LOGINDemi menyelamatkan nyawa anak semata wayangnya yang sakit keras, dosen muda bernama Timur Alendra Tirta mencari perempuan yang sempurna, cerdas, sehat, dan mudah diatur agar bisa melahirkan anak berkualitas sebagai donor bagi putrinya, buah cintanya dengan mendiang istri. Namun tak pernah ia sangka, satu-satunya yang cocok dengan tawarannya adalah Philia Diana Miska. Gadis berusia 24 tahun yang dulu satu sekolah dengannya, yang diam-diam menyimpan rasa selama tiga tahun sebelum akhirnya patah hati karena Timur lebih memilih Alana, perempuan yang kini sudah tiada. Bertahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam keadaan terbalik. Timur kini seorang dosen terhormat, sementara Philia masih berjuang keras menamatkan kuliahnya karena terhimpit kesulitan ekonomi. Kontrak yang mereka buat bukan sekadar tentang bayi tabung melainkan pertarungan tentang perasaan lama, luka, dendam, dan cinta yang tak pernah benar-benar mati. Namun ketika semuanya terasa begitu dekat untuk diperbaiki, kenyataan pahit justru menelanjangi mereka, yakni tidak semua cinta pantas dimenangkan, dan tidak semua perjuangan berakhir dengan kebahagiaan. Di akhir, hanya tersisa satu pertanyaan yang menggantung di antara keduanya. Apakah cinta yang lahir terlalu terlambat masih layak diperjuangkan, atau justru harus dikubur bersama semua luka yang sudah terlanjur dalam? ⚠️WARNING MENGANDUNG ADEGAN USIA LEGAL BE WISE YA!
View More"TIMUR!!!" Philia membentak, seraya melayangkan tatapan tajam penuh protes pada Timur. Namun, pemuda itu tidak peduli. Ia malah sengaja merangkul Philia, membawanya ke dekapan dengan penuh kebanggaan. Lugi, pemuda itu mematung tak percaya. Matanya tak berkedip, bahkan sampai memerah. "Phi... omongan Timur, gak bener kan?" "Gak mungkin kan, Phi?" Alih-alih bertanya pada Timur, Lugi memilih meminta penjelasan dari Philia. Ia yakin, sahabat yang ia suka dari lama itu tidak bisa berbohong. Ia pasti tak akan masuk perangkap dusta Timur. Hamil? Oleh Timur? Konyol! "Phi? Coba jelasin ke dia.. gimana kondisi kita sekarang, apa hubungan kita, sejauh mana keseharian kita, dan apa yang aku kasih ke kamu, apa yang kamu kasih ke aku." Timur menatap Philia dalam, mencoba membawa gadis itu ke dalam permainannya. Baginya, now or never. Sekarang atau tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Diem Timur, gue ngomong sama Philia. Lo, gak usah ikut campur," desis Lugi, mencoba menahan em
Suasana pagi hari itu cerah, matahari menyinarkan cahayanya malu-malu lewat celah tirai di kamar apartemen Timur yang sudah dibuka lebar-lebar. "Hari ini ada kuliah?" tanya Timur, pemuda itu tengah mengancing kemejanya di depan cermin, sementara matanya menatap Philia yang duduk di tepian tempat tidur. Gadis itu mengangguk. "Iya, aku ada kuliah tapi siang," jawabnya. Pemuda itu mengangguk, lantas beralih mengambil dasi dari laci lemarinya. "Jam berapa kuliahnya?" "Jam sebelas." Philia melirik jam di dinding, baru jam tujuh pagi itu berarti masih banyak sekali waktu untuknya pergi ke kampus. Ia bisa rehat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah setelah pergumulan semalam. "Nanti aku jemput, aku ke kampus bentar ada kelas." Ucapan Timur itu sontak membuat Philia bingung. Untuk apa Timur menjemputnya? Ataukah ia akan membawanya ke suatu tempat, misal rumah sakit? "Emangnya kita mau kemana? Kok kamu jemput aku?" bingung gadis itu. Kakinya yang menggantung di kasur diayun
"Phi, makan dulu. Masih suka bebek kan?" Timur menata makanan yang ia beli di atas meja, sementara Philia baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci tangan dan kaki. "Aku gak makan boleh gak? Perut aku kenyang," dustanya. Timur menggantung tangannya di udara, bungkusan terahir yang ia keluarkan bahkan belum sempat diturunkan. "Lho, kenapa? Ga suka sama menunya? Mau yang lain? Atau mau aku masakin aja? Tapi tunggu bentar ya, aku masih ada kerjaan." Timur menawarkan beberapa opsi, namun Philia tetap menggeleng. Perutnya benar-benar tidak mau menerima makanan apapun, bahkan minum saja ia enggan. "Aku gak bias makan banyak, Timur. Aku tau kok harus makan bergizi dan banyak biar berat badan aku naik. Tapi aku beneran kenyang, perut aku udah penuh." Gadis itu langsung menuju kamar untuk istirahat, namun Timur menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanyanya. Philia menunjuk pintu kamar. "Tidur," jawabnya singkat. Setelah bertemu Lugi, entah mengapa hati Philia menjadi g
"Ini obat pereda nyeri, yang ini tablet tambah darah, ini pereda demam. Dosisnya udah gue tulis." "Boleh digabung sama vitamin dari dokter, aman." Bryan menyerahkan beberapa lembar obat yang baru ia beli di apotik untuk Philia. "Oh oke." Timur menerimanya, lalu menyimpan di kotak obat. Meskipun Philia tidak menunjukkan gejala sakit, tapi setidaknya harus jaga-jaga takut gadis itu malah sakit dan drop karena ulahnya. "Iya, suruh makan yang banyak. Kurus banget dia, kasih lemak tiap makan. Bisa dari alpukat, butter, atau yang lain. Kasih protein hewani juga, dada ayam sama daging sapi." Bryan menuliskan beberapa catatan untuk Timur. "Oke.. menurut lo presentasi berhasilnya gimana? Kalau bisa hamil alami, gue gak usah deh buang-buang duit buat bayi tabung." Pemuda itu duduk di atas kursi makan, sementara Bryan masih sibuk mencatat. "Bisa aja, kuasa Tuhan gak ada yang tau Tim." "Semoga aja Philia hamil," sahut Bryan. Timur mengangguk, mengamini. Ia lantas memperhatikan Ph
Suasana koridor rumah sakit itu sibuk sekali. para petugas medis mondar-mandir mengurus pasien, sementara beberapa orang juga berlarian mengejar waktu. Bau antiseptik khas rumah sakit terasa menusuk hidung, membuat Philia menegang bukan main. Gadis itu berjalan pelan di samping Timur, langkahnya
Rintik hujan turun perlahan, tetesan airnya meluncur pelan di balik kaca jendela apartemen yang gelap. Philia masih betah memandanginya, padahal sudah satu jam lebih ia diam di sana. Bryan dan Martin sudah pulang, jam di dinding juga sudah lewat tengah malam. Namun, Philia seolah enggan untuk
Timur mematikan mesin mobilnya saat tiba di area parkir basement apartemen miliknya. Ia melirik Philia, ternyata gadis itu sudah tertidur. Namun air mata di pipinya masih basah, bahkan menggelayut di dagunya yang lancip. Kedua tangannya masih merengkuh selimut milik mendiang Almira, penuh kerindua
Perkuliahan berjalan seperti biasanya, mahasiswa fokus menyimak dan dosen fokus menjelaskan. Meskipun ada beberapa perbedaan cara pandang terhadap materi, dan ada sekali dua kali debat kecil antara dosen dan mahasiswa itu namun semuanya masih berjalan mulus. Suara gesekan spidol di papan tulis, t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews