LOGINSebastian sempre foi um homem inalcançável — um CEO poderoso, frio e acostumado a ter tudo sob controle. Mas sua vida desmorona quando descobre a traição da esposa e, dias após o nascimento do filho, é abandonado com um bebê nos braços e um coração devastado. Cecília jamais imaginou que um simples trabalho como babá mudaria completamente seu destino. Jovem, determinada e dona de uma força silenciosa, ela entra na vida de Sebastian para cuidar do que ele mais ama… sem saber que também será a única capaz de tocar aquilo que ele jurou manter intocável: o próprio coração. Entre noites em claro, silêncios carregados e sentimentos proibidos, nasce uma conexão impossível de ignorar. Mas até onde um homem quebrado pode permitir ser amado? E até onde uma mulher pode ir… antes de se perder completamente?
View MoreTok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar diketuk, tak lama terdengar namanya dipanggil. “Rachel, apa papa bisa masuk?” Ya, itu suara Jacob, ayahnya. Rachel segera menutup buku LKS, dan beranjak dari meja belajarnya untuk membukakan pintu. “Apa kamu sedang sibuk, nak? Ada satu hal yang ingin papa bicarakan, ini sangat penting,” ujar Jacob, setelah melihat wajah putri kesayangan muncul dari balik pintu. Wajah Rachel terlihat mengerut, membuat kacamata tebalnya sedikit melorot dari batang hidung. “Ada hal penting apa, pa?” tangan Rachel bergerak untuk membenarkan posisi kacamatanya. Meskipun Rachel masih bingung, namun dia tetap membuka lebar pintu kamar agar Jacob bisa masuk. Jacob mengulas senyum, tak menjawab pertanyaan putrinya namun dia tahu kabar ini mungkin akan mengejutkan putrinya. Jacob menuntun Rachel untuk duduk di tepi ranjang. Kamar Rachel terlihat sangat bersih dengan warna putih yang mendominasi. Rachel masih menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Jacob. “Ini mengenai masa depanmu nanti nak,” ujar Jacob memulai pembicaraan. Masa depan? Usia Rachel masih sangat muda, namun ayahnya sudah merencanakan masa depan untuknya. Tentu Rachel menduga jika ini berkaitan dengan universitas yang nantinya akan dimasuki, setelah lulus SMA. Dugaan ini membuat Rachel begitu antusias mendengarkan. “Apa papa menyetujui permintaanku, tentang universitas yang Rachel inginkan?” senyum merekah di bibir Rachel. “Tentu sayang, hal itu juga sedang papa diskusikan dengan mamamu. Tapi bukan itu yang ingin papa katakan, ada hal lain yang juga menyangkut masa depanmu,” ucapan Jacob membuat senyum Rachel sedikit menghilang. Wajahnya kembali mengerut bingung. Dalam pikiran Rachel hanya ingin mengejar pendidikan setinggi-tingginya, itu sudah menjadi tujuan hidupnya. “Papa mempunyai teman bernama Nicholas, mungkin papa belum sempat mengenalkannya padamu. Tapi mungkin sebentar lagi keluarga kita akan bertemu dengan keluarga om Nicholas,” ucap Jacob. Hal itu membuat Rachel semakin bingung. Bukankah papa tadi akan membicarakan tentang masa depannya? Lalu apa hubungan om Nicholas dengan masa depannya? Rachel masih berdiam, menunggu hingga Jacob melanjutkan ucapannya. “Papa memiliki perjanjian dengan opa Anthoni, jika papa memiliki anak perempuan maka harus siap dijodohkan dengan cucu laki-laki dari keluarga Lesham,” lanjut Jacob sembari membelai rambut putrinya. Jacob tahu jika keputusannya ini tentu tidak adil untuk putrinya. Namun perjanjian sudah dibuat, dia pun tidak bisa melanggarnya. Opa Anthoni? Siapa lagi ini? Tentu nama yang asing di pendengaran Rachel yang tak pernah mengetahui tentang orang-orang yang Jacob sebutkan tadi. Namun mendengar nama keluarga Lesham, dia seperti tidak asing dengan nama itu, “Maksud papa? Rachel tak mengerti, pa.” Jacob terlihat menghirup nafas panjang, sebelum kembali menjelaskan. “Dulunya hubungan papa dengan opa Anthoni Lesham terjalin sangat dekat. Papa pun ikut menjenguk ketika cucu pertamanya lahir. Saat itu opa Anthoni menyatakan keinginannya. Kelak cucu laki-lakinya akan berjodoh dengan anak papa, tentu jika papa memiliki anak perempuan. Saat itu papa belum mengenal mamamu,” ucap Jacob kembali menceritakan masa lalunya, agar putrinya mengetahui cerita di balik perjodohan yang nantinya harus dijalani. “Apa itu artinya jodoh Rachel adalah cucu opa Anthoni?” Rachel memang pintar dan cepat mengerti ke arah mana pembicaraan papanya. Jacob mengangguk seraya menjawab, “Iya sayang, maafkan papa jika hal ini mungkin membuatmu merasa tidak adil. Tapi papa tidak bisa melanggar perjanjian yang papa buat dengan opa Anthoni.” Wajah Rachel menggambarkan kekecewaan, hal itu tertangkap dalam penglihatan Jacob. Dia pun mendekap tubuh Rachel sembari mengelus kepala Rachel penuh kasih sayang. “Papa yakin jika cucu opa Anthoni adalah pemuda yang baik. Besok sore papa akan mengajakmu untuk mengunjungi keluarga Lesham. Apa kamu bersedia, nak?” Perasaan Rachel terlalu rumit untuk dijelaskan, hal ini sungguh diluar prediksinya. Seumur hidup bahkan Rachel tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sehingga kabar perjodohan ini membuatnya takut. Takut jika masa depannya akan terhenti. “Maaf ya nak, papa sudah membuat hidupmu seperti ini. Tapi papa akan sangat senang kalau kamu mau menerima perjodohan ini. Papa yakin anak laki-laki keluarga Lesham adalah pemuda yang baik, sama seperti Anthoni yang selalu baik ke papa. Dan kamu masih bisa meraih cita-citamu kelak, jika kamu menginginkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi sesuai keinginanmu." Pikiran Rachel masih tak bisa menerima keputusan Jacob. Namun mendengar ucapan Jacob yang terakhir, membuat Rachel berpikir kembali. Haruskah dia menuruti keinginan papa? Jika perjodohan itu tak mengganggu keinginannya untuk bersekolah, mungkin Rachel akan menerimanya. Tentu Jacob sudah mempersiapkan sesuatu yang terbaik untuknya. Rachel mengurai pelukan, lalu memandang wajah Jacob dengan senyum tipisnya. “Rachel tahu papa akan memberikan yang terbaik untukku. Rachel setuju pa,” jawab Rachel akhirnya, disambut senyum lebar Jacob yang begitu bangga memiliki putri yang selalu pengertian dan penurut. “Terima kasih nak. Besok sore setelah kamu pulang sekolah, kita akan mengunjungi rumah keluarga Lesham." *** Keesokan harinya di sekolah Prashanti Bhineka. Lima belas menit sebelum bel sekolah berbunyi, Rachel sudah berada di kelas. Duduk di bangku paling depan, tepat di depan meja guru. Kebanyakan dari murid berprestasi akan duduk di barisan terdepan. Sementara murid yang sering bermasalah, memilih duduk di barisan belakang. Rachel membaca buku pelajaran selagi menunggu guru mata pelajaran matematika datang. Bangku kosong mulai terisi, setelah bel sekolah berbunyi. Para murid yang tadinya di luar, kini mulai masuk ke dalam kelas, menempati bangkunya masing-masing. Tak lama guru matematika masuk dalam kelas. Suasana yang tadinya ribut mendadak hening. Pak Supri dikenal sebagai salah satu guru paling galak di antara guru yang lain. Bahkan tak segan menghukum murid yang melanggar peraturan kelas. “Keluarkan buku LKS kalian! Buka halaman 83, pelajari itu dalam waktu 15 menit!” ucap pak Supri dengan nada tegas. Seperti biasa, jika beliau sudah berkata demikian maka para siswa harus bersiap menghadapi ulangan mendadak. Terdengar suara mengeluh dari murid yang duduk di barisan belakang. Dan suara itu tertangkap di pendengaran pak Supri. “Jonathan! Maju ke depan!” perintah pak Supri, meskipun hanya mendengar tanpa melihat langsung, beliau sangat hafal pemilik suara itu. Rachel menoleh ke belakang, menatap pada Jonathan dengan senyum sinis. ‘Sukurin dah lu, Jo. Habis dah lu!’ batin Rachel dalam hati. Tentu hatinya bersorak melihat rivalnya kena semprot sang Guru Killer. Rachel tak sabar menunggu hukuman apa yang akan didapatkan si Biang Kerok. Jonathan beranjak dari tempat duduknya, dengan langkah percaya diri berjalan ke depan. Berdiri di samping meja guru, dengan wajah terlihat tenang. Jonathan seperti sudah terbiasa menghadapi situasi ini. Garis bibir Rachel terangkat, memperlihatkan senyum sinis. Hal itu tertangkap di pandangan Jonathan, yang posisinya menghadap persis ke arah Rachel. “Apa lo?” bentuk bibir Jonathan mengatakan itu, meski tanpa suara. Rachel mengedikkan bahu bersikap acuh. Lalu kembali menatap pada angka dan kumpulan huruf pada buku di hadapannya. “Jonathan, ambil tas dan peralatan tulismu! Mulai sekarang kamu duduk di depan! Mila pindah ke belakang, dan Jonathan duduklah di samping Rachel!” perintah pak Supri, tentu membuat Jonathan terkejut juga Rachel. Bagaimana mungkin pak Supri memberikan hukuman seperti itu? Justru Rachel yang merasa dihukum jika harus duduk sebangku dengan sang Pembuat Onar. ***Capítulo 610 — Depois de tudo, nósAlguns meses depois do Natal, a casa estava mais silenciosa naquela manhã.Não vazia.Apenas tranquila.Noah estava sentado no chão da sala, cercado por folhas, lápis e alguns brinquedos. Théo, agora um pouco maior, engatinhava atrás de uma bola enquanto Júlia tentava impedir que ele chegasse até a árvore decorativa que ainda permanecia em um canto da sala.Gabriel estava na cozinha discutindo com Sebastian sobre café.— Você coloca açúcar demais.— E você coloca pouco.— Café não precisa parecer sobremesa.— Fala isso porque não sabe aproveitar as coisas boas da vida.Cecília apareceu na porta.— Vocês estão discutindo café de novo?Sebastian apontou para Gabriel.— Ele começou.— Mentira — Gabriel respondeu. — Eu estava tentando salvar o café.Júlia riu.— Eles nunca vão concordar.Cecília olhou para aquela cena e teve uma sensação curiosa.Não era novidade.Era continuidade.As pessoas continuavam ali.A amizade havia sobrevivido às mudanças, aos
Capítulo 609 — A mesa onde cabem todosNaquela noite, a casa estava diferente.Não porque houvesse alguma coisa extraordinária acontecendo, mas porque tudo parecia ocupar o lugar certo.A árvore permanecia acesa no canto da sala. Os presentes estavam organizados debaixo dela. Os cartões feitos por Noah continuavam sobre a mesa, alguns um pouco amassados depois de terem sido manuseados pelas crianças.Na cozinha, ainda havia louça da ceia.E, pela primeira vez em muito tempo, Cecília não sentiu vontade de organizar mais nada.Ela simplesmente ficou ali.Sebastian apareceu atrás dela com dois copos de água.— Você está pensando em arrumar a cozinha?Cecília olhou para a pia.— Um pouco.— Não.— Não?— Não hoje.Ela riu.— Você está me proibindo de lavar louça?— Estou.— Autoritário.— Só quando necessário.Sebastian colocou um dos copos sobre a bancada e puxou Cecília pela mão.— Vem.— Para onde?— Sala.— Por quê?— Porque eu quero sentar com você.Ela deixou que ele a conduzisse.O
Capítulo 608 — A noite que chegouA tarde de 24 de dezembro encontrou a casa de Cecília diferente de qualquer outro dia.Não havia correria.Havia movimento.A mesa estava quase pronta, as luzes da árvore permaneciam acesas e o cheiro da ceia começava a tomar conta da cozinha. Na tradição brasileira, a ceia costuma reunir a família na noite de 24 de dezembro, e a preparação da comida acaba se tornando parte importante da própria celebração.Cecília colocou os últimos guardanapos sobre a mesa quando Sebastian apareceu carregando uma travessa.— Onde coloco isso?— Na cozinha, por enquanto.— E depois?— Depois você traz de volta.— Excelente. Uma tarefa com duas etapas.Ela riu.— Você sobrevive.Sebastian deixou a travessa e voltou para a sala.— Noah!— Oi!— Vem colocar os presentes debaixo da árvore.Noah apareceu correndo, segurando dois pacotes.— Esse é meu?— Não sei.— Você sabe.— Talvez.— Pai!Sebastian pegou um dos presentes.— Você quer descobrir agora ou esperar?Noah ap
Capítulo 607— A casa cheiaNa manhã seguinte, a campainha tocou antes das dez.Cecília ainda estava terminando de arrumar a cozinha quando Noah correu para atender.— Eu abro!— Espera! — Sebastian chamou, mas já era tarde.A porta se abriu e Gabriel apareceu carregando duas sacolas enormes.— Bom dia, equipe do Natal.Atrás dele, Júlia segurava Théo e trazia outra sacola.— A gente prometeu chegar mais cedo — explicou.Sebastian apareceu no corredor.— Eu sabia que você não viria só com uma sobremesa.Gabriel levantou as sacolas.— Trouxe os ingredientes, a sobremesa e uma quantidade questionável de chocolate.Noah arregalou os olhos.— Quanto?— Não revelo informações estratégicas.— Tio Gabriel, eu sou confiável.— É justamente por isso que não vou contar.Cecília apareceu rindo.— Entrem antes que vocês transformem a porta em ponto de encontro.A movimentação começou imediatamente.Júlia foi para a cozinha com Cecília. Gabriel e Sebastian ficaram responsáveis por organizar as cade












Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.