Masuk"Ahhhh! Dasar cowok gila!"
Aku memekik frustrasi begitu berhasil mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Tas sekolah kulemparkan sembarangan ke atas lantai. Napasku masih memburu, setengah karena lelah berlari, setengah lagi karena amarah yang mendidih di dalam dada. "Bisa-bisanya dia bilang otot dada dia lebih besar dari milikku?! Buta ya?!" gerutuku kencang, melangkah lebar-lebar menuju cermin besar di sudut kamar. Aku menatap pantulan diriku yang masih tenggelam di dalam kemeja seragam putih milik Nicholas yang kebesaran. Aroma parfum maskulinnya yang tertinggal di kain ini mendadak membuatku makin kesal. Tanpa berpikir dua kali, aku melepas kemeja itu dan mencampakkannya ke lantai dengan kasar. Aku berjalan cepat menuju lemari, mengaduk-aduk isinya, lalu menarik keluar sebuah gaun tidur satin hitam pendek yang tidak kalah berani dari lingerie semalam. Begitu kain dingin itu melekat di tubuhku, aku mematut diri di depan cermin. Potongan gaun ini mengeksos belahan dadaku dengan jelas, membingkai lekuk tubuhku yang selama ini kusembunyikan di balik seragam longgar. "Asal kamu tahu, Nicholas... punyaku nggak sekecil itu!" bisikku tajam pada bayangan cermin, seolah-olah cowok menyebalkan itu ada di hadapanku. Cekrek! Aku meraih ponsel dan segera mengambil beberapa foto dengan pose yang jauh lebih berani dan sensual, membiarkan lekuk tubuhku terekspos sempurna tanpa memperlihatkan wajah. "Bagaimana menurutmu?" ketikku pada akun Gabriel, melampirkan foto-foto tersebut. Tidak sampai sepuluh detih, satu balasan muncul di layar ponselku yang masih menyala. "Fuck, babe... kamu seksi banget! Kamu bikin milikku keras." Membaca untaian kata vulgar itu, senyumku langsung mengembang lebar. Aku menggigit bibir bawahku dengan sensasi menggelitik yang aneh di perut, membayangkan wajah tampan Gabriel yang mungkin saat ini sedang menatap layarnya dengan napas tertahan, menginginkanku. "Cuma Gabriel yang benar-benar bisa melihat dan menerimaku," gumamku lirih seraya menjatuhkan tubuh ke atas kasur empuk. Semua rasa dongkol dan sakit hati akibat ucapan Nicholas di sekolah tadi mendadak menguap, digantikan oleh debaran jantung yang bertalu-talu. "Hari ini di sekolah, ada bajingan yang bilang kalau tubuhku nggak sebagus tubuhnya," balasku, meluapkan kekesalanku tentang kejadian di halaman belakang tadi siang. "Maki aja cowok itu. Tubuh kamu seksi banget. Aku berharap bisa mencicipimu sekarang juga," balasnya lagi. Pikiran bahwa Gabriel menginginkanku membuatku kehilangan akal sehat. Dengan rasa percaya diriku yang melambung tinggi, aku bertindak jauh lebih nekat dari biasanya. Dengan jemari berkeringat dingin, aku mengarahkan kamera ponselku ke bawah, mengambil foto bagian intimku yang terbalut satin tipis, lalu mengirimkannya. "Aku mau kamu bayangin Aku lagi memelukmu sekarang, menyentuhmu... Mendesahlah buatku, sayang," balasnya, kalimatnya semakin panas, menyulut gairah liar yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku yang masih begitu polos dan buta karena cinta, benar-benar menyerahkan diriku sepenuhnya pada instruksinya. Aku menekan tombol rekam suara pada WeChat, membiarkan desahan napasku yang memburu dan tak beraturan terkirim langsung ke akun tersebut. Akun dengan nickname Gabriel. "Oh... ya ampun... sedikit lagi," desahku pelan ke arah mikrofon ponsel saat gelombang kenikmatan itu mulai menguasai kesadaranku sepenuhnya. Hingga akhirnya, tubuhku menegang dan aku berhasil mencapai puncak itu sendirian di bawah kehangatan selimut, menyisakan napas yang tersengal-sengal dan rasa lega yang luar biasa. Di seberang sana, di balik dinding yang hanya berjarak beberapa meter dari kamarku, Nicholas juga sedang menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Napasnya memburu berantakan di dalam kamarnya yang temaram. Di lantai samping tempat tidurnya, beberapa gumpalan tisu kotor berserakan menjadi saksi bisu atas pelepasan gairah yang baru saja ia lalui akibat rekaman suara dan foto-foto itu. Aku membersihkan diriku dengan asal, lalu kembali mengetikkan pesan dengan perasaan emosional yang meluap. "Terima kasih, Gabriel. Sebenarnya, di sekolah aku selalu jadi cewek yang dicuekin dan diketawain orang. Aku nggak pernah punya rasa percaya diri buat nunjukin diriku yang sebenarnya. Tapi kamu... kamu bikin malamku jadi luar biasa." Nicholas menatap layar ponsel di tangannya, membaca paragraf panjang itu dengan kening berkerut. Ada sesuatu dalam kalimat gadis itu yang terasa menyentil hatinya. Jemarinya mengetik balasan dengan ritme yang lebih lambat. "Jangan pikirin omongan idiot mereka. Kamu cantik. Tapi lebih dari itu, kamu nyata di mataku. Itu jauh lebih penting dari apa yang kamu kira. Cobalah buat lebih berani mulai sekarang." Setelah menekan tombol kirim, Nicholas meletakkan ponselnya di atas dada. Kalimat-kalimat dari gadis misterius itu terus berputar di kepalanya, memicu rasa penasaran yang mendadak terasa mencekik. "Sebenarnya... siapa sih lo?" gumam Nicholas lirih. Nicholas bangkit dari posisi berbaringnya, melangkah perlahan menuju jendela kamar yang besar. Ia menyibak sedikit tirai kamarnya, menatap lurus ke arah rumah sebelah. Di sana, lampu kamar Asya masih menyala terang benderang selarut ini. Sebuah spekulasi gila mendadak melintas di kepala Nicholas, membuat tubuhnya membeku seketika. Mungkinkah... cewek itu adalah Asya? Nicholas terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya mendengus remeh dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran absurd itu dari otaknya. "Nggak mungkin. Mana mungkin Asya si kutu buku yang kaku bisa ngelakuin hal seliar ini? Dia kan di sekolah mirip biarawati." Nicholas membuang napas kasar, kembali berbalik menuju ranjangnya dan mencoba melupakan kecurigaan yang sebenarnya baru saja menyentuh kebenaran. * * * *"Apaan sih?!" Dengan tangan gemetar dan napas memburu panik, aku secepat kilat menyambar handuk putih yang tergeletak di lantai keramik, lalu melilitkannya kembali ke tubuhku rapat-rapat. Seluruh kulitku terasa panas karena malu. Di hadapanku, Nicholas masih berdiri membeku. Namun, keterkejutan di wajahnya perlahan surut, berganti dengan tatapan mata yang penuh arti. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis yang menggambarkan kelicikan. 'Hmm, ternyata dia nggak semembosankan seperti yang gue kira,' batin Nicholas. Nicholas melangkah maju. Gerakannya pelan, tenang, namun penuh intimidasi yang membuatku refleks mundur selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya, punggungku membentur dinding keramik bilik kamar mandi. Aku terperangkap. Nicholas mengurungku dengan kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada dinding di sisi kanan dan kiri kepalaku. "He-hey... apa yang mau lo lakukan?!" pekikku panik, mati-matian menekan handuk di dadaku agar tidak melorot lagi. Glek. Aku me
"Asya! Gue tahu lo menyelinap masuk ke ruang ganti cowok karena mau mengintip! kebetulan Gue sekarang lagi siaran langsung di medsos buat bantu lo biar cepat viral, nih!" Suara cempreng Olivia menggelegar dari kejauhan, memantul di dinding-dinding keramik toilet. Jantungku seketika mencelos. 'Tidak... tidak, jangan sampai cewek gila itu nemuin gue di sini.' "Gimana tawaran gue, hmmm? Apa sudah lo pertimbangkan?!" bisik Nicholas dengan suara tertahan tepat di atas kepalaku. Sentuhan tangannya di pinggangku perlahan bergerak turun, mengusap pelan tapi pasti ke arah pahaku yang terekspos. 'Oh, shit...' Aku menelan ludah dengan susah payah. Kulitku meremang. Dalam kungkungan intim Nicholas, entah kenapa otakku malah konslet dan justru mengingat kejadian sexting semalam. Garis otot tubuh Gabriel yang... 'ah, sudahlah! Sadar, Asya! Ini bukan waktunya buat berpikiran mesum!' "Asya... gue tahu lo di dalam sini!" seru Olivia lagi dengan nada yang dibuat-buat. Suara debaman pintu bi
Seperti hari-hari biasanya, Olivia dan para pengikutnya tidak pernah absen untuk membuat hidupku seperti neraka. Pagi ini, baru saja aku meletakkan tas dan duduk di kursiku, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping dan menumpahkan minuman cokelat pekat tepat di atas baju seragamku. Cairan manis yang lengket itu langsung merembes, mengotori seragam putih yang kukenakan. "Astaga!" pekikku terkejut dan langsung bangkit berdiri, menoleh dengan geram ke arah Olivia yang menatapku dengan raut wajah tertekuk. "Apa-apaan sih lo? Apa maksudnya ini?!" "Lo nanya apa maksudnya?" Wajah Olivia memerahmenahan amarah. Tanpa peringatan, jemarinya bergerak cepat mencengkeram dan menarik rambutku dengan kasar, membuat kepalaku mendongak mendadak. Aku tidak sempat menghindar. "Sakit, bodoh! Lepasin!" tentu saja aku meringis kesakitan. Aku mati-matian menahan tangan Olivia agar dia tidak menarik rambutku lebih keras lagi, "Menggoda Nicholas apanya?!" "Cihhh ... Masih berani lo deketin
"Ahhhh! Dasar cowok gila!" Aku memekik frustrasi begitu berhasil mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Tas sekolah kulemparkan sembarangan ke atas lantai. Napasku masih memburu, setengah karena lelah berlari, setengah lagi karena amarah yang mendidih di dalam dada. "Bisa-bisanya dia bilang otot dada dia lebih besar dari milikku?! Buta ya?!" gerutuku kencang, melangkah lebar-lebar menuju cermin besar di sudut kamar. Aku menatap pantulan diriku yang masih tenggelam di dalam kemeja seragam putih milik Nicholas yang kebesaran. Aroma parfum maskulinnya yang tertinggal di kain ini mendadak membuatku makin kesal. Tanpa berpikir dua kali, aku melepas kemeja itu dan mencampakkannya ke lantai dengan kasar. Aku berjalan cepat menuju lemari, mengaduk-aduk isinya, lalu menarik keluar sebuah gaun tidur satin hitam pendek yang tidak kalah berani dari lingerie semalam. Begitu kain dingin itu melekat di tubuhku, aku mematut diri di depan cermin. Potongan gaun ini mengeksos belahan dadaku de
Pagi ini, semuanya kembali seperti rutinitas biasa yang memuakkan. Dengan kacamata berbingkai tebal dan penampilanku yang mungkin saja terlihat terlalu kampungan dan sederhana di depan mereka, aku harus siap kembali menjadi target empuk sindiran orang-orang di koridor. Tapi anehnya, kata-kata pedas mereka yang biasanya membuatku ingin bersembunyi, kali ini tidak mempan. Pikiranku sedang melayang jauh ke kejadian semalam. Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah lambat, membayangkan kembali foto dada atletis dan garis otot yang dikirimkan oleh Gabriel. Pipiku mendadak terasa panas. 'Haruskah aku memberitahu Gabriel kalau cewek di balik akun anonim yang sexting dengannya semalam itu aku?' batinku bimbang, menggigit bibir bawahku pelan. PLAK! "Aw!" seruku kaget. Sebuah tangan menyambar kasar dari samping, menarik kacamata yang bertengger di hidungku hingga pandanganku sedikit buram. Saat aku menoleh dengan geram, wajah menyebalkan Nicholas sudah menyambutku. "Nge
Tetesan sisa air mandi beberapa menit lalu masih mengalir di lekuk tubuh Nicholas saat cowok itu melangkah keluar dari kamar mandi. Dengan selembar handuk kecil di tangan, ia mengusap rambut hitamnya yang basah secara acak. Nicholas berjalan bertelanjang dada melintasi kamarnya yang sejuk oleh AC, berniat meraih pakaian ganti, sampai sebuah bunyi notifikasi yang khas menghentikan langkahnya. Ting! Nicholas menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia mengernyit heran saat melihat layar ponselnya menyala, menampilkan ikon aplikasi yang tidak biasa. "Ah... gue lupa akun WeChat Gabriel masih nyangkut di HP ini," gumam Nicholas pada diri sendiri. meskipun beda sekolah dan sering menjadi musuh saat pertandingan basket, mereka berdua tetap bersahabat. bahkan sudah bersahabat sejak lama. Minggu lalu, Gabriel memang meminjam ponselnya untuk masuk ke akun miliknya karena baterai ponsel cowok itu mati total, dan mereka lupa mengeluarkan akun tersebut. Nicholas awal







