My Girl is mine
My Girl is mine
Author: Authoring
Insiden di Pagi Hari

Saat pagi hari yang cerah, seorang gadis memakai baju kaos warna hitam dipadukan dengan rompi serta celana longgar berwarna ungun, sedang berjalan melintasi jalan raya dengan senyum yang merekah di bibirnya.

Bagaimana tidak? Baru 7 hari dia bekerja lalu atasannya sangat memuji gadis itu dengan ketekunannya. Ini pertama kali yang ia dapatkan semasa hidupnya. Tanpa disadari, sebuah mobil Terios berwarna gray melintasi jalan tersebut dan mencipratkan air ke gadis tersebut.

Pluk!

Dia sangat terkejut dengan air tanpa sengaja membasahi rompi serta celana yang ia kenakan.

"Aish," sungutnya. Mobil tersebut berhenti tak jauh dari gadis itu berdiri lalu seorang pria turun dari mobil itu menghampiri seorang gadis yang menatapnya garang.

"Maaf, Mbak. Saya gak segaja," ucapnya sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dada sambil memasang wajah bersalah.

"Heh, lo kalo jalan pake mata dong. Emang nih, jalan punya Bapak lo apa?!" bentaknya. Pria tersebut menatap papan nama yang melekat di hijab hitam tepat di sebelah kiri.

'Adnan Rahmaliyah Husein,' batinnya menatap gadis tersebut. Dia melangkahkan kakinya melewati pria tersebut dengan wajah yang merah padam akibat menahan emosi.

Pria tersebut membalikkan tubuhnya menatap kepergian gadis tersebut dengan langkah seribunya.

"Dasar wanita aneh," gumamnya lalu kembali masuk ke dalam mobil dan menancap gas menuju kantor yang selama ini ia tekuni sekitar 3 tahun lalu.

Sampainya di pekarangan kantor, ia menghembuskan napas secara pelan lalu keluar dari mobil dengan setelan jas hitam senada dengan celana serta dasi yang ia kenakan. Tak lupa dengan kemeja berwarna merah yang membungkus tubuh pria tersebut.

"Selamat pagi, Pak Reyndad," sapa para staf dan karyawan kantor saat dia memasuki ruang lobi menuju ruangannya.

"Pagi, bekerjalah dengan benar," ucapnya dengan senyum tipis. Ya, nama pria itu adalah Reyndad Wijaya Adipratama Seok, direktur di perusahaan khusus properti Adiprtama. Ayahnya menyerahkan semua pada pria tersebut 3 bulan yang lalu karena dia sudah mahir di bidang tersebut. Sedangkan ayahnya, membuka bisnis properti di Korea Selatan ditemani sang istri di sana.

Reyndad membuka pintu ruangannya lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa sambil memijat pelipisnya. Ia masih memikirkan tentang gadis itu yang berani membentaknya di tepi jalan lalu meninggalkannya begitu saja.

"Dia itu buta atau gimana, sih? Masa ketemu sama laki-laki kayak gue aja dikacangin gitu?" gerutunya lalu meminum segelas air mineral yang sudah disediakan di meja kerjanya. Reyndad menghabiskan air tersebut hingga tandas lalu membuka jas yang melekat di tubuhnya dan ia gantungkan pada gantungan kain di sudut ruangannya tersebut.

"Kalo sampai gue ketemu sama dia, bakal gue buat dia terpesona dengan ketampanan gue," ucapnya lalu menarik ujung bibirnya menampakkan smirk yang dia punya.

*** 

Di sisi lain, Adnan berjalan masuk ke dalam toko bakery dengan wajah kusut lalu mengambil beberapa helai tissue di meja resepsionis.

"Kok bisa kotor gitu, Nan?" tanya pria tersebut sambil memandangi Adnan yang sedang sibuk membersihkan sisa lumpur yang melekat di bajunya.

"Gara-gara pria jelek itu. Masa sih, dia cipratin becek ke gue," ucapnya sambil berdecak kesal lalu membuang tissue kotor tersebut ke tong sampah yang tak jauh dari tempat ia berdiri.


"Ya udah, lupain aja kejadian itu. Cepat ganti baju sebelum Pak Roy datang." Pria tersebut menuntun Adnan berjalan ke ruang ganti khusus karyawan lalu meninggalkan gadis tersebut.

"Iya, Fer," jawab Adnan lalu masuk ke ruang ganti tersebut. Setelah selesai, ia kembali menuju meja resepsionis dan melihat Fero dan beberapa teman-temannya yang sedang melayani beberapa pengunjung di sana.

Seperti inilah aktivitas Adnan sehari-hari, bekerja di toko roti sebagai pelayan dengan gaji yang kurang mencukupi. Tapi, ia tidak pernah memperhatikan nilai rupiah yang ia terima. Ia sangat bersyukur ada yang mau menerimanya bekerja di sini dan itu sangat ia hargai.

Pukul 10.00 WIB, seorang pria bertubuh besar datang ke toko roti tersebut. Dia adalah bos dari toko ini, yaitu Roy Purnama. Pria tersebut menatap pengunjung yang ramai di tokonya membuat senyuman itu merekah dan para karyawan toko bahagia melihat atasannya.

"Kerja yang bagus," ucapnya sambil memberikan dua jempol pada karyawannya.

"Di mana Adnan?" tanyanya pada Fero yang baru saja keluar dari dapur sambil membawakan puncake cantik yang tertata rapi di nampannya.

"Di sana, Pak," tunjuk Fero pada seorang gadis yang sedang melayani beberapa pengunjung. Roy memerintahkan Fero agar membawakan Adnan padanya. Fero menganggukkan kepala lalu memberikan pesanan kue tersebut pada pengunjung lalu berjalan menuju Adnan.

"Ada apa, Pak?" tanya Adnan sopan menatap bosnya yang sedang merapikan kacamata yang melekat di hidung pria tersebut.

"Bawakan beberapa kue pesanan yang sangat istimewa ke kantor Adipratama di jalan ini." Roy memberikan secarik kertas kecil yang menunjukkan alamat yang akan ia tuju.

"Baik, Pak." Adnan menerima kertas tersebut lalu berjalan ke dapur untuk mengatakan pada beberapa chef yang bekerja di sana.

"Chef, Pak Roy minta buatkan beberapa kue istimewa," ucap Adnan pada seorang chef laki-laki bernickname Alvaro Aditya Rizky.

"Oke," balasnya lalu Adnan keluar dari dapur lalu duduk di kursi resepsionis untuk menunggu kue tersebut.

***

30 menit kemudian, Fero memberikan 10 kotak yang berisi kue pada Adnan. Dengan senang hati, Adnan menerimanya lalu membawanya ke motor khusus mengirim pesanan sambil mengenakan helm yang membungkus kepalanya.

"Hati-hati," ucap Fero saat motor yang dikendarai Adnan melaju menuju alamat.

"Semoga tuh bocah gak kesasar," gumamnya lalu berjalan masuk ke dalam toko. Sedangkan Adnan, senyumnya menghiasi wajah cantik itu. Bagaimana tidak, jika ada pesanan seperti ini dalam  dua atau tiga kali berturut-turut, gajinya bisa ditambah dua kali lipat dari biasanya.

Cit!

Motor berhenti tepat di depan pos satpam. Adnan membuka kaca helmnya lalu dipersilahkan masuk oleh beliau. Sampai di depan kantor, jujur Adnan menatap takjub kantor megah tersebut. Dulu, dia sangat berkeinginan bekerja di sini. Tapi, ekonomi keluarganya tidak mencukupi. Beruntung Fero membawa Adnan bekerja bersamanya.

Langkahnya berjalan masuk menuju kantor tersebut lalu memberikan ponselnya pada resepsionis sebagai bukti bahwa kantor ini memesan bakery dari tokonya.

"Silahkan menuju ke ruangan Pak Reyndad, Bu." Seorang wanita menuntut Adnan agar mengikuti langkahnya menuju ruangan tersebut. Entah itu secara kebetulan, atau mereka sudah ditakdirkan.

Tok ... tok ... tok ....

Wanita itu mengetuk pintu ruangan yang dilapisi kaca tersebut.

"Masuk!" 

Terdengar suara teriakan dari dalam. Adnan dapat mendengarnya.

"Tunggu di sini dulu ya, Bu." Wanita tersebut masuk saat Adnan menganggukkan kepalanya sambil memegang beberapa kotak kue yang ada di kedua tangan mungilnya.

Tak berselang lama, wanita tersebut kembali keluar dari ruangan dan menginstruksikan Adnan agar segera masuk untuk menemui atasannya. Dengan langkah pasti serta senyuman yang terukir di bibir mungilnya, ia berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Maaf, Pak. Tadi ...."

Ucapannya terhenti saat melihat seorang pria tampan dengan rambut yang tertata rapi ke belakang sehingga memperlihatkan jidat paripurnanya. Bukan, bukan itu yang membuat Adnan terkejut. Tapi, wajah pria tersebut, sangat tampan.

"Oh, jadi Bapak yang pesan kue ini?" Adnan berjalan menghampiri pria tersebut sambil berkacak pinggang.

"Ah, maaf atas kejadian tadi pagi," cicit Reyndad sambil memijat pelipisnya dengan satu tangan.

"Maaf? Baru sekarang Anda minta maaf?!" bentak Adnan padanya. Betapa terkejutnya Reyndad mendengar ucapan gadis tersebut. Wajahnya memerah akibat menahan emosi serta dadanya yang naik-turun sambil mengatur napas.

Tanpa pikir panjang, Reyndad mengeluarkan dompetnya lalu memberikan 30 lembar uang kertas seratus ribu pada Adnan.

"Saya sudah minta maaf, dan terima kasih untuk pesanan saya," ucap Reyndad. Adnan yang melihat pria arrogant ini, berlalu meninggalkan pria tersebut.

"Gue gak bakalan mau ketemu sama cowok sombong itu," gumamnya keluar dari kantor tersebut menuju motor yang ia parkirkan dengan rapi di luar kantor. Saat helm tersebut yang membungkus manis di kepalanya, ia melihat mobil Terios yang tadi pagi mengerjai dirinya.

Adnan tersenyum miring melihat mobil tersebut, ia berjalan menuju mobil tersebut lalu tangannya terulur  mengempeskan ban mobil tersebut. Bukan 1, melainkan 4 sekaligus dan berlalu meninggalkan kantor tersebut.

***

Wah, gimana ya ekspresi wajah Reyndad nantinya? Jangan lupa untuk selalu dibaca dan review ya, kak. Jika saya ada kesalahan dalam menulis. Terima kasih banyak.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status