LOGINBagi Asya Adeline, keberadaan Nicholas Elbert di bumi ini adalah sebuah petaka. Nicholas bukan cuma tetangga yang super menyebalkan, tapi juga cowok paling populer di salah satu sekolah elit yang mempunyai ribuan penggemar fanatik. Gara-gara keisengan Nicholas yang hobi mengusiknya, hidup Asya di sekolah berubah menjadi neraka akibat bullying dari para penggemar cowok itu, terutama Olivia. Namun, petaka sesungguhnya baru dimulai ketika Asya mengira ia telah menemukan tempat bersandar pada sosok Gabriel, cowok yang ia kenal lewat aplikasi dating. Siapa sangka, foto tampan Gabriel hanyalah topeng. Sosok di balik layar itu ternyata adalah Nicholas. Terjebak dalam permainan pria bad boy dan terlanjur mengirimkan foto vulgar karena salah sasaran, Asya kini berada di ujung tanduk. Mau tidak mau, Asya harus tunduk dan terikat dalam permainan berbahaya Nicholas. Sampai kapankah Asya harus bertahan di bawah kendali cowok yang paling dibencinya itu? Akankah mereka bisa saling jatuh cinta? Atau berakhir menjadi musuh?
View MoreNamaku Asya Adeline, siswi biasa di SMA Royal. sekolah yang katanya cukup bergengsi di kota ini. Dan cowok itu... dia Nicholas Elbert. Manusia paling menyebalkan yang selalu punya seribu cara untuk mengacaukan hari-hariku, baik di rumah ataupun di sekolah. Sama saja. Tidak ada bedanya.
Saat ini, aku berdiri di antara lautan siswi yang histeris, bersorak heboh memberi semangat pada Nicholas. Dia memang famous, idola sekolah, dan kapten tim basket yang dipuja-puja. Namun, aku berdiri di sini bukan untuk meneriakkan namanya. Pandanganku tertuju pada Gabriel Leister, ketua tim musuh yang tersenyum hangat ke arahku dari seberang lapangan. Gabriel adalah kebalikan dari Nicholas, dia sangat baik dan lembut. Aku akan memberikan ini sekarang, batinku. Jantungku berdebar. Jemariku meremas pelan sepucuk surat merah jambu yang sejak tadi kusembunyikan di balik seragam, lengkap dengan sebotol air mineral dingin yang sengaja kubeli khusus untuk Gabriel. Aku melangkah maju dengan semangat, membelah kerumunan. Jarakku dengan Gabriel hanya tinggal beberapa meter lagi. PLAK! Angin kencang berembus menyengat wajahku bersamaan dengan hantaman keras. Sebuah bola basket melambung tepat satu inci di depan hidungku, nyaris mengenai wajahku. Langkahku terhenti seketika. Jantungku seolah melompat karena terkejut. "Anjir!" makiku spontan dengan napas memburu. Tanpa perlu menoleh pun, aku sudah tahu ini ulah siapa. Siapa lagi kalau bukan bajingan egois itu? Benar saja. Tanpa dosa, Nicholas menghampiriku. Alih-alih minta maaf karena hampir membuatku masuk rumah sakit, dia malah memamerkan senyum songongnya yang khas. "Thank you!" ucap Nicholas santai. Tangannya bergerak secepat kilat, merebut botol mineral dari genggamanku tanpa permisi, lalu langsung meneggaknya rakus. "Apaan sih?! Itu bukan buat lo, Nicholas!" pekikku kesal, berusaha meraih kembali botol itu. Namun, Nicholas dengan sengaja mendongakkan kepala, menghabiskan air itu di depan mataku. Aku mendengus kasar, menatapnya dengan dingin. Kalau saja mataku bisa mengeluarkan sinar laser, Nicholas pasti sudah bolong saat ini juga. "Airnya enak. Segar," goda Nicholas, mengusap bibirnya dengan punggung tangan, sengaja memancing amarahku. Enak apanya? Cuma air putih biasa! umpatku dalam hati. Aku sengaja tidak membalas ucapannya. Semakin diladeni, Nicholas akan semakin Ngelunjak. Aku memutar tubuh, berniat mengabaikannya dan kembali melanjutkan misiku untuk memberikan surat cinta ini kepada Gabriel, sebelum pria itu kembali ke sekolahnya. Karena pertandingan telah usai. Namun, kedamaianku tidak bertahan sampai tiga detik. "Oh... apa nih?" Sentakan tiba-tiba di jemariku membuatku terpekik. Surat di tanganku lenyap. "Nicholas! Kembalikan!" pekikku panik, berusaha merebut kembali surat itu. "Surat? Surat cinta, nih?" Nicholas mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara. Dengan tinggi badannya yang menjulang seperti tiang listrik, aku yang bertubuh pendek ini tidak akan pernah bisa mencapainya meski harus melompat sampai betisku kram. "Lo nggak perlu tahu! Siniin enggak?!" Nicholas justru terkekeh menyebalkan. Keributan kami berdua mulai memancing perhatian. Sorot mata orang-orang di tribun penonton perlahan beralih ke arah kami, membuat udara di sekitarku mendadak pengap. Tiba-tiba, sebuah tangan lentik menyambar surat itu dari jangkauan Nicholas. Itu Olivia. Si cewek populer yang langsung tersenyum culas. "Ups... Asya mau menyatakan perasaan, guys! Kira-kira siapa cowok beruntung yang bakal dapetin surat ini?" seru Olivia sengaja dengan suara lantang, mengundang atensi semua orang yang ada di sana. "Aku menyukaimu bukan karena kamu seorang bintang..." Olivia mulai membaca kalimat pertamaku dengan nada mengejek yang dibuat-buat. "Oh, jadi surat ini buat salah satu pemain basket?" "Halah, udah pasti buat Nicholas-lah! Siapa lagi?" sahut Chalvin, sahabat sekaligus teman setim Nicholas, sambil menyikut lengan kaptennya itu. Senyum Nicholas langsung mengembang. Raut wajahnya berubah congkak, tampak sangat percaya diri. Dia merebut kembali surat itu dari tangan Olivia, berniat membacanya sendiri. "Waktu pertama kali melihatmu, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Senyummu yang lembut, dan rambut cokelatmu yang bergelombang..." Suara Nicholas mendadak memelan. Kalimat terakhir itu seperti mencekik tenggorokannya sendiri. Semangat di wajahnya luntur seketika, menyisakan ekspresi kaku yang aneh. "Tapi rambut Nicholas kan hitam?" celetuk Chalvin yang ikut bingung, menatap rambut temannya sendiri. "Buat pemain basket... kalau bukan buat Nicholas, terus buat siapa?" timpal anggota tim yang lain, mulai berbisik-bisik. Aku membeku di tempat. Rasanya seperti ditelanjangi di depan umum. Tatapan menghakimi dan tawa tertahan dari murid-murid di sekitar membuat tenggorokanku tercekat. Aku belum mau memberi tahu siapa pun sebelum aku benar-benar tahu bagaimana perasaan Gabriel kepadaku. Nicholas melangkah maju. Jarak di antara kami terkikis. Dia sedikit membungkuk, menyejajarkan wajahnya denganku. Sepasang mata hitamnya menatapku tajam, mengulik, menuntut jawaban. "Menarik," bisik Nicholas, suaranya terdengar dingin dan berbahaya, berbeda dari nada bicaranya yang tadi. "Kira-kira... siapa cowok beruntung itu, Sya?" "Bukan urusan lo!" bentakku, kembali melompat untuk merebut kertas itu. "Semua anak basket ada di lapangan ini sekarang. Mau gue bantu panggilin orangnya?" goda Nicholas lagi. Tapi kali ini, aku bisa melihat kilat kemarahan dan rasa penasaran yang mati-matian dia sembunyikan di balik topeng tenangnya. Panik? tentu saja aku panik. Kalau sampai dia tahu itu untuk Gabriel, hancur sudah semuanya. Dengan nekat, aku mencengkeram kerah baju Nicholas, menariknya ke bawah, dan menyentak kertas di tangannya sekuat tenaga. KRAKK! Suara robekan kertas itu terdengar begitu nyaring di telingaku. Surat merah jambu itu kini terbelah menjadi dua bagian di tangan kami masing-masing. "Oh, no..." gumam riuh orang-orang di sekitar, menonton drama gratisan ini dengan puas. Duniaku rasanya runtuh. Air mata yang sejak tadi kutahan mendadak mendesak naik ke pelupuk mata. Pipiku memanas karena malu dan amarah yang meledak di dada. "Lo... kenapa lo selalu merusak segala hal di hidup gue?!" bisikku parau, menatap Nicholas dengan pandangan terluka. Rencanaku hancur. Keberanian yang kukumpulkan berbulan-bulan patah begitu saja. "Gue benci sama lo, Nicholas!" Aku berbalik, setengah berlari meninggalkan lapangan basket dengan air mata yang akhirnya luruh. Aku mengabaikan suara tawa Olivia, juga bisikan-bisikan orang yang menjadikanku bahan lelucon hari ini. Sementara di tengah lapangan, Nicholas hanya berdiri mematung. Dia menatap punggung Asya yang menjauh dengan rahang mengeras. Tangannya yang memegang sisa kertas robek itu perlahan meremasnya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Kita tinggal bertahun-tahun sebelahan, Sya. Kalau lo suka sama seseorang... orang itu harusnya gue, batin Nicholas, melampiaskan seluruh kekesalan dan rasa tidak terima yang mendadak membakar dadanya. * * * *"Asya! Gue tahu lo menyelinap masuk ke ruang ganti cowok karena mau mengintip! kebetulan Gue sekarang lagi siaran langsung di medsos buat bantu lo biar cepat viral, nih!" Suara cempreng Olivia menggelegar dari kejauhan, memantul di dinding-dinding keramik toilet. Jantungku seketika mencelos. 