Share

Bertemu Dirga

Author: Dita SY
last update Last Updated: 2025-11-26 09:00:53

Dari samping mereka, jarak sepuluh meter, Barta memandang dengan wajah cemas. Takut Andi mengacaukan semuanya. Bisa mati mereka semua.

Sekian menit diam, Andi mengatakan, "Iya Mas, aku lagi nggak enak badan, tapi nggak apa-apa kok. Meskipun tenggorokan aku sakit, tapi bagian itu aku nggak sakit."

Mendengar suara Andi yang dibuat-buat seperti wanita, Adrian dan Barta tersenyum kagum.

Bagus!

Adrian menunjukkan jari jempol pada Andi.

"Ayo Mas, kita cari tempat sepi," ajak Andi, merangkul lengan pria gendut itu.

"Ayoo, gass Sayang." Pria itu bersemangat, melangkah berbarengan bersama Andi ke tempat yang sepi.

Sementara Adrian masih berada di tempatnya sambil celingak-celinguk mencari pintu ruang bawah tanah.

"Cantik! Ayo, kenapa kamu diam saja di sana?" seru anak buah Marco yang tadi memilih Adrian.

"Eh, iya, Mas. Maaf ya." Adrian pun kembali ke mangsanya yang sudah menunggu.

Tepat di sampingny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Alhamdulillah akhirnya Dirga ketemu dengan Barta. Buruan keluar dari ruang bawah tanah
goodnovel comment avatar
Teh Dahlia
lanjut dong jngn dikit2 bikin penasaran aja
goodnovel comment avatar
utiii Dewi
kak lanjut
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Penjelasan Dokter

    "Periksa tekanan darah Pasien," titah Dokter Zhang pada Perawat. "Baik Dokter." Perawat bernama Lily itu memeriksa tekanan darah Prams, kemudian tersenyum. "Tekanan darah Pasien stabil Dok. Kondisinya juga sudah jauh lebih baik."Dokter Zhang mengangguk, lalu melangkah mendekati ranjang dan berdiri di samping. Ia mencondongkan tubuh, dengan tatapan penuh konsentrasi saat memeriksa mata Prams yang terbuka lebar.Sementara Elina menunggu dengan harap-harap cemas. Kedua tangan saling menggenggam di atas dada.Dari bibir yang terus bergerak, doa-doa dilangitkan, meminta kesembuhan untuk calon suaminya.Dokter Zhang tersenyum. "Respons pupilnya normal," gumamnya sambil menyalakan senter kecil dan mengarahkan ke kedua bola mata Prams.Napasnya terhenti sesaat saat mendengar detak jantung yang terpantau melalui monitor, detak yang stabil, tetapi masih terdengar lemah.Dengan tangan cekatan, ia menekan manset tensi di

  • Ah! Enak Mas Dokter   Amnesia?

    Elina menatap Prams yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajah yang biasanya keras kini tampak rapuh dan pucat.Napas pria bertato itu terdengar berat, tersengal-sengal oleh alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya.Tangan Prams yang kasar dan penuh bekas tinta itu terkulai lemah di samping tubuhnya.Elina menghela napas lirih, dadanya sesak menahan perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan."Tolong sadar Hubby. Aku di sini menunggu kamu. Kembalilah Hubby."Mata Elina yang merah berusaha menahan buliran bening yang menggenang di pelupuk. Jemari tangannya gemetar saat menyentuh selimut putih yang menutupi tubuh Prams."Tolong bertahanlah,” bisik Elina lagi dengan suara melemah. Suara itu nyaris tak terdengar di antara bunyi alat medis yang berdengung monoton.Elina mengusap lembut pipi Prams. Air matanya tak dapat terbendung, mengalir deras membasahi wajah cantik yang lelah itu.Sua

  • Ah! Enak Mas Dokter   Tangisan Sisca

    Indonesia~Baru saja Barta mendapat telepon dari Bramanto dan berbicara panjang lebar tentang rencana kepulangan Dylan dua hari lagi."Beritahu Istri kamu ya Nak, biar dia bisa membantu bibinya menyiapkan acara penyambutan kepulangan Dylan nanti," ucap Bramanto. "Iya Pa, pasti. Makasih informasinya. Aku nggak sabar ingin secepatnya melihat keponakan aku pulang.""Papa juga. Kita doakan saja semua lancar. Dua hari lagi mereka pasti pulang.""Amin Pa, Amin," senyum Barta. "Ya sudah, Papa mau melanjutkan pekerjaan Papa. Sudah dulu ya." Bramanto mengakhiri telepon.Setelah telepon diakhiri, Barta buru-buru mencari istrinya yang tak terlihat di dalam kamar Utama.Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Sisca memang selalu bangun lebih pagi dari ayam tetangga. Sementara Ibu mertuanya pasti sedang mengajak cucu Kesayangan berjemur di taman komplek.Barta melangkah menuju dapur, satu-satunya tempat f

  • Ah! Enak Mas Dokter   Teka-teki

    "Silakan duduk Nak Adrian, dan .... " Fandi menggantung ucapan, menatap Intan sambil menggaruk kerutan kening, berusaha mengingat nama wanita muda di depannya.Melihat itu, Adrian langsung memahami. "Namanya Intan, Pak Fandi," ucapnya mengenalkan. "Dia wanita yang berhasil melenyapkan Prams. Berkat dia masalah kita semua selesai."Fandi membuka mulut sedikit dengan tatapan kagum. Dengan cepat ia melangkah mendekati Intan lalu mengulurkan tangan. "Jadi kamu yang namanya Intan?" senyumnya. "Neng Geulis yang berjuang sendiri di Hong Kong. Makasih ya Neng. Makasih banyak."Intan hanya tersenyum, menyambut uluran tangan pria baya itu."Makasih banyak Neng. Kalau bukan karena kamu, nggak mungkin semua masalah ini berakhir. Makasih nyak.""Sama-sama Pak, makasih juga sudah menjemput saya." Intan menundukkan kepala.Diam-diam Adrian terus memperhatikan wanita cantik itu. Senyum di bibirnya mengembang, mengagumi sikap sopan dan

  • Ah! Enak Mas Dokter   Tiba di Amerika

    "Mas."Setibanya di Rumah Sakit terbesar di Amerika, Dirga langsung disambut pelukan dan tangisan khawatir istrinya. "Kamu baik-baik saja 'kan Mas? Aku khawatir sama kamu." Pelukan itu semakin erat.Dirga mengusap lembut punggung Kesayangan. Matanya melirik Adrian dan Intan yang diajak masuk ke kamar perawatan oleh Fandi. "Aku baik-baik saja Sayang," jawabnya sambil mengecup jenjang leher Febby. Memejamkan mata, menikmati harum khas wanita Kesayangan yang dirindukan setengah mati.Febby melepas pelukan, menatap suaminya dengan kedua manik mata berkaca-kaca. "Aku khawatir Mas. Aku pikir kamu nggak akan sampai ke sini. Aku dengar ada badai yang membuat Pesawat kamu gagal landing."Dirga mengangguk sambil menghela napas dalam. Sejujurnya ia juga berpikiran yang sama.Ada ketakutan dan sedikit trauma yang membekas saat mengingat turbulensi yang sempat dialami di perjalanan menuju Hong Kong. Beruntung saat kembali ke Amerik

  • Ah! Enak Mas Dokter   Cemburu Buta

    Perjalanan menuju Amerika masih panjang. Setelah puas beristirahat, Adrian memutuskan berkeliling Pesawat Pribadi milik Fandi. Dari kejauhan ia melihat ruang kamar tidur Intan. Sepertinya wanita cantik itu masih terlelap. Sementara di ruang VVIP, kemungkinan Dirga juga masih menjelajahi mimpi. Tak ingin mengusik ketenangan orang lain, Adrian melanjutkan perjalanan mengelilingi kabin Pesawat. Melangkah perlahan, Adrian mengedarkan pandangan di setiap sudut mewah yang memanjakan mata, sambil tersenyum kagum. Langkah kakinya tak henti menyusuri lorong Pesawat Pribadi milik Fandi, matanya tak lepas dari setiap detail mewah yang tersaji. Dinding Pesawat berbalut kayu gelap berkilau, dengan panel-panel emas yang menghias di sudut-sudutnya. Tanpa sadar kepalanya menggeleng dengan senyuman terkagum-kagum. Matanya menyempit saat melihat silau lamp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status