Part 4

Lintang menatap bosan Vanka yang sedari tadi sibuk membaca buku paket. Mereka sedang berada di perpustakaan sekolah.

Vanka meminta Lintang untuk menemaninya ke perpustakaan. Sebenarnya, Lintang sudah menolak, tapi karena Vanka terus-terusan memohon membuatnya terpaksa mengikuti kemauan gadis itu.

"Van, udah selesai belum bacanya? Gue udah laper, nih," ucap Lintang sembari melipat tangannya di depan dada.

"Bentar Tang. Ini gue masih baca materinya. Lo mau baca? Ini tuh materinya lengkap banget. Siapa tahu dengan lo baca buku ini lo bisa kerjain tugas lo sendiri," ucap Vanka sembari tersenyum.

"Ogah. Ngapain juga baca buku? Gak bakal masuk ke otak gue," ucap Lintang.

"Tapi, Tang ini tuh bagus banget bukunya. Lo harus baca."

"Enggak," tolak Lintang. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari perpustakaan.

"Eh, Lintang! Tungguin gue!" Vanka segera menaruh kembali buku paket ke rak dan berlari mengejar Lintang.

Ia langsung menggenggam tangan Lintang ketika ia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Lintang.

"Kok lo tinggalin gue sih?" tanya Vanka sedikit kesal.

"Gue laper. Lo pikir gue bakal kenyang liat lo baca buku gitu?" ketus Lintang.

"Ya enggak sih. Tapi, apa salahnya sambil nunggu gue lo baca buku juga. Baca buku itu bagus, loh," ucap Vanka antusias.

Vanka memang suka membaca. Apalagi membaca novel. Jika ia sudah membaca, ia seolah asyik dengan dunianya sendiri. Tidak peduli dengan keadaan sekitar. Dan, hal itu membuat Lintang kesal.

"Lo tahu kan gue gak suka baca. Udah deh kalau lo mau baca lagi, ya balik aja ke perpus," ucapnya.

"Ya udah maaf. Gue gak bakal paksa lo baca buku lagi, deh. Lo udah laper, kan? Kita ke kantin aja yuk."

"Emang gue mau ke kantin. Lo pikir mau ke mana lagi?"

Vanka mengerucutkan bibirnya.

"Iya iya. Gitu aja marah."

Mereka memasuki kantin. Sudah ada Vino dan Roy di kantin. Mereka sedang menikmati makanan mereka.

"Woi, lo berdua kok duluan ke kantin sih?" tanya Lintang.

"Habisnya lo lama sih. Kalau kita nungguin lo, bisa mati kelaparan kita," ucap Vino.

"Gue mau beli makan dulu." Lintang berjalan menuju pedagang untuk membeli makanan.

"Lintang! Tunggu!" Vanka berlari kecil mendekati Lintang.

Setelah mereka berdua membeli makanan, mereka duduk dan melahap makanan mereka.

"Hai, gue boleh gabung gak?" tanya Lisa yang baru datang sembari memegang semangkuk soto ayam.

Vino dan Roy menatap sejenak ke arah Lisa, kemudian kembali sibuk dengan makanan mereka tanpa menjawab pertanyaan cewek itu.

Mereka berdua memang tidak suka dengan Lisa. Gadis itu selalu mendekati Lintang di mana pun cowok itu berada.

"Boleh. Duduk aja," jawab Lintang.

Lisa tersenyum kemudian duduk di samping kiri Lintang.

"Tang, pulang sekolah nanti lo bisa temenin gue gak?" pinta Lisa.

"Ke mana?" tanya Lintang.

"Ke mall. Kemarin gue sempat liat sepatu bagus banget dan limited edition. Kemarin gue gak bisa beli karena uang gue gak cukup. Lo mau kan temenin gue?" ucap Lisa antusias.

"Oke," jawab Lintang tanpa berpikir panjang.

Vanka membulatkan kedua matanya. Bagaimana bisa Lintang langsung mengiyakannya? Padahal, kemarin Lintang sudah menemani cewek itu pergi ke mall.

"Tang, kok lo mau nemenin dia sih? Kemarin kan lo udah nemenin dia," ucap Vanka tidak terima.

"Lintang aja gak papa. Kok lo yang sewot sih?" ucap Lisa.

"Tahu nih. Lo ke mall terus. Gak bosen apa? Kenapa lo gak beli aja sama mall-mall nya sekalian biar gak usah ke sana lagi," sahut Roy kesal.

"Kalau dia beli sama mall-mall nya sekalian, gimana caranya dia bawa itu mall coba? Yang ada dia keburu mampus," kekeh Vino diikuti Vino dan Vanka.

Lisa menatap mereka bertiga tidak suka.

"Lo berdua kenapa sih selalu ngejek gue?" tanya Lisa tidak suka.

"Emang lo pantas buat diejek. Iya gak Roy?"

"Yoi bro."

Lisa memutar bola matanya malas.

"Udah deh. Lo berdua mendingan makan. Jangan ngejekin Lisa mulu," sahut Lintang.

"Iya iya."

Vanka menatap Lisa yang tengah tersenyum ke arahnya.

Ia merasa kesal dengan cewek itu. 

****

Vanka berjalan memasuki kelas Lintang yang sudah sepi. Di kelas Lintang hanya tersisa Lintang, Lisa, Roy, dan Vino.

"Lintang," panggil Vanka yang sudah berada di hadapan Lintang.

Lintang yang baru saja selesai memasukkan buku-bukunya ke dalan tas menoleh pada Vanka.

"Ngapain lo ke sini?" tanya Lintang.

"Mau pulang sama lo."

Lisa tertawa membuat mereka menatap ke arahnya.

"Lo lupa, Lintang sama gue. Dia mau nemenin gue ke mall," ucap Lisa.

"Tang, lo beneran mau nemenin dia?" tanya Vanka pada Lintang.

"Iya," jawab Lintang singkat.

"Lo temenin gue beli buku, ya? Kemarin kan lo bilang kalau lo bakal mau nemenin gue beli buku," ucap Vanka sengaja.

Ia ingin membuat Lintang memilih antara dirinya atau Lisa.

"Tang, lo udah janji lo sama gue tadi di kantin."

"Lain kali aja gue temenin lo ke toko buku. Sekarang gue mau temenin Lisa ke mall," ucap Lintang pada Vanka membuat gadis itu kecewa.

"Kok lo gitu sih? Lo lebih milih nemenin dia daripada gue? Gue ini pacar lo, Tang!"

"Ck! Gue udah janji sama Lisa. Lo dengar sendiri kan tadi di kantin? Udah deh gak usah macam-macam. Muak gue sama sikap lo yang kekanakan itu!" ketus Lintang.

"Jadi, lo nganggap gue childish? Hanya karena dia? Oke." Vanka langsung keluar dari kelasnya dengan perasaan kesal.

Ia menoleh ke belakang berharap Lintang menyusulnya. Namun, Lintang sama sekali tidak menyusulnya.

"Tang, lo kenapa sih selalu kayak gitu sama Vanka? Dia kan cuma minta lo nemenin dia ke toko buku," ucap Vino.

"Lagian, kemarin lo kan juga udah nemenin nih cewek ke mall. Apa salahnya hari ini lo nemenin Vanka?" timpal Roy.

"Kok lo berdua pada belain Vanka sih? Lagian, lo berdua kan juga udah tahu kalau gue udah janji sama Lisa. Harusnya lo berdua belain gue bukan Vanka. Dia itu sengaja biar gue mau pergi sama dia. Padahal, dia tahu kalau gue udah janji sama Lisa," ucap Lintang panjang lebar.

Lisa tersenyum miring. Ia merasa menang karena Lintang membelanya.

"Kita bukannya belain Vanka, Tang. Tapi, sebagai teman lo kita cuma ngingetin lo aja. Terserah kalau lo gak mau terima omongan kita yang penting kita udah kasih tahu lo," ucap Roy kemudian merangkul Vino keluar kelas.

Lintang terdiam sejenak. Apa dirinya salah? Tapi, ia merasa tidak bersalah. Vanka lah yang bersalah. Gadis itu sudah tahu kalau dirinya sudah berjanji pada Lisa untuk menemani Lisa ke mall, tapi ia malah meminta Lintang untuk menemaninya ke toko buku. Ia yakin Vanka sengaja melakukan itu.

"Tang, ayo pergi," ajak Lisa.

Lintang tersentak dari lamunannya.

"Iya."

****

Vanka membuang asal buku-bukunya ke lantai. Ia sudah sampai di rumahnya. Saat ini, ia merasa sangat marah karena kejadian tadi, di mana Lintang lebih memilih menemani Lisa daripada dirinya yang statusnya adalah pacarnya.

"Gue benci sama Lisa! Dasar cewek gak tahu diri! Kenapa dia harus ada sih?" 

"Lintang juga kenapa lebih milih dia sih? Gue kesel sama Lintang!"

Vanka menatap ponselnya yang bergetar. Terdapat pesan masuk. Keningnya mengerut saat tahu kalau Lintang yang mengirimnya pesan.

|Lintang❤️|

|Sorry.

|Besok gue temenin lo ke toko buku. 

|Gak usah marah lagi. Oke?

Senyumnya langsung mengembang. Ia menaruh ponselnya di nakas. Ia menahan dirinya untuk tidak membalas pesan dari Lintang. Ia tidak mau langsung membalas pesan cowok itu. Ia ingin membuat Lintang merasa bersalah padanya.

Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar. Ia kembali mengambil ponselnya dan membuka pesan dari Lintang.

|Lintang ❤️|

|Kok diread doang?

|Lo marah?

|Jangan marah lama-lama. Gue gak bisa dicuekin sama lo.

Vanka tersenyum lebar. Ia merasa pipinya memerah. 

"Kalau dia kayak gini, mana bisa gue marah lama-lama sama dia?" gumamnya.

*************

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status