Share

Bab 25: Jeritan Diana

Author: NACL
last update Last Updated: 2025-12-06 12:53:02

“Sssh … ah, Mas,” desah Diana merasakan ada sesuatu yang tumpul menempel di bagian intimnya.

Belum selesai mendesah, Diana tersentak lagi saat Dhava menggesek-gesekkan bukti gairahnya pada bagian sensitif nan lembut. Sentuhan ini mengirimkan gelombang listrik yang meledak di sarafnya pinggulnya. Perasaan yang membuncah ini adalah campuran antara hasrat, dan kelegaan luar biasa. Tubuhnya baru pertama kali benar-benar merasakan apa itu ‘hak’ wanita yang dimaksud sang terapis selama ini.

Kelopak matanya terpejam erat, Diana menggenggam sprei di sampingnya. Ia mencoba menahan raungan kenikmatan. Seluruh fokusnya benar-benar tersedot ke satu titik, di mana Dhava sedang mengajaknya bermain di tepi jurang.

“Hng … ke–kenapa rasanya ada yang keluar?” Diana meracau, suaranya pelan dan matanya masih tertutup.

​Dhava tersenyum penuh kemenangan, mata hitamnya menatap intens wajah sang sepupu yang memerah.

“Buka matamu, Baby. Lihat aku, dan nikmati apa yang selama ini jadi angan-anganmu.” Dhava
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 94

    “Mereka!!!” desis Renita dalam duduknya dan genggaman botol yang sudah remuk. Napas wanita itu memburu liar menatap apa yang ada di depan mata. Wajahnya memerah, lapisan bedak tebal di pipinya tak mampu menyembunyikan urat yang berkedut. Ia merogoh tas kecil gold-nya, meraih ponsel dan menekan kontak seseorang.Tidak ada jawaban.Ingin sekali Renita membanting ponsel miliknya itu, tetapi urung. “Rayan berengsek!” desisnya lagi, penuh penekanan, tetapi suaranya yang kecil teredam oleh music. Ia melirik ke kursi sebelahnya yang kini kosong, tempat Dhava seharusnya berada, dan kebenciannya berlipat ganda.Jelas, ini penghinaan ganda!Tujuannya datang ke sini tentu saja untuk melihat bagaimana keterpurukan Diana! Namun, langit berbintang yang sejak kemarin menyambutnya, kini seakan runtuh menggemparkan. Matanya masih melebar, nyaris keluar dari tempatnya. Bahkan duduknya pun makin tidak nyaman, kursi ini seakan memiliki api di bawahnya, dan ballroom ini bagai oven bersuhu tinggi.Renita m

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 93

    Tepat sebelum show dimulai, Dhava melihat gelagat mencurigakan dari Rayan. Pria itu tampak tidak normal sebagai tamu VIP. Bukannya tak sabar menanti runway istrinya sendiri atau memberi dukungan, justru sibuk menggoda gadis muda yang menurut feeling Dhava seorang model. Mereka pergi makin jauh. Sial, saat Dhava ingin menyusul, Renita bertingkah.“Kamu ingat, ya, kita harus pulang bareng. Mama kamu bisa curiga! Dan aku nggak mau jadi tumbal, menjawab semua!” dengkus wanita itu, matanya memutar malas.Dhava kembali duduk sambil merapikan jasnya sendiri.Acara dimulai, satu per satu model tampil memukau dengan elegan melalui siluet yang mengalir dan bahan mewah, serta feminin melalui palet warna pastel yang lembut, mewujudkan keindahan dan keanggunan wanita. Elemen Berani muncul dalam keberanian untuk menampilkan kelembutan sebagai kekuatan dan potongan gaun yang agak provokatif, mewakili wanita yang teguh mengejar mimpinya.Hanya saja kala para model itu kembali ke dalam stage dan pemba

