เข้าสู่ระบบHari-hari berlalu berlalu dengan cepat. Kini, keluarga besar Febby dan Dirga tidak pernah mendapatkan ancaman lagi.
Semenjak Yuliana ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, kehidupan mereka aman sentosa.Meskipun kabar Anggun belum didengar, tetapi mereka meyakini wanita itu juga sudah tewas dalam kecelakaan.Setelah semua selesai, hari yang ditunggu oleh Barta akhirnya tiba. Ia yang telah menemukan pujaan hati, langsung meresmikan Sisca menjadi istrinya.Di Amerika, setelah menyelesaikan tugas kuliah yang menumpuk, Dylan memutuskan untuk memposting sebuah foto di akun media sosialnya yang memiliki banyak followers.Sebagai cowok dengan wajah tampan di atas rata-rata, tak heran jika mayoritas pengikutnya adalah kaum hawa yang selalu menanti postingan terbaru darinya.Pada unggahan kali ini, Dylan menyematkan caption singkat.~Seminggu lagi aku akan pulang ke Indonesia~Hanya dalam hitungan detik, notifikasi like dan komentar langsung membanjiri ponselnya.Namun, dari sekian banyak tanggapan yang masuk, hanya satu komentar yang berhasil menarik perhatian Dylan ... komentar dari Maura_anak Intan.Maura: [Jangan lupa oleh-oleh untukku, Kak!]Dylan terkekeh pelan dan membalas dengan cepat.Dylan: [Apapun akan aku belikan untuk Adik Kesayanganku. Tunggu aku pulang ya, Sayang. Jangan nakal di sana]Tak lama kemudian, sebuah komentar lain muncul. Kali ini dari Aurora. Bukannya membalas di kolom komentar seperti yang dilakukannya pada
"Kamu .... " Farah menatap Ray dengan tatapan tidak percaya. Ia tak menyangka sahabat masa SMA-nya dulu tega melaporkan Biru ke Polisi."Dia pantas masuk penjara, Farah! Dia yang melakukan semua ini. Luka-luka ini bukti kegilaannya. Laki-laki itu tempramental, kamu harus menjauhinya! Kamu lihat sendiri, aku babak belur dihajar habis-habisan, padahal aku sama sekali tidak melakukan apa pun padamu," tutur Ray meyakinkan, sambil memamerkan kembali luka-luka di tubuhnya.Luka di keningnya masih basah, darah segar tampak merembes dari balik perban. Sementara itu, tangan kanannya terlihat lebam dan cedera parah."Aku hampir mati karena dia. Untung saja banyak orang di pesta waktu itu yang memisahkan kami. Kalau tidak, ceritanya pasti sudah beda," lanjut Ray, memelas.Farah terdiam sambil menundukkan kepala. Ada sedikit rasa kecewa menyergap dadanya, kenapa Biru harus sebrutal itu? Namun, jauh di lubuk hatinya, ia yakin Biru pasti memiliki alasan."Andai saja kamu ingat kejadian malam
Di dalam kamar perawatan yang sunyi, Ray yang merasa telah berhasil menarik perhatian Farah mulai mencari kesempatan.Matanya tak henti mengamati sekeliling, memastikan pintu kamar perawatan di depannya tertutup rapat.Sementara itu, Farah fokus mengupas buah apel untuk Ray. Tidak ada sedikit pun rasa curiga terhadap pria di hadapannya.Setelah memastikan situasi benar-benar aman, senyum miring tersungging di bibir Ray. Dengan gerakan spontan, ia menyergap dan memegang pergelangan tangan Farah."Farah ....""Iya, Ray?" Farah mendongak, menatap pemuda itu lekat. "Kamu butuh sesuatu?"Ray menggeleng pelan. "Aku cuma butuh kamu." Ia mengambil pisau buah dari tangan Farah secara perlahan lalu meletakkannya di atas meja. "Aku mau bicara serius sama kamu. Boleh?"Farah mengangguk, ikut meletakkan apel yang belum selesai dikupasnya ke meja. "Bicara saja. Kamu mau ngomong apa?"Perlahan, Ray memajukan tubuh, memangkas jarak di antara mereka, lalu berbisik, "Maukah kamu jadi pacarku?"
Ray mengulum senyum saat melihat Farah mulai termakan ucapannya. Ia melirik Farah, menatap lekat gadis cantik yang kini diam membisu itu."Biru itu bukan laki-laki baik, Farah. Dia temperamental. Kamu harus berhati-hati padanya," lanjut Ray, memanasi.Farah mengangkat pandangannya, menatap wajah Ray yang babak belur.Bahkan, luka di pelipisnya yang diperban masih merembaskan darah segar."Lihat luka-luka ini. Semua ini ulah Biru. Tiba-tiba saja dia menyerangku. Padahal aku sama sekali tidak berniat jahat padamu malam itu. Aku hanya ingin membawamu menjauh dari keramaian karena kamu sedang mabuk berat," jelas Ray dengan ringisan yang dibuat seolah sangat menderita.Farah menghela napas panjang. Hatinya menolak untuk langsung percaya karena ia sangat mengenal pengawalnya itu. Namun, melihat kondisi Ray yang terluka parah, rasa ibanya tak bisa dibendung."Aku tahu Biru sudah lama jadi pengawal pribadimu, tapi dia itu ringan tangan. Aku khawatir suatu saat dia bisa melukaimu. Sepert
Sesampainya di pelataran rumah sakit, Biru segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Farah."Maaf, Non. Saya hanya bisa mengantar sampai di sini," ucap Biru datar, sambil menatap lekat Farah. "Setelah ini saya tidak bisa menemani ke dalam, karena saya ada janji penting untuk bertemu dengan seseorang."Kening Farah berkerut bingung. Tidak biasanya Biru menolak untuk mendampinginya, apalagi di tempat umum seperti ini. "Janji? Sama siapa? Tumben banget kamu ada urusan mendadak di jam kerja begini, Biru."Biru tampak kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebingungan menyusun kebohongan. "Maaf, Non ... saya .... "Melihat kegugupan itu, Farah justru tersenyum. Ia mengira Biru mungkin memiliki urusan asmara. "Ya udah, nggak apa-apa kok. Pergi aja selesaikan urusan kamu. Tapi nanti jangan lupa jemput aku lagi di sini, ya," potong Farah cepat. Ia langsung berbalik dan melangkah menuju lobi gedung perawatan tempat Ray dirawat.Sementara itu, Biru masih bergeming di tempatny
"Biru, antar aku ke rumah sakit sekarang! Aku mau lihat keadaan Ray. Semalam dia dipukulin orang sampai masuk rumah sakit," seru Farah, berlari tergesa-gesa menghampiri Biru yang sedang berdiri di dekat mobil.Wajah Biru yang semula sudah tegang karena baru saja menerima sepucuk surat panggilan dari kepolisian, mendadak kian mengeras.Emosinya tersulut hebat begitu mendengar nama Ray kembali keluar dari bibir Farah.Ditambah lagi, gadis itu tampak begitu cemas memikirkan keadaan bajingan yang hampir saja melecehkannya semalam.Kenapa pria berengsek itu selalu mendapatkan perhatian lebih dari kamu, Farah? batin Biru bergejolak, menahan rasa sesak sekaligus cemburu yang mengiris hatinya."Ayo, Biru, tunggu apa lagi?" ajak Farah mendesak. Namun, sedetik kemudian tatapan matanya beralih pada amplop putih berlogo kepolisian yang ada di genggaman tangan Biru. "Eh, itu surat apa?"







