分享

Chapter 6

作者: Scorpio_Girl
last update publish date: 2026-07-12 17:33:15

​Seperti hari-hari biasanya, Olivia dan para pengikutnya tidak pernah absen untuk membuat hidupku seperti neraka.

​Pagi ini, baru saja aku meletakkan tas dan duduk di kursiku, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping dan menumpahkan minuman cokelat pekat tepat di atas baju seragamku. Cairan manis yang lengket itu langsung merembes, mengotori seragam putih yang kukenakan.

​"Astaga!" pekikku terkejut dan langsung bangkit berdiri, menoleh dengan geram ke arah Olivia yang menatapku dengan raut wajah tertekuk. "Apa-apaan sih lo? Apa maksudnya ini?!"

​"Lo nanya apa maksudnya?" Wajah Olivia memerahmenahan amarah. Tanpa peringatan, jemarinya bergerak cepat mencengkeram dan menarik rambutku dengan kasar, membuat kepalaku mendongak mendadak. Aku tidak sempat menghindar.

​"Sakit, bodoh! Lepasin!" tentu saja aku meringis kesakitan. Aku mati-matian menahan tangan Olivia agar dia tidak menarik rambutku lebih keras lagi, "Menggoda Nicholas apanya?!"

​"Cihhh ... Masih berani lo deketin Nicholas lagi, lo bakal tahu akibatnya yang lebih parah dari ini!" ancam Olivia penuh penekanan, matanya melotot tajam kearah Asya.

​"Gue nggak ada deketin Nicholas sama sekali!" seruku membela diri. Tuduhan macam apa lagi ini? Hubunganku dengan Nicholas selama ini seperti musuh. Bahkan kami bertengkar setiap hari!

​PLAK!

​Sentakan keras di rambut Asya berganti dengan hantaman panas di pipi kiri gadis itu. Tamparan Olivia yang keras menyisakan bekas memerah samar dipipinya. Seketika itu juga, seisi kelas riuh. Beberapa siswa bersorak heboh seolah sedang menonton pertunjukan gratis, beberapa menatap Asya iba, tapi lebih banyak yang memandangnya dengan senyum puas.

​Olivia sedikit membungkuk, menyejajarkan wajahnya yang penuh kosmetik tebal itu denganku. "Lalu, siapa cewek yang kemarin pulang sekolah pakai seragam Nicholas? Semua orang di sekolah ini tahu, Asya. Nggak usah sok polos."

​"Ya karena..." Kalimatku menggantung. Pikiranku langsung terlempar ke kejadian kemarin siang, saat aku jatuh dari lantai dua gudang olahraga dan ditangkap oleh Nicholas. Sialan, insiden kancing baju lepas itu rupanya membuat seluruh sekolah salah paham.

​"Karena apa? Karena lo sengaja buka baju di depan dia, iya?!"

​"Nggak! Gue—"

​"Gue apa? Cewek cupu kayak lo ini nggak ada cocok-cocoknya bersanding sama Nicholas, paham?!" Olivia memotong kalimatku dengan nada merendahkan. Bahkan, dia mencengkeram daguku kuat-kuat, membuatku meringis sebelum akhirnya menghempaskannya dengan kasar. "Gue peringatin lo untuk yang terakhir kalinya. Nicholas itu milik gue. Menjauhlah dari dia dan... jangan pernah ganggu dia lagi!"

​Tanpa menunggu balasan dari Asya, Olivia berbalik dan melangkah pergi begitu saja diikuti dayang-dayangnya.

​"Dasar cewek gila," umpatku lirih sambil mengusap pipiku yang masih terasa panas. Aku menatap nanar ke arah noda cokelat yang mengotori seragamku. Lagi pula, buat apa juga gue cari perhatian si Nicholas brengsek itu? Nggak jelas banget.

​Aku memalingkan wajah, menyadari bisik-bisik beracun mulai memenuhi penjuru kelas.

​"Belakangan ini si Asya gatel banget ya, ngebet menggoda cowok-cowok."

"Kemarin anak basket sekolah musuh, sekarang malah Nicholas yang diincar sampai dilabrak habis-habisan sama Olivia."

"Jangan-jangan besok cowok lo yang dideketin sama dia?"

"Iww, amit-amit, jangan sampai deh!"

​Kupingku terasa membara mendengar tuduhan tidak berdasar itu. Mereka semua menghakimiku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Menahan kesal dan hinaan itu, aku segera menyambar tasku dan beranjak dari kursi, berniat menuju kamar mandi untuk membersihkan noda di seragamnya.

​Asya tidak menyadari bahwa di sudut kelas, Lisa, sahabat dekat Olivia, sedang mengamatinya dengan senyum licik.

