LOGIN"Kamu terlalu memanjakan Dylan Mas!" omel Febby saat suaminya baru saja pulang bekerja.Biasanya dia selalu disambut hangat oleh sang istri, tetapi sekarang ... Febby justru marah-marah.Tak ingin memperpanjang masalah sepele, Dirga melangkah ke kamar untuk membersihkan tubuh, lalu ke kamar Jagoan Kecil-nya.Suasana rumah megah itu terasa sangat dingin malam ini.Setelah Dylan ditenangkan oleh ayahnya dan tidur di dalam kamar, Dirga dan Febby akhirnya memiliki waktu berdua di kamar utama.Namun, bukannya kemesraan yang biasanya mereka bagi, ketegangan hebat justru menyelimuti ruangan itu.Dirga berdiri di dekat jendela kaca besar, sementara Febby duduk di tepi ranjang dengan menyilangkan kedua tangannya.Matanya menatap Dirga dengan penuh kekecewaan."Kenapa kamu malah mendukung pemikiran Dylan yang seperti itu. Dyl
Sore itu, suasana di dalam rumah mewah Dirga terasa sangat tegang.Begitu mobil jemputan sampai di rumah, Farah langsung berlari masuk ke dalam pelukan Febby yang sedang menunggu di ruang tengah.Tangisnya yang sempat mereda selama perjalanan pulang kini pecah kembali."Mommy! Kak Dylan jahat! Tadi Farah dimarahin di sekolah sampai nangis!" adu Farah sambil sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di balik daster yang dikenakan Febby.Febby yang terkejut langsung mengusap punggung putrinya dengan lembut. Tak lama kemudian, Dylan melangkah masuk dengan wajah ditekuk dan tas ransel yang masih tersampir di pundak."Dylan, coba sini. Mommy mau bicara," panggil Febby dengan nada suara yang serius."Ya Mom .... ""Kenapa kamu membentak adikmu di sekolah sampai dia menangis begitu? Kakak kelas tiga harusnya mengayomi adiknya, bukan malah bi
"Makasih, kamu baik sekali," ucap Biru. "Kamu juga cantik," pujinya kemudian.Farah hanya tersenyum lembut. Sementara Biru terus menatap anak perempuan itu."Aku sering bertemu dengan anak orang kaya yang sombong dan jahat, ternyata kamu nggak," tambah Biru."Apa kamu mau berteman sama aku, Biru?" tanya Farah.Biru langsung mengangguk. "Tentu, Farah."Makasih ya, Bi .... ""Farah!"Sebuah teriakan lantang yang sangat familier tiba-tiba memecah keheningan di sudut halaman belakang itu.Dylan berjalan cepat dengan langkah lebar, wajahnya tampak sangat tegang dan keningnya berkerut dalam.Ia baru saja ke luar dari gedung kelas tiga dan sengaja mencari adiknya ke area taman bermain kelas satu.Mendengar suara langkah kaki yang mendekat dengan cepat, Biru yang berada di bal
Senin pagi yang cerah di sekolah internasional itu terasa begitu menyenangkan.Di jam istirahat Farah terlihat sedang asyik bermain sendirian di halaman belakang sekolah setelah jam istirahat pertama.Ia membawa sebuah boneka kelinci kecil dan sekotak bekal makanan yang disiapkan oleh Mommy Febby.Halaman belakang taman sekolah itu memang berbatasan langsung dengan pagar kawat besi yang menjulang tinggi, pembatas antara area sekolah yang megah dan perkampungan di baliknya.Saat sedang asyik mendudukkan bonekanya di atas rumput, Farah merasa seperti ada yang memperhatikan sejak tadi. Ia mendongak, lalu menoleh ke arah pagar kawat."Hay!"Di balik sela-sela besi yang rapat, berdiri seorang anak laki-laki. Anak itu tampak sebaya dengan kakaknya, Dylan.Tubuhnya kurus, rambutnya agak berantakan, dan kaos yang berwarna abu-abu terlihat kusam
"Kalau memang tidak ada apa-apa, setelah makan malam, kamu istirahat ya," ucap Dirga sambil mengusap kepala anak laki-lakinya."Iya Daddy.""Jangan macam-macam lagi ya Dylan. Ingat pesan Daddy dan Mommy! Yang kami lakukan hanya untuk kebaikan kamu!" pesan Febby dengan suara lembut, tetapi tegas."Iya Mommy," sahut Dylan sambil tersenyum, menenangkan.Makan malam itu berakhir dengan tenang. Dylan yang sudah menyelesaikan makannya segera pamit untuk masuk ke dalam kamar, sementara Farah sudah lebih dulu tertidur lelap di kamarnya setelah kelelahan bermain seharian.Setelah memastikan kedua anak mereka aman di tempat tidur masing-masing, Dirga dan Febby merapikan sisa meja makan bersama sebelum melangkah menuju kamar tidur utama."Kamu mencurigai sesuatu nggak Mas?" tanya Febby pada Dirga.Sang Dokter menggeleng, "Kita harus percaya sama Dyl
Ting! Ting! Ting!Suara lonceng sekolah terdengar. Seluruh anak-anak berhamburan keluar dari kelas.Suara tawa, tangis, teriakan khas anak-anak sekolah dasar terdengar memenuhi seluruh bangunan sekolah.Orang tua, baby sitter dan supir dari anak-anak kaya raya tersebut tampak sudah menunggu di Koridor sekolah.Sementara Dylan dan Farah sudah masuk ke mobil mewah mereka. Dan seperti biasa, mereka hanya dijemput supir pribadi keluarganya.Sore itu, langit Jakarta mulai berubah jingga saat mobil mewah yang menjemput Dylan dan Farah bergerak membelah kemacetan jalanan pulang.Farah, yang duduk di kursi belakang sebelah Dylan, sudah menyandarkan kepalanya ke bantal kecil.Ia tampak sangat lelah setelah seharian belajar dan bermain di sekolah.Berbeda dengan adiknya yang hampir terlelap, Dylan justru duduk tegak dengan mat







