LOGINTujuh tahun menjalin hubungan, Kanaya percaya hidupnya sudah berada di jalur yang benar—sampai malam itu ia menemukan tunangannya bercumbu dengan bosnya sendiri. Hancur, mabuk, dan kehilangan arah, Kanaya pulang terhuyung ke apartemennya. Ia hanya ingin menangis dan tidur. Tapi takdir malah mengirim Sagara, sahabat tunangannya sekaligus atasannya di kantor. Pria yang selama ini ia anggap dingin dan terlalu formal. Sagara datang dengan niat memastikan Kanaya tidak melakukan hal bodoh. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Dalam kondisi limbung, Kanaya menangis di dada pria itu—lalu tanpa malu berbisik jujur bahwa selama tujuh tahun ini ia tidak pernah disentuh oleh tunangannya. Bahunya bergetar. Napasnya panas. Dan kata-katanya semakin asal. Kanaya mulai melucuti pakaiannya. “Kalau gini— masih bagusan dia, ya?”
View MoreDerap langkah Kanaya Paramitha terdengar keras saat ia melangkah keluar dari lift, menuju unit apartemen milik tunangannya selama empat tahun, Gavin Bagaskara.
Di tangannya, ia membawa sebuah kotak cake dengan tulisan 7th Anniversary Naya–Gavin yang sudah ia pesan khusus sejak seminggu lalu.
Tiga tahun berpacaran, empat tahun bertunangan.
Tujuh tahun total bersama.
Dan selama itu, Kanaya tetap setia—meski Gavin tak pernah benar-benar memberi kepastian kapan mereka akan mengesahkan pernikahan mereka.
Ia tetap bertahan, tetap berharap, tetap percaya bahwa laki-laki itu hanya menunggu waktu yang tepat.
Kanaya berhenti tepat di depan pintu unit Gavin. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang entah kenapa terasa lebih cepat dari biasanya.
Setelah memasukkan PIN– pintu terbuka perlahan.
“Vin...” panggil Kanaya sembari mencondongkan tubuh sedikit ke dalam ruangan yang remang.
Apartemen itu sunyi. Terlalu sunyi.
Kanaya menatap jam di pergelangan tangannya. “Jam delapan. Harusnya dia udah di apartemen, kan?” gumamnya lagi.
Ia meletakkan cake itu di meja makan—lalu baru sadar.
Satu botol wine kosong berdiri di atas meja. Di sampingnya, dua gelas kristal, masing-masing terisi setengah.
Kening Kanaya berkerut.
Degup jantungnya mulai berubah ritme.
“Gak mungkin dia lupa anniversary kita...”
Ia melepaskan tas dan mantel, menaruhnya di kursi bar di sisi meja makan, lalu melangkah menuju tangga yang mengarah ke lantai dua—kamar Gavin ada di sana.
Setiap langkah terasa berat, seperti tubuhnya tahu sesuatu yang buruk menunggunya di atas.
Saat tiba di lantai dua, Kanaya langsung berhenti.
Sebuah heels hitam berujung runcing tergeletak tepat di depan pintu kamar Gavin.
Bukan miliknya. Sama sekali bukan.
Hawanya langsung berubah. Tubuhnya menegang.
Perasaan tidak enak menelusup naik dari perut ke dadanya, mencengkram lebih kuat setiap detik.
Dan saat ia semakin mendekat ke pintu kamar... Suara itu terdengar.
“Gavin...... ahh... Gavin...”
Kanaya terpaku.
Darahnya seolah berhenti mengalir.
Diikuti suara berat pria yang sangat ia kenal. “Sayang… you are so good.”
Kanaya menggigit bibir bawahnya, tubuhnya bergetar hebat. Hatinya seketika seperti diremas dari dalam, hancur tanpa ampun.
Kemudian suara perempuan itu terdengar jelas. “Enak mana sama Kanaya, hah?”
Nada suaranya penuh tantangan.
Lalu suara Gavin membalas, terengah. “Dia gabisa disentuh… arghh...”
Air mata Kanaya jatuh begitu saja. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan agar isakannya tidak terdengar.
Namun tubuhnya terus gemetar.
Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, tangannya meraih gagang pintu kamar. Ia membuka perlahan—meski separuh dirinya memohon untuk jangan melakukannya.
Pintu terbuka.
Dan dunia Kanaya runtuh dalam sekejap.
“Vin...” panggilnya pelan, suaranya pecah dan lemah, namun cukup untuk membuat Gavin menoleh.
Pria itu membeku.
Wanita di bawah tubuh Gavin juga ikut menoleh.
Kanaya menatapnya tidak percaya. Napasnya tercekat.
“So... Sonia?” katanya hampir tanpa suara.
Brak.
Tubuh Kanaya lemas, jatuh terduduk di lantai.
Seluruh tenaganya seperti tersedot keluar dari raga. Matanya menatap kosong adegan di depan, mencoba memproses kenyataan bahwa laki-laki yang ia cintai tujuh tahun... sedang di atas tubuh Sonia—yang selama ini ia anggap sebagai teman.
Semuanya runtuh.
Dalam satu kedipan.
Perlahan, Kanaya berdiri dengan menopang tubuhnya pada dinding dan kusen pintu. Lututnya lemah, seperti tidak sanggup menahan seluruh beban yang jatuh menimpa dirinya dalam hitungan detik.
“Sa—sayang... aku nggak sengaja. Kita mabuk... aku—”
“Pertanyaannya bukan itu. Pertanyaannya kenapa. Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku? Setelah semua yang kita lewati bareng?”
Gavin membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.
Kanaya mengalihkan pandangannya ke Sonia, yang kini duduk di ranjang dengan tubuh ditutupi selimut, wajahnya tegang dan ketakutan.
“Dan kamu...” Kanaya menatapnya tajam.
Kanaya langsung mundur selangkah, menghindari sentuhan Gavin yang akan maju.
Tidak ada lagi keraguan di matanya—hanya luka yang terlalu dalam. “Jangan pernah temuin aku lagi.”
Sebelum keluar, Kanaya mengambil cake itu—lalu melemparkannya ke lantai.
Kotaknya hancur. Krim berceceran. Tulisan indahnya kini melebur bersama serpihan hatinya yang baru saja pecah.
Tanpa menoleh lagi, Kanaya melangkah menuju pintu keluar.
**
Kanaya masih meringkuk di atas sofa, tubuhnya melipat seperti ingin melindungi diri sendiri. Sejak kembali dari apartemen Gavin, ia tidak bergerak banyak.
Hanya menangis—dan menangis lagi. Entah sudah berapa banyak air mata mengalir, tapi cukup untuk membuat bantal sofa itu basah total.
Tubuhnya bergetar halus. Matanya sembap, hidung merah, rambutnya berantakan.
Tapi rasa sakit di dadanya jauh lebih buruk daripada seberapa buruk ia terlihat. Seberapa enak dirinya? Dijawab angkuh dengan dirinya yang tidak bisa disentuh.
Gila.
Bel apartemen berbunyi.
Sekali. Lalu dua kali. Lalu berulang-ulang tanpa ampun. Kanaya mengerang frustasi.
“Sialan!!! Siapa sih! Aku lagi sedih!”
Dengan kesal ia bangkit, menyeka air matanya dengan gerakan kasar, lalu berjalan ke arah pintu dengan langkah cepat dan berat.
Ia membuka pintunya dengan kasar.
“BRENGSEK!!! Siapa—”
Ucapannya terputus.
Di depan pintu berdiri seorang pria berjas rapi, dengan ekspresi datar.
“Pak Sagara?” Kanaya terbelalak. “Ngapain Bapak ke apartemen saya? Ini bukan jam kantor, dan Bapak nggak bisa kasih saya kerjaan tambahan mendadak kayak gini.”
“Bapak juga kenapa bisa di apart saya?”
Sagara menatapnya sebentar—menatap mata sembapnya, wajah kacau balau, dan napasnya yang tersengal. Lalu ia menghela napas pelan.
“Gavin nyuruh saya ke sini,” jawabnya singkat.
Ah, iya juga. Laki-laki itu bersahabatan dengan atasannya.
Mata Kanaya langsung berkaca lagi, kini dengan amarah.
“Buat apa dia nyuruh Bapak? Gak usah belain temennya, Pak! Saya gak mau diganggu!”
Sagara mengangkat kedua tangan sedikit, menunjukkan dua botol minuman beralkohol yang ia bawa.
Kanaya terdiam beberapa detik. Menatap botol itu, lalu menatap Sagara—atasannya yang angkuh itu.
Namun di malam ini, ia berdiri di depan pintunya, membawa dua botol minuman, hanya untuk memastikan dia tidak sendirian.
“Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken
Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim
Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be
Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews