Penggoda Dari Bar Sebelah

Angel kini tengah berdiri di balkon apartemen milik Nick dengan kedua bola mata yang memandang dengan begitu kesal ke depan.

"Apa, sih?! Mana ada aku nyusahi?! Aku pergi pun nggak macam-macam karena palingan tidur doang. Udah, kan?! Itu aja dan nggak ada yang lainnya," ucap Angel dengan begitu kesal sambil menghentakkan kedua kakinya diatas lantai dengan begitu gemas.

Nick langsung menarik pinggang gadis mungil itu untuk masuk kembali ke dalam kamar dan berhasil membuat gadis mungil itu semakin merasa kesal.

"Apa, sihhhhh?! Ngapain main tarik-tarik aja?!"

Nick tersenyum miring lalu kemudian perlahan mengelus lembut leher Angel.

"Nanti lehernya berurat kalau teriak mulu," ucapnya dengan nada suara tenang.

Angel perlahan memejamkan matanya saat dia merasakan tangan kekar itu mengelus lembut lehernya.

Nick yang melihat respon sensual dari angel langsung mendecih sinis.

"Cih! Yang kayak gini mau datang ke bar?! Lehernya baru disentuh doang dan langsung perangsang kayak gitu," ucap Nick dengan nada meremehkannya.

Angel yang mendengarkan itu langsung dengan cepat membuka kedua bola matanya sambil menatap tajam pria itu, tetapi beberapa detik berikutnya dia kembali menatap lembut dan manja.

"Ihhhhhh! Nickkkkk!"

Nick tertawa pelan saat melihat tingkah konyol yang diperlihatkan Angel kepada dirinya, terus merengek layaknya anak kecil.

"Pokoknya Angel ikut sama kamu, yahhhhh!"

"Ck, masih dibahas aja masalah itu!"

"Ikut!"

Nick mengusap wajahnya dengan kasar dan perlahan menatap kedua bola mata indah itu dengan tatapannya yang begitu serius.

"Lo datang ke bar bahaya banget, Ngel. Lo nyusahi jadi cewek," ucapnya dengan lembut.

Angel menggelengkan kepalanya dengan cepat sebagai jawaban.

"Enggak ada nyusahin loh. Aku datang ke sana, terus aku natap kamu kerja dan kalaupun aku bosan, aku bisa minta manager kamu untuk buatin aku waffle atau tidur, kan?!" ucapnya dan berusaha untuk mencari alasan agar dia bisa ikut.

"Ck, karena hal itu, gue berasa bahaya kalau lo ikut sama gue!" tegas Nick, kesabarannya sudah perlahan habis.

"Memangnya bahaya bagian di mananya, coba?!" Angel bertanya dengan nada suaranya yang sudah naik satu oktaf.

Nick menggertakkan giginya dan rahangnya mulai mengeras, dia mulai emosi menahan tingkah Angel, tetapi sekuat tenaga dia tidak marah kepada sugar baby-nya itu.

"Lo tidur dan gue serius kerja. Kalau misalnya ada yang bohong lo karena gue serius buat kerja nanti, gimana jadinya?" Nick bertanya dengan nada suaranya yang mulai perlahan greget.

"Bukannya aku bisa teriak dan panggil kamu?!" tanya Angel menantang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Tapi lo kalau tidur kayak orang mati aja! Bangunnya susah banget!" Nick mengusap wajahnya dengan begitu kasar.

Kedua bola mata pria itu sudah beralih untuk menatap tajam gadis mungil yang ada di depannya itu.

"Alasan apalagi yang mau keluar dari mulut lo?!" Nick bertanya dengan begitu geram.

Angel menghela napas panjang dan langsung menghamburkan pelukannya pada tubuh Nick sambil mengerucutkan bibirnya dengan begitu manja.

"Iya, deh. Angel nggak akan pergi," final Angel dengan nada suaranya yang pasrah karena dia sudah tidak bisa lagi untuk terus berdebat dan beradu argumen dengan Nick.

"Hum..." Nick hanya berdehem pelan sebagai jawaban sambil membalas pelukan Angel.

Angel hanya bisa pasrah begitu saja karena mengingat kalau pastinya dia tidak bisa melawan pria yang ada di dalam pelukannya itu.

***

Nick tengah menghisap rokoknya dengan begitu tenang sambil menatap langit malam dengan tatapannya yang begitu tajam.

Seorang pria dengan badan tegasnya melangkahkan kakinya untuk berjalan mendekati Nick.

"Nick," panggilnya dan berhasil membuat Nick membalikkan badannya.

"Ada yang mau jumpa sama lo," ucap sahabat Nick yang sekaligus bartender di bar-nya, Abdharon Grishilde.

"Siapa?"

"Tamu VIP kemarin, sih."

Nick menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menyunggingkan senyuman tipisnya.

Kedua bola matanya perlahan menatap rokoknya yang kini tinggal tersisa setengah bagian.

"Bagus kalau lo langsung terima aja tawarannya, Nick. Mumpung dia mau bayar besar dan bahkan bayarannya dia lebih besar dari harga aslinya," jelas Hilde.

Nick tersenyum tipis dan kembali menghisap rokoknya dan juga tidak lupa tatapannya kembali menatap tajam ke depan.

"Nick-"

"Kalau gue ladeni dia. Emangnya lo udah yakin banget kalau dia bisa memuaskan gue daripada baby gue?" tanya Nick usai memotong ucapan Hilde.

"Yah..." Hilde menatap sahabatnya itu dengan kecewa.

"Untuk masalah itu gue nggak tahu, sih. Gue nggak pernah coba soalnya," ucap Hilde sambil tersenyum tipis.

Nick menghembuskan nafasnya dengan kasar dan perlahan mematikan rokoknya dan tidak lupa dia membuangnya ke sembarang arah.

Nick menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang begitu kesal.

"Rela naik ke lantai dua cuma menyampaikan ini?!" Nick bertanya dengan tidak habis pikir.

Note : Lantai 2 yang ada di bar Nick, terkhusus untuk Nick dan juga teman-temannya tanpa ada pengunjung bar lain yang menggunakan lantai 2 itu.

"Hum... Mumpung bayarannya lumayan banyak, kan?" Hilde menaikkan alis kanan nya dengan tinggi.

Nick tersenyum sinis lalu kemudian melangkahkan kakinya untuk berjalan masuk dan tidak peduli dengan tawaran yang diberikan oleh sahabatnya itu.

"Nick! Ayolah..." rengek Hilde sambil mengikuti pria itu dari belakang.

"Emangnya jalang itu di mana sekarang?"

Hilde langsung tersenyum dengan begitu lebar saat mendengarkan pertanyaan yang dia tunggu-tunggu keluar dari mulut Nick.

"Dance floor," jawabnya singkat tetapi sudah bisa dimengerti oleh Nick.

Nick menghembuskan nafasnya kesal sambil menatap Hilde dengan tatapannya yang begitu datar.

"Lo cukup duduk di sofa, pas dekat dengan bartender, dia pasti langsung jumpa dengan lo," ucap Hilde.

Nick berdehem pelan dan kemudian melangkahkan kakinya untuk berjalan turun menuju lantai 1.

Hilde menggelengkan kepalanya perlahan saat dia melihat kepergian sahabatnya itu.

"Ck, dikasih daging segar yang pernah dirasain banyak orang dan juga banyak diincar orang-orang. Tapi, dia nggak pernah peduli hal itu dan lebih memilih daging kelinci yang nyatanya itu kecil banget," gumam Hilde sambil tersenyum tipis dan melangkahkan kakinya untuk berjalan turun menuju lantai 1.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status