Mag-log inThe main character, Cara Magdalen, experiences a trauma on the eve of her 16th birthday. Anticipating a celebration of her coming of age, she instead has to deal with many unexplained happenings. She must figure out what is going on before it's too late. She finds herself running out of time. But can't seem to figure out exactly what that means for her.. The answer lies within herself. But she must figure it out on her own. Can she do it in time? Will she be strong enough to find her way on the journey she must take alone? Will she ever reunite with the people she loves? Follow along as Cara makes this incredible journey to find out.
view more"Oh, shit!"
Umpatan itu lolos begitu saja dari bibir tipis Leo. Sungguh menyebalkan! Baru saja lima belas menit dirinya mengumuli tubuh polos Tessa, istrinya. Namun, miliknya sudah meledak begitu saja. Hal itu yang sering membuat Tessa kecewa setiap kali mereka selesai bercinta. Tentu saja! Tessa Willson, istrinya yang baru berusia 23 tahun itu pasti menginginkan lebih dari percintaan mereka. Namun apa daya, akhir-akhir ini Leo sangat sibuk dengan perusahaan. Sampai-sampai dirinya mulai jarang berolahraga dan staminanya mulai menurun. Padahal dirinya baru berulang tahun yang ke 25 pekan lalu, tapi kenapa tenaganya di atas ranjang sudah seperti kakek-kakek! "Aku mau mandi," ucap Tessa segera mendorong dada polos Leo dari tubuhnya. Wajahnya terlihat sangat kecewa. Ini bukan yang pertama kalinya. Suaminya itu memang menyebalkan! Leo yang tampan dengan tubuh atletisnya itu, sudah tidak becus membuatnya terpuaskan seperti dulu. "Darling, bagaimana kalau kita mandi bersama?" tawaran Leo seolah menunjukkan rasa sesalnya atas percintaan mereka yang buruk tadi. "Tidak, aku mau berendam di bathtub. Kamu bisa mandi di kamar mandi tamu saja." Tessa segera beringsut dari ranjang. Dia segera meraih pakaian tidurnya, lantas berlalu meninggalkan Leo. Menyebalkan! Tessa mendorong pintu kamar mandi dengan penuh emosi. Hasratnya masih sangat membara, tapi Leo sudah selesai begitu saja. Hh, sepertinya dia harus menuntaskannya di dalam bathtub. Leo mengusap kasar pada wajahnya. Sial! Pasti Tessa marah padanya. Ia menarik napas dan segera turun dari ranjangnya. Setelah mengenakan boxernya ia segera meninggalkan kamar. "Darling, pagi ini Daddy Arnold akan tiba di New York." Leo memulai percakapan saat dirinya dan Tessa sedang duduk berhadapan di meja makan. Waktu menujukkan pukul tujuh pagi. Keduanya sedang menikmati sarapan. "Oh, iya. Lantas, apa kamu mau menjemputnya?" tanya Tessa sembari mengoles selai cokelat pada roti yang sedang dipegangnya. Wajahnya masih tampak kesal. Leo mengerti, rasa kesal Tessa takkan mudah hilang setiap kali mereka habis berhubungan intim. Seperti pekan lalu, Leo membelikan sebuah kalung berlian untuk mengembalikan mood istrinya lagi. Namun sekarang, apa lagi yang harus Leo lakukan untuk membuat istrinya kembali senang. Tessa sudah memilki banyak perhiasan. Mungkin satu unit mobil listrik? Leo mulai berpikir. Sepasang mata Tessa terangkat pada Leo. Pria itu tidak menjawab pertanyaannya tadi. Dia malah terlihat sedang memikirkan sesuatu. Pasti urusan pekerjaan. Menyebalkan! Ia semakin kesal saja pada Leo. "Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, Leo. Apakah kamu akan menjemput Daddy Arnold?" Akhirnya Tessa mengulang pertanyaannya yang tadi. Kali ini suaranya lebih cetar. Leo sampai tersentak mendengarnya. "Ah, iya, Sayang. Aku akan menjemput Daddy Arnold. Bahkan Daddy akan tinggal sementara dengan kita. Kau tidak keberatan, kan?" Leo meraih jemari Tessa yang ada di atas meja. Sepasang pupilnya menatap penuh harap pada istrinya itu. "Boleh saja. Asalkan dia bisa menjaga kebersihan di rumah ini," cetus Tessa seraya menarik paksa tangannya dari genggaman Leo. Dia kembali melahap rotinya dengan santai dan acuh pada pria di hadapannya itu. "Aku sangat mencintaimu, Darling." wajah Leo berbinar mendengar jawaban Tessa. Dia segera meraih kedua pipi Tessa, lantas mengecup bibir istrinya. "Leo ... umh!" pekik Tessa kaget. ......................................................... Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Tessa sedang duduk bersantai di taman samping mansion Leo. Jemari lentik dengan nail warna silver begitu lincah memainkan tombol navigasi game pada layar ponselnya. Hanya itu yang bisa Tessa lakukan kala mengisi kesepiannya saat Leo tak berada di rumah. Sedangkan beberapa pelayan tampak sedang sibuk dengan pekerjaan mereka mengurus mansion besar Leo. Mansion peninggalan ayahnya itu memang terlalu besar kalau hanya ditempati olehnya dan Tessa saja. Namun, Leo tak ingin meninggalkan mansion warisan ayahnya itu. Dia ingin membentuk keluarga kecilnya di sana. Tessa dan Leo sangat ingin memiliki seorang anak, tapi Leo terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai ia mengabaikan keinginan mereka. Apalagi melihat kondisi Leo sekarang. Hh, sepertinya harapan mereka untuk memiliki seorang buah hati semakin tipis saja. "Maaf, Nyonya. Tuan Leo sedang menunggu Anda di ruang tamu." seorang pelayan tiba-tiba datang membuat Tessa kesal, karena dia menjadi lengah dalam permainan game-nya. "Apa kamu tidak melihat? Aku sedang bermain game! Kenapa kamu malah menggangguku? Lihatlah, aku sudah kalah sekarang!" Tessa segera berdiri merongos pada si pelayan wanita yang kini berdiri di hadapannya. "Maaf, Nyonya. Saya hanya mengikuti perintah dari Tuan Leo." Si pelayan menunduk ketakutan melihat Tessa memasang wajah geram padanya. "Huh!" Tessa memalingkan wajah jengah dan segera berlalu. Baru jam sebelas pagi, tapi Leo sudah pulang? Apakah dia ingin memperbaiki percintaan buruk mereka tadi malam? Tessa berpikir sembari berjalan menuju ruang tamu. Daddy Arnold? Sepasang mata Tessa membulat seiring langkahnya yang terhenti. Dia melihat seorang pria tinggi berkulit putih dengan postur kekarnya sedang duduk bersisian bersama Leo di ruang tamu. Arnold Caldwell, ayah tiri Leo itu tampak masih muda dan tampan di usianya yang hampir 35 tahun. Bulu halus pada dagunya membuat Tessa menelan ludah kasar. Macho, pikirnya gemas. Dia segera melanjutkan langkah menuju pada mereka. Leo dan Arnold segera berdiri melihat Tessa datang. Arnold melempar senyum pada wanita itu. Tessa membalas senyumnya dengan pipi yang bersemu merah. Crazy! Senyuman Arnold membuatnya bergetar. "Tessa, bagaimana kabarmu?" Arnold segera menyambut Tessa. "Baik, Dad. Kamu sendiri bagaimana? Apakah sudah menemukan pengganti Mommy di Austria, hm?" Tessa menggoda Arnold dengan pertanyaan yang membuat Arnold dan Leo terkekeh geli. "Kamu ini, Daddy baru saja tiba, tapi kamu sudah menyerangnya dengan pertanyaan konyol begitu," ucap Leo sembari menahan tawanya. "Tidak ada waktu untuk itu, Tessa. Aku sedang banyak pekerjaan di kantor," jawab Arnold kemudian. Tessa menggigit bibir bawahnya. Bibir basah Arnold sungguh membuatnya sangat tergoda. Bibir yang seksi, gumamnya dalam hati. Leo segera mengajak Arnold dan Tessa untuk duduk. Mereka pun kembali berbincang-bincang. Hanya seputar obrolan kantor. Tessa hanya menyimak sembari memandangi Arnold. Sial! Kenapa pria dewasa itu terlihat lebih menarik di matanya daripada Leo. Tidak, ini bodoh! Tessa segera memalingkan wajahnya. Namun, kali ini Arnold yang meliriknya. Tessa duduk dengan bertumpang kaki. Membuat kedua paha putihnya terekpos karena roknya yang pendek. Arnold tersenyum smirk melihatnya. Setelah saling bertukar cerita, Leo pun pamit untuk kembali ke kantor. Asistennya tiba-tiba menelepon dan mengatakan jika Leo masih ada meeting dengan seorang klien. Meski masih ingin mengobrol dengan Arnold, akhirnya Leo pun pergi. "Aku akan segera kembali," ucap Leo setelah mengecup pucuk kepala Tessa. Istrinya itu mengantarnya sampai pada mobil. Tessa hanya mengangguk dan Leo pun berlalu. "Tessa, di mana kamarku?" Arnold menyambut Tessa saat wanita itu memasuki rumah. "Ah, iya. Ayo ikut denganku, Dad." Tessa segera berjalan menuju kamar tamu yang ada di lantai dua rumah itu. Arnold mengikuti Tessa sambil menyeret kopernya. Tessa berjalan melenggok seperti seorang model. Tubuhnya tinggi dan ramping. Namun, tampak berisi di beberapa titik pentingnya. Arnold menelan salivanya melihat pinggul Tessa melenggak-lenggok. Sungguh indah dan membuatnya tertarik ingin mencicipi. "Taraa! Ini kamarmu, Dad!" Tessa mendorong pintu kamar tamu dan segera mengajak Arnold untuk masuk. Senyumnya sangat manis pada Arnold. Senyum itu pantasnya ia tunjukkan untuk Leo. "Waw!" pekik Arnold takjub melihat kamar luas tersaji untuknya. Sesuai seleranya, dan ia menyukainya. "Selamat beristirahat, Dad." Tessa hendak berlalu. "Tunggu, Tessa." Arnold dengan lancang mencekal lengan Tessa. Wanita itu menatapnya heran. Genggaman tangan Arnold begitu kuat. Pria itu pun mendekat padanya. ...................................... Notes Author : Pada umumnya orang Barat tepatnya di Amerika dan sekitarnya, anak tiri biasanya tidak memanggil ayah tirinya dengan sebutan "Ayah" Mereka memanggilnya dengan namanya saja. Begitu pula dengan menantu, kebanyakan mereka memanggil Ayah/ Ibu mertuanya dengan namanya saja. Namun, dalam novel ini Leo dan Tessa memanggil Arnold dengan sebutan "Daddy" (ayah) Semua itu karena penulis ingin menciptakan suasana yang lebih dramatis dengan alur cerita yang dijabarkan. Terima kasih sudah membaca 🙏Once Angela had gotten Cara back into her bed she made sure her daughter was comfortable before dumping the commode into the bathroom toilet. She then moved the entire apparatus back into the restroom. Once everything was done she quickly walked over to the door and called the guys back into the room. Micheal and the boys walked in and greeted Cara again. They all teased and made small talk as Angela rushed around the room tidying it up and clearing places for all of them to sit down. After Angela made room for the guys to sit down she grabbed a hair brush and helped Cara with brushing out her hair. Micheal watched his wife fuss first over the room and then over their daughter. He knew full well what she was doing. In all of the years that they had been married, he knew his wife's little quirks. She was busying herself because she was trying to build up the courage she needed to discuss everything with Cara that her daughter had missed while in the coma. Angela lived for her childre
There was a soft knock on the hospital room door before Angela heard the door knob turn. Looking up and over to the door expectantly, she smiled as she saw first husband walk into the room and then her two grown sons followed. She felt a waive of relief wash over her. Immediately, in their presence, she felt a hundred times stronger than before. They smiled back at her before glancing in unison over at their sleeping sister. Angela stood and hugged them each individually before sighing aloud. "I'm so glad you guys came. I'm sorry to start your morning off with worry and stress. Cara, had a rough time this morning. They gave her something to help her rest. Just a mild sedative. The doctor said she would most likely wake up soon. I'm really worried about her. She didn't take it very well earlier. I don't know how she will react when she wakes up again. " Micheal tightened his jaw and his eyes watered over. "I knew we should have told her when she woke up yesterday. I was just so hap
Angela sat there watching her daughter sleep and drew a deep, ragged breath. She felt numb. From head to toe and inside-out, she felt completely numb. This was something new and foreign to her. She had become accustomed to feeling fear, terror, anxiousness, and even heartache. On rare occasion she had even experienced hope. That and those other emotions were normal to her now, her constant states of mind over the last 7 months... There had been so much pain and loss. As she pondered her new lack of emotions she looked from her sleeping youngest child to the outside world that was visible through the hospital room's window. She watched as the world went by. Cars driving into and out of the parking lot. People coming and going. She wondered how many of them were happily living their lives unconcerned about their loved ones lives. Angela wondered just how many of them had the misfortune of having a teenage daughter that had been fighting for her life? How many more were simply fortunate
Cara found herself walking along a side walk through what looked like a park. It was a warm sunny day. The sun was high in the sky. Fluffy white clouds floated gently over head in a beautiful blue sky. She could hear children laughing and playing somewhere off in the distance. There were pretty flower beds and well manicured grass covering rolling hills as far as she could see. Scattered here and there were large oaks and magnolia trees providing shade for people to escape the sun if they pleased. Cara saw people playing, exercising, and picnicking with their loved ones. There was exercise for equipment over near a Pavillion and a playground near a builing that had the word restrooms painted on it. Up ahead alongside the sidewalk she could see that there was a large message board. Curious, Cara decided to go take a look at it. As she approached it she could see maps and flyers with information about the park, activities, and local wildlife. She stopped in front of it and looked ove
Cara stared at the words written in the steam of the mirror. Her heart racing and fear freezing her to the spot. She couldn't breath. She couldn't move. What was going on? She knew the words weren't there before her shower. She recalled staring into the mirror before her bath. She hadn't heard anyo
The rest of Cara's day was pretty uneventful. She met Kaylee outside the main entrance after the last bell rang. As the girls walked together across the student parking lot, Cara couldn't help but feel like something was off. She couldn't quite put her finger on what it was. It made her feel a littl
Cara tried her best to pay attention to Mr. Archenbrite's lecture. History was usually her favorite subject. But hard as she tried, today she just couldn't make herself focus. Honestly, she had struggled through her homeroom class and Mrs. Patterson's second period English class. Now her eyes kept d
Cara awoke to the screeching sounds of her obnoxious morning alarm. Despite being sleepy and so rudely ripped from her rest, there was a smile plastered on her face before her eyes ever opened. It was Monday morning and she needed to get a move on. Like any other weekday morning in tenth grade, she






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.