Chemistrick
Chemistrick
Author: Indah Hanaco
Prolog

Robin bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Dia tak pernah bersikap sok pahlawan untuk membela seorang cewek yang sedang adu mulut dengan pacarnya. Namun dia paling tidak tahan jika ada laki-laki yang bersikap keterlaluan dan cenderung kurang ajar. Mencekal lengan kiri pasangannya sambil memaki “jangan sok alim”, misalnya. Robin sudah pernah melihat pertengkaran yang awalnya tampak sepele malah berakhir dengan peristiwa fatal. Dia tak mau lagi dihantui rasa penyesalan karena tidak melakukan apa-apa.

“Maaf, aku nggak bermaksud ikut campur urusan kalian. Tapi kurasa sebaiknya kamu lepasin tangan pacarmu. Kalau terus mencengkeramnya kayak gitu, lengannya bakalan memar.” Robin berdiri di depan pasangan itu.

Si cowok menoleh dan menatap Robin dengan tajam. Seketika, Robin mengenali Eric Adityawardhana yang namanya pernah dituliskan dengan setumpuk puja-puji karena prestasinya di dunia tenis profesional.

“Kalau gitu, mundur! Aku mau ngapain sama cewek ini, memang bukan urusanmu, kan? Abaikan kami, pura-pura nggak ngeliat apa pun. Nggak usah ikut campur.” Lalu tatapan Eric beralih pada pacarnya. “Cewek yang suka jual mahal cuma supaya dianggap misterius, layak untuk dikasih pelajaran. Kalau cuma memar di lengan, masih terlalu ringan.”

Wow! Bukankah selama ini media menggambarkan Eric sebagai cowok gentleman yang rendah hati? Barusan Eric mengancam akan membuat lebih dari sekadar lengan yang memar? Jika seperti ini, Robin tidak bisa bersikap pasif. Dia paling anti pada laki-laki yang main tangan dengan kaum hawa.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Robin, ditujukan kepada gadis yang sedang berusaha melepaskan cengkeraman Eric. “Kamu lebih suka aku pergi atau gimana?” tanyanya nekat. Beberapa orang yang berlalu-lalang, memperhatikan dengan mata menyipit atau tatapan ingin tahu terang-terangan. Entah karena mengenali wajah Eric atau karena mendengar percakapan mereka.

“Hei, udah dibilang jangan ikut campur!” bentak Eric. “Jangan sok jadi pahlawan, deh!” Cowok itu kembali berjalan sambil menarik pacarnya. Menyeret, lebih tepatnya. Gadis itu mengaduh dan tersandung kakinya sendiri. Robin menatap ngeri saat gadis itu nyaris terjerembap di lantai. Dengan hak sepatu setinggi -paling tidak- sepuluh sentimeter, gadis itu mungkin akan terkilir. Entah kaki atau lehernya.

Namun tampaknya Eric berhasil mencegah gadisnya mencium lantai. Sayang, setelahnya cowok itu malah menyentakkan tangan sang pacar dengan kencang hingga menyebabkan pekik kesakitan terdengar jelas. Kali ini, Robin tidak bisa berdiam diri lagi. Dia kembali mengadang pasangan itu.

“Kamu tadi belum jawab pertanyaanku. Kamu lebih suka aku pergi? Tetap pengin bareng pacarmu?”

Eric mendorong bahu kiri Robin dengan tangan yang sengaja dikepalkan. Apa yang dilakukan Eric  itu menimbulkan rasa nyeri. Namun Robin bersikap seolah-olah tindakan itu tidak dirasakannya. Dia juga mengabaikan makian Eric. Tatapannya terfokus pada gadis jangkung di sebelah Eric yang tampak pucat sekaligus kesakitan. Saat itulah Robin baru mengenali siapa kekasih Eric. Cynthia Pasha, aktris yang memang disebut media sebagai pacar sang mantan atlet.

“Aku lebih suka pulang sendiri,” balas Cynthia dengan suara pelan. Gadis itu mengernyit kesakitan. “Dan dia bukan pacarku.”

“Hei, hati-hati kalau ngomong! Apa kamu mau ada wartawan yang….”

“Kalau kamu masih sempat cemas soal wartawan, apa yakin tetap mau ngelakuin kekerasan sama cewek?” Robin mundur sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia mulai menjepretkan kamera ke arah pasangan itu dengan cepat. Eric bergerak maju, hendak meraih gawai Robin dengan tangan kanannya yang bebas.

“Silakan bertingkah dan aku akan nyebarin foto-foto ini.” Robin mundur lagi sambil menggoyangkan telepon genggamnya. “Atau, pulang sendiri dan jangan bikin ulah apa pun. Bahkan sekadar memaki.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status