Bab 6 Caramel Diusir

Setelah kepergian Bima, Sinta dan Devon, Yuan ikut berpamitan kepada Caramel untuk berangkat kerja ke kantor. 

Caramel merasa kesepian, ia bingung harus melakukan aktivitas apa saat Yuan dan Devon tidak ada di rumah. 

Caramel berjalan-jalan mengelilingi rumah. Beberapa kali ia disapa oleh banyak pembantu yang ada di rumah Yuan. Caramel membalasnya dengan ramah dan senyuman yang menawan. 

Hiruk pikuknya kota Jakarta yang terkenal dengan kemacetan nya, ternyata masih ada tempat yang begitu asri dan cukup jauh dari keramaian. Suasana yang sejuk, tenang, dan di sekitar rumah yang di tempati keluarga Yuan, hanya ada beberapa rumah saja. Tidak padat penduduk seperti kota jakarta pada umumnya. 

Di balik rumah tampak depan yang begitu megah, terdapat taman tersembunyi di balik rumah yang tak kalah indah. Caramel ingin membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya. 

“Anda mau ke mana, Nona?” tegur salah seorang penjaga rumah bernama Santoso. 

Caramel terkejut dengan kedatangan Santoso yang secara tiba-tiba. 

“Ah, Bapak. Mengagetkan saya saja. Saya mau ke taman itu, Pak. Bolehkah saya masuk?” tanya Caramel. 

Penjaga rumah tersebut tampak bimbang. 

“Taman itu milik Nyonya Damitri, tidak boleh sembarang orang bisa masuk ke sana. Tapi, Non Caramel 'kan juga sudah menjadi keluarga sekarang. Mungkin tidak apa-apa lah jika aku mengizinkan.” Sejenak Santoso bergumam dalam hati. 

“Bagaimana, Pak? Boleh?” tanya Caramel lagi.

“Boleh, Non. Tapi sebentar saja ya?” ujar Santoso. 

“Iya, Pak. 15 menit. Saya janji!” potong Caramel dengan cepat. 

Karena mendengar Caramel yang telah berjanji dengan penuh keyakinan, akhirnya Santoso membuka pintu taman tersebut untuk Caramel. 

Perlahan Caramel memasuki taman itu dengan penuh kekaguman. Keindahan Tuhan itu memang nyata, dan kini tersaji di depan matanya. Caramel sangat takjub dengan pemandangan buatan yang seketika membuat hatinya merasa nyaman dan terhanyut di dalamnya. 

Caramel melihat ribuan jenis bunga yang tertata dengan rapi memanjakan mata. Banyaknya pohon rindang semakin menambah suasana taman menjadi hidup. Di sudut taman terdapat danau dan jembatan buatan yang membuat Caramel semakin penasaran untuk lebih mendekatinya. Danau yang memiliki banyak ikan yang berlompatan menunjukkan kemolekannya. 

Danau tersebut seperti memiliki magnet yang bisa menarik lebih dekat siapa saja yang melihatnya. Caramel memainkan tangannya di atas permukaan danau. Sangat menyenangkan, itulah perasaan yang dirasakan oleh Caramel. Sejenak ia bisa melupakan segala masalah yang ada dihidupnya. 

Caramel semakin menikmati keindahan taman itu. Tidak hanya taman melainkan juga danau buatan yang sangat menyihir mata. Caramel berjalan santai, menapaki langkah demi langkah untuk menyusuri setiap keindahan taman. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat sebuah foto yang berada di bawah kakinya. 

Caramel berjongkok dan mengambil foto tersebut. Melihat foto yang terlihat semringah dengan kebahagiaan yang terpancar di wajah orang-orang yang ada di dalam foto, tanpa terasa membuat hati Caramel sedikit gelisah. 

Foto yang memperlihatkan anggota penuh keluarga Alexander, ditambah dengan kehadiran wanita cantik di samping Yuan, yang tersenyum menawan menunjukkan gigi rapinya, ia adalah Evelin. Kekasih Yuan yang belum cukup lama mereka berpisah. 

“Pantas saja nyonya Damitri sangat membenci aku, ternyata hubungan beliau dengan pacar Mas Yuan sudah sedekat ini. Dan tampilannya, sangat jauh dari penampilanku yang sangat norak. Aku memaklumi kenapa nyonya tidak bisa menerima aku di keluarganya. Harusnya aku yang sadar diri dengan keadaanku. Aku hanya parasit dikehidupan mereka. Aku hanyalah orang baru yang tiba-tiba datang, dan menghancurkan mimpi indah mereka. Kenapa kamu harus menikahiku, Mas? Aku sama sekali tidak pantas bersanding denganmu. Aku hanya akan menyusahkan, dan membuat keluarga kalian semakin renggang.” Tangan Caramel bergetar. Ia merasa menjadi perusak kebahagiaan orang lain. 

“Kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini? Aku seperti sedang menari di atas penderitaan orang lain. Aku sangat mengerti kenapa Nyonya sangat membenciku. Karena semua ini memang salahku. Aku yang sudah merebut posisi mbak Evelin di rumah ini.” Lirih Caramel lagi dengan isakan tangis tertahan. 

Caramel semakin menangisi nasibnya. Dibalik kebahagiaannya, ternyata ada orang lain yang menderita karena ulahnya. Tiba-tiba saja pandangan Caramel buram. Caramel pingsan dengan menggenggam foto tersebut di tangannya. 

***

Satu jam telah berlalu, Caramel belum juga keluar dari taman itu. Perasaan Santoso semakin tidak tenang. Ia khawatir jika sampai Damitri mengetahuinya. 

Santoso mondar-mandir menunggu kedatangan Caramel yang tak kunjung muncul. Ia ingin masuk dan memanggil Caramel, tapi ia tidak berani. Ia takut jika mengganggu kesenangan istri dari Tuan Muda akan berimbas pada dirinya. Tapi ia juga takut kalau sampai Damitri marah besar terhadapnya. 

“Kenapa anda lama sekali sih, Nona? Tolong jangan buat saya khawatir!”

Pikiran Santoso gusar. Ia merasa dilema dengan situasi yang kini menghimpitnya. 

Bim! Bim! 

Suara klakson mobil Damitri terdengar nyaring. Bertepatan dengan hal itu, jantung Santoso bekerja semakin giat. Degup jantung yang tidak beraturan membuat peluhnya bercucuran. 

“Astaga! Apa yang harus aku lakukan?” Santoso semakin kebakaran jenggot. Wajahnya pucat, tubuhnya panas dingin. 

“Nona, segeralah keluar. Saya tidak mau dipecat nyonya, Nona. Tolong saya?” lirih Santoso. 

Krieett ... Caramel membuka pintu taman perlahan. 

Hati Santoso seketika bergembira. Yang tadi sudah di ujung tanduk, kini selangkah lebih mundur dari jarak sebelumnya. 

“Nona?” panggil Santoso yang melihat Caramel berjalan dengan terhuyung. 

“Apa yang terjadi, Nona? Kenapa anda menjadi lemas begini?” tanya Santoso khawatir. 

“Saya tidak apa-apa, Pak. Maaf ya, Pak. Saya sudah melewati batas waktu yang Bapak tetapkan,” ucap Caramel lirih. 

“Iya, Nona. Mari Nona, saya antar Nona ke kamar!” tawar Santoso. 

“Tidak perlu, Pak. Saya bisa sendiri, kok. Bapak lanjutkan saja pekerjaan Bapak. Saya tidak apa-apa,” tolak Caramel secara halus. 

Saat Caramel melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat tersebut, ternyata keberadaannya di ketahui oleh Damitri. 

“Dari mana kau, jelata?” Damitri sudah berdiri di ambang pintu yang tak jauh dari tempat Caramel berdiri. 

“Em, Nyonya? Saya ... saya dari-” jawab Caramel terbata. 

“Jangan bilang kamu dari taman?” potong Damitri. 

Caramel menoleh sejenak ke arah Santoso, ia melihat Santoso sedang menunduk dengan wajah penuh ketakutan.

“Sa-”

Belum sempat Caramel melanjutkan ucapannya, ia sudah ditarik paksa Damitri dengan sangat kasar. 

“Lancang kamu, ya! Apa sih mau kamu? Kamu sudah mencuci otak anak saya, dan sekarang kamu mau mencoba menguasai rumahnya? Dasar enggak tau diri! Harusnya kamu tau diri, semua orang di rumah ini tidak ada yang mengharapkan kehadiran kamu! Kamu itu siapa? Memangnya kamu princess yang bisa dinikahi seorang pangeran lalu hidup bahagia? Tidak usah bermimpi kamu, jelata! Lebih baik kamu sadar! Bangun dari kehaluanmu itu!” Damitri terus mengomel memarahi Caramel dengan satu tangan menjambak rambut Caramel. 

Caramel hanya diam tidak membalas perlakuan Damitri terhadapnya. Tubuhnya masih sangat lemas untuk sekadar berbicara. Lagi pula, Caramel menganggap Damitri mertua yang juga harus dihormatinya. 

“Ada apa sih, Mah? Ribut banget!” Selina keluar kamar dan melihat Damitri sedang menjambak rambut dan menarik paksa Caramel menuju kamar Yuan. 

“Kemasi pakaian kamu! Keluar kamu dari rumah ini sekarang juga!” usir Damitri dengan menghempaskan tubuh Caramel secara kasar. 

Selina tersenyum penuh kemenangan. Ia sangat suka dengan pertunjukan yang saat ini dilihatnya. 

Di sisi lain, tidak jauh dari tempat mereka berada, ada Jennifer yang sedang merekam aktivitas mereka bertiga. 

“Mama sama Kak Selina ngapain, sih? Kalau tidak suka ya sudah, cukup diam saja gitu lho. Enggak usah berlaku kasar seperti itu!” gumam Jennifer yang ikut kesal dengan tingkah mama dan kakaknya. 

Jennifer masih terus merekam kegiatan Damitri dan Selina yang terus menyiksa Caramel, hingga mengusir Caramel secara paksa. Damitri dan Selina menarik kedua tangan Caramel, lalu melempar tubuh Caramel dengan sangat kasar. Banyak yang melihat kejadian itu, tapi tidak ada satu pun yang berani menghentikan aksi itu. Karena mereka lebih takut dengan kemarahan Damitri, yang seakan mampu menelannya hidup-hidup. 

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Damitri dan Selina melakukan tos bersama. Kemudian dengan riang gembira mereka masuk ke dalam kamarnya masing-masing. 

“Kalian benar-benar keterlaluan! Akan aku adukan kelakuan kalian kepada Kak Yuan!” ucap Jennifer dengan tatapan murka. 

Tidak ada satu menit, video itu telah terkirim ke nomor Yuan. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status