'Tidak... tidak, jangan sampai cewek gila itu nemuin gue di sini.' "Gimana tawaran gue, hmmm? Apa sudah lo pertimbangkan?!" bisik Nicholas dengan suara tertahan tepat di atas kepalaku. Sentuhan tangannya di pinggangku perlahan bergerak turun, mengusap pelan tapi pasti ke arah pahaku yang terekspos. 'Oh, shit...' Aku menelan ludah dengan susah payah. Kulitku meremang. Dalam kungkungan intim Nicholas, entah kenapa otakku malah konslet dan justru mengingat kejadian sexting semalam. Garis otot tubuh Gabriel yang... 'ah, sudahlah! Sadar, Asya! Ini bukan waktunya buat berpikiran mesum!' "Asya... gue tahu lo di dalam sini!" seru Olivia lagi dengan nada yang dibuat-buat. Suara debaman pintu bi
Seperti hari-hari biasanya, Olivia dan para pengikutnya tidak pernah absen untuk membuat hidupku seperti neraka. Pagi ini, baru saja aku meletakkan tas dan duduk di kursiku, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping dan menumpahkan minuman cokelat pekat tepat di atas baju seragamku. Cairan manis yang lengket itu langsung merembes, mengotori seragam putih yang kukenakan. "Astaga!" pekikku terkejut dan langsung bangkit berdiri, menoleh dengan geram ke arah Olivia yang menatapku dengan raut wajah tertekuk. "Apa-apaan sih lo? Apa maksudnya ini?!" "Lo nanya apa maksudnya?" Wajah Olivia memerahmenahan amarah. Tanpa peringatan, jemarinya bergerak cepat mencengkeram dan menarik rambutku dengan kasar, membuat kepalaku mendongak mendadak. Aku tidak sempat menghindar. "Sakit, bodoh! Lepasin!" tentu saja aku meringis kesakitan. Aku mati-matian menahan tangan Olivia agar dia tidak menarik rambutku lebih keras lagi, "Menggoda Nicholas apanya?!" "Cihhh ... Masih berani lo deketin
"Ahhhh! Dasar cowok gila!" Aku memekik frustrasi begitu berhasil mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Tas sekolah kulemparkan sembarangan ke atas lantai. Napasku masih memburu, setengah karena lelah berlari, setengah lagi karena amarah yang mendidih di dalam dada. "Bisa-bisanya dia bilang otot dada dia lebih besar dari milikku?! Buta ya?!" gerutuku kencang, melangkah lebar-lebar menuju cermin besar di sudut kamar. Aku menatap pantulan diriku yang masih tenggelam di dalam kemeja seragam putih milik Nicholas yang kebesaran. Aroma parfum maskulinnya yang tertinggal di kain ini mendadak membuatku makin kesal. Tanpa berpikir dua kali, aku melepas kemeja itu dan mencampakkannya ke lantai dengan kasar. Aku berjalan cepat menuju lemari, mengaduk-aduk isinya, lalu menarik keluar sebuah gaun tidur satin hitam pendek yang tidak kalah berani dari lingerie semalam. Begitu kain dingin itu melekat di tubuhku, aku mematut diri di depan cermin. Potongan gaun ini mengeksos belahan dadaku de
Pagi ini, semuanya kembali seperti rutinitas biasa yang memuakkan. Dengan kacamata berbingkai tebal dan penampilanku yang mungkin saja terlihat terlalu kampungan dan sederhana di depan mereka, aku harus siap kembali menjadi target empuk sindiran orang-orang di koridor. Tapi anehnya, kata-kata pedas mereka yang biasanya membuatku ingin bersembunyi, kali ini tidak mempan. Pikiranku sedang melayang jauh ke kejadian semalam. Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah lambat, membayangkan kembali foto dada atletis dan garis otot yang dikirimkan oleh Gabriel. Pipiku mendadak terasa panas. 'Haruskah aku memberitahu Gabriel kalau cewek di balik akun anonim yang sexting dengannya semalam itu aku?' batinku bimbang, menggigit bibir bawahku pelan. PLAK! "Aw!" seruku kaget. Sebuah tangan menyambar kasar dari samping, menarik kacamata yang bertengger di hidungku hingga pandanganku sedikit buram. Saat aku menoleh dengan geram, wajah menyebalkan Nicholas sudah menyambutku. "Nge
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.