​"Gimana? Tulisan di pintunya udah lo ganti, kan?" bisik Lisa pada seorang siswa laki-laki di dekatnya.

​"Beres!" sahut cowok itu singkat.

​Lisa tersenyum puas. Setelah ini, 'Olivia pasti bakal seneng banget sama hasil kerja gue dan langsung kasih gue hadish besar,' batinnya bersorak. Dengan langkah yang dibuat seolah-olah peduli, Lisa mempercepat jalannya untuk menyusul Asya yang sudah berjalan sampai di ambang pintu kelas.

​"Oh my god... Asya, lo nggak apa-apa? Ini nodanya parah banget, harus segera dibersihin sebelum makin lengket ke kain!" seru Lisa heboh, tiba-tiba menyodorkan selembar handuk bersih ke arahku.

​Aku sempat tertegun, menatap handuk itu lalu beralih ke wajah Lisa dengan kening berkerut. Tumben sekali dia bersikap baik padaku? Apa jangan-jangan dia punya niat lain?

​"Udah... lo nunggu apa lagi? Keburu nodanya kering nanti susah hilang," desak Lisa, berusaha meyakinkanku dengan raut wajah yang tampak sangat tulus. Dia tampak begitu tidak sabar untuk memulai pertunjukan yang sudah ia susun rapi.

​"Ah, oke... makasih ya, Lis," ucapku akhirnya, menerima handuk itu karena kepalaku terlalu penuh untuk curiga. Aku pun segera bergegas pergi.

​"Sama-sama! Jangan sungkan kalau butuh bantuan gue lagi ya!" teriak Lisa melambai hangat. Namun begitu tubuh asya menghilang di ujung koridor, ekspresi wajahnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Bibirnya mengulas seringai kejam.

​Ia langsung merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, dan membuka sebuah aplikasi. "Oke, guys... hari ini bakal ada pertunjukan yang seru banget di sekolah gue. Jangan lupa tap-tap layar dan share live-nya ya!" ucap Lisa dengan nada ceria ke arah kamera ponselnya yang kini sedang melakukan live streaming.

​**

​Langkahku terhenti tepat di depan pintu toilet. Perasaanku mendadak tidak enak, ada sensasi janggal yang tiba-tiba merayap di hatiku. "Kok rasanya... ada yang aneh ya?" gumamku pelan, menatap papan penanda di pintu toilet.

​Namun, mengingat jam istirahat akan segera habis dan tidak mungkin kembali ke kelas dengan baju sekotor ini, akhirnya Asya mengabaikan firasat buruk itu. Dia mendorong pintu kayu itu dan melangkah masuk.

​Asya meletakkan tas di atas kursi panjang yang terletak di area toilet. Dengan gerakan cepat, Asya mulai melepas kemeja seragamnya yang kotor, lalu melilitkan handuk pemberian Lisa di sekeliling tubuhnya. Handuk itu cukup minim, hanya menutupi dari dada hingga sebatas pahanya.

​"Dasar orang-orang aneh. Sekolah elit begini tapi kelakuannya kayak orang kampungan yang hobinya cuma menindas orang lain," gerutuku panjang lebar sambil berdiri di depan wastafel, mulai mengucek noda cokelat di seragamku dengan sabun.

​BRAK!

​"Astaga ..." Suara pintu toilet utama yang didorong kasar mengejutkanku. Terdengar gelak tawa nyaring yang sangat kukenal. Itu suara Olivia, dan sepertinya dia membawa rombongan yang cukup banyak untuk menjebakku.

​"Shit..." umpatku panik. Aku menatap penampilanku sendiri di cermin yang hanya terbalut handuk tipis dengan kemeja basah kuyup. Kalau Olivia dan orang-orang itu melihatku dalam kondisi seperti ini, mereka pasti akan memotretku dan menjadikannya skandal untuk mendepakku dari sekolah.

Terdorong oleh rasa panik yang luar biasa, aku menyambar tasku dan berlari kelabakan menuju bilik kamar mandi paling ujung dan langsung memutar kunci pintunya.

​KLAK.

​"Huhhh..." bisikku lega, menyandarkan punggung ke pintu bilik sambil memejamkan mata, membiarkan napasku yang memburu berangsur tenang.

​"Ngapain lo di sini?"

​Sebuah suara berat penuh keterkejutan memecah keheningan bilik, sedikit teredam dengan suara rintikan air dari pancuran shower yang sedang menyala.

​mendengar suara itu, tentu saja aku tersentak. Mataku seketika membelalak sesaat setelah menoleh ke arah sumber suara. Di balik uap air yang tipis, berdiri seorang cowok tanpa sehelai benang pun di tubuhnya, dengan sisa busa sabun yang mengalir di atas otot-otot tubuhnya yang ahhh ... shit ... aku tidak bisa lagi mendeskripsikan apa yang saat ini kulihat. Jantungku semakin berdegub kencang menyadari siapa dia. Nicholas.

​"Eh... sorry-sorry! Gue nggak sengaja!" jeritku tertahan. Aku buru-buru membalikkan badan membelakanginya, menyembunyikan wajahku yang sedetik kemudian langsung terasa panas karena malu dan salah tingkah karena situasi ini.

​"Apa lo sengaja masuk ke sini buat ngintip gue, hmmm?"

​Suara langkah kaki yang mendekat membuat bulu kudukku meremang. Sebelum aku sempat memprotes, sebuah lengan yang kokoh dan basah tiba-tiba melingkar di pinggangku dari belakang, menarik tubuhku yang hanya terbalut handuk tipis hingga merapat ke dada telanjangnya. Sentuhannya di pinggangku seperti sengatan panas yang aneh, sensasi yang persis sama dengan getaran gila yang kurasakan saat bertukar pesan sexting semalam.

​"Sengaja apaan sih?! Lepasin nggak!" ketusku panik, mencoba menyiku perutnya namun Nicholas sama sekali tidak bergeming. Hari ini aku benar-benar sial. Pertama dilabrak Olivia, dan sekarang terjebak di bilik mandi bersama cowok yang paling menyebalkan sedunia.

​Di luar bilik, suara langkah kaki Olivia dan rombongannya terdengar semakin dekat, menggema di atas lantai keramik toilet. Jantungku berpacu gila-gilaan. Jika pintu ini didobrak dan mereka menemukanku berada di dalam satu bilik mandi bersama Nicholas yang bertelanjang bulat, tamat sudah riwayatku. Aku bergidik ngeri membayangkan kehancuran hidupku setelah ini.

​Nicholas sedikit membungkuk dari belakang. Wajahnya berada tepat di samping telingaku, hingga hembusan napasnya terasa hangat menerpa kulit leher jenjangku, membuat seluruh tubuhku refleks meremang.

​"Gue bisa bantuin lo buat keluar dari situasi ini dengan aman," bisik Nicholas dengan suara serak yang begitu dalam, tepat di telingaku. Seringai tipisnya terasa menyentuh pipiku yang memanas. "Tapi syaratnya... lo harus nurut sama semua omongan gue sekarang."

*

*

*

*

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 17

    ​"Jadilah pacar gue!" ​Hah? Ekspresi kesal yang tadi menguasai wajahku seketika berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa. Aku yakin raut mukaku saat ini terlihat sangat bodoh di depannya. Apalagi siasat cowok berengsek ini? batinku berteriak frustrasi. ​"Jangan bercanda!" sahutku tajam. Aku sama sekali tidak menganggap serius ucapan gilanya itu. ​Aku menatap manik mata Nicholas dengan tatapan tidak percaya. Tanpa berpikir panjang, aku segera mendorong dada bidang cowok itu sekuat tenaga agar dia bergerak menjauh dariku. ​Namun, baru saja aku beranjak beberapa langkah untuk kabur, Nicholas dengan cepat kembali menarik tanganku. Dia memutar tubuhku dan menekan pinggangku rapat-rapat ke dinding yang dingin, mengunci seluruh pergerakanku hingga aku tidak bisa berkutik. ​"Minggir nggak, lo!" kesalku setengah berteriak, kembali berusaha mendorong dadanya agar menjauh. Jujur saja, aku juga cemas jika Olivia melihat kebersamaanku dengan Nicholas dan membuatnya salah paham. ​Ni

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 16

    ​Begitu aku melangkah mendekati gerbang rumah, suara siulan yang sangat kukenal mengalihkan perhatianku. Aku menoleh dan menemukan Nicholas sedang berdiri diambang gerbang rumahku, dengan gaya bad boynya. ​"Dia lagi..." gumamku jengah, memutar bola mata saat melihat Nicholas yang berjalan santai menghampiriku. "Ngapain lo ke sini?" ​"Gue mau bicara sama lo!" ucap Nicholas. ​Namun, sebelum aku sempat membalas atau mengusirnya, pintu rumahku mendadak terbuka dari dalam. Mama keluar dengan raut wajah tegang. Tanpa basa-basi, Mama langsung menarik lenganku dengan kasar, memaksaku menjauh dari Nicholas, cowok yang di matanya tak lebih dari seorang berandal yang harus dihindari. Lagipula, gaya dan penampilan Nicholas memang jauh dari kesan murid baik-baik. ​"Putriku tidak perlu berbicara denganmu. Dan tidak ada hal apa pun yang perlu dibicarakan, Anak Muda!" tegas Mama dengan suara menekan sebelum membanting pintu rumah rapat-rapat. ​BRAK! ​Di luar sana, Nicholas hanya membalasn

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 15

    "Gue... gue nggak percaya!" seruku, masih saja berusaha menyangkal kenyataan pahit ini. ​Gumpalan air mata membuat pandanganku kabur. Aku hampir saja lupa seperti apa sosok Nicholas yang sebenarnya. Bisa saja ini semua hanyalah salah satu rencana liciknya untuk mempermainkan dan menghancurkan mentalku di sekolah! ​"Lo masih butuh bukti?" tanya Nicholas dingin. Sepertinya dia sadar kalau sekadar memperlihatkan ruang obrolan di layar ponsel tidak cukup untuk membongkar benteng pertahananku. ​Nicholas menarik bagian bawah kaos tim yang dikenakannya ke atas, memperlihatkan kulit perutnya yang kencang hingga ke bagian pinggang sebelah kiri. Di sana, terukir sebuah tato berukuran sedang yang sangat khas. Tato yang selalu muncul setiap kali akun itu mengirimkan photo/pap bagian tubuhnya padaku di malam hari. ​Deg. ​Mataku terbelalak lebar. Tanganku gemetar hebat. Aku teringat jelas pada foto sexting yang dikirimkan akun itu beberapa hari lalu. Gambar tato, bentuk, dan letak tato di ping

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 14

    ​Beberapa minggu berlalu dengan cepat, hingga hari yang paling kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Aku duduk di bangku tribun penonton dengan perasaan luar biasa antusias, menyaksikan pertandingan basket yang berlangsung sangat sengit antara tim sekolah Gabriel melawan tim sekolah Nicholas. ​Atmosfer di dalam gedung olahraga terasa sedikit panas. Setiap kali tim lawan membawa bola, aku tidak bisa menahan diri. ​"Gabriel, semangat! Kamu pasti bisa!!" teriakku lantang, mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang di sekitarku. ​Teriakanku yang terus bergema ternyata berdampak buruk di lapangan. Nicholas berkali-kali melirik tajam ke arah tribun penonton. Fokusnya pecah, wajahnya mengeras menahan amarah, dan dia bahkan hampir kalah karena sempat mengalami cedera ringan akibat permainannya yang mendadak kacau. ​Begitu peluit tanda sesi istirahat berbunyi, Nicholas langsung berjalan cepat meninggalkan lapangannya. Alih-alih menuju bangku timnya, cowok tampan dengan rambut sedikit berantak

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 13

    Malam semakin larut, namun mataku sama sekali tidak mau terpejam. Rasa gugup tentang rencana pertemuanku dengan Gabriel minggu depan membuat pikiranku carut-marut. Untuk mencari udara segar dan menenangkan debaran jantungku, aku memutuskan untuk melangkah keluar menuju balkon kamar. ​Kriettt. ​Suara derit pintu kaca balkonku yang terbuka memecah keheningan malam. Begitu aku melangkah keluar, hembusan angin malam langsung menerpa kulitku. Namun, sedetik kemudian langkahku membeku.'malam-malam begini, dengan penampilan seperti itu ...' batin ku dengan kening berkerut. ​Tepat di balkon rumah sebelah yang hanya berjarak beberapa meter, Nicholas sedang berdiri bersandar. Cowok itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana santai selutut, membiarkan otot dada dan perutnya yang atletis terekspos bebas di bawah sinar rembulan. Jari-jarinya yang kokoh, terlihat tengah menjepit sebatang rokok yang menyala. ​Glek. ​'Nicholas sialan,' Aku menelan ludah dengan susah payah. Mataku seolah ter

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 12

    "Oh, shit..." ​Nicholas mendesis lirih di sudut tribun lapangan basket. Sepasang matanya masih terpaku lekat pada layar ponsel, memandangi foto sensual dari teman sexting online-nya yang baru saja ia kunci di folder pribadi. Nicholas memperbesar gambar di bagian dada, mengamati lekat-lekat tato berbentuk bintang berukuran kecil di sana. Tato khusus yang telah menyalakan gairahnya sejak pertama kali foto itu terkirim. ​"Gue nggak pernah ngebayangin kalau cewek liar semalam itu ternyata..." Nicholas bergumam pelan pada dirinya sendiri. Fokusnya terlalu tersedot ke dalam layar hingga ia sama sekali tidak menyadari bahwa Gabriel dan Chalvin sudah melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya sejak tadi. ​"Woah... apa itu, Nic?" seru Gabriel tiba-tiba, langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Nicholas dan mencondongkan kepala, berusaha mengintip apa yang sedang dilihat sahabatnya hingga seserius itu. ​"Pantesan belakangan ini lo selalu pulang sore pas latihan. Ada mainan baru rupany

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status