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 92

    Satu hari sebelumnya. Rayan mendapat pesan dari Renita bukan hanya teks, tetapi diikuti beberapa foto. [Lu cegah ini cewek masuk hotel. Dia bakal tampil couple sama temannya. Terserah mau lu apain! Dan gue harap lu bisa maju jadi penolong Diana!]Semua informasi penting itu, Renita dapatkan melalui file kiriman Rayan.Saat hari show tiba, beberapa saat sebelum dimulai, Rayan yang gelisah merogoh sakunya. Ia pergi ke pojokan untuk menggunakan serbuk putih seperti tepung yang dibelinya dari kelab. Perasaan itu muncul bukan tanpa alasan, lantaran ia harus menjalankan rencananya, demi Diana kembali dalam pelukannya, jadi istri penurut, dan sayang sama suami. Usai menghirup secuil bubuknya, ia mengelap sisa yang tertinggal di jari pada gusi.Seketika darahnya mengalir cepat, detak jantungnya berdentam hebat, dan Rayan menyeringai menatap orang-orang yang jauh di depannya. Ia lantas merapikan lagi penampilannya. Pria itu tidak masuk ke ballroom, melainkan menggunakan pesonanya memikat para

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 91

    “Tck. Renita Ganti bajumu!”Suara Dhava meninggi dari lantai dua. Membuat Renita yang memang menantikan itu menyeringai dalam hati. Ada aura penuh kemenangan memancar dalam diri. Ia melangkah perlahan ke atas.Renita melirik Diana sekilas, dan tanpa menatap Dhava, wanita itu menyelinap masuk. Di kamar pribadinya yang juga terhubung dengan kamar mereka, ia mencari-cari gaun paling seksi yang dimiliki.“Diana-Diana, lu harus tahu berhadapan sama siapa,” ucap wanita itu sambil menatap pantulan diri pada cermin.Meskipun pakaiannya didominasi dengan style casual, ia masih memiliki beberapa gaun tahun lalu yang layak pakai. Renita memoles wajahnya secantik mungkin, sebagai beauty vlogger itu bukan hal sulit.Beberapa saat kemudian Renita keluar kamar menggunakan gaun model mermaid ruby ketat dengan belahan paha tinggi. Ia begitu percaya diri menggandeng tangan suaminya.“Maa, aku titip anak-anak, ya.” Senyum puas merekah di bibirnya.Maharani mengangguk melihat keduanya itu. Campuran antar

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 90

    Kelopak mata berbulu lentik dan agak sipit itu melebar kala melihat kotak gaunnya di dalam lemari. Napas Diana memburu dan jarinya terulur pada kotak itu. Ada yang aneh memang. Posisinya sedikit miring, padahal seingatnya, ia menaruh lurus. “Mungkin aku simpannya buru-buru,” lirihnya. Tangannya yang gemetar meraih penutup transparan kotak. Ia menariknya pelan, berniat memastikan gaun itu utuh. Tepat saat kain sutra di dalam kotak mulai terlihat, dan Diana hendak menghela napas lega ….Pintu diketuk.“Ya, silakan,” sahutnya.Dita masuk dan menyampaikan, “Bu Joko sudah datang, Bu.”Diana mengangguk kecil, ia harus menemui pelanggan VIP-nya itu, supaya tidak kabur ke butik lain.Sambil menuruni anak tangga, Diana mengelus dada, gaunnya masih ada, tidak hilang, dan ketakutannya selama ini hanyalah bayang-bayang mengerikan dalam benaknya. Ia harus mengempaskan itu semua.Sore harinya Diana sengaja pulang lebih awal dan menitipkan butik pada Dita. Ketika kakinya baru melangkah keluar pintu

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 89

    Sepanjang malam ini Diana tidur berguling kanan dan kiri. Bukan karena sendirian di atas ranjang. Ia sudah biasa. Melainkan ada sesuatu yang mengganjal dalam dadanya. Apa itu? Ia juga tidak tahu.Diana duduk dan bersandar pada headboard. Jemari lentiknya bercat kuku coral itu meraih telepon genggam di atas nakas. Ia memindai sidik jarinya dan tidak ada apa-apa di sana.“Berlebihan aja aku ini,” gumamnya. Lantas ia berbaring lagi dan menghadap sisi ranjang lainnya. Wajah Dhava terbayang dalam ingatannya kala ranjang ini menjadi panas.Dan ….Benar, ingatannya tentang keburukan Rayan hilang sudah. Setiap kali melihat kasur empuknya ini, ia hanya tahu tentang hal menyenangkan, tidak ada bentakan, tidak diabaikan, dan paling penting apa itu haknya sebagai wanita. Saking tenggelamnya memikirkan Dhava, Diana terlelap sambil memeluk selimut.Paginya ia bangun, dan melakukan ritual hariannya. Diana sudah mandi, mengenakan setelan formal nude membingkai tubuhnya. Ia juga mengeriting ujung rambu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status