登入Robert Houston grew up with an arrogant and uncaring attitude. He never gave a damn about anyone except for his grandfather who raised him. His grandfather forced him to get married and Robert agreed since he could not go against his grandfather's wish, but unfortunately the woman he was married to was not able to conceive. Lavender was an innocent and sweet looking girl but after her family went bankrupt, her life became harder. She was forced to take on minor jobs in order to take care of her grandfather who was bedridden. One day her distant uncle forced her to sign some papers that she did not know will change her life for ever. She was to give birth to a son for the Houston family since the young madame of the family could not conceive. Lavender only realised that she had been tricked after she was led to a secluded villa outside the city. After five years, in Robert's office. "Mr Houston, are you under some kind of spell?" Lavender asked, feeling incredulous at the man who was staring at her with undisguised lust. "Yes, I think so!" Robert answered. "Do you know who enchanted me?" He continued with a question. Lavender shook her head. "It was you, you are the one who enchanted me!" "Me?" "Yes you!"
查看更多“Terus, Sayang! Lakukan sambil berdiri…”
Freya seketika membeku. Tangannya yang baru saja ingin mengetuk pintu kamar untuk memanggil Rendra, suaminya, seketika gemetar. Suara itu terdengar menjijikan, bukan suara wanita, tapi Freya sedang mendengar suara seorang pria sedang beradu erangan dan desahan dengan Rendra. "Iya sayang, iya begitu ... aaahh ...." Apa mereka sedang melakukan Video Call? Freya sampai mual mendengarnya. “Apa-apaan ini?” gumam Freya, tangannya mendekap mulut. Jijik sekali mendengar suaminya sedang 'memuaskan hasrat masing-masing' secara virtual lewat sambungan video call. “Sakit tapi enak, Beb! Aahhh, sumpah aku nggak sabar kita ketemu dan ngelakuinnya secara nyata ...” Rendra mendesah manja. “Aku juga ....” “Terus ya ... aaah, terus ....” “Aku udah keluar.” “Aku juga ... aaah, enak banget, Sayang. Jadi kapan kamu ke Jakarta?” Freya semakin ternganga, perasaannya berantakan dan perutnya seakan sedang diremas-remas sampai mual. “Kita nggak bisa ngelakuinnya di Jakarta, Sayang. Kamu kan aktor terkenal, kamu nggak punya privasi di sana, jadi mending kamu aja yang nyamperin aku ke sini. Di sini banyak pasangan yang go public.” “Jadwal aku masih padat, tapi kalo emang kamu mau, ya udah deh aku akan ke Berlin akhir minggu ini.” “Oke, aku tunggu ya. Oh iya, gimana dengan istri kamu? Apa dia akan ikut?” “Ikut? Yang nggak lah! Ide buruk kalo aku ajak dia buat ketemu kamu! Lihat kamu yang ganteng plus gagah, bisa-bisa dia jatuh cinta sama kamu! Itu nggak boleh! Kamu itu Cuma milik aku!” “Ha ha, bisa aja kamu, Sayang.” Freya mendengar percakapan sesat itu dan rasanya dunianya berhenti berputar. Diselingkuhi dengan wanita cantik, No. Diselingkuhi dengan pria tampan dari Jerman, Yes. Hidup memang sebercanda itu bagi Freya! Kini ia tahu alasan kenapa Rendra tak pernah menyentuhnya. Ternyata bukan karena dia jelek atau bau ikan asin, tapi faktanya lebih menjijikan dari yang ia duga, rupanya suaminya itu adalah seorang penyuka sesama jenis. Percakapan laknat itu sudah tak terdengar lagi, Freya pun mulai memutar knop pintu dan membukakannya perlahan. Rendra, yang baru saja mematikan layar ponselnya dengan gerakan panik, mematung di depan cermin. Wajahnya yang biasanya dipuja jutaan penggemar sebagai aktor papan atas, kini terlihat pucat pasi, bercampur dengan sisa-sisa nafsu yang masih tertinggal di matanya. Freya tidak bergerak. Tangannya yang tadi memegang gagang pintu terkulai lemas di samping tubuhnya. Matanya yang bening perlahan mengabur karena genangan air mata, “Freya...” Suara Rendra terdengar serak, ia mencoba mendekat, namun Freya mundur selangkah, menjaga jarak seolah Rendra adalah sesuatu yang menjijikkan. “Jangan sentuh aku!” desis Freya. Suaranya nyaris tak terdengar, namun sarat dengan getaran luka yang dalam. “Jangan pernah menyentuhku dengan tangan yang baru saja... melakukan hal itu.” Rendra mengangkat wajahnya, sorot matanya kini menjadi tajam. “Sekarang kamu udah tau, terus kamu mau apa, huh? Mau membocorkan rahasia ini ke Publik? Menghancurkan reputasi dan masa depan karirku, gitu?” “Tobat, Mas! Yang kamu lakuin ini dosa!” ucap Freya dengan tubuh gemetar. “Halaah! Nggak usah bawa-bawa dosa! Ini urusanku!” “Karir kamu bisa hancur andai orang-orang tau ini semua ....” “Orang-orang nggak akan tau kalo kamu tetap diam dan menjaga rahasia ini!” sambar Rendra, ia sudah mulai bersikap keras dan mengecam. Rasa paniknya lenyap, membalikan keadaan membuat Freya dalam posisi tersudut saat ini. Rendra semakin mendekat lalu mencengkram wajah Freya dengan kasar lalu mengancam, “Kalo kamu berani buka mulut soal ini, aku pastikan hidup kamu nggak akan pernah tenang, Frey! Hidupmu, keluargamu, bisnis kecilmu, aku pastikan akan hancur dengan cara yang menyakitkan!” Mendengar ancaman Rendra, Freya mulai gentar. Ia tak berani menyahut. Rendra adalah sosok yang akan melakukan apapun demi mencapai ambisinya, bahkan jika itu harus menghancurkan hidup orang lain. Freya pun hanya diam. “Kamu harus ikuti skenarioku! Aku akan melepaskan kamu dengan caraku, dan ingat satu hal, kamu harus tetap diam soal rahasiaku ini!” Rendra menghempas wajah Freya cukup kasar lalu ia masuk kembali ke dalam kamar, tepatnya ke dalam kamar mandi. Freya benar-benar terbungkam. Ancaman Rendra seperti obat bius yang melemahkannya. Tak dapat dipungkiri kalau ia sangat takut dengan kata-kata suaminya barusan. *** Di meja makan, atmosfer yang seharusnya hangat justru terasa sedingin es. Freya duduk lemas di kursinya, jemarinya mencengkeram sendok dengan malas. Bayangan wajah Rendra yang kasar dan ancamannya di depan kamar tadi terus berputar di kepala, membuat perutnya mual setiap kali ia menatap pria yang kini sedang menyesap kopi dengan santai di sampingnya. “Freya!” Suara nyaring Yati, ibu mertua Freya, memecah kesunyian. Ia meletakkan cangkirnya dengan keras ke piring tatak. “Sudah dua tahun, Freya. Dua tahun! Kamu masih saja kosong. Apa kamu benar-benar nggak bisa ngasih cucu buat keluarga ini?” Freya menunduk dalam, tenggorokannya terasa tercekat. “Maaf, Bu...” “Maaf, maaf! Bisanya Cuma minta maaf terus! Kata-kata itu nggak akan membuat rahimmu terisi!” Yati mendengus sinis, matanya menatap Freya dengan tatapan merendahkan. “Ibu mulai curiga, apa mungkin kamu memang wanita yang nggak berguna? Lihat orang-orang, baru menikah hitungan bulan saja sudah pada pamer foto USG. Kamu? Cuma bisa nyusahin anakku! Dia itu aktor terkenal! Jadi kebawa-bawa jelek gara-gara kamu yang belum bisa kasih dia keturunan!” Freya masih diam. Biasanya, di saat seperti ini, ia akan berusaha membela diri, tapi setelah percakapan ‘laknat’ yang ia dengar tadi, lidahnya kelu. Rahasia besar Rendra membuat setiap kata yang keluar dari mulut Yati terasa seperti lelucon yang sangat tragis. Rendra, yang duduk tenang di samping Freya, justru menyandarkan punggungnya dengan angkuh. Ia meletakkan ponselnya, menatap Freya dengan sorot mata yang penuh intimidasi, seolah memberi peringatan melalui tatapan, ‘ingat ancamanku, Freya!’ “Freya memang nggak becus, Bu,” sahut Rendra dingin, suaranya terdengar datar dan tanpa empati. “Sepertinya selama ini aku terlalu sabar menunggunya.” Freya mendongak, menatap Rendra dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Rendra akan memutarbalikkan fakta sekejam ini. “Maksud kamu apa, Mas?” tanya Freya lirih. Rendra mengabaikan pertanyaan Freya dan justru beralih menatap ibunya. “Bu, aku udah membuat keputusan. Aku udah nggak bisa mempertahankan pernikahan ini lebih lama lagi. Freya... rahimnya bermasalah, dia mandul. Udah berkali-kali aku memeriksakannya ke dokter, dan hasilnya nihil. Dokter bilang rahimnya tidak akan pernah bisa memberikan keturunan.” “Apa? Jadi benar dugaan kita selama ini?” Yati memekik, wajahnya memerah karena amarah. “Jadi selama ini kamu membuang-buang waktu anakku, Freya?!” “Mas, jangan fitnah aku!” Freya akhirnya bersuara, suaranya gemetar menahan emosi yang meluap. “Kamu tahu itu nggak benar! Kamu sendiri yang ....” “Cukup!” Rendra memotong dengan suara menggelegar, membuat Freya tersentak. Rendra berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuh ke arah Freya dengan tatapan mengancam yang kembali menggetarkan jiwa Freya. “Kamu nggak punya hak buat membantah, Frey! Keputusanku sudah bulat. Kita bercerai minggu ini. Dan ingat, jangan pernah berani menyinggung soal ‘alasan lain’ di depan siapa pun, atau kamu tahu apa akibatnya.” Rendra kemudian menoleh ke arah ibunya dengan wajah yang dibuat-buat sedih. “Aku sudah lelah, Bu. Aku butuh keturunan, dan sudah sangat jelas, Freya nggak bisa ngasih keturunan buat aku, buat keluarga ini. Aku akan mengurus surat perceraian secepatnya.” Freya terdiam kaku. Ia menatap Rendra yang kini berakting seolah-olah dia adalah korban dari istri yang mandul. Kebohongan yang sangat sempurna untuk menutupi orientasi seksualnya yang menyimpang. Di saat Rendra merencanakan pelariannya ke Berlin untuk menemui kekasih prianya, ia justru menginjak-injak harga diri Freya di depan mertuanya sendiri sebagai kedok terakhir. “Dengar itu, Freya! Segera kemasi barang-barangmu!” ujar Yati semakin angkuh. “Serahkan urusan perceraian pada kuasa hukummu, jangan banyak drama! Sudah cukup Rendra menderita mempertahankan wanita tak berguna sepertimu selama Dua Tahun ini! Dia berhak mendapatkan yang jauh lebih baik darimu!” Freya tetap diam tanpa bantahan. Ia menyadari kalau diam adalah pilihan terbaik untuknya. Ia pun melapangkan hatinya untuk menerima semua fitnah dan hinaan keji itu. “Baik, Mas! Ceraikan aku segera!”##Appreciation post## Hey guys the book has been finally completed. I just want to thank everyone who read my book, gave it gems and even left reviews. @CarlySmith @RuthLiguan @JannesConfai, my top fans and everyone else who voted for my book, I just wanna say thank you so much. I know I have been slow at updating, just one chapter a day but you have always patiently waited for it. Another thank you. If you have any review about the book, let us meet at the comment section. Please you can check out my other books if you haven't. 1. My Reincarnated Wife Is A Little Too Sweet. 2. The Abandoned Bride: My Baby's Daddy Is In Love With Us. 3. Alpha Lucien4. Mr. Dawson, Please BehavePlease give them a chance and leave a review if you can. Thank you guys and see you next time.
At the abandoned house, Emma was pacing back and forth as she looked at her watch."Is this man trying to test my patience?" Emma asked her father."Relax. He won't let his daughter die no matter what. Remember we gave him the coordinates for the longest route. Maybe he is still stuck on the heavy terrain of road leading here.""I haven't heard from Cindy. Why don't you call her and ask her whether she had already dealt with Lavender?”“I will call her right away." Emma said and dialed Cindy's number. The phone did not go through. She even dialed her dad's men that were protecting Cindy but it did not go through too."Dad something is wrong." Emma said. "None of the phones are going through." She added.Although Lion also felt that something was wrong, he did not think too much about it. The only thing that he cared about was her daughter to get her revenge."Call the other people and tell them to bring that little bastard over." "Their phones are not going through too."Just as Lion
"Just tell me where my brother and sister are and whether they are fine.""I will go make a call." The one who seemed as the little leader immediately left to make the call.He had been confused by the little boy's speech that his mind was blank.Were they really messing with the wrong guy? They were not from the city so they had not heard much about the Houston family and the ruthless heir.They were just a small gang that lived on the street. They depended on small jobs and theft for survival. Lion had found them and seeing how skilled he was they had decided to follow him. They actually believed in bullying the weak and fearing the strong notion.So, when he told them that he had a mission for them and that they will earn big, they readily agreed. The man stopped thinking about it and dialed his boss number. He can't let that little boy scare him.……In the car….Robert heard his phone beep and looked at it. After he saw the content of the of the text, he could not help but smile.
"You make it sound so simple." "Don't worry darling I won't let anything happen to our kids." "I trust you.""Why don't you do me a favor, leave this to me and let me take care of it. I promise that nothing will happen." "No that won't do. Even if we are going to ambush them, we can't give them a chance to retaliate. Since Emma and Cindy managed to pull off something like that, it can only mean one thing….""They have someone powerful helping them from the sidelines." Robert finished the statement for her."Yes. Since we don't know how powerful the enemy is, we can only play along with them." Lavender said. She would never take the life of her children and her friend lightly."So darling just let me go with you. Me staying at home while knowing that my kids are in danger is a real torture. I promise that I will look after myself." Lavender said."Okay. Grab some thick coats for you and the kids. They might be a cold by now."…..In the abandoned house….Lion was looking at Whitney
Robert rushed to his family villa to see how the preparation were going. He had initially wanted to host it at his private villa but thinking about how he had not formally introduced Lavender to his family and friends he thought it would only be right if he did the engagement party at his ancestr
Whitney rushed to the boys room and called them. "Ian, Reagan daddy needs us to go to their bedroom right now." "What for?" Ian asked. He had already changed from his school uniform and he was looking for his homework. "He said he has a mission for us and we should hurry." Whitney s
Not knowing about the trap that was awaiting for her Cindy entered the house happily. She now had a good view of the house as she walked to the living room.Although the house was not as big as a castle is was still very comfy and had a very gentle feel. It carried a warm feeling and it was
"Darling the kids eighth birthday will be in a few months time, any plans?" Lavender asked. "What do you think?" Robert asked in return. "I know you have never formally introduced Ian and Whitney to the public, why don't we make it special this time and introduce all the three of th












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
評分
評論更多