MasukMiri, seorang pastry chef yang bermimpi untuk membuka toko kue bersama tunangannya, Baskara, terjebak dalam tekanan sang nenek: jika di usia 30 tahun belum menikah, maka ia akan kehilangan hak atas harta warisan. Belum lagi kehadiran Arman, si paman tiri yang misterius dan penuh pesona, menggoyahkan pandangan Miri tentang cinta dan komitmen pada pernikahan. Di tengah persiapan pernikahan, Baskara justru mulai menjauh dan menyimpan rahasia yang dapat menghancurkan masa depan mereka. Seperti tiramisu yang berlapis, Miri pun harus memilih: menjalani manis dan pahitnya demi mewujudkan toko impian atau menghadapi lukanya satu demi satu agar mendapat cinta yang sempurna.
Lihat lebih banyak“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru tentang kehidupan.Hati Miri sempat berdebar karena mengira Jihan atau Kemal akan menyinggung soal pacar baru ibunya. Namun, topik itu tak pernah menguak ke permukaan.“Sampai ketemu hari Senin, ya, Mir. Siapin mental buat pelatihan intens. Oke?” ujar Kemal, mengacungkan jempol.“Siap, Pak Chef,” balas Miri sambil iseng memberi hormat.Miri menutup pintu, menyusul ibunya ke dalam. Bu Sara sedang menumpuk piring-piring makan yang telah kosong.“Biar aku aja yang beresin, Ma. Mama pasti capek abis kerja shift malam, kan?” Miri mengajukan diri.Ia mengambil tumpukan peralatan makan itu dari tangan ibunya, buru-buru membawanya ke dapur. Bu Sara mengalah, memilih duduk kembali di meja. Sambil mengam
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan Miri, putrinya. Meski tampak lelah, ia masih tersenyum.Ia melepaskan jaket dan meletakkan tas kerjanya di sofa. Tubuhnya yang mungil terlihat ringkih, seakan menyisakan raga tanpa tenaga.“Jatah makan siang Tante ada nggak, Kemal?” goda Bu Sara.“Ada, dong, Tante. Yuk, makan. Mumpung masih panas,” ajak Kemal ramah.Bu Sara celingukan, mencari Miri yang masih menenggak air di dapur. Ia menghampirinya, tampak terkejut melihat wajah Miri yang memerah. Ketika Miri bercerita ia kepedasan karena masakan Kemal, Bu Sara hanya tertawa.“Bisa-bisanya ada chef kepedasan,” canda Bu Sara, membelai kepala Miri penuh sayang.“Emangnya chef nggak boleh kepedasan?” protes Miri.Sebelum bergabung dengan para
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langkah memasak dengan presisi.Bahkan Miri tak boleh mengambil selembar tisu untuk mengelap matanya yang berair. Minggu depan, Miri mengemban tanggung jawab sebagai bagian tim katering Nero&Bianco. Ada sebuah kantor konsultan yang memesan khusus jasa mereka untuk menghidangkan masakan Italia.“Masa sih, Mal? Gue kira arrabbiata artinya mewek,” sahut Jihan dari seberang ruangan.“Yang di sana diem dulu, deh,” ucap Kemal ketus, menunjuk Jihan dengan ujung sutil.Jihan menjulurkan lidah seperti anak kecil. Tugasnya untuk meniriskan pasta penne telah selesai, kini hanya tinggal menunggu sentuhan akhir dari masakan buatan Kemal.Jujur saja, liurnya telah berkumpul di dalam mulut. Kemal yang memang be
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya segusar itu adalah di tahun-tahun terakhir perkuliahan mereka. Baskara yang berjaga sepanjang malam menyusun skripsi, menatap layar dengan mata merah. Bila Miri tak sesekali singgah untuk mengantar makanan, bisa jadi Baskara sudah masuk rumah sakit.Di akhir makan malam itu, rahang Baskara mengencang. Sepanjang perjalanan mengantar Miri pulang, ia menggenggam setir kuat-kuat. Miri tak berani mengusiknya. Siapapun akan naik pitam ketika mendengar ibunya berkata ‘Mama yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih baik’ di hadapan pacar sendiri.“Aku sudah terbiasa menjadi bahan gunjingan orang, tapi tidak Baskara. Setiap kritikan dan hujatan seperti sayatan baginya. Setidaknya, aku senang Baskara masi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.