LOGINMiri, seorang pastry chef yang bermimpi untuk membuka toko kue bersama tunangannya, Baskara, terjebak dalam tekanan sang nenek: jika di usia 30 tahun belum menikah, maka ia akan kehilangan hak atas harta warisan. Belum lagi kehadiran Arman, si paman tiri yang misterius dan penuh pesona, menggoyahkan pandangan Miri tentang cinta dan komitmen pada pernikahan. Di tengah persiapan pernikahan, Baskara justru mulai menjauh dan menyimpan rahasia yang dapat menghancurkan masa depan mereka. Seperti tiramisu yang berlapis, Miri pun harus memilih: menjalani manis dan pahitnya demi mewujudkan toko impian atau menghadapi lukanya satu demi satu agar mendapat cinta yang sempurna.
View More“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.
“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.
Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulutnya kosong, Bu Amara mengambil sesuap lagi. Setelah menghabiskan sendok ketiga, ia menepuk bibir merahnya dengan serbet.
Di bawah lampu temaram restoran Italia itu, Bu Amara terlihat lebih garang dari biasanya. Rambutnya yang disanggul ketat. Kacamata berbentuk tanduk yang bertengger di hidung. Bibir merah bergincu.
“Miri. Duduklah di samping saya,” panggilnya, menunjuk kursi kosong di hadapannya.
“Maaf, Tante, saya masih di jam kerja–”
Ada getaran mengalir sepanjang punggung Miri sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya. Tatapan Bu Amara berubah tajam. Ia tampak seperti serigala betina yang siap menerkam.
“Duduk,” perintah Bu Amara.
Miri menghela napas, lalu menarik kursi. Ketika ia duduk, Bu Amara memperbaiki postur tubuhnya. Seorang dari golongan elit yang tak lelah menjaga etika, apalagi ketika menghadapi rakyat jelata seperti Miri.
“Bagaimana tiramisunya, Tante? Enak?” tanya Miri, mencoba memecah keheningan.
“Oh? Ini? Enak, kok,” jawab Bu Amara dengan nada datar.
Komentar yang dingin dari sang serigala membuat telapak tangan Miri berkeringat. Ia mencoba mengeringkan tangannya pada celemek yang melingkari pinggang. Namun, upayanya tak membuahkan hasil.
Apakah hidangan penutup itu memuaskan lidahnya? Apakah Bu Amara mengharapkan sajian lain? Bagaimana jika dia berharap Miri membawakan sepiring pasta? Kepala Miri terus berputar.
“Ini … juga favoritnya Baskara, Tante. Setiap kali ia mampir, pasti memesan sepiring tiramisu,” tambah Miri.
Strateginya menggunakan nama putra semata wayang Keluarga Wibowo berhasil. Mata Bu Amara berkilat, seakan sedang memanggil kehidupan kembali. Permata manapun tak akan sanggup membanggakan hatinya seperti Baskara, sang putra tersayang.
Namun, Miri luput menyadari keangkuhan yang menghiasi bibir berkerut Bu Amara. Boleh saja Miri telah memeluk hati Baskara selama 10 tahun terakhir. Selama janur kuning belum melengkung, Bu Amara masih memegang kendali masa depan putranya.
“Tentu saja dia suka tiramisu. Pembantu kami biasa membuatkannya di rumah,” ucap Bu Amara angkuh.
Miri merapatkan bibir. Ini dia. Sang serigala mulai memancing pertarungan. Metode favoritnya adalah merendahkan profesi Miri sebagai seorang pastry chef di restoran otentik Italia.
Padahal lokasinya berada di kawasan elit, bagian dari Jakarta Selatan. Pengunjung yang datang tak hanya rakyat biasa, tapi juga artis, politikus, hingga konglomerat. Tak pernah seorang pun mencela hidangan penutup buatannya–kecuali Amara Wibowo.
“Saya kira kamu mau membawakan makanan berkelas. Ini sih cuma krim dan biskuit benyek dalam gelas,” ejek Bu Amara.
‘Sabar, Miri. Sabar,’ bisik Miri pada dirinya sendiri.
“Kalau kamu mau membuat saya terkesan, harusnya buatkan main course, dong.”
Miri mencengkram ujung celemeknya. Ia menunduk, melihat penampilannya malam ini. Seragam koki yang ia kenakan beraroma tepung dan telur, dengan noda minyak menempel pada kain.
Rambutnya yang diikat ekor kuda telah berminyak. Wajah tanpa polesan dan kaki yang lelah karena seharian mondar-mandir di dapur.
Miri mendengar suaranya bergetar.
“Main course bukan bagian saya, Tante. Saya udah pernah cerita, kan? Tapi, kalau Tante mau saya masakin main course, saya bisa mampir akhir pekan ini untuk masak di rumah–”
“Nggak perlu. Kami udah punya chef handal di rumah. Saya bukannya lupa, cuma bosan aja setiap ke sini yang kamu tawarkan cuma kue manis,” potong Amara Wibowo, mengamati hasil manikur di tangannya.
Baskara, sang kekasih, selalu memperingatkan Miri untuk bersabar menghadapi keangkuhan ibunya. Keluarga Wibowo yang dikenal sebagai pengusaha real estate papan atas sangat ketat memilih calon menantu. Mereka tak akan duduk tenang mengetahui Baskara menjalin hubungan dengan seorang koki.
Pekerjaan yang tak menjunjung tampilan rupawan di dapur, kecuali keahlian memasak dan ketajaman alat indra. Bagi Keluarga Wibowo, seorang wanita cukup memasak di rumah dan tampil apik demi persona keluarga idaman.
“Mau sampai kapan kamu bekerja di sini, Miri? Saya sudah bilang, kalau mau menikahi Baskara, kamu cukup memasak saja di rumah,” protes si serigala.
“Saya mencintai pekerjaan saya, Tante. Saya nggak bisa tiba-tiba berhenti bekerja demi menikah. Baskara pun tahau itu,” Miri membela diri.
Mata Bu Amara memang beradu dengan Miri, tapi pandangannya seakan menembus ke balik kepala. Ia menggerutu, memutar matanya sambil merogoh ke dalam tas Birkin di pangkuan. Sebuah amplop tebal berwarna cokelat ia letakkan di meja.
Amplop itu lebih tebal daripada hidangan tagliata di manzo, daging panggang ala Italia buatan restoran. Miri tak pernah melihat amplop sepadat itu sebelumnya.
“Saya dengar kamu mau sekolah di Italia, kan? Anggap saja isi amplop ini sebagai DP dulu. Kalau kamu butuh lebih, nanti hubungi saya.”
Kata-kata itu mengalir tanpa hambatan dari bibir tipis Bu Amara.
“Tante … mau biayain sekolah saya?” tanya Miri.
“Bukan mau, Miri. Saya bisa. Tapi, begitu kamu ambil amplop ini, tinggalkan Baskara.”
Rasanya kepala Miri seperti disambar petir. Ujung-ujung jarinya terasa dingin.
“Ini … apa, Tante?” tanya Miri.
“Ini adalah harga hidup kamu, Mir. Kalau kamu ikut aturan keluarga kami, saya bisa kasih lebih,” ucap Bu Amara.
Miri mengambil amplop itu, mengintip ke dalam. Lembaran uang seratus ribu rupiah menjadi satu tumpukan yang ia hitung perlahan.
Tiga puluh lembar ….
Lima puluh ….
Seratus ….
Tidak.
Setidaknya ada lima kali lipat lebih tebal daripada yang Miri kira. Dengan uang sebanyak itu, Miri bisa mewujudkan impiannya.
Senyum angkuh menghiasi bibir Bu Amara. Keriput di sudut mulutnya menebal. Matanya culas, menegaskan bahwa Miri tak punya kuasa melintasi wilayah kekuasaannya.
Mungkin meninggalkan Baskara bukan pilihan yang buruk?
“Gimana dengan yang ini?” tanya Miri, sambil berputar di depan cermin.Ia mengenakan sebuah gaun pengantin berwarna putih gading, dengan rok panjang satin bentuk A-line yang jatuh lemas ke lantai. Bagian dadanya berbentuk tube, dengan aksen mote berkilauan.Jihan, sambil mencubit dagu, mengamati sahabatnya dalam tatapan serius. Ia menilai gaun itu dari kepala hingga ujung kaki, lalu menggeleng.“Terlalu santai, Mir. Mungkin kalau garden party bakalan cantik banget,” ujarnya.“Anehnya, aku juga berpikir begitu,” balas Miri.Ia membuang napas panjang. Ini sudah ketiga kalinya ia mencoba gaun pengantin di butik incaran. Namun, hasilnya masih nihil.
“Ngapain kamu di sini?” celetuk Wisnu, muncul dari balik punggung Arman.Arman menoleh, melihat seniornya berjalan mendekat. Tanpa kata, ia kembali mengamati pemandangan kota Jakarta dari rooftop kantor Arkate.Teriknya matahari memanggang puncak kepala, tapi Arman masih betah berlama-lama di tempatnya bersandar. Sikunya bertumpu pada puncak parapet setinggi dada. Angin yang panas menerpa wajahnya, menjaga kesadaran Arman.“Nggak ngapa-ngapain. Lagi santai aja,” jawab Arman santai.Saat berdiri di sisi Arman, Wisnu membuka sekaleng kopi dingin di tangan. Ia meletakkan satu kaleng lagi yang masih utuh di dekat lengan Arman.Dari sudut matanya, Arman tahu Wisnu sedang memindai perangainya. Saat Arman bersiap menerima gerutunya, Wisnu justru turut memandang kaki langit Jakarta. Gedung-gedung tinggi muncul seperti menara pertahanan, menghalangi pandangan mereka dari keteduhan kota yang mulai jarang.“Kayaknya bakal ujan, nih.”Wisnu mendongak, memandang barisan awan putih yang membentang
“Boleh aku menginap malam ini?” bisik Miri di bibir Baskara.Tubuhnya bersandar pada daun pintu, sementara Baskara merangkulnya erat. Ia mengaitkan helaian rambut Miri ke balik telinga, lalu tersenyum lembut.“Tentu saja, Sayang. Aku nggak mungkin izinin kamu pulang sendirian malam-malam gini,” balas Baskara.Ia mendaratkan ciuman lagi di bibir Miri, mengangkat tubuhnya. Miri merasa ringan dalam dekapan kekasihnya, pasrah saat dibopong ke sofa. Miri berbaring, Baskara naik ke atasnya.Aroma shampo melekat di setiap helai rambut Baskara yang lembut. Miri mendesah, sensasi yang menggetarkan hatinya ketika sang kekasih menciumi lekukan lehernya. Lengan Miri memeluk lehernya erat.“Bas,” panggi
Setelah makan siang mereka, Miri dan Arman kembali ke kamar inaap Nenek Aisha. Keduanya berusaha tampil baik-baik saja, terutama Arman. Ia masih semringah, menghibur Nenek Aisha dengan cerita lucu.“Arman …” panggil Miri, tapi bibirnya tak bisa melanjutkan kata lebih dari itu.Saat Miri mengantarnya ke pintu kamar, Arman melemparkan senyum singkat. Miri melewatkan kesempatan untuk meminta maaf jika ada kata-katanya yang menyinggung. Sikap Arman yang kembali seperti biasa membuat rasa bersalah itu kian menumpuk.“Miri!”Suara itu memecahkan ingatan Miri.Ia tersentak bangun, menyadari dirinya tak lagi di rumah sakit. Suara wajan yang beradu dengan sudip, air mendidih, dan piring bertumpuk di bak cuci. Miri telah kembali ke restoran, mengisi shift malam.“Mana tiramisu untuk meja nomor tiga?!” teriak Chef Dom sambil menggebrak meja.“Maaf! Tiga detik, Chef!” balas Miri.Suara sang kepala koki membahana dari meja depan, bersambung dengan umpatan panjang dalam bahasa Itali. Miri merataka
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews