Share

-2-

Pria berambut kekuningan yang mengenakan topi pet putih itu berjalan sambil mengentak-entakan sepatunya hingga menimbulkan gema di lantai plester yang kasar dan panas. Dengan setangan katun dia menyeka keringat yang membulir di hidung mancungnya yang sedikit membengkok dan di sekitar pipinya yang dipenuhi dengan bercak totol-totol cokelat—terlihat kontras di permukaan kulit yang pucat. Tubuh jangkung dan berisi itu terlihat mengesani di balik jas, celana, dan sepatu yang serba putih.

Langkah opas itu seirama dengan dentangan tongkat di genggaman yang dipukul-pukulkannya pada besi terali. Entakan sepatunya terus mendekat dan semakin menggenapi kegelisahan wajah-wajah gelap tanpa pengharapan di balik jajaran jeruji yang terkunci. Semua saja berkeringat. Mereka meringkuk berjubel-jubel—jongkok, berdiri, rebah, dan bersandaran—pada dinding tebal dan di lantai plester yang kasar tanpa alas. Para tawanan itu terus membisu dan menetaki diri yang dibekap jeruji besi seiring menggelombangnya bahang di terik siang.

Tongkat sepanjang setengah meter kembali dipukul-pukulkan oleh sang opas pada pintu sel untuk membangunkan para penghuninya. Gerincing nyaring anak-anak kunci turut menyusul saat dia berusaha membuka jeruji-jeruji itu dengan kasar.

“Iedereen ga weg! Line up vooruit!”[1]

Para pria yang bertelanjang dada itu hanya mengenakan cawat dari kain sarung dan udeng di kepala. Mereka bangkit bersama, berjalan merunduk-runduk di hadapan sang opas, dan berjongkok rapi di luar pintu sel masing-masing. Tubuh mereka kurus dan ringkih seakan hanya tulang berbalut kulit. Tatapan mata mereka nyalang seakan hendak lepas dari rongganya yang cekung. Wajah-wajah itu pasrah tanpa gairah kehidupan.

Sang opas menyengih jijik sambil berjalan menghampiri jeruji besi berikutnya. Dia ulangi hal yang sama sampai tiba di depan jeruji paling ujung yang hanya diisi oleh dua orang pria. Opas itu berkacak pinggang melihat dua pria di balik sel terujung itu bergeming, tak menunjukkan rasa takut, apalagi hormat seperti tahanan lainnya yang sudah menahun di sana.

Dibiarkannya jeruji itu terkunci.

“Selamet, kemari kowe[2]!” Opas itu berteriak lantang memanggil seorang pria yang baru datang membawa talam.

“Sahaya, Meneer[3] ....”

Pria berusia dua puluhan itu datang sambil merunduk-runduk dan berjongkok di depan sang opas. Tatapan Selamet terus turun ke lantai—ke ujung sepatu putih sang opas yang tak bercela. Kemeja belacu pria itu terlihat tak berkancing dengan ujung kain batik pudar menyapu lantai dan udeng di kepala yang sedikit miring. Kedua tangan Selamet menahan talam berisi nasi jagung kasar dan dua potong tempe untuk diserahkan pada penghuni sel paling ujung.

“Kasih makan dua pemberontak berbahaya ini! Mungkin besok mereka akan mati,” ucap sang opas dalam bahasa Melayu kasar.

“Binnekort wordt u opgehangen. Iedereen zou moeten weten wie hier de leiding heeft.”[4] Bibir tipis sang opas mencebik dengan suara kasar mirip orang sedang berdahak yang ditujukan pada kedua tahanan tersebut.

Tang! Dia pukulkan sekali lagi tongkat dalam genggaman sebelum berlalu meninggalkan sel tahanan terakhir yang tetap akan terkunci setidaknya sampai sidang digelar di landraad.[5]

Selamet masih berjongkok dan menunduk hingga sang opas pergi meninggalkan mereka. Tanpa banyak bicara dia sorongkan pincukan daun pisang berisi nasi jagung dan dua gelas kaleng berisi air putih melalui sela-sela jeruji.

Selamet bangkit dan hendak berlalu, tetapi dia perlukan untuk menengok kembali. “Jika saja semua sahaya memiliki keberanian seperti kalian—melawan para tuan-tuan totok itu—tentu mereka yang akan takut pada kita! Makanlah, semoga Tuhan melindungi kalian.”

Pria bernama Selamet itu—jongos yang dipekerjakan di penjara—berlalu dengan napas engap-engap meninggalkan sel paling ujung yang tetap terkunci.

Endaru tidur meringkuk di lantai memunggungi jeruji yang memisahkannya dari kehidupan bebas. Kedua matanya terkatup dengan tangan terselip di antara paha mencoba menahan gigil karena marah.

“Aku menyuruhmu pergi, bukan? Kau malah mendatangi pusat keramaian. Cah gemblung![6]” sindir Suro tanpa melihat ke arah Endaru.

“Aku tidak bisa pergi! Sudah berapa lama dan jauh kita pergi selama ini, Paman? Namun, dia terus bermunculan di dalam mimpi-mimpiku. Bahkan, dua tahun ini dia berwujud seorang pria totok. Aku tahu dia masih memantraiku. Dia terus berusaha memanggil-manggil agar aku kembali ke sana!”

Suro bangkit untuk mengambil salah satu pincukan nasi, duduk bersandar pada dinding sel yang terasa hangat di punggung, dan menyuapkan isinya ke mulut dengan tiga kali kunyahan. Dia sendiri masih bertelanjang dada, udengnya hilang saat penangkapan, dan hanya mengenakan celana gombroh hitam yang terlihat kumal.  

“Tidak seharusnya kau di sini, Endaru? Kau dengarkan aku!?”

Kesal karena merasa diabaikan, Suro menyorong kaki Endaru dengan ujung kakinya sendiri. Karena masih tak ada tanggapan, akhirnya Suro berbicara sendiri sambil mulutnya terus menguyah. Kumis baplangnya bergerak-gerak di bawah hidung yang lebar. Dia yakin pemuda itu diam-diam mendengarkan.

“Sesaat setelah kau pergi, aku duduk di sumur sambil menggenggam celurit berdarah itu.” Suro kembali menyengih saat mengingat kejadian di rumah sang kontrolir.

“Aku bisa mendengar teriakan dan jeritan Mevrow Rosemeijer dari dalam rumah. Tahulah aku pada saat itu, bahwa semua palsu belaka. Dua petugas polisi yang berpakaian serba hitam itu berlari mencariku sambil menodongkan bedil. Mereka berteriak dan memerintah agar aku meletakkan celurit ke tanah.” Cerita Suro terhenti untuk sekali lagi melihat Endaru yang masih juga meringkuk.

Merasa tenggorokannya serat karena nasi jagung yang kasar, dia tenggak air dalam gelas hingga tandas dan membantingnya ke lantai hingga menimbulkan bunyi kelontang.

“Mereka mengikat tanganku dengan tambang dan menaikkanku ke dalam kereta—yah, kereta polisi dengan kerangkeng itu. Sepanjang jalan orang-orang berhenti dari aktivitasnya sekadar menengok dan melihat kereta yang membawaku lewat. Setelah kereta berlalu mereka datang berbondong-bondong memenuhi batur depan rumah laknat itu. Mereka ingin melihat apa yang terjadi—menghakimi mungkin juga menyumpahi. Tak ada yang lebih menyakitkan dalam hidupku selain pada saat itu. Aku menembusi tatapan Rukmini di antara kumpulan orang-orang yang datang.”

Suro mengusap lelehan ingus dan air matanya dengan punggung tangan. Suara srot-srot itu membuat Endaru tersadar, bahwa pria kekar itu tengah menangis. Enam tahun hidup bersama pria yang sudah dia anggap seperti bapak itu, tak sekali pun Endaru melihatnya menangis. Bahkan, ketika satu-satunya tanah warisan dari sang bapak direbut secara licik oleh sang kontrolir, Suro tak menangis. Tubuh Endaru semakin menggigil. Marah itu bertambah-tambah saja gelegaknya di dalam dada.

“Aku terkejut sore itu harus bertemu lagi denganmu di sini—di Commissariaat van Politie Bojonegoro[7]!” pekik Suro sarat kecewa. Dia menghela napas dan turut berbaring telentang berkalang lengan.

“Bahasa Belandamu semakin bagus,” ejek Endaru dengan mata masih terpejam.

Pemuda itu mengenang kembali kejadian tiga hari lalu ketika harus berlutut dan memberi sembah pada rombongan bupati yang melintas. Tersadarlah dia bahwa kebebasan untuk selamanya tak akan pernah dimiliki oleh para sahaya. Mereka harus terus menghamba dan bersujud—jika bukan pada Belanda, maka pada raja-raja kecil penguasa tanah kering ini.

Sepasang tangan dengan kuat menarik tubuh pemuda itu hingga terseret-seret menjauhi kerumunan. Di sana dia berhadapan dengan serombongan polisi berpakaian Jawa yang pada tali pinggang mereka terselit parang. Nalurinya menuntut untuk melawan, tetapi akalnya berjuang keras untuk bertahan saat moncong senapan mereka todongkan.

Dia kalah.

Di sanalah Endaru berada sekarang—di balik jeruji besi—bersama sang rekan sekaligus guru kehidupan yang baginya tidak pernah melakukan kesalahan. Pria berkumis baplang itu hanya berusaha mempertahankan asas kepemilikannya sendiri.

“Ke mana orang-orang itu dibawa setelah menerima jatah makan?” Endaru berusaha mengalihkan percakapan.

“Kerja paksa! Diperbudak!”

“Itu mungkin lebih baik, bukan? Masih ada kesempatan dan harapan untuk terus menyambung kehidupan,” bisik pemuda berkulit langsat itu dengan gamang.

“Kau pikir begitu? Bagi mereka mungkin sebaliknya, kerja paksa itu mematikan harapan!” jawab Suro dengan suara keras. “Mereka harus memecah batu dan meratakannya untuk mengeraskan jalan. Bagi yang punya keahlian mungkin lebih beruntung, mereka akan dikirim ke bengkel untuk membuat perabotan dari kayu, anyaman, menjahit pakaian, hanya dengan imbalan jatah dua kali makan—di sisa umur mereka sampai berkalang tanah!”

“Apa kita akan digantung seperti kata opas tadi?” tanya Endaru dengan suara menggumam.

“Pribumi selalu salah, harus kalah, tak peduli bagaimana sidang nanti di gelar. Pribumi tak akan pernah menang di tanah sendiri—tidak di sini,” desah Suro sambil memiringkan badan untuk memunggungi Endaru.

“Kalau begitu di mana kita akan menang?”

“Di jalan perlawanan ...!”

“Kau mulai ngelantur, Paman?” desis Endaru.

Suro tergelak. “Setidaknya, makanlah nasi itu agar kau mati dalam keadaan perut terisi!”

“Aku masih menjalani puasa.”

Suro menghela napas. “Tidakkah terlalu lama?”

Endaru mengubah posisi. “Aku harus membuat raga ini lelah, agar bisa sejenak lupa.”

Terdengar kembali tapak sepatu mengentak-entak di lantai plester yang semakin mendekat ke arah sel mereka. Endaru dan Suro membisu sambil berpura-pura terlelap.

“Allebei, sta op!”[8]

Endaru berpura-pura menguap dan menggeliat, sedangkan Suro bangkit dengan berlama-lama saat sang opas membuka pintu terali dengan tergesa-gesa.

“Waar worden we naartoe gebracht?”[9]

Suro sengaja mengajukan pertanyaan dalam bahasa Belanda yang seketika membuat opas itu meradang dengan wajah memerah. Tongkatnya bersiap terayun ke arah Suro, tetapi Endaru bangkit sambil berpura-pura terjatuh hingga mendorong punggung sang opas.

Ruangan sempit itu membuat mereka tak bisa bergerak dengan leluasa. Sang opas terhuyung, menginjak pincukan nasi jagung, menendang gelas kaleng hingga airnya muncrat, dan sontak membuat wajahnya semakin pekat.

“Klootzak!”[10]

Belum sempat opas itu membalas, muncul seorang lagi dalam wujud pribumi dengan langkah panjang dan cepat.

Opas pribumi itu berbicara dalam bahasa Melayu dengan logat Jawa yang kental, “Kereta sudah menunggu! Kita harus bergegas ke landraad.”

Kedua opas itu menggiring Endaru dan Suro melintasi sel-sel yang sudah kosong setelah ditinggalkan penghuninya untuk rodi. Masing-masing tangan dan kaki mereka terbelenggu rantai besi. Mereka terus didorong-dorong dengan kasar agar melaju lebih cepat saat melintasi kolam tempat persediaan air di penjara. Keempat pria itu lalu melintasi sisi gedung kepolisian dengan jendela-jendelanya yang menjulang tinggi, berkayu jati pilihan, dengan atap yang disangga oleh pilar-pilar putih sebesar dua pelukan tangan pria dewasa—tak kurang enam tegakan.

Di halaman kantor polisi telah menunggu kereta berkerangkeng yang ditarik oleh dua ekor kuda. Endaru dan Suro didorong memasuki kerangkeng itu dengan kasar. Mereka berdua duduk di lantai kereta yang terasa bergoyang-goyang saat melaju. Roda-roda kereta itu berkeretak menggilas permukaan jalan yang sudah dipadatkan dengan batu oleh tangan-tangan pribumi yang diperbudak. Endaru mengintip ke balik celah terali di belakang kereta. Terlihat dua opas mengiringi perjalanan mereka menggunakan kuda.

“Apa mereka akan membawa kita ke tiang gantungan?”

“Seharusnya kau makan dulu sebelum mati,” bisik Suro lemah.

[1] “Semuanya keluar! Berbaris di depan!”

[2] Kamu

[3] Tuan

[4] “Kalian akan segera digantung! Setiap orang harus tahu siapa yang bertanggung jawab di sini.”

[5] Pengadilan

[6] Anak gila.

[7] Kantor Kepolisian Bojonegoro

[8] “Kalian berdua, bangun!”

[9] “Ke mana kami akan dibawa?”

[10] “Bajingan!”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status