Share

A Choice
A Choice
Penulis: Risa

1

Ruang tamu keluarga Aldera kini sedang ramai. Keluarga Ganendra, keluarga yang belum lama ini menjadi rekan bisnis mereka kini sedang bertamu. Keluarga Aldera dan keluarga Ganendra sama-sama memiliki sejarah panjang, maka tak heran kini dunia para konglomerat sedang gempar karena keputusan mereka untuk bekerja sama. Dan tentu saja, untuk mempererat hubungan kedua keluarga itu, mereka sepakat untuk menjodohkan putra-putri mereka. Perjodohan antara putri tertua keluarga Aldera, Lalice Aldera dan putra tunggal keluarga Ganendra sedang asyik dibahas di ruang tamu keluarga Aldera. 

"Permisi, maaf menyela" suara tenang putri bungsu keluarga Aldera, Lalisa Aldera berhasil menghentikan percakapan antara para orang tua, kini perhatian mereka tertuju pada gadis yang telah berdiri dari duduknya itu. 

"Sepertinya, saya telah jatuh cinta pada Tuan Muda Ganendra. Karena itu, tolong pertimbangkan lagi tentang perjodohan antara kakak kembar saya dengannya" ruang tamu itu kini hening, mereka masih mencerna kata-kata Lisa. 

"Ah, kalau permintaan itu terlalu sulit, maka bagaimana kalau kita meminta Tuan Muda Ganendra untuk memilih saja? Tolong—" Lisa menarik napas panjang, kedua tangannya bertaut gelisah, jantungnya berdegup kencang seolah ia baru saja berlari mengelilingi rumah besar keluarganya. 

"Pilih antara saya dan Alice" 

"Ma-maaf, Lisa hanya bercanda, dia memang selalu keterlaluan kalau bercanda. Tolong maklumi putri bungsu kami" Nyonya Aldera tertawa hambar dan berusaha menarik tangan Lisa untuk kembali duduk dengan paksa, namun Lisa segera menepisnya. 

"Tidak, Ibu. Aku tidak sedang bercanda" memijat pangkal hidungnya, kini Nyonya Aldera ikut berdiri, ia merangkul bahu Lisa. 

"Maaf, saya akan segera kembali" ujarnya dengan senyuman manisnya sebelum menggiring Lisa ke kamar. 

Lisa tau bahwa Ibunya tidak akan menasehatinya dengan lembut, membujuknya agar mengikhlaskan tuan muda keluarga Ganendra, menyemangatinya agar mendapat pria yang mencintainya, pria yang lebih baik dari tuan muda itu dan apapun yang tidak akan pernah dilakukan ibunya. Maka ketika pintu kamarnya terkunci, ia sudah bersiap dengan semua hal buruk yang mungkin akan terjadi. 

PLAKKK! 

Sebuah tamparan keras mengawali hukumannya hari itu karena permintaan konyolnya. Rasa perih dan nyeri mulai menjalari pipinya. Apa Ibunya tidak merasakan apapun saat menamparnya? Maksudnya, tamparan itu kan keras, pasti telapak tangannya juga terasa perih kan setiap kali ia menampar Lisa? Setiap kali Ibunya atau Ayahnya menamparnya, Lisa selalu memikirkan hal itu, menunduk dan memperhatikan telapak tangan Ibunya atau Ayahnya yang juga memerah. 

"Besok, minta maaflah pada Tuan dan Nyonya Ganendra, katakan pada mereka kalau kau hanya bercanda. Dasar perusak suasana" Nyonya Aldera pergi begitu saja setelah mengatakan itu, meninggalkan Lisa sendirian di kamarnya. Lisa juga sebenarnya tidak ingin mengatakan hal konyol tadi, ia hanya ingin menolong Alice dan menepati janjinya pagi tadi sebelum ketiga anggota keluarga Ganendra datang. 

07.00 (keluarga Ganendra datang pukul 09.30)

"Kenapa gelisah begitu? Bukankah seharusnya kau senang karena calon suami masa depan mu akan datang kemari?" tanya Lisa yang melihat Alice sedari tadi menggigiti kukunya dengan raut wajah seperti ingin menangis. 

"Kau pikir aku akan senang? Aku tidak kenal dengannya dan aku punya pacar!" seru Alice, matanya kini memerah. Baru kali ini Lisa melihatnya membenci keputusan yang diambil orang tua mereka, biasanya dia akan mendukung penuh apapun keputusan Tuan dan Nyonya Aldera. 

"Lisa, tolong aku. Aku tidak ingin dijodohkan dengannya" lirih Alice, ia tampak sangat putus asa seolah tidak ada pilihan lain selain meminta tolong pada Lisa. 

"Waktu kalian sebelum menikah itu masih sangat lama, kau bisa berpacaran dengan pacarmu dulu sampai beberapa tahun ke depan, lalu kau bisa mengenal Tuan Muda Ganendra dulu dan mendekatinya. Tidak perlu berlebihan begitu" Alice menggeleng pelan. Entah dia tidak bisa melakukan itu atau tidak mau melakukan itu. 

"Itu saran yang paling mudah untukmu, atau kau mau yang sulit? Maka katakanlah pada Ayah dan Ibu bahwa kau memiliki seorang pacar dan tidak mau dijodohkan" kini air mata Alice mulai menetes. Menghela napas panjang, Lisa mengambil sekotak tisu dan menyodorkannya pada Alice. 

"Jadi, kau mau aku membantumu seperti apa?" tanya Lisa akhirnya. 

"Katakan pada Ayah dan Ibu bahwa kau menyukainya" kedua alis Lisa kini bertaut, apa Alice serius dengan itu? 

"Kau mau aku mengorbankan diriku untuk masalahmu? Aku sudah mencarikan solusi yang mudah untukmu, kenapa memilih yang paling sulit seperti itu?" kekesalan Lisa pada kakak kembarnya itu selalu meningkat dari hari ke hari dan sepertinya hari ini meningkat cukup banyak. Lagi pula siapa yang tidak kesal? Dia mau Lisa mengorbankan diri untuk masalahnya, dia selalu mau untung sendiri! 

"Tidak ada cara lain" air mata Alice kembali menetes. Duuh, Lisa seperti sedang menonton drama dengan pemain utama perempuan yang bodoh. 

"Tidak ada cara lain katamu? Banyak cara yang lebih mudah yang bisa kau selesaikan sendiri tanpa mengorbankan orang lain seperti ini!" dengus Lisa, hampir saja ia berteriak pada Alice tadi. 

"Kumohon tolong aku" lirih Alice dengan suara seraknya. Baiklah, sepertinya tidak ada cara lain untuk membuatnya berhenti menangis. 

"Aku akan membantumu dengan cara konyolmu itu, tapi jangan salahkan aku jika nantinya kau tetap akan dijodohkan dengannya" raut wajah Alice mulai berubah, senyum perlahan terbit di bibirnya. 

"Kau berjanji?" tanya Alice memastikan, menyodorkan jari kelingkingnya. Lisa mengangguk pasrah, menautkan jari kelingkingnya dengan jari Alice. 

***

"Bagaimana menurutmu, Davin?" Nyonya Ganendra bertanya, Davin yang sedari tadi melamun hanya menoleh ke depan dengan raut wajah bingung. Ketiga anggota keluarga itu kini sudah berada di mobil hendak menuju ke rumah mereka. Tuan Ganendra yang menyetir dan di sampingnya ada Nyonya Ganendra lalu putra tunggal mereka duduk sendiri di belakang. Tuan Ganendra sudah terbiasa menyetir sendiri, jadi ia jarang bepergian bersama sopir. Sedari tadi mereka sedang membahas tentang Lisa, si putri bungsu keluarga Aldera yang tadi mengaku bahwa ia menyukai Davin. 

"Lisa, bagaimana menurutmu? Kalian bertiga juga satu sekolah kan? Pasti sudah lama saling mengenal" Nyonya Ganendra mengulang pertanyaannya yang tadi membuat Davin bingung. 

"Sejauh yang kulihat, Lisa itu seperti orang yang dingin, suaranya datar dan tidak terdengar ada emosi dalam suaranya, wajahnya pun tidak menunjukkan ekspresi. Mengenai sekolah, kami bertiga memang satu sekolah tapi kami tidak saling mengenal hingga hari ini" terlihat kernyitan pada dahi Nyonya Ganendra kala mendengar pernyataan Davin. Ia bingung tentu saja, bagaimana orang seperti Lisa bisa tiba-tiba menyukai Davin? Dan lagi, mereka sebelumnya tidak saling mengenal kan? Ada sesuatu yang membuat Lisa mengatakan itu, dan apa tujuannya mengatakan itu? 

"Apa Ibu sekarang sedang memikirkan Lisa?" tanya Davin melihat raut wajah Nyonya Ganendra. 

"Benar, ayo pilih saja antara Alice atau Lisa, Davin. Ibu mendukung apapun keputusanmu, jangan terlalu terburu-buru untuk memilih karena waktumu masih banyak" helaan napas terdengar kala Nyonya Ganendra mengatakan itu, kini ia tersenyum penuh arti pada Davin. Ia memang mengatakan bahwa akan mendukung apapun keputusan Davin, namun sebenarnya ia sedang tertarik pada Lisa dan ingin agar Davin memilih Lisa sebagai istrinya di masa depan. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status