan pekerjaan. Menikah adalah alasan yang disampaikannya pada Andrew Chaytan, agar bisa keluar dari Mansion Batista. Selebihnya, tetap menjadi pelayan Devin di luar mansion adalah janjinya atas jasa Devin menyelesaikan masalahnya dalam hitungan detik.

"Apa ada masalah di mansion?" tanya Devin curiga. Marcus tidak akan menelpon bila tidak ada informasi atau kejadian penting.

Devin berjalan tergesa menuju garasi. Membuka pintunya tanpa suara dan mendapati dua motornya ada di sana. Motor gunung untuk pekerjaan kecilnya, dan Harley untuk pekerjaan resminya--di Batista Corp.

"Hm, bila Tuan sudah selesai, saya sarankan segera kembali ke mansion."

"Ada apa, Marcus? Levin dan Daddy bertengkar?"

Marcus sejenak tidak bersuara. "Para pelayan sudah membersihkan ruangan dan merawat Tuan Levin. Tuan Andrew agak sesak napas, dan kami sudah memanggil dokter."

"What?"

"Entah bagaimana kejadiannya, Tuan Levin memecahkan kaca jendela ruangan Tuan Andrew. Dengan kepalanya."

Devin tercekat. Anak bodoh! 

Argumen yang disampaikan Levin pada ayah mereka, pasti sudah membuat lelaki paruh baya itu murka.

***

Lima belas menit kemudian, Devin sudah memasuki halaman Mansion Batista. Marcus sudah menyuruh pelayan menunggu di garasi, hingga Devin tinggal melompat dari motornya dan menuju lantai dua.

Melewati ruang tengah, dilihatnya Levin sedang berbaring di sofa dengan dahi diperban. Dia tampak baik-baik saja, meski bajunya kusut masai. Dalam kondisi seperti itu, dia bisa dengan santainya menonton televisi seolah tidak terjadi apa-apa. Dia melirik sekilas ke arah Devin yang menegak badan di depan pintu, menatapnya dingin tanpa berkedip. Levin kembali memainkan remote televisi, memindah-mindah channel. Terlebih setelah dilihatnya kedua tangan kakaknya mengepal geram.

“Levin, apa yang …”

“Yang harus kau khawatirkan ayah, bukan aku.”

Seseorang turun dari tangga, membawa baskom. Linda, pelayan pribadi Andrew Chayton. Setiap anggota keluarga Chayton memiliki pelayan pribadi yang mengurus segala keperluan pribadi. Bila anggota keluarga Chayton sakit, mereka adalah orang yang paling sibuk dan pastinya paling lelah. Raut muka Linda sudah menunjukkan bagaimana kondisi majikannya. Kedua alis tebalnya bertemu, dan mukanya berkerut, menampakkan keriput wajah penanda usianya yang tak lagi muda. Devin mencegatnya sebelum melangkah meninggalkan ruangan.

“Bagaimana ayah?”

“Baru saja muntah, Tuan.  Sekarang sedang bersama dokter Bella.”

Devin bergegas menaiki tangga. Sembari memastikan bahwa kostum yang dipakainya, adalah kostum yang sama dengan saat dia meninggalkan mansion. Di ujung tangga paling atas, dia menunduk dan menyadari bahwa sepatunya adalah sepatu kets yang berlumpur di bagian ujungnya.

“Sial, kenapa aku lupa menggantinya? Karena terburu setelah ditelpon Marcus.”

Devin kembali turun dari tangga, melintasi Levin dan  menuju kamarnya. Levin hanya meliriknya sekilas, menyamankan posisinya dan kembali mengubah-ubah channel televisi. Tidak ada satupun channel yang menarik baginya, karena meski bersikap cuek, pikirannya dipenuhi oleh kata-kata penuh amarah ayahnya tadi. Bantahan atas tuduhan ayahnya, membuat lelaki itu mencengkeram kerahnya dan tanpa sadar membenturkan kepalanya ke kaca.

Levin tak hendak melawan. Hanya kemarahan yang sama membuatnya kemudian meninggalkan ayahnya yang membeliak, tak percaya dengan gerakan cepat yang dilakukannya. Dan itu membuat kaca jendela berkeping-keping dan kening Levin tergores. Meski yang lebih pedih dari itu semua adalah luka di hati Levin.

Devin kembali dengan cepat, dan kini hanya mengenakan sandal. Dia bergegas naik tangga, tak sempat memperhatikan Levin yang perlahan terduduk. Tiba-tiba menyadari ada yang aneh dengan kakaknya.

Perlahan Devin membuka pintu kamar ayahnya yang terbuka separuh. Dokter Bella Artwater adalah anak dari dokter keluarga mereka, dokter Cleve Artwater. Dia baru saja lulus kedokteran hewan. Berada di sini dalam kondisi darurat, pastinya dokter Cleve berhalangan hadir.

“Dad, bagaimana dia?” tanya Devin pada dokter Bella yang langsung berdiri dari duduknya ketika melihat si sulung memasuki ruangan. Dia mengenakan dress hijau lumut yang dibalutnya dengan jas putih.

“Dia hanya sesak napas. Tapi asmanya tidak kambuh.”

Devin duduk di sebelah ayahnya dengan hati-hati. Menggenggam tangan keriput yang bertumpuk di dada ayahnya, yang naik turun dengan teratur. Membuat Devin bernapas lega.

“Aku harus segera kembali. Papa sedang sibuk di rumah sakit, ada kecelakaan di jalur 34. Kurasa aku harus membantunya.” Dokter Bella membereskan peralatannya dan menyodorkan secarik kertas. “Aku hanya bisa menulis resep, karena di tasku hanya ada obat untuk kuda dan sapi. Maaf.”

Devin mengangkat sudut bibirnya. “Terima kasih. Maafkan Marcus. Dia hanya bisa menghubungi dokter Artwater. Artwater mana saja,”

Dokter Bella tersenyum. “Asalkan jangan David  Artwater. Dia tidak bisa bangkit dari kubur.”

Dokter Bella menepuk bahu Devin, lalu meninggalkan ruangan. Mereka teman bermain sejak kecil. Bella Artwater kerap diajak ayahnya bila Andrew Chayton kambuh penyakit asmanya. Dan teman bermainnya adalah Devin, karena mereka sama-sama menyukai kucing. Bella lebih tua tiga tahun dari Devin, membuat Devin merasa mempunyai kakak perempuan yang perhatian padanya.

Levin melongokkan kepala dari balik pintu, tapi kemudian menarik badannya lagi ketika Bella menuju ke arahnya. Wajah tirus dengan bibir tajam itu tak pernah lelah diburunya untuk jatuh dalam dekapan. Namun tentu saja Bella Artwarter bukan perempuan gampangan yang mudah terpikat oleh anak muda kaya raya. Lagipula, baginya Levin hanya anak kecil yang suka bermain-main, tidak akan pernah serius.

"Kau mau menjenguk ayahmu?" tanya Bella tanpa menatap ke arah mata sendu si Jangkung Levin, yang pantang menyerah merayunya.

"Kurasa aku korbannya malam ini. Apa aku harus simpati pada Andrew Chayton?" Levin menundukkan kepala agar perban di kepalanya sejajar dengan kepala Bella.

Bella melirik Levin sekilas, lalu berlalu menuruni tangga. "Dia ayah kandungmu."

"Hei, kau harus datang besok untuk merawat kepalaku," ucap Levin mengejar Bella menuruni tangga, mengurungkan niat hendak menguping pembicaraan ayahnya dengan Devin. Bella lebih menantang untuk dirayunya, meski seperti biasa wanita itu selalu bisa menghindarinya.

Bella sudah sampai di anak tangga terakhir saat Levin berhasil menjangkau lengannya. Tarikan kuat tangan Levin membuat tubuh Bella oleng dan Levin dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum dokter itu membentur pegangan tangga.

Senyum kemenangan Levin mengembang sempurna di wajahnya. Terlebih ketika Bella spontan mencengkeram bajunya, menahan diri agar tidak terjauh.

"Levin!"

Baik Levin dan Bella yang berada dalam dekapannya, menoleh ke atas. Devin berdiri di tepi pagar tangga.

"Dad mau bicara dengan kita, berdua."

                            

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status