LOGINLast night, my husband confessed his love for someone named Kitty during an intimate moment. I had trusted him with my assets after a scandal, only to discover his infidelity and betrayal. Now, he and my sister, Kiara (whom he calls Kitty), have taken everything from me. To make matters worse, I woke up in bed with Giovanni Dawson, my high school sweetheart turned Billionaire Mafia Don known as the Devil in White. He offers to help me seek revenge and reclaim what is rightfully mine but can I trust him again after he once broke my heart?
View MoreSetelah tersesat tiga hari dua malam, Aizar masih belum juga sampai ke tepi hutan. Ia memutuskan untuk beristirahat di dekat sebatang kayu besar yang sudah tumbang karena dimakan usia.
Saat tengah malam Aizar terbangun mendengar suara-suara berisik yang berada tidak jauh darinya. Dilingkupi rasa penasaran, ia berjalan mengendap-endap mencari sumber suara itu.
Setelah berjalan beberapa langkah mendekati semak-semak yang lebat, lalu menyibaknya, Aizar tercengang melihat di depannya ada sebuah bangunan besar nan megah, bak sebuah istana kerajaan. Dari sana lah sumber suara musik dan suara-suara orang yang sedang berkumpul itu berasal…
“Hei, Aryo... apa yang kau buat di sini?” tiba-tiba seorang pemuda menepuk tubuh Aizar yang terbalut kaos hitam berlengan panjang. Saat Aizar menoleh ke belakang, tampaklah seorang lelaki yang sebaya dengannya tersenyum penuh persahabatan.
“Rambut kamu sekarang ikal dan gondrong begini, Yo? Apa kamu sudah malas merawat diri, ya?” tambah pemuda itu keheranan, Aizar malah mengerutkan kening.
“Ayolah, kita ikut pesta di rumah ketua kampung, rugi kalau tidak ikut, banyak gadis-gadis cantik di sana...” tambah lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
“Maaf…, aku tidak bisa ikut ke sana,” jelas Aizar merasa sangat aneh berbicara dengan orang asing di tengah hutan.
“Walaupun sudah bertahun-tahun aku tidak pulang, aku tahu kok kamu punya masalah dengan seorang gadis yang menolakmu, menyebabkan kamu selalu menyendiri dan enggan bergaul dengan siapa pun, apalagi sama perempuan,” ujar pemuda itu sambil mengembangkan senyum.
“Mulai hari ini kamu tidak perlu menyendiri lagi Yo, aku bisa jadi kawan mainmu, seperti waktu kita kecil dulu. Ayolah… pergi bersamaku ke rumah kepala kampung,” ajak pemuda itu sambil meraih lengan kanan Aizar. Aizar pun akhirnya tak kuasa menolak, bahkan dalam dirinya mulai tumbuh rasa penasaran akan pesta yang dimaksud pemuda itu.
“Tunggu sebentar, Yo…” ucap pemuda itu tiba-tiba. Lalu, ia mengeluarkan sebuah kalung berwarna hitam dan memiliki liontin berwarna kehijauan, semacam batu giok.
“Ini kalung pemberian orang tua angkatku di perantauan, katanya kalau aku memakai kalung ini semua wanita akan tertarik padaku,” jelas pemuda itu sambil mengenakan kalung itu di lehernya. “Kapan-kapan kamu boleh mencobanya, Yo, tapi hari ini aku ingin membuktikannya terlebih dahulu,” tambahnya. Aizar hanya mengiyakan tanpa sedikitpun percaya dengan ucapan pemuda itu.
Saat Aizar dan pemuda itu sudah mendekati rumah ketua kampung, rupanya perhatian orang-orang yang semuanya berpakaian dominan warna hitam serta memakai udeng hanya tertuju pada si pemuda itu. Sepertinya benar yang dikatakan pemuda itu kalau ia baru saja pulang dari merantau. Hampir semua orang menyalami dan menanyakan kabarnya. Namun, sebaliknya pada Aizar orang-orang memandang sebelah mata dan sama sekali tak ada seorang pun yang menyapa.
Saat melewati kerumunan para wanita pun, pandangan mereka hanya tertuju pada pemuda itu, kehadiran Aizar seperti tidak dianggap, bahkan ada wanita yang menghinanya...
“Berani-beraninya kamu muncul di keramaian dengan pakaian lusuh begini, Aryo!” cibir seorang wanita yang memakai kemben sehingga memperlihatkan bagian dadanya.
“Iya nih, dia gak tahu apa, pesta ini hanya untuk orang-orang berkelas. Kamu itu cuma anak kampung yang miskin!” tambah wanita berpakaian serupa di sampingnya sambil menatap sinis ke arah Aizar.
Detik itu Aizar merasa kehadirannya tak diinginkan. sehingga ia mulai berpikir untuk tidak mau terlalu larut bersama orang-orang yang menggelar pesta di halaman rumah ketua kampung. Sebaliknya pemuda itu mulai dikerumuni wanita-wanita cantik. Bahkan saat tangannya dengan nakal mulai menyentuhi tubuh wanita-wanita itu di balik keremangan cahaya di sudut-sudut ruangan, mereka sama sekali tak marah ataupun menolak bahkan membalasnya dengan manja. Melihat itu semua kelaki-lakian Aizar seketika terusik…
“Rupanya benar yang dikatakan pemuda itu, kalung yang dimilikinya adalah kalung pemikat wanita. Pasti senang kalau bisa memiliki kalung sakti itu,” pikir Aizar sambil merenung.
Di tengah-tengah pesta untuk orang dewasa itu, tiba-tiba datang seorang pemuda berwajah mirip dengan Aizar. “Itukah pemuda yang bernama Aryo? Seperti melihat diriku di dalam cermin. Pantas saja semua orang tadi menganggap aku Aryo,” pikir Aizar seketika.
“Lho, Aryo? Ini kamu...? terus, lelaki yang bersamaku tadi siapa?” ucap pemuda itu merasa terkejut bercampur heran saat bertemu dengan lelaki yang sesungguhnya bernama Aryo. Memang sulit dibedakan kemiripannya dengan Aizar, hanya bedanya pada bola mata lelaki itu tampak sipit dan berambut lurus, sedangkan rambut Aizar ikal dan sedikit gondrong.
Menyadari hal itu, Aizar segera pergi meninggalkan tempat itu karena tidak ingin terjadi masalah karena dirinya bukan bagian dari kelompok mereka.
Dalam beberapa saat, Aizar sudah menjauh meninggalkan tempat tadi ia beristirahat di dekat pohon kayu besar yang tumbang. Ia terpaksa berjalan lumayan jauh untuk mendapatkan tempat peristirahatan baru yang aman dan tidak akan diketahui oleh orang-orang misterius yang ditemuinya sedang mengadakan pesta.
“Lebih baik, aku melanjutkan tidur, karena perjalananku masih jauh, aku butuh istirahat agar besok tubuhku menjadi segar dan bertenaga,” gumam Aizar saat sudah bersandar di bawah sebuah pohon di samping api unggun yang dibuatnya kembali.
Saat mulai memejamkan mata, Aizar termenung mengingat kalung sakti yang dimiliki pemuda itu, sambil berandai-andai dia bisa memilikinya.
Jika aku bisa memiliki liontin sakti itu, maka yang kuimpikan selama ini akan menjadi kenyataan. Siapa yang tidak mau dikelilingi banyak wanita cantik? gumam Aizar dengan khayalan melanglang buana, membayangkan dirinya berada pada posisi pemuda itu, dengan leluasa menyentuhi tubuh wanita-wanita cantik dan berakhir dengan mencumbuinya satu per satu di atas ranjang dengan sepuas hati.
“Akhhh…” desah Aizar saat menyadari bagian bawahnya telah menegang karena khayalannya itu. Tangan kanannya pun refleks perlahan menyelusup masuk ke dalam celana dan merasakan kehangatan benda di dalamnya, “Kalau aku sudah bertemu dengan keluargaku yang kaya raya di kota nanti, kamu pasti akan kugunakan untuk memuaskan wanita-wanita cantik di luar sana,” gumam Aizar sambil terus berkhayal hingga ia terlelap sendiri di tengah belantara hutan dalam pencarian keluarganya...
Roger’s POV Congratulations to our youngest graduate and Valedictorian, Roger Dawson," the MC announced as the sound of applause filled the air. I walked to the stage to collect my certificate. My schooling was different from most children my age as I received a lot of home tuition and skipped grades due to my exceptionally high IQ and my early interest in creating wealth. When I entered college at the age of twelve, I told my dad that I would graduate by fourteen, and he believed in me. My battle skills were strong, but so was my dedication to education and my career. My dad taught me that the quickest way to make money without physically going to an office was through hacking, but he was unsure if I could balance it with my studies. Driven by my determination to achieve financial success independently, I seized the opportunity at the age of five. By the time I was seven, I had gained a reputation in the cyber market, with my true identity concealed. My code name is 'Terror D2.'
Octavia’s POV My biggest mistake was rejecting Hank, and although I didn't intentionally send the assassin after Nora, I was saddened to lose Hank to her. Cage mistreated me, but I felt I deserved it. Everything was wrong from the start, but I blindly trusted him and felt relieved when Vanni had him killed. Hank had just gotten engaged, so I believed I still had a chance to win him back by showing him that our past connection was not over. To be close to Hank, I needed to be near Nora. If I stayed with her, I would have the opportunity to see Hank and make my move. Nora was thrilled to be engaged to Hank, and I understood why. Hank wouldn't have looked back if I had intentionally tried to harm her, but now all I wanted was him. Nora made a revealing statement, "I live with Hank, but if he agrees, I don't mind." I knew Hank wouldn't allow me to stay at his place. Perhaps it was the aftermath of the assassin's attack that led Hank to invite Nora to live with him. I needed to be ne
Nora’s POv “Molly, I'm done with Hank. He proposed last night, and we made out, but as soon as Octavia called, he left me," a tear slid down my cheek as I spoke to Molly on the phone. The emotions swirling through me were overwhelming because I had witnessed how Octavia stood by Cage and said hurtful things to Hank, so why would he still care about her? "Nora, you have to trust your man," Molly said calmly. I informed her, "I want to see you." "Okay, I'm home, but Gianni is going out, so I will have a driver pick you up." I didn't refuse the offer since I didn't have any of Hank's car keys. As soon as I reached Molly's mansion, I told her everything the moment I saw her, and she was excited. "You are engaged, that's wonderful, but I think it's the reason Gianni left too. He never left me alone after that incident at the hospital," she said. My heart warmed at the fact that Hank was not alone with Octavia. I stayed with Molly and fell asleep until she received news from Gio that
Hank’s POV Gio, please allow them to answer the question," I said, my voice trembling. Octavia responded, "I don’t know her identity because the assassin would not reveal it to me." It made sense that Octavia wouldn't intentionally target Nora, but I still needed to confirm my suspicions. Cage grinned. "They came for you, but do you think they would still save you if they knew the girl in question?" My heart sank. No wonder Carter didn't know their identities. That was how the transaction was meant to be. Cage likely provided the contract, and Octavia, wanting to keep her identity hidden, offered a better deal for the same target. Carter, in turn, would not disclose the target's identity because she hid it to protect herself. They orchestrated it this way to avoid being traced, even if Carter failed and got caught. "Who is she?" I asked again. Cage smiled. "It's Nora, and this woman confessed that the job was done because the assassin told her he was already with her. He never m
Beatrix’s POVI shared with Octavia what I believed she needed to hear, but I kept the most crucial information to myself, revealing it only to those I chose.To avoid raising Gio's suspicions, I established companies under Gael's new identities, GG, focusing on textiles, shoes, and clothing lines
Octavia’s POVI always knew Vanni was unbeatable, and after witnessing the relationship between him, Molly, and my son Roger, I understood they were in love.My selfishness cost me my son, but it was okay because he was happy. However, the emptiness in my heart compelled me to live far from them unt
Octavia’s PovIf there was a way to just hide and avoid all this, I would have done so, but I knew I wouldn't receive the protection I needed without playing by Vanni’s rules.Beatrix had become a source of fear for me, and I tried to steer clear of her as much as possible. However, Gianni's plan i
Molly’s POVRoger left after uttering the words, as if it wasn't him, and hurried up the stairs.Gianni was right. Anyone could betray him, but not Roger. As for Hank's stance, it remained uncertain."What do you want, Mom?" Gianni asked sarcastically. Beatrix smiled and replied, "Just so you know,






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore