LOGINAlba terlahir sebagai wanita karir, hari-hari penuh soal tangung jawab kerja, tempat kerja itu menjadi salah satu alasan mengapa ia tak ingin buru-buru menikah, tetapi ternyata serangan amat berisik datang saat orang-orang kantor memberinya label perawan tua, risau dengan hal itu Rio rekan kerja Alba memberi tawaran mengejutkan, sebuah hubungan berkedok pertemanan dengan keuntungan. Akankah mereka berhasil?
View More"Selamat pagi Bu Alba!" Terdengar suara setengah berteriak saat aku memasuki ruangan, hela napas tanpa suara namun terasa janggal ini kontras dengan senyum simpul yang kulemparkan pada puluhan pasang mata di sana.
Aku terus melanjutkan langkah dari meja kerja paling depan sembari mengulurkan tangan pada setiap orang, beberapa membalas senyum, hingga tanganku menjabat sampai pada salah satu rekan kerja, "Jangan keras-keras dong bu," cicitku menatap nyalang sepasang mata wanita paruh baya yang menjadi seniorku di kantor. Aku tahu mengapa rekan kerjaku berteriak, sebab aku datang hampir terlambat 5 menit dari batas waktu keterlambatan masuk kerja. Antara menysesal, senang atau terjebak, aku hanya bisa tersenyum getir saat di ruangan ini semua mata tertuju padaku termasuk wakil pimpinan bidang kesiswaan, padahal kedudukanku dan dia sama-sama jadi pendidik, hanya saja dia punya tambahan jabatan tertentu. "Terserah deh, kamu tandai aku atau tidak bodo amat, hehe." Kutukku acuh tak acuh dalam hati. Baru saja kuletakkan tas gendong di atas meja kerja hendak meraih ponsel, dan masih hangat gerutuku, sebuah pesan singkat dari pimpinan kantor mampir tanpa rem. "Assalamualaikum Bu Alba, bisa ke ruangan saya, kita harus bicara." Aku menghela napas lagi kali ini lebih dalam, aku harus persiapkan diri jikalau hati hello kittyku tercuil entah banyak atau sedikit. "Ingat, ini tempat kerja, tempat di mana semua orang bebas mengkritik, jangan melihat orang lihat saja nasihatnya," Aku merapalkan mantra ini saat keluar ruang guru hingga sampai kedepan ruang pimpinan. Tidak ada yang melihat tingkah laku anehku selain sebuah CCTV kecil tersemat di sudut ruangan mungkin merekam, mungkin tidak. Irama jantungku tiba-tiba terasa tidak stabil saat mendapati pimpinan menatapku penuh selidik, tanpa berbasa-basi dia menyuruhku untuk duduk, ada helaan napas kasar terdengar sebelum kalimat pertama mencuat dari kerongkongannya . "Ehem, aku tidak ingin membuang waktuku," Wanita paruh baya ini menatapku tajam, ada kebencian tersirat disana, tetapi tertahan lewat gesture, dia memberikan secarik kertas bergambar grafik dan tabel berisi rekapan keterlambatanku selama sebulan belakangan, otakku mengerti sinyal tersebut, bibirku reflek mengatakan permohon maaf, "Saya minta maaf, kedepan saya akan lebih berhati-hati." Aku menatap ujung sepatu fantofelku yang kumal karena lupa belum kubersihkan sehabis kehujanan kemarin. "Ini kesempatan terakhir Bu Alba, jika kau ulangi, maka karirmu di sini bisa hancur. " Aku menutup pelan-pelan pintu ruang wakil pimpinan bidang humas, merogoh ponsel dalam saku baju kanan seragamku, kunyalakan layar mendapati seraut wajahku ternyata sudah membentuk senyum kecut. " Bu Alba, kau dari sini?" Alba menoleh, seorang senior menatapku sambil tertawa lepas. "Astaga, dasar anak muda." Imbuhnya tanpa beban. Cepat-cepat Aku melanjutkan langkah ke ruang guru, setengah tergesa karena malu, aku masuk pintu tanpa melihat adanya orang di depanku yang mau keluar Braaakkkk! Aduuuh! "Kauuuuu! Bisakah, pelan-pelan," untuk pertama kali sepasang mataku beradu dengan mata Rio. "Heiii, kau lihat kaki kananku yang masuk duluan," dengan cepat aku menunjuk kaki kananku. "Apa, bagaimana bisa kau mengatakan itu, kau lihat bahuku, tubuhku condong 180 ° kebelakang, dan ini sakit sekali."Keluh Rio, sembari menepuk pelan-pelan bahu kanannya. Aku menundukan kepala sesaat sebelum putar balik karena malu untuk kedua kali. "Heiii kau mau ke mana?" sergah Rio, tetapi aku terus berjalan menjauhi suara itu. Rio menghela napas ringan sembari mengelus dada, ada kelegaan dalam hati sebab, prasangka terhadapku selama ini salah, aku masih mengangap dia ada, meskipun cenderung mengabaikan dan jarang mengajak berbicara, mungkin hitungan jari aku pernah berbicara langsung, ada kecangungan tak beralasan jelas mengapa aku sampai hati melakukan hal itu. Sebelumnya Rio tak mengenali tanda, alarm atau sejenis kode bahwa aku adalah rekan kerja, dia memposisikan diri sebagai karyawan dan menganggapku adalah orang asing yang berujung kesalahpahaman di masa lalu, kebocoran berita-berita tidak benar mengenai kekagumanku pada sosok Rio, hingga gosip aneh mengenai diriku, entahlah semua terasa runyam dibicarakan, namun ingatanku dengan siapa bertabrakan beberapa menit kebelakang, membuatku mengutuki diri betapa dungu aku bersikap. Karyawan baru, guru baru atau pemuda ganteng adalah sebutan bagi Rio di tempat kerja, menjadi baru sebab mereka belum mengenal sosok Rio. Fakta menarik dan opini publik mengenai dirinya mencuat ketika, pemuda 25 tahun tersebut ternyata bukanlah karyawan baru. Rio sudah pernah mengajar di sekolah ini beberapa tahun lalu, saat masih menempuh kuliah, entah alasan apa dirinya keluar dari tempat kerja saat itu. Hari ini Rio kembali dengan nuansa dan gaya baru, termasuk bagaimana sifat aslinya muncul dalam beberapa kesempatan. Bagian paling khas dari sosok Rio dimiliki olehku, senior kantor menyebut lakuning banyu, lakuning lintang artinya aku dan Rio berlaku seperti gerakan air tenang dan gerakan bintang di langit mirip pertapa agung. Baik aku mapun Rio pribadi tak banyak berbicara, asik dengan dunia masing-masing meski sedang ditempa di tempat kerja. Jikalau Rio suka duduk diam ditemani kopi hitam sibuk memikirkan konsep desain kaos terbaru, maka Aku duduk diam meramu karya tulis sedemikian rupa agar menggungah pembacaku di web novel. Bagiku memikirkan satu tokoh saja sudah buat pikiran meradang berjam-jam, aku mau tokoh tersebut punya nyawa tidak sekadar tempelan semata dengan karakter tak masuk akal, pikirku semua terasa lebih berat apabila ditambah memikirkan satu sosok spesifik di dunia nyata. Di kantor semua orang mengamati pemandangan serupa nyaris setiap hari antara Rio denganku, hidup dengan pikiran penuh, nyaman dalam mode sunyi senyap. Pergerakan Rio maupun diriku seperti dua orang asing jarang saling tanya, padahal kami beberapa kali punya agenda proyek besar dan mengapa aku tak bisa berteman dengannya sebab Rio diam-diam mematahkan semangatku, mengira selepas kejadian itu semua baik-baik saja. *** Aku duduk termenung cukup lama, setelah sibuk berulang kali mencorat-coret buku catatan, ada kegelisahan di benakku sampai muncul pertanyaan tidak adakah orang di kantor ini memiliki kompetensi di bidang desain tata ruang atau paling tidak memberiku saran, supaya ruang perpustakaan baru ini menjadi ruang favorit bagi anak-anak di sela pergantian jam atau sekadar berkunjung dan meminjam buku sehingga mereka betah berlama lama di sini. Aku menghela napas, kupejamkan mata untuk sesaat sebelum ponsel itu berbunyi, sebuah notifikasi dari wakil pimpinan kurikulum, "Jangan lupa kordinasi dengan saya, apabila desain tata ruang perpus sudah jadi." Aku menutup pesan, saat menutup pesan itulah aku tidak sengaja mendapati status w******p Rio, tanpa berpikir panjang, aku mengirim pesan "Lagi sibuk nggak?" Pesanku terkirim, aku terkejut mendapati pesan tersebut langsung dibaca dan dibalas Rio, "Kenapa Bu?" "Boleh minta tolong? Aku lagi mikirin konsep tata ruang perpus yang baru, menurut kamu gimana, ada masukan?" Pesanku terkirim lagi, namun kali ini Rio tak langsung membalas, beberapa kali aku mengecek pesan Rio, hingga 15 menit berlalu, mataku memicing ketika sebuah foto perempuan berhijab pashmina berkacamata sedang duduk di depan meja berisi dua hidangan chicken steak di atas papan pemanas, posisi itu jelas menggambarkan bahwa Rio sengaja mengabadikan momen gadis di depannya untuk ditunjukkan padaku, entah apa maksud Rio kemudian disusul pernyataan, "Aku kurang ngerti desain tata ruang Bu." Aku terdiam cukup lama, gadis itu memiliki paras cantik lebih cantik dariku, antara sedih atau senang diiringi tawa kecil, aku membalas pesan tersebut dengan kalimat, "Cieee uhuyyy .... Siap oke, terima kasih." Terlambat menyadari hari dimana aku mengirim pesan pada Rio adalah hari sabtu sore. Melihat tanda ini, Rio sudah memutus akar pertemanan sejak pertama kali seperti memotong rumput liar di teras rumah, aku mengangukkan kepala, "Baiklah, aku mengerti."Gumamku sambil menyimpan foto kiriman Rio bersama si pacar di galeri."Entah alasan apa yang mendasarinya sehingga hubungan mereka dipertahankan, sama sekali aku tidak tahu, namun sepertinya Affal benar-benar mencintai gadis itu, Mas Rio. "Aku mengenal pribadi Affal sudah bertahun-tahun, dia tidak akan mempublish apapun soal hubungan pribadinya jika dia tidak berkeinginan dari dirinya sendiri, meski Adelfia seandainya memohon. "Affal mengenalkan gadis ini pada keluarga terdekatnya pun pada teman-temannya, dia bangga atas semua tindakan, kesuksesan dan mimpi besar Adelfia. "Kini aku mengerti selain doa untuk Affal, apalagi yang bisa kulakukan, membalas dendam padanya mungkin saja bisa, tetapi sabubariku sama sekali tidak menginginkan untuk menyakiti hatinya, biar saja sudah dia memperlakukan diriku tidak sebaik perasaan tulusku padanya, semua juga akan berakhir." Rio menatapku, mengecup sesaat pungung tanganku, "Kamu sudah di fase merelakan, Affal sekarang?" "Emhem, mungkin demikian, tapi kurasa memang ini pilihan terbaik, jangan sampai dia
Aku menghela napasku, memberikan jeda pada ceritaku untuk bisa menetralisir energi-energi negatif dari setiap perkataanku, sementara Rio tetap dalam mode menunggu dengan kesabaran dan ketenangan super ekstra yang jadi andalannya menghadapiku, bersama cerita masa laluku, tidak ada orang paling mengerti selain pemuda ganteng pujaan ibu-ibu kantor di tempatku bekerja ini, bagaimana jika mereka tahu ternyata dia berbuat melampaui batas sebagai manusia, peran lain pemuda kesayangan ini adalah menjadi kekasih kontrakku, entah sampai kapan. "Saya rasa, kalian bertemu bukan hanya sekadar pertemuan biasa, Alba. Kalian bertemu bukan untuk saling menyembuhkan ataupun melukai, tetapi saling memberi pelajaran, jika kamu sakit hati hari ini karena perubahan-perubahan mendadak yang Affal berikan padamu, bukan tidak menutup kemungkinan dia juga merasakan hal sama, namun tidak pernah diungkapkan padamu. Sekali lagi, saya tidak mengamini tindakan kalian di masa lalu, saya dengan kamu pun juga melakuka
"Kalian pasangan gila atau bagaimana sebenarnya, terutama kamu, Alba, kenapa kamu tidak bisa menolak permintaanya. Kamu tidak memikirkan dampak terbesarnya?" Untuk pertama kalinya, aku dapat mendengar ketegasan Rio, ucapannya membuatku menatapnya lebih serius, ketidakbiasaan ini tidak boleh aku abaikan. "Maafkan aku Mas Rio." "Tidak Alba, kamu tidak perlu minta maaf, semua kejadian ini harus jadi pelajaran berharga untukmu. Saya tidak mau kali kedua terjadi padamu, pada hubungan kita." Aku menganguk pelan, kedua tangan Rio mengelus kedua bahuku. "Apa aku boleh melanjutkan ceritaku? Sebab inilah sesi akhir dari isi hati terpendamku selama ini." Rio melepaskan kedua tangannya, "Lanjutkan Alba." "Lepas dari Affal mengirim ulang skenario video permintaanya, saat itu aku sedang berada di sekolah, kubilang padanya untuk menunggu saja sore nanti akan kukirim, aku masih ada kelas pagi ini. Hingga sore hari ternyata, Affal betulan menunungguku, aku memberikan informasi tambahan
"Seratus ribu Mas Rio." Rio sontak tertawa lepas mendengar keteranganku."Ya ampun, apa benar kamu melihatnya dengan baik, Alba? Ngajak berkencan tapi cuman bawa uang cepek, Affal benar-benar pria paling aneh. Bagaimana bisa dia mengunjungimu jauh-jauh dari luar kota hanya membawa uang segitu, astaga bagaimana soal perasaanmu, maksudku apa dia tidak berpikir untuk membawakan hadiah atau sekadar surprice kecil-kecilan untukmu. Hah, benar-benar kelewatan." Aku tersenyum mendengar penjelasan Rio yang super cerewet ini berkomentar soal isi dompet Affal yang kering kerontang ya tergantung fungsinya sih, tapi kusadari, Affal benar-benar krisis, sudah kukatakan sebaiknya kita tunda dulu perihal agenda bertemu, tetapi mungkin dia lebih tahu alasan finalnya mengapa akhirnya memaksakan kehendak pada saat itu. "Aku serius Mas Rio. Affal betulan hanya membawa seratus ribu, tetapi aku sedikit terpana melihat kartu-kartunya yang berjejer rapi, mungkin dia punya aset tabungan di beberapa deret
Rio beranjak dari kursi, memutar badan ke arah pintu ruang wakil pimpinan dengan wajah datar dan langkah tenang, begitu tangan kanannya hendak menarik engsel pintu dia menatap wakil pimpinan, "Anda pilih saja gayanya, saya siap kapanpun anda mau bertarung." Cklek. Rio telah menutup pintu, namu
Rio menyeret sebuah bangku di depan mejaku yang kebetulan kosong, menghadapkan ke arahku hingga posisi kami berhadapan, sementara mataku mengamati pergerakan aneh untuk kesekian kali dari pemuda ganteng ini sambil terus merasakan ritme jantungku berdebar-debar tidak menentu. "Ehm, apa kau gila, ke
"Aku masih menyimpan dokumen rahasia antara aku dan Affal. Dokumen itu beris data-data pribadi Affal." "Waah, begitu ya, lalu apa yang akan kamu lakukan dengan data-data milk Affal tersebut? Apa ini termasuk pelanggaran hukum?" "Aku tidak tahu persis apakah tindakannku ini akan melanggar hukum at
Rio menghela napas kasar, saat obrolan denganku berakhir perihal rencana balas dendam pada Affal.Dia meraih kedua bahuku, lalu memijatnya perlahan-lahan seolah sedang menjadi tukang pijat dadakan. "Jika kamu kokoh dengan pilihanmu, maka carilah waktu yang tepat, Alba.Jangan mengira saya tidak